Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Berziarah


__ADS_3

»»————><————««


Keyla terus diam, menundukkan wajahnya di hadapan Arifin. Tangannya begitu pelan sekedar untuk menyuapkan nasi saja ke mulut, dia begitu grogi apalagi terus di perhatikan oleh Arifin.


"Ke-kenapa?" tanya Keyla dengan terus menunduk. Seolah tak kuat untuk mengangkat wajah saja.


"Tidak," jawab Arifin. Seketika dia memalingkan wajahnya dan kembali menikmati makan siangnya.


Keyla memberanikan diri, dia mengangkat wajahnya, terlihat ada sesuatu yang Arifin sembunyikan. Ekspresi wajahnya sangat terlihat jelas kalau dia memang menyembunyikan sesuatu.


"Mas, apa ada masalah?" Sekuat tenaga Keyla menahan rasa grogi yang terus menyelimutinya, bertanya pada Arifin tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Tapi kalau memang Mas tidak mau cerita tidak apa-apa. Aku tidak masalah."


Arifin kembali mengangkat wajahnya, dia begitu ragu untuk bicara, tapi semua harus di katakan sebelum hubungan mereka semakin serius.


"Key, jika aku bercerita tentang masa laluku apakah kamu akan marah?"


Keyla mengernyit, menghentikan mengunyahnya dan benar-benar menghentikan acara makan siangnya dengan menaruh sendok di atas piring.


"Apapun keputusanmu nanti aku akan menerimanya. Mau kamu marah atau bahkan menjauh dariku aku ikhlas. Tapi, aku harus tetap mengatakannya padamu, aku tidak mau kamu tau setelah kita bersama dan kamu akan semakin marah padaku." ucap Arifin.


Keyla semakin penasaran, sebenarnya masa lalu yang seperti apa yang ingin Arifin ceritakan. Apakah begitu buruk?


"Semua orang memiliki masa lalu, Mas. Entah itu Mas Arifin atau aku, semua punya masa lalu yang entah itu pahit atau manis."


"Tapi, masa lalu ku sangat buruk. Dan sebenarnya? Sebenarnya aku sudah pernah menikah. Aku juga memiliki dua anak yang sekarang aku juga tidak tau mereka di mana. Mantan istriku membawanya pergi." Arifin menunduk. Tubuhnya gemetar dengan hati yang begitu gelisah saat bercerita.


Keyla terdiam, wajahnya terlihat serius. Dia begitu terkejut kalau ternyata Arifin memiliki masa lalu yang seperti itu. Apakah dia akan marah pada Arifin karena merasa dibohongi?


"Dua anak, dari dua istri." Arifin kembali menunduk.


Keyla semakin shock mendengarnya hingga dia begitu tertegun tak mampu untuk berkata-kata.


"Dulu, aku begitu buruk ketika Kanaya belum menikah. Dan sekarang, Kanaya yang telah menyadarkanku hingga menjadi seperti ini."

__ADS_1


"Aku ikhlas dengan keputusan yang akan kamu ambil untuk hubungan ini. Entah kamu akan tetap memilih lanjut ataupun tidak semoga hubungan kita tetap baik, setidaknya sebagai profesional kerja. Sebagai rekan."


Sebenarnya Arifin tak sanggup untuk bicara lagi, melihat wajah Keyla yang sepertinya mulai ragu dengan hubungan mereka.


"Jika memang hubungan kita masih bisa di pertahanan, aku hanya ingin kita bisa jujur. Menjalani hubungan berdasarkan kejujuran dan kepercayaan, itu yang saya inginkan. Tapi jika kamu tidak bisa menerima masa laluku, aku ikhlas. Mungkin, memang seperti ini akhir hubungan kita, yang akan berakhir menjadi teman atau hanya sebatas rekan kerja saja."


Begitu berat, tapi Arifin merasa begitu lega karena tak lagi ada yang dia sembunyikan pada Keyla. Dia sudah mengatakannya, soal selanjutnya, biar Keyla yang menentukan. Dan apapun yang terjadi, itulah takdir yang memang harus di jalani.


Keyla begitu bingung untuk menjawab, entah haru, sedih atau bahagia tapi kata-kata seakan tak mampu untuk terucap.


"A-aku?" Keyla begitu gagap. Masih menimang keputusan yang akan dia katakan. Dia baru pertama menyukai seorang pria, dia juga tak ingin salah memilih pasangan. Tapi, melihat kejujuran Arifin bukankah itu menandakan kalau dia memang serius dengannya?


Arifin tidak ingin Keyla tau setelah semuanya terjadi dan akan merasa di bohongi hingga sekarang dia mengatakannya.


Arifin menatap lekat wajah Keyla. Antara berharap tapi juga pasrah. Dia tidak bisa berbuat banyak kalau memang Keyla tak lagi memilihnya.


"A-aku?" Keyla menunduk dalam sesaat sebelum dia kembali berbicara, menghirup udara dalam-dalam dan dia hembuskan perlahan, "aku menerima semua masa lalu kamu, Mas."


Keyla mengangguk, dia menghargai masa lalu Arifin. Bahkan Keyla merasa begitu senang karena Arifin mau jujur dari awal sebelum semuanya berlanjut ke jenjang selanjutnya.


"Terima kasih, terima kasih," ucap Arifin. Rasanya ingin sekali memeluk Keyla saat itu juga, tapi dia sadar, ini belum saatnya hingga dia hanya bisa bertingkah antusias.


~~~~``


"Mas, kenapa kamu mengajakku ke sini?" tanya Kanaya. Dia begitu terkejut ketika mobil Hazel ternyata berhenti di depan pemakaman umum.


"Aku, aku hanya ingin meminta izin Tuan Dirga untuk melanjutkan perjuangannya untuk membuat kamu bahagia. Tentunya dengan Syifa juga."


Degh!


Baru saja tadi pagi Kanaya juga ingin datang untuk ziarah sebelum pertunangan mereka di laksanakan sampai pernikahan, sekarang Hazel sendiri yang mengajaknya. Mata Kanaya terpaku melihat Hazel yang nampak tersenyum sumringah.


"Kenapa, apakah kamu keberatan?" tanya Hazel. Menyadari Kanaya yang melihatnya tak berkedip.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya tidak percaya saja kalau Mas Hazel akan melakukan ini."


"Kenapa tidak! Aku tidak mungkin melupakan orang yang membuat aku bisa bertemu dengan jodohku. Tuan Dirga begitu berjasa untukku, dia merawatmu, membuat kamu bahagia, membawamu datang ke sini hingga akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Bukan itu saja, tapi Tuan Dirga juga bersedia memberikan kamu untukku."


"Maaf, bukan berarti aku menyamakan kamu seperti barang yang bisa di berikan pada siapapun. Kamu adalah segalanya untukku, aku menganggap Tuan Dirga tidak memberikan mu untukku, tapi dia mengamanatkan aku untuk meneruskan perjuangannya saja."


"Apa pernikahan ini hanya sebatas amanah dari Mas Dirga bagi Mas?"


"Dulu mungkin iya, tapi tidak dengan sekarang. Pernikahan ini berdasarkan cinta, takdir dan juga, juga karena kamu memang jodoh yang Allah kirimkan untukku."


"Kisah kamu dengan Tuan Dirga itu adalah bagian dari perjalanan hidupmu, dan kamu? Kamu adalah bagian dari perjalananku."


"Aku akan selalu berdoa, kalau kamu akan menjadi bagian dari hidupku hingga seumur hidupku. Seperti Tuan Dirga yang hanya menjadikan kamu seumur hidupnya."


Begitu panjang Hazel bicara.


Setiap kata-kata yang keluar membuat Kanaya semakin terharu, dia begitu bahagia.


'Terima kasih Ya Allah, Engkau beri aku kesempatan lagi mendapatkan jodoh yang terbaik. Alhamdulillah,' batin Kanaya. Air mata mulai menetes dengan perlahan.


"Jangan menangis di hadapanku, aku tidak menyukainya. Meski itu air mata bahagia aku tidak menginginkannya, jika terpaksa keluar aku tidak akan membiarkan air matamu jatuh. Tidak akan." Tanpa izin Hazel mengusap air mata Kanaya dan membuatnya semakin bahagia.


"Kita keluar sekarang?" ajak Hazel dan Kanaya mengangguk tanpa menjawab dengan kata.


Keduanya turun, dan ternyata Hazel juga sudah menyiapkan bunga yang akan di tabur di atas makam Dirga, juga buket bunga.


"Mas, ini?" Kanaya tak percaya, Hazel sudah menyiapkan segalanya.


"Aku sudah siapkan ini. Ayo," Ajak Hazel lagi. Keduanya berjalan dan Kanaya berada di depan.


»»————><————««


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2