Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Gagalnya pertunangan


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Keributan benar terjadi di acara yang di gadang-gadang akan menjadi acara pertunangan antara Ziana juga Hazel. Semua tamu sudah datang, tentu juga dengan Ziana dan keluarga, tapi sang laki-lakinya malah tak tau entah ada di mana.


Di telfon berkali-kali tidak ada jawaban, bahkan ponselnya benar-benar tidak bisa di hubungi, apalagi hanya sebatas pesan saja? tentu tidak akan ada jawaban kan?


Pak Davin terlihat begitu kesal sekaligus bingung, mau di cari dimana anaknya itu. Di telfon di rumah Omanya dia tidak ada, menghubungi rumah sakit katanya Hazel ambil cuti tiga hari, sungguh membuat orang tua pusing.


"Akh.. mau aku taruh mana mukaku kalau sampai anakmu itu tidak pulang. Sudah susah-susah kita siapkan semua ini tapi dia malah pergi entah kemana."


Pak Davin tentu saja akan ngedumel karena anaknya yang tak pulang, semua sudah dipersiapkan bahkan bukan hanya di persiapkan lagi tapi benar-benar sudah ada di depan mata.


Semua tamu sudah mulai berbisik-bisik karena Hazel yang tidak datang, mereka sudah terlihat bosan karena acara juga belum di mulai padahal mereka sudah datang dari tadi.


"Pak, ini jadi tidak acaranya?" tanya salah satu tamu yang memberanikan diri. Memang tidak seharusnya tanya di tengah-tengah kebingungan tuan rumah, tapi mau bagaimana lagi, mereka juga ada kerjaan lain kan?


"Maaf, Pak. Sebentar lagi." Bu Kristin yang menjawab.


Sebagai seorang ibu juga tentu sangat gelisah karena apa yang di perbuat oleh anaknya, sekarang dia tau, bahwa Hazel tidak main-main, dia benar tidak suka pada Ziana.


Tapi Bu Kristin juga belum bisa memastikan kalau Hazel menyukai wanita yang berbeda keyakinan itu.


Seandainya benar, maka Bu Kristin akan berada di persimpangan yang sangat berat, pastilah dia harus memilih salah satunya. Anak atau suami.


Mereka berdua sama-sama berarti untuk Bu Kristin, tak akan mudah untuk memilih diantara keduanya. Memilih suami adalah bentuk baktinya, memilih kebahagiaan anak juga bentuk tanggung jawabnya sebagai orang tua untuk bisa membuat anaknya bahagia.


"Ini gara-gara mama selalu saja memanjakannya. Kalau mama tidak pernah memanjakan pastilah dia tidak akan pernah ngelunjak seperti ini."

__ADS_1


Suaranya memang terdengar sangat geram, tapi juga dengan berbisik karena tidak mau semua tamu undangan akan mendengarnya. Akan semakin malu kalau sampai di dengar.


"Maaf, Pak. Saya dan keluarga harus pulang, kami ada acara yang tidak bisa di tinggalkan."


Salah satu tamu pamit pulang, memang hanya satu yang pamit tapi seluruh keluarganya ikut pergi.


"Kami juga, Pak."


"Kami juga, Pak."


Bubar sudah acara itu. Semua tamu satu persatu pergi dari sana, meninggalkan kedua belah keluarga yang sangat malu.


"Om, ini bagaimana? sebenarnya di mana Mas Hazel?" Ziana nampak gelisah. Dia sudah berdandan begitu cantik demi acara ini masak iya harus gagal.


Ziana terus memandangi kedua orang tua dari Hazel, berwajah gelisah tapi juga memelas. "Om, Tante, ini bagaimana? Zi tidak mau gagal bertunangan dengan mas Hazel. Om! Tan!" seru Ziana.


Berkali-kali Ziana bicara. Bukan hanya Ziana saja yang ingin acara itu gagal, orang tua Hazel juga sama, semua tak ada yang mau acara itu gagal hanya satu orang saja yang menginginkannya siapa lagi kalau bukan Hazel sendiri.


Bukan hanya keluarga Hazel saja, tapi keluarga Ziana juga telah di permalukan.


"Tidak, Pa. Ziana masih ingin menunggu mas Hazel, dia pasti akan datang, dia pasti sedang berada di perjalanan."


Besar harapan Ziana untuk kedatangan Hazel, tak ada lagi yang yakin kecuali hanya Ziana saja yang masih percaya.


"Jangan bodoh kamu, Zi. Dia tidak akan datang! dia hanya laki-laki pengecut yang tidak berani muncul di hadapan papa. Dia pasti tau, kalau muncul dihadapkan papa sekarang dia akan habis di tangan papa, makanya dia tidak berani."


"Ayo pulang," Papa Ziana tak bisa di ajak bicara lagi sekarang, dia sangat marah.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, Pak. Jangan pulang dulu." Pak Davin berusaha membujuk.


"Akh... omong kosong! Zi, ayo pulang!"


Ziana tidak mau tapi dia terus di paksa, di tarik dengan keras sampai dia tidak bisa mengelak lagi kecuali menurut saja.


Lemas sudah pak Davin, acara yang di gadang sangat meriah kali ini telah hancur. Bukan hanya para tamu yang pergi, bahkan mempelai wanita juga sudah pergi.


"Sabar, Pa." Bu Kristin mencoba untuk menghibur tapi sepertinya tidak di terima dengan baik.


"Akh! semua ini juga karena gara-gara mama. Sekarang mama puaskan sudah membuat papa malu. Puas kan, Ma!"


"Pa, kenapa malah jadi nyalahin mama, semua ini bukan mama yang menginginkan. Mama juga tidak tau Hazel pergi kemana, Pa. Bukan mama yang menyuruh Hazel untuk pergi!" Bu Kristin pun ikut kesal juga.


Orang yang tidak tau apa-apa juha kena marah gara-gara gagalnya acara yang indah ini.


"Akh!" pak Davin beranjak, dia berjalan masuk ke rumahnya dengan sangat frustasi. Siapapun orang tua yang mengalami hal itu pasti akan mengalaminya.


"Kamu dimana, Nak. Meski kamu tidak menginginkan ini seharusnya kamu tetap pulang dan jelaskan pada semuanya kenapa kamu tidak mau acara ini berlangsung," gumam bu Kristin sedih.


Bu Kristin belum juga beranjak dari tempat, mengawasi ke segala arah siapa tau anaknya akan datang. Tapi setelah beberapa saat hanya kecewa yang dia dapat karena anaknya tak pernah datang.


"Kamu di mana, Nak?"


Bu Kristin juga tak kalah, dia kembali menghubungi nomor Hazel namun tetap saja tak bisa.


Bu Kristin ikutan lemas sekarang, meski dia akan selalu mendukung keputusan apa yang di ambil oleh anak tapi dia juga sangat malu, dia juga sangat gelisah karena hubungannya dengan suami pasti akan renggang.

__ADS_1


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung....


__ADS_2