Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Niat Ziana


__ADS_3

...●○●○●○●○...


"Ih, katanya Mas Hazel sudah menjauh dari janda itu. Tapi ternyata?" Ziana begitu kesal saat melihat Hazel yang ternyata masih bersama dengan Kanaya. Bukan hanya bersama Kanaya saja tapi bersama dengan Syifa juga bahkan Hazel dengan senang hati menggendongnya.


Melihat kedekatan mereka membuat Ziana kebakaran jenggot. Berkali-kali kakinya menghentak di tanah dengan bibir yang terus bergerak kesal, ingin terus menggerutu tapi dia sendiri tau kalau itu tidak akan pernah ada artinya.


"Bagaimana aku bisa membuat Mas Hazel kembali padaku kalau mereka saja terus bersama? ish, menyebalkan sekali." terus saja Ziana menggerutu. Dia semakin kesal melihat Hazel dan Kanaya yang tersenyum manis saat saling bertatapan.


"Aku harus melakukan sesuatu, aku tidak rela kalau janda itu bahagia di atas penderitaanku," tangannya mencengkram pada tali tasnya sendiri, entah rencana apa yang akan dia lakukan pada Kanaya.


Kembali Ziana masuk ke dalam mobilnya. Niatnya untuk bertemu dengan Hazel dia urungkan.


"Aku akan bertemu dengan Om Davin lebih dulu." ucapnya. Mobil langsung berjalan meninggalkan tempat.


Sementara Kanaya dan Hazel kini duduk di bangku panjang.


"Nay, maaf ya. Aku belum bisa mendapatkan restu dari papa tapi bukan berarti aku tidak berusaha. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan restu," ucap Hazel.


"Aku tau, Mas sudah berusaha. Tapi memang Allah belum menghendaki saja. Mas juga harus lebih sabar, mungkin Allah masih ingin Mas lebih bersabar lagi," jawab Kanaya.


Kanaya kembali terdiam, melihat ke arah lain. Berpikir akan ucapan Davin, pasti akan sangat susah mendapatkan restu dari Davin.


"Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau berusaha, iya kan, Nay?" tanya Hazel.


"Heh, i-iya, Mas. Setiap usaha pasti akan menemukan hasil di suatu saat, entah cepat atau lambat tapi hasil pasti akan datang."


"Iya, kamu benar." Hazel mengangguk.


Keduanya sama-sama diam sekarang. Memikirkan hal yang berbeda namun tujuan yang sama. Yaitu bersatunya mereka dalam ikatan pernikahan.


...●○●○●○●○...


"Om! Om!" Ziana terus berteriak. Tak ada sopan-sopannya dia saat datang di rumah orang lain.


Dia terus berteriak memanggil Davin yang entah ada di rumah atau tidak, tapi Ziana sangat yakin kalau Davin ada.


"Om!" teriaknya lagi.


Tok tok tok!


Tangannya juga terus mengetuk pintu, dia begitu tak sabar untuk bisa bertemu dengan Davin untuk membicarakan rencana untuk menyingkirkan Kanaya.


"Ish, dimana sih om Davin? tidak mungkin dia tidak ada di rumah pasti dia ada."

__ADS_1


Tok tok tok!


"Om! Om!" teriaknya lagi.


Baru saja Ziana hendak mengetuk lagi pintu terbuka dari dalam dan benar saja, ternyata Davin ada di rumah.


"Kamu, bisa sopan nggak sih! datang- datang langsung bikin gaduh seperti itu!" ternyata Davin kesal juga dengan kelakuan Ziana.


"Lagian Om tidak keluar keluar sih saat Ziana panggil. Ziana kan capek, Om."


"Masuk masuk," pintanya. Membuka pintu lebar-lebar dan meminta Ziana untuk masuk.


Jelas Ziana langsung masuk, berjalan menuju sofa dan duduk begitu saja dengan sok cantik. Menopang satu kaki di atas kaki satunya, tangannya menyatu dan berada di atas lutut.


"Ada apa kamu datang?" Davin duduk.


"Om, Ziana ingin menyingkirkan janda itu. Pokoknya dengan cara apapun Janda itu harus bisa musnah dari bumi ini, Ziana sudah neg melihatnya terus bersama Mas Hazel."


"Jangan gila kamu, Ziana. Kamu bisa masuk penjara."


"Iya kalau ketahuan, kalau tidak ya mana mungkin." jawab Ziana begitu acuh.


"Tapi tidak dengan cara seperti itu juga, Zi. Kamu boleh kasih sia pelajaran tapi tidak dengan menghilangkan nyawanya. Aku tidak mau kamu jadi seorang pembunuh."


"Zi! kamu jangan gila!"


"Zi sudah gila, dan itu karena anak Om, Mas Hazel." tegas Ziana. Kembali dia berjalan keluar, sepertinya dia sudah begitu yakin dengan niatnya.


"Zi!" teriak Davin panik.


"Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Ziana tidak bisa melakukan ini." Davin ikut berlari, keluar dari rumahnya untuk menghentikan rencana Ziana.


...●○●○●○●○...


Terus Ziana melajukan mobilnya dengan cepat, menuju tempat dimana Hazel dan Kanaya berada tadi. Sembari dua berpikir, apa yang harus di lakukan untuk menyingkirkan Kanaya.


Sementara di belakang mobilnya ada mobil Davin yang mengikutinya. Sepertinya Davin memang tidak mau Ziana melakukan hal bodoh seperti yang dia katakan padanya tadi.


"Tidak, jika aku tidak bisa mendapatkan Mas Hazel maka siapapun juga tidak akan bisa." gumam Ziana. Tekatnya sudah sangat bulat.


Wajahnya begitu merah menahan amarah yang sangat besar. Membawa keyakinan bahwa dia bisa berhasil dan dia tidak peduli apa yang akan dia dapatkan setelah melakukannya.


Senyumnya mengembang saat melihat Kanaya yang ingin menyebrang dan akan menuju ke mobil Hazel yang terparkir di seberangnya.

__ADS_1


"Ini waktunya," gumamnya. Dia begitu senang karena merasa sangat pas.


Melihat mobil Ziana yang mulai di percepat membuat Davin panik apalagi melihat Kanaya yang berdiri di pinggir jalan dan akan menyebrang.


"Tidak, Ziana tidak bisa melakukan ini." ucap Davin.


Davin bingung, apa yang harus dilakukan untuk menghentikan kegilaan Ziana.


Sama seperti Ziana yang mempercepat mobilnya Davin kuga melakukan yang sama bahkan lebih cepat karena berniat untuk menghentikan mobil Ziana.


"Ziana, kamu jangan bodoh! berhenti saya bilang!" teriak Davin.


"Tidak, Ziana tidak akan berhenti." jawab Ziana. Semakin cepat mobil Ziana berjalan tentu Davin tidak membiarkan itu terjadi.


Ckit!


Mobil Ziana dapat di hentikan oleh Davin dengan mobilnya yang menghadang di depannya.


Bugh!


"Sial," umpat Ziana. Memukul setir setelah dia dengan cepat harus menginjak rem barusan, kalau tidak mobilnya akan menabrak mobil Davin yang ada di depannya.


"Kembali, atau aku tidak akan memaafkan mu!" teriak Davin, dia menoleh ke arah Kanaya yang masih setia di tempat karena menunggu sepi dari sepeda motor dan mobil lain yang melintas.


"Ih!" dengan kesal Ziana menurut pada Davin.


"Kamu bisa selamat hari ini janda sialan, tapi tidak untuk selamanya." kesal Ziana.


Davin merasa sedikit lega, dua memang tidak menyukai Kanaya tapi dia juga tidak mau kalau sampai Kanaya terluka dan itu gara-gara Ziana.


"Untung saja Hazel tidak menyadari kejadian ini, kalau tidak dia akan membenciku seumur hidupnya," gumam Davin. Melihat ke arah Hazel yang tidak menyadari. Dia memang sempat menoleh tapi dia tidak melihat kalau yang ada di dalam adalah papanya.


"Seperti mobil papa?" gumam Hazel. Dia memang tidak melihat siapa pengemudi di dalamnya tapi dia sangat paham betul itu mobil siapa.


"Terus itu mobil siapa?" gumamnya lagi. Berusaha melihat mobil yang tertutup mobil Davin tapi Hazel tidak berhasil melihatnya.


"Mas, ada apa?" tanya Kanaya setelah berhasil menyebrang.


"Tidak, bukan apa-apa. Kita pulang sekarang?"


"He'em," Kanaya mengangguk.


...●○●○●○●○...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2