Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Arifin yang tak peka


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Hazel, mama sudah siapkan semua untuk acara pertunangan mu dengan Ziana. Pertunangan akan di laksanakan besok di rumah utama."


Hem...


Hembusan nafas panjang tapi sangat berat keluar dari Hazel, dia tidak menginginkan pertunangan ini, dia sudah selalu saja menolak tapi kenapa kedua orang tuanya terus saja memaksa.


Bu Kristin mendekati anak laki-lakinya itu dengan sangat menyesal, bu Kristin sangat tau anaknya tidak menyukai Ziana, bahkan dia sendiri pun juga tidak! Tapi bu Kristin tidak bisa membangkang apa yang sudah menjadi keinginan dari suaminya.


Bu Kristin sangat sayang pada Hazel, dia ingin melihat anaknya bisa bahagia dengan wanita pilihannya sendiri seperti dirinya yang juga kini bahagia dengan papanya, dan bu Kristin menginginkan itu.


Jalan hidup Hazel sendiri yang akan menjalaninya, kebahagiaannya hanya bisa dia sendiri yang wujudkan, bukan dirinya atau suaminya apalagi oleh Ziana yang jelas-jelas selalu di tolak.


"Ma, apakah mama benar-benar tidak bisa membujuk papa untuk membatalkan pertunangan ini? Hazel tidak menyukainya, Ma. Ziana itu tidak baik, dia egois doa selalu memikirkan dirinya sendiri."


Hazel berusaha menjelaskan pada bu Kristin seperti apa sebenarnya Ziana dimatanya, itupun juga dengan sangat malas. Membicarakannya saja sudah membuatnya berubah kesal bagaimana jika harus setiap hari bersama?


"Ma, bisa-bisa Hazel cepat tua kalau hidup dengannya. Di cemburuin, dicurigain, juga di batasin mau ini itu, bagaimana mungkin aku tidak akan cepat tua, Ma. Belum punya anak udah ubanan nantinya." keluhnya.


"Hem, kamu tuh ya ada-ada saja." Bu Kristin mencubit pipi Hazel dengan sangat gemas.


"Cerita sama mama, sebenarnya kamu tidak mau bertunangan dengan dia karena memang tidak suka atau karena kamu menyukai wanita lain?"


Mata Hazel langsung membulat kearah bu Kristin.


"Apaan sih, Ma." Kembali Hazel memalingkan wajah, wajahnya juga terlihat sangat kesal.


"Kamu menyukai wanita itu?" tanya Bu Kristin lagi. Dia sangat penasaran dengan perasaan Hazel yang sebenarnya. Tidak mungkin dia tidak menyukainya tapi dia selalu rela melakukan apapun untuknya. Apalagi Hazel selalu saja meluangkan waktunya.


"Apa sih, Ma. Dia hanya temen ma. Kami juga baru sebentar kenalnya."


Hazel tetap menjawab tapi dia tak menoleh sama sekali ke arah ibunya.


"Katanya dia muslim, apakah itu masalahnya?"


Terus saja bu Kristin membicarakan wanita itu yang tidak lain adalah Kanaya tentunya.


"Iya, Ma. Dia muslim, muslim sejati tidak seperti mama." Sebentar Hazel menoleh.


"Oh, muslim sejati." Bu Kristin mengangguk dan tersenyum, tak ada rasa tersinggung sama sekali meski perkataan anaknya jelas membuat hatinya seperti tertampar.

__ADS_1


"Jadi kalau kamu juga muslim muslim mungkin saja kalian bisa bersatu, iya kan?"


"Apa sih, Ma. Jangan sembarangan deh." Hazel langsung beranjak, dia juga menyambar tasnya juga jasnya yang putih, sepertinya dia akan pergi ke rumah sakit.


"Hazel harus berangkat, Bey, Ma." Kecupan dia berikan di kedua pipi mamanya secara bergantian, dia pun langsung berlalu dan tak lagi menoleh ke arah bu Kristin.


"Kamu menyukainya, Hazel. Kamu menyukai wanita itu," gumam bu Kristin sangat yakin, meskipun anaknya tidak mengakuinya tapi semua itu bisa dia lihat.


Bu Kristin mengatakan seperti tadi bukan berarti dia ingin Hazel bisa berubah menjadi muslim, itu hanya seandainya mereka seiman, pasti hubungan mereka akan sangat mudah.


Tidak mudah memang mendapatkan restu untuk bisa bersatu dengan orang yang tidak seiman, dia tahu sendiri bagaimana dia terus mengarungi aliran masalah untuk bisa bersatu dengan suaminya.


Restu tak di dapatkan, juga olok-olokan dari teman bahkan saudara juga dia dapatkan. Apakah mungkin anaknya Hazel juga akan mengalami hal yang sama seperti dirinya? Tidak mungkin kan?


"Ma, Hazel sudah berangkat?" Suaminya datang dan langsung berjalan menghampirinya.


"Sudah, Pa." Bu Kristin sempat terkesiap barusan tapi akhirnya dia bisa menjawab dengan lancar dan sama sekali tidak dengan terbata-bata.


"Kamu sudah katakan tentang pertunangannya?"


"Sudah."


"Terus, apa yang dia katakan," Suaminya sangat penasaran dengan jawaban dari Hazel tentunya.


"Anak itu, selalu saja sesuka hatinya. Biar Papa yang bicara padanya." Terlihat sangat geram dengan keras kepalanya Hazel, bahkan matanya begitu tajam melihat kearah pintu masuk yang terbuka lebar.


"Sabar, Pa. Bicara dengan Hazel harus dengan kepala yang dingin, tidak bisa dengan keras. Papa juga harus mengerti keinginannya, Pa. Coba papa bicara dengannya, dan cafu tau apa yang dia ingin. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kota, Pa."


"Kamu membelanya, Ma?"


"Bukan seperti itu, Pa. Hanya..."


"Halah, bilang saja kakak mama juga tidak setuju dengan keputusan papa. Pokoknya Hazel hanya akan bertunangan dan menikah dengan Ziana, titik!"


Begitu menegaskan ucapannya, terdengar sangat kesal hingga dia juga langsung beranjak dan melenggang pergi meninggalkan bu Kristin di ruang tamu rumah Hazel.


"Pa! Pa!" Panggil bu Kristin tapi sudah tidak di hiraukan lagi.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Nay, pembangunan pengembangan berjalan lancar. Dan jika tidak ada halangan maka bisa beroperasi sesuai waktu yang sudah di tentukan."

__ADS_1


Arifin menunjukkan hasil dari pekerjaannya, memperlihatkan pembangunan perusahaan cabang yang juga masih di daerah Semarang.


"Alhamdulillah kalau begitu. Pantau terus perkembangannya, Mas. Jika memang suka siap beroperasi maka kita juga akan buka secepatnya." jawab Kanaya.


Pekerjaan Kanaya memang sangat banyak, dan kini malah melakukan pengembangan untuk perusahaannya.


Sesuai keinginan dari mendiang suaminya, dia ingin bisa membuka lowongan pekerjaan sebanyak-banyaknya, membantu orang-orang yang memang sangat membutuhkan pekerjaan dan itu mulai di wujudkan oleh Kanaya.


"Tentu, oh iya. Keuntungan dari Pak Fris juga sudah aku data, dan ini adalah berkas-berkasnya, kamu bisa melihatnya."


Berkas keuangan di perlihatkan pada Kanaya, ternyata wanita yang terlihat biasa-biasa itu sangat hebat karena bisa melakukan hal yang seharusnya di lakukan oleh para laki-laki.


Perempuan tidak harus berasa di rumah, mengurus rumah tangga dan anak saja. Perempuan juga bisa memiliki karier, laki-laki dan perempuan semuanya bisa bermimpi kan? Bahkan bukan hanya sekedar bermimpi saja.


"Bagaimana, apakah ada yang kurang?" tanya Arifin, dia masih setia menunggu di sana.


Kanaya menggeleng, "Semuanya sudah sesuai."


"Secepat itu ku melihatnya?" Arifin malah terkejut sendiri, sepertinya dia lupa kalau otak adik sepupuku itu lebih daripada punyanya.


"Emang harus butuh berapa lama?"


"Tidak sih," Arifin yang merasa malu menggaruk tengkuknya sendiri, dia benar-benar salut dengan Kanaya.


"Oh iya, Mas. Bagaimana hubungan mas dengan Kayla?"


"Maksudnya?"


"Hadeh, Mas. Mas masih normal kan? Kalau masih normal kenapa tidak peka sekali?"


"Tunggu-tunggu, maksud kamu apa sih?"


"Hadeh, Mas. Coba mas pahami dengan benar, lihat Kayla dengan serius. Lihatnya pakai hati, jangan pakai n*fsu."


"Emang apa yang akan terlihat."


"Ah, capek ngomong sama mas, cari tau sendiri sana." Kanaya menggeleng, rupanya Arifin benar-benar kehilangan kepekaan terhadap perasaan wanita.


Dia yang dulu seorang casanova sekarang menjadi pria polos yang tidak paham apapun, sungguh mengejutkan.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2