
┅┅┅༻❁༺┅┅┅
Belum juga rasa kecewa kepada orang tua yang terus memaksakan kehendak untuk dia menikah kepada wanita yang tidak dia sayang, kini datang perempuan itu yang tentu sangat tidak dia harapkan kedatangannya.
Dengan sengaja dia malah datang ke rumah sakit dan lagi-lagi membuat masalah. Siapa lagi kalau bukan Ziana yang datang ke rumah sakit untuk menemui Hazel.
Semakin malas Hazel menjalani hari-harinya sekarang, baru saja dia merasa sangat senang dan semangat sekarang rasa itu telah di patahkan.
"Hallo mas Hazel," sapanya. Suara yang tak merdu itu dibuat begitu merdu, dengan bibir dan wajah yang dimainkan dengan tak biasa. Tentunya dengan genit seperti khas wanita penggoda.
"Lihat, aku bawa apa sekarang," Rupanya Ziana masih terus berusaha untuk mengambil hati Hazel, dia tak pantang menyerah ternyata. Patut di acungi jempol sih, tapi tak pantas untuk di tanggapi kelakuannya.
"Kenapa jadi kamu yang masuk, aku minta suster memanggil pasien," protes Hazel.
Seharusnya yang masuk adalah pasien yang akan checkup hari ini, tapi malah perempuan pengganggu yang masuk.
"Saya kan juga pasien mas Hazel, lihatlah! Jantungku terus berdebar-debar saat dekat dengan mas Hazel." Tangannya menyentuh dadanya sendiri dengan wajah yang benar-benar tak layak di lihat oleh Hazel.
"Coba periksa, Mas. Pasti jantungku bermasalah. Periksa, Mas."
Hazel cepat beranjak dia sangat tidak suka dengan kelakuan Ziana, akhir-akhir dia sungguh berubah menjadi tak punya malu. Dia yang memutuskan untuk tidak akan pernah menerima pertunangan padanya seperti sudah pilihan yang benar.
"Mas, Mas mau kemana?" wajahnya terlihat kecewa karena Hazel tetap tidak menanggapinya. Dia sangat ingin dekat dengan Hazel tapi dia selalu saja menolak, apakah memang tak ada kesempatan?
Hazel tidak menjawab, dia langsung berlalu dan keluar dari ruangan sendiri. Di depan ruangan terdapat deretan pasien yang antri untuk mendapatkan pemeriksaaan, tapi Ziana mengacaukan segalanya.
Semua mata melihat kearah Hazel, mungkin dalam kepala mereka akan bertanya-tanya kenapa dokternya malah keluar meninggalkan pasien di dalam.
Hazel mengabaikan semua tatapan dari orang-orang dia langsung menghampiri petugas keamanan.
Tangan Hazel melambai-lambai pada salah satu penjaga yang kebetulan menoleh kearahnya, ada dua penjaga yang sedang patroli, tapi hanya satu yang melihat Hazel.
Penjaga itu seketika menowel lengan temannya dan mengajaknya untuk menghampiri Hazel, mereka juga langsung berlari, jadi tidak butuh waktu lama untuk sampai di hadapan Hazel.
"Pak, tolong kalian usir perempuan gila yang ada di ruangan saya." Titahnya.
"Perempuan gila? Kok bisa ada orang gila nyasar di ruangan dokter?"
__ADS_1
"Sudah, jangan hanya tanya dan kerjakan perintah saya. Dan ya, jika dia tanya saya bilang saja saya sudah pergi."
"Baik, Dok." Mereka langsung berlari, pergi ke ruangan Hazel dan melihat perempuan gila yang seperti apa yang di maksud oleh dokter.
Sementara Hazel, dia berjalan kearah lain, sepertinya dia hanya ingin berputar saja jadi dia tidak akan bertemu dengan Ziana namun tetap kembali ke ruangannya.
Semua tampak bingung dengan kedatangan dua penjaga yang tiba-tiba masuk ke ruangan Hazel, penjaga yang terlihat begitu tegas dan juga sangat menakutkan postur tubuhnya dan aura wajahnya.
"Oh, sepertinya ini masalah hati," ucap salah satu penjaga setelah berhasil melihat Ziana yang diam duduk di kursi menunggu Hazel datang.
"Siang, Bu. Ibu harus segera meninggalkan ruangan ini." ucapnya dengan sopan.
"Ibu? Apa kalian tidak lihat saya yang masih muda dan cantik begini! Masak di panggil ibu?" Ziana tidak terima.
"Oh maaf, calon ibu-ibu," jawab yang satunya.
"Ah, sama saja!" Ziana sangat kesal. Moodnya langsung anjlok karena kedatangan dia penjaga itu.
"Dimana dokter Hazel?" Pertanyaan Ziana juga terdengar sangat angkuh, dan dia masih saja duduk tak mau berdiri.
"Dokter Hazel sudah pergi, Calon ibu-ibu."
"Mana kami tau," jawab salah satunya, itupun juga dengan mengangkat kedua bahunya sendiri.
"Kalian pasti bohong kan? Dokter Hazel kan yang menyuruh kalian mengatakan itu supaya saya pergi!?"
"Lihat saja mobilnya di tempat parkir, kalau ada berarti kami bohong, kalau kalau nggak ada berarti Anda yang ngeyel."
"Ihh! Awas kalau sampai bohong." Jari telunjuk Ziana terangkat, menunjuk wajah kedua penjaga itu dengan begitu sadis. Tak lama, hannya beberapa detik saja lalu dia berlalu untuk mencari kebenaran.
"Kenapa kamu bilang seperti itu, mobil dokter Hazel pasti ada di tempat parkir. Gawat, apa yang harus kita lakukan?"
Salah satunya menggaruk kepalanya sendiri yang jelas tidak gatal, hanya efek dari perbuatannya sendiri.
"Kenapa kalian bingung, nih pindahkan mobilku." pinta Hazel memberikan kunci pada salah satu penjaga.
"Siap, Dok." Kedua langsung ngacir untuk menjalankan tugas. Mereka harus bisa berhasil memindahkan mobil Hazel dan membuat Ziana percaya. Kalau tidak pasti pekerjaan dokter Hazel tidak akan pernah selesai.
__ADS_1
"Antrian nomor dua belas!" Panggil suster.
Perlahan seorang remaja yang duduk di kursi roda masuk, tentu tidak sendiri karena di bantu oleh Ibunya.
┅┅┅༻❁༺┅┅┅
Hari berjalan begitu cepat, tentunya juga sangat melelahkan meski sudah terbiasa dengan segala kesibukannya. Setelah selesai pekerjaan di rumah sakit Hazel bergegas pergi, dia berniat ke tempat Omanya sesuai rencana.
Nampak Hazel begitu semangat, rasa lelah memang sangat besar tapi seakan hilang karena terkalahkan dengan niatnya. Dia tersenyum, dia tidak sabar untuk berani dengan Omanya.
Dengan mobil yang berpindah tempat parkir dia mulai pergi meninggalkan rumah sakit, tidak jauh, mungkin hanya membutuhkan waktu lima belas menit kalau jalanan lancar.
Sebelum sampai Hazel sempatkan diri singgah sebentar di toko buah sebagai oleh-oleh, hannya buahlah yang Hazel pilih karena itu adalah makanan yang menyehatkan untuk Omanya.
Tampak begitu senang Hazel setelah berhasil mendapatkan apa yang dia ingin. Pisang, anggur, apel juga masih banyak lagi yang Hazel beli, dia sangat yakin Omanya akan sangat senang mendapatkan oleh-oleh dadi cucunya ini.
Kembali mobil berjalan setelah semua dipastikan masuk ke dalam mobil, sejenak Hazel menoleh melihatnya, dia tersenyum.
"Oma pasti akan sangat senang," gumamnya.
Kembali Hazel terdiam, pandangannya fokus dengan menyetir tapi tidak dengan angan-angannya, dia masih terus memikirkan mimpi yang sangat aneh menurutnya.
Memang tidak terlalu aneh sih sebenernya, tapi hanya Hazel sangat penasaran dengan maknanya.
Mimpi memang hanya sebuah mimpi tidur, percaya atau atau tidaknya tergantung pada orang itu sendiri, dan Hazel percaya bahwa salah satu mimpi pasti ada yang memiliki makna tertentu.
Apalagi mimpinya semalam.
"Bagaimana bisa aku di beri alat perlengkapan shalat dan juga kitab orang muslim? Apa artinya itu, dan siapa orang tua itu?" gumamnya lagi.
Diberikan semua kelengkapan alat shalat, juga kitab suci dari agama lain, kira-kira apa maknanya? Hazel ingin mengetahui itu.
"Semoga saja Oma tau maknanya dan apa yang harus aku lakukan. Lagian Oma kan juga muslim."
Semakin cepat Hazel melajukan mobilnya, dia sangat ingin cepat sampai.
┅┅┅༻❁༺┅┅┅
__ADS_1
Bersambung.....