
»»————><————««
Kanaya tertegun melihat Hazel dan juga Syifa yang datang, padahal dia sudah tau karena Danu sudah mengabarinya tapi tetap saja dia terkejut dan setengah gak percaya.
Kedatangan Hazel seketika membuat jantung Kanaya berdetak tak menentu, melihat senyum Hazel juga Syifa yang masih terus berjalan mendekat telah berhasil menggetarkan jantung di dalam dadanya.
Seolah ada cahaya yang datang, dan terpancar di wajah Hazel sangat jelas dan membuat perasaannya semakin tak menentu.
"Ada apa ini?" gumam Kanaya bingung.
Hatinya semakin tak menentu dan semakin jelas akan perasaan yang sudah sangat lama tidak dia rasakannya. Sudah lama hatinya tak bergetar dan sekarang?
"Ya Allah, perasaan apa ini?" gumamnya lagi. Kanaya masih bingung sepertinya dengan perubahan hatinya sendiri.
"Umi!" teriak Syifa, dia berlari setelah dekat dengan tersenyum bahagia dan meninggalkan Hazel yang hanya berjalan pelan saja.
"Assalamu'alaikum, Umi." sapanya lagi. Syifa melupakan mengucapkan salam karena begitu semangat untuk bertemu dengan uminya.
"Wa'alaikumsalam, Sayang. Bagaimana sekolah mu?" tanya Kanaya dengan sangat lembut.
"Alhamdulillah, semuanya baik, Umi."
Kanaya melihat ke arah Hazel dan ternyata pria itu tengah tersenyum karena melihat apa yang dilakukan oleh Kanaya juga anaknya.
"Ma_ mas," sapa Kanaya dengan begitu gugup. Kenapa rasanya begitu gugup untuk sekarang, kenapa tidak sama seperti kemarin?
"Assalamu'alaikum," sapa Hazel.
"Wa_ wa'alaikumsalam," kembali Kanaya gugup. Sungguh luar biasa perasaannya setelah melihat Hazel. Kanaya tersenyum kecil lalu menunduk karena tak kuasa lagi untuk melihat wajah Hazel.
"Umi, kata Om Hazel kita di undang untuk makan siang di rumahnya, mau kan Umi?" tanya Syifa.
Perkataan Syifa jelas saja langsung membuat Kanaya semakin tertegun, tubuhnya kian membeku seolah tak kuasa untuk bergerak.
"Umi, kok malah diam saja sih! bisa kan?" kembali Syifa berbicara. Diamnya Kanaya membuat Syifa tak sabar untuk bisa mendapatkan jawaban dari uminya tersebut.
Kembali Kanaya memberanikan diri untuk melihat Hazel dan ternyata Hazel masih tersenyum pada Kanaya.
"Hem, Mama yang menginginkan kalian datang. Kalau kamu bersedia mama pasti sangat senang tapi kalau kamu sibuk saya hanya izin mengajak Syifa saja," Hazel bicara.
Menjelaskan lebih meyakinkan pada Kanaya.
Kanaya diam berpikir, apa yang harus dia katakan. Apakah dia harus menjawab 'Ya' atau 'Tidak'?
"Pergilah, urusan pekerjaan biar aku yang tangani." kedatangan Arifin jelas langsung mengejutkan Kanaya. Dia yang diam menunduk kini menoleh dan melihat Arifin yang sudah ada di sampingnya.
"Ta_ tapi, Mas?"
__ADS_1
"Pergilah, lihatlah Syifa dia sangat menginginkannya." kembali Arifin bicara, berusaha membujuk Kanaya supaya mau berangkat.
"Ba_ baik saya menerimanya untuk datang," setelah berpikir Kanaya langsung setuju tapi sebenarnya dia juga tak begitu mengerti kenapa bibirnya seolah mendorong untuk mengatakan hal itu.
Arifin juga Hazel tersenyum, keduanya saling melihat dan memberikan isyarat dengan mata mereka berdua.
"Ye! Syifa bisa ke rumah om Hazel!" teriak Syifa girang.
Hazel tersenyum, dia begitu bahagia bisa melihat Syifa sebahagia saat ini begitu juga karena Kanaya telah menerima undangannya.
»»————><————««
Akhirnya Kanaya juga Syifa pergi juga ke rumah Hazel untuk bertemu dengan Kristin, tidak mengendarai mobil sendiri tapi mereka bersama dengan mobil Hazel.
Sebenarnya Kanaya ingin mobil sendiri tapi Syifa yang menginginkan untuk bertiga dalam satu mobil.
"Om, Om Hazel mau kan jadi Abinya Syifa?" celetuk di kecil itu.
Mata kedua orang dewasa itu langsung membulat sempurna, menjadi abi?
Hati Hazel langsung berbunga-bunga mendengar ucapan itu dari Syifa, itu artinya dia memang sangat ingin memiliki abi dan itu adalah Hazel.
"Maksudnya, menjadi Abi di acara sekolah Syifa. Sekolah mengadakan lomba keluarga kompak dan Syifa kan tidak ada abi jadi Om Hazel mau kan menggantikan abi?" terangnya.
Sudah begitu bahagia tadi hati Hazel tapi ternyata? itu hanya acara sekolah saja. Apakah dia akan bisa mendapatkan posisi itu yang sebenarnya suatu saat nanti?
"Oh, jelas saja bisa. Jangankan hanya di sekolah, di mana pun Om Hazel bersedia jadi abinya Syifa. Apakah Syifa mau kalau Om Hazel jadi abinya Syifa selamanya?" tanya Hazel dan tatapannya mengarah pada Kanaya yang tertegun.
"Jadi abinya Syifa, maksudnya?"
"Iya, jadi abinya Syifa. Abi yang sesungguhnya. Om, Umi dan Syifa menjadi satu keluarga. Mau?" tanyanya lagi.
"Hem, mau mau! tapi Umi?" Syifa beralih menoleh ke arah Kanaya.
"Umi mau kan?" tanyanya lagi.
Kanaya terdiam. Kenapa pembicaraan yang terjadi malah seperti ini? ini membuat dia menjadi canggung.
"Biarkan Allah yang menentukan," jawab Kanaya.
"Oh benar, biarkan Allah yang menentukan. Om, jadi Om minta sama Allah ya," ucapnya.
"Iya, Om Hazel akan meminta Umi pada Allah," jawab Hazel.
Keduanya saling bertatapan dalam sejenak, melihat netra masing-masing untuk mempertanyakan keseriusan satu sama lain. Benarkah Hazel jujur?
Tak lagi ada suara yang ada hanya suara mobil dan motor yang terus mendahului. Hazel memang sengaja memperlambat laju mobilnya karena dia tidak mau waktu bersama mereka cepat berlalu.
__ADS_1
Hingga sampai di rumah Hazel mereka masih diam. Hazel langsung turun dan membukakan pintu Kanaya. Menggendong Syifa yang ternyata tertidur dan membiarkan Kanaya yang berjalan dengan leluasa.
"Ayo masuk, mama sudah menunggu," ajak Hazel.
Kanaya mengangguk kecil lalu berjalan bersebelahan dengan Hazel yang menggendong Syifa.
Sungguh, adem rasanya yang melihat mereka bertiga yang sangat cocok menjadi sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Di dalam rumah Kristin sudah menunggu, dia sudah memasak berbagai menu yang dibantu oleh asisten rumah Hazel.
"Mbok, kok mereka belum datang ya? padahal katanya sudah dekat." Kristin sangat tidak sabar untuk bertemu dengan perempuan yang di suka oleh anaknya, sebenarnya seperti apa dia sampai membuat Hazel tak mau berpaling.
"Tunggu saja sebentar lagi Bu, mereka pasti akan datang."
Terpaksa Kristin diam dan menunggu kedatangan mereka Meski sangat tak sabar Tapi dia harus tetap sabar menunggu.
"Assalamu'alaikum," Sapa Hazel yang berucap lebih dulu.
"Wa'alaikumsalam," mbok yang menjawab karena Kristin tak bisa menjawabnya. Dia bisa, tapi keyakinan yang melarangnya.
Kristin langsung tersenyum, dia begitu bahagia melihat mereka datang dengan bersamaan. Kristin menghampiri dan langsung mendekati Kanaya.
"Si_ siang, Tan_ te." sapa Kanaya dengan gugup.
"Siang, Nak." jawab Kristin. Tangannya terangkat dan mengelus pipi Kanaya sembari tersenyum.
Sejenak Kristin menoleh ke arah Hazel, satu tangannya juga mengelus pipi Hazel.
'Mereka berdua memang sangat cocok. Wanita ini sangat cantik dan terlihat begitu baik. Dia terlihat begitu shalehah, semoga saja mereka berdua berjodoh.' batin Kristin.
"Ma," panggil Hazel dan berhasil mengejutkan lamunan Kristin yang tengah berharap.
"Eh, a_ ayo masuk," ajak Kristin begitu antusias.
Kanaya menoleh sebentar kearah Hazel dan di balas dengan tersenyum.
"Aku akan menidurkan Syifa dulu di kamar." pamit Hazel.
"Hem," Kanaya mengangguk kecil bersamaan dengan tangannya yang di tarik pelan oleh Kristin.
"Ayo," ajak Kristin lagi.
"I_ iya."
»»————><————««
Bersambung....
__ADS_1