Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Akhirnya bertemu


__ADS_3

»»————><————««


"Ma, terima kasih ya. Karena mama di sini Hazel jadi bisa merasakan masakan mama lagi untuk sarapan."


Hazel begitu bahagia, dia terus tersenyum melihat beberapa macam menu yang ada di atas meja makan. Bukan itu saja, tapi Hazel juga sesekali beralih pada mamanya yang duduk di sebelahnya.


"Mama juga sangat senang, akhirnya bisa memasakan kamu lagi. Apalagi ini adalah makanan kesukaan mu."


"Hem, masakan mama memang selalu paling enak." pujinya.


"Apa sih, sekarang kamu bilang paling enak masakan mama tapi kalau kamu sudah punya istri pasti masakan istrimu yang akan kamu bilang enak." Kristin tersenyum sembari mengambil lauk.


"Doakan Hazel ya, Ma. Semoga saja bisa secepatnya." di sentuh tangan Kristin oleh Hazel, dia sangat berharap akan mendapatkan doa dari mamanya, siapa tau doa mamanya akan lebih cepat di ijabah.


"Mama akan selalu doakan yang terbaik untuk mu, Nak. Terus semangat ya."


"Oh iya, mama ingin sekali berkenalan dengan wanita itu, bisa lah kamu undang makan siang atau makan malam di sini." imbuhnya.


"Hem, akan Hazel usahakan, Ma. Semoga saja dia mau bertemu dengan mama. Tapi, Ma. jangan galak-galak ya nanti dia kabur lagi."


"Apa sih, memangnya mama seperti itu? tidak lah."


"Canda, Ma." Hazel terkekeh, dia senang bisa membuat mamanya tersenyum dengan bebas sekarang tidak sama seperti kemarin.


"Sudah, cepat habiskan sarapan mu, nanti terlambat ke rumah sakit." pinta Kristin.


"Iya, Ma." jawab Hazel dan segera menyuapkan sarapan nya lagi hingga habis.


Begitu senang Hazel dengan keberadaan Kristin, rumahnya menjadi ramai dan juga lebih menyenangkan. Bukan itu saja, tapi Hazel juga bisa terus bertemu dan bisa terus memantau kesehatan Mamanya yang kadang memang terganggu.


"Ma, Hazel berangkat dulu ya. Ingat! mama jangan mengerjakan apapun lagi, biar mbok yang melakukan semua pekerjaan. Sebentar lagi dia datang jadi mama juga akan ada teman. Assalamu'alaikum, Ma. Eh, maaf," ucap Hazel.


Meski Kristin adalah mamanya tapi dia tidak seiman dengannya jadi Hazel benar-benar minta maaf.


"Hem," Kristin hanya tersenyum saja sebagai jawabannya. Hazel juga tidak lupa menyalami Kristin dan mengecup punggung tangannya.


Apa yang Hazel lakukan saat ini adalah apa yang selalu dia lihat apa yang selalu Syifa lakukan. Hazel belajar dari Syifa dan dia sangat bangga pada dirinya karena dia tidak terlambat belajar.


"Teruslah belajar menjadi yang terbaik," hanya itu yang Kristin katakan sebagai nasehatnya.


"Iya, Ma. Hazel permisi dulu," kini dia benar-benar pamit dengan membawa tas kerjanya juga tak lupa jas putih kebesarannya.


»»————><————««


Syifa terus bercerita saat di dalam mobil dengan Kanaya. Baru saja dia berangkat ke sekolah bareng dengan Kanaya yang berangkat kerja, dan untuk pulang nanti ada pak Danu yang akan menjemput.


"Umi, satu minggu lagi Syifa ada fashion show di sekolah dan harus pakai baju seperti tuan putri, ada lomba keluarga kompak juga, Syifa akan ikut kan Umi?" tanya Syifa.


"Keluarga kompak, maksudnya?" tanya Kanaya penasaran.


"Iya, jadi kita bikin kelompok gitu Umi. Ada Syifa, Umi dan...," Syifa terdiam.


"Dan?" Kanaya mengernyit.

__ADS_1


"Dan Abi. Tapi Syifa kan tidak punya Abi, apa Syifa tidak akan bisa ikut, Umi? tapi Syifa pengen ikut."


Wajahnya langsung lesu tak semangat, dia sempat begitu antusias tadi tapi sekarang? wajahnya terlihat begitu sedih.


Kanaya terdiam, dia ikut sedih karena tak bisa mewujudkan apa yang Syifa inginkan.


"Syifa nggak bisa ikut ya, Umi. Jadi hanya Syifa sendiri yang tidak bisa ikut dong," ucapnya lagi.


"Hem, bagaimana kalau kita minta tolong Opa?" saran Kanaya.


"Tidak bisa, Umi."


"Kalau paman Arifin?"


"Tidak bisa juga."


Kanaya terdiam, lalu siapa kalau semuanya tidak bisa padahal hanya mereka berdua yang bisa membantu dan juga yang keluarga.


"Hem, bagaimana kalau Om Hazel?" celetuk Kanaya keceplosan.


Syifa langsung menoleh dan wajahnya langsung berbinar. "Bisa Umi." jawab Syifa begitu jelas kebahagiaannya.


Kanaya seketika terdiam, dia salah bicara barusan. Dia sama sekali tidak sadar padahal awalnya tidak ada pikirkan akan Hazel.


"Nanti kita bertemu dengan Om Hazel ya Umi."


"Hah!" Kanaya tertegun, nanti?


"Atau kalau tidak kita main ke rumah Om Hazel aja Umi, Syifa pengen lihat rumah Om Hazel."


Syifa mengangguk cepat. Bibirnya terus tersenyum dan tak ada hentinya.


Kanaya kini yang terus diam, dia terus berpikir bagaimana dia akan menemui Hazel juga membicarakan tentang keinginan Syifa.


Dia terus merutuki dirinya sendiri kenapa dia sampai keceplosan akan nama Hazel pada Syifa. Tau bagaimana hubungan Syifa dengan Hazel jelas saja dia tidak akan menolak.


"Alhamdulillah, sudah sampai. Yuk turun," ajak Kanaya setelah menepikan mobilnya di pinggir jalan depan sekolah.


Syifa tidak menjawab dia hanya tersenyum dan bergegas membuka pintunya. Karena susah Kanaya langsung turun dan berlari menghampirinya.


"Terima kasih, Umi." ucap Syifa.


Syifa menggandeng Kanaya dan meminta dia mengantar sampai ke pintu gerbang. Tak masuk lebih dalam karena Kanaya sudah terbiasa sampai di situ saja, tapi dia tidak pergi sebelum Syifa bertemu dengan gurunya yang selalu menunggu di depan pintu.


Kanaya pergi setelah Syifa melambaikan tangan dan di balas oleh Kanaya. Sudah tenang kalau Syifa sudah masuk ke dalam kelas.


Kembali Kanaya masuk ke dalam mobilnya, dia langsung melajukan mobilnya untuk cepat ke kantor. Dia harus bekerja sekarang.


»»————><————««


Rasa rindu yang sangat besar dari Hazel untuk Syifa, saat prakteknya selesai dia langsung pergi menemui Syifa ke sekolahnya.


Hazel yakin, Syifa belum pulang jadi dia bergegas pergi. Dan ternyata benar, setelah sampai ke sekolah Syifa belum pulang dan ternyata masih ada di dalam kelas.

__ADS_1


Teng teng!


Bunyi bel begitu jelas, dalam hitungan detik saja semua murid keluar dari kelas masing-masing untuk pulang.


Hazel menoleh, belum ada yang menjemput Syifa sampai saat ini.


"Syifa!" teriak Hazel dengan tangan nya yang melambai.


Syifa menoleh, mencari siapa yang memanggilnya hingga dia langsung tersenyum setelah melihat Hazel.


Baru saja tadi di bicarakan sekarang Hazel sendiri yang datang, seperti di panggil saja.


"Om!" teriak Syifa, dia berlari begitu cepat hingga rambutnya itu terus bergerak.


"Om," Syifa langsung memeluk Hazel yang sudah berjongkok di hadapannya. Keduanya saling berpelukan dengan sangat erat.


"Kangen," ucap Hazel dengan manja.


"Syifa juga sangat kangen. Padahal tadi Syifa baru bilang sama umi pengen ketemu sama Om, ternyata Om sudah datang sekarang."


"Benarkah?!" mata Hazel membulat girang.


"Iya. Tadi Syifa juga bilang pengen main ke rumah om."


"Wah, kebetulan sekali. Kalau begitu bagaimana kalau sekarang Syifa ke rumah Om. Ada mamanya om yang ingin bertemu, tapi...?"


"Tapi kenapa?"


"Tapi, bagaimana kalau ajak Umi juga?"


"Boleh, kita pergi saja ke kantor Umi sekarang." Syifa begitu antusias.


Di saat keduanya mengobrol pak Danu datang, dia jelas ingin menjemput Syifa.


"Kakek Danu, Syifa pulangnya sama Om Hazel ya. Tapi sekarang mau ke tempat Umi dulu." ucap bocah kecil itu.


Sejenak Danu melihat Hazel, Hazel tersenyum mengangguk seperti meminta izin.


"Baiklah." jawab Danu.


"Tolong jaga non Syifa," imbuh Danu berpesan.


"Pasti, Pak." Hazel mengangguk, jelas saja dia akan menjaga Syifa tanpa di minta pun dia akan melakukannya.


"Ayo, Om," ajak Syifa tak sabar.


"Assalamu'alaikum," ucap Hazel.


"Wa'alaikumsalam," jawab Danu.


Setelah keduanya pergi Danu langsung menghubungi Kanaya, dia ingin menjelaskan kalau dirinya sudah sampai tapi Syifa malah ingin datang ke kantornya bersama Hazel.


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2