Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Kebimbangan


__ADS_3

»»————><————««


Tak akan mudah untuk bisa mendapatkan hati dan juga kepercayaan dari Kanaya. Rasanya sangat susah apalagi di dalam hati Kanaya masih tersimpan akan mendiang suami yang sangat dia cintai. Meski seperti itu Hazel sama sekali tidak mau menyerah, cintanya begitu besar sama seperti tekatnya untuk bisa membahagiakan.


Bisa menjadi pelindung, bisa menjadi teman juga bisa menjadi apapun yang mungkin hilang di kehidupan Kanaya setelah lama ini.


"Aku akan buktikan, aku tidak mau hanya di bilang sok terus pdkt tapi tak ada usaha. Aku akan buktikan usaha yang sebenarnya itu." gumamnya.


Hazel menatap lekat pada sebuah benda yang ada di hadapannya di ruangan prakteknya yang ada di rumah sakit, untung saja masih dalam jam istirahat jadi dia bisa berpikir langkahnya yang akan dia ambil setelah dia menjalankan shalat di masjid juga makan siang.


Bagi orang yang tau, sebenarnya kesungguhan Hazel sangatlah besar. Dia terus berusaha mendekatkan diri pada Kanaya dan juga Syifa juga semua keluarganya, terlebih lagi dia mau mengubah keyakinan hanya untuk Kanaya saja.


Hazel sangat menginginkan kemudahan untuk hubungannya pada Kanaya. Dengan samanya keyakinan pastilah tak akan ada lagi masalah besar jika Allah sudah berkehendak.


Dulu tekatnya hanya untuk memenuhi janji dan juga amanah dari mendiang suaminya, tapi sekarang? sekarang dia beneran ingin melakukannya karena dia memang cinta pada Kanaya. Sangat cinta.


Tok tok tok!


Suara pintu diketuk dari luar, Hazel langsung tersadar juga langsung melihat. Siapakah yang datang dan ternyata...


"Ma," panggil Hazel sedikit dengan wajah herannya. Untuk apa bu Kristin datang ke rumah sakit?


"Kok terus di sini, kamu tidak istirahat makan siang?" tanya Kristin. Dia sudah melangkah dan duduk di kursi yang ada di hadapan Hazel.


Tatapannya selalu saja meneduhkan, bisa selalu bisa membuat Hazel nyaman. Selalu hangat dan membuat Hazel selalu ingin bersama dengan mamanya tersebut apalagi kalau saat ada dalam masalah.


"Hazel sudah istirahat, Ma. Terus mama kenapa datang, apa ada masalah?" tanyanya.


Kristin menggeleng cepat. "Mama sangat merindukan mu, Nak. Apa tidak boleh jika mama datang?"


"Boleh lah, Ma. Hanya saja tumben."


"Hem, mama sudah datang ke rumah tapi kamu tidak ada. Bukan hanya sekali saja, tapi beberapa kali. Mama merasa sangat susah untuk bertemu dengan mu." ucap Kristin pilu. Terlihat jelas dia sangat merindukan anaknya tersebut.


"Ma, kenapa, apakah ada masalah?" Hazel merasa heran saja, tak seperti biasanya Kristin seperti ini.


"Tidak," kembali Kristin menggeleng tak mengaku atau memang tidak ada dan hanya benar merindukan anaknya saja.


"Nak, apakah benar yang papa katakan, apakah kamu menjadi muslim sekarang?"

__ADS_1


"Hem, iya, Ma. Hazel memutuskan untuk menjadi muslim, Ma. Apakah mama juga akan menentang Hazel?"


"Itu pilihan mu, Nak. Semua orang punya pilihan sendiri dalam hidupnya. Selama itu perubahan yang baik mama akan selalu mendukung mu," jawab Kristin yakin.


Begitu besar ketulusan Kristin, dia benar mendukung Hazel tapi kenapa ada semburat kesedihan di mata Kristin?


"Ma, jujur sama Hazel."


"Tidak ada apa-apa, Nak. Oh iya, bolehlah mama tidur di rumah mu beberapa hari saja?" izin Kristin.


Semakin jelas kalau ada masalah yang Kristin sembunyikan, apakah dia ada masalah dengan papanya Hazel? bisa jadi sih.


"Kenapa harus izin, rumah Hazel rumah mama juga kan? Mama boleh tidur bahkan tinggal di rumah Hazel, Hazel akan sangat bahagia malah."


Kristin tersenyum, dukanya dia sembunyikan dari anak semata wayangnya yang terlihat sangat penasaran namun tak lagi mau bertanya, mungkin dia ingin memberikan waktu untuk Kristin supaya mau bercerita sendiri.


...»»————><————««...


Tak bisa Kanaya terus meratapi kejadian yang sudah lewat, dia harus bisa kembali seperti semula. Menjadi Kanaya yang kuat dan bisa cepat melupakan masalah yang sangat berat.


Bukan hanya kehidupannya sendiri yang harus dia pikirkan, tapi ada banyak kehidupan. Anaknya, kedua mertuanya juga semua karyawan yang sangat membutuhkannya.


"Nay, kamu tidak apa-apa?" tanya Arifin. Dia masuk ke ruangan Kanaya dengan membawa berkas yang membutuhkan tanda tangan Kanaya.


"Alhamdulillah Mas. Kanaya baik-baik saja," jawabnya seraya tersenyum meski masih begitu kecil juga terasa sangat berat.


"Alhamdulillah. Oh iya, ini ada berkas yang membutuhkan tanda tangan mu." Arifin langsung menyodorkan berkas tersebut.


Arifin duduk, menatap lekat wajah Kanaya yang sudah lebih baik sekarang daripada beberapa hari lalu.


"Nay, menurut mu bagaimana dengan Hazel?"


"Maksudnya?" Kanaya malah beralih menatap Arifin dan meninggalkan berkasnya. Tatapannya penuh dengan penasaran apa yang sebenarnya Arifin tanyakan.


"Maksudnya. Hazel itu bagaimana menurutmu?"


"Baik." jawabnya singkat.


"Apakah kamu tidak berniat untuk menerima cintanya?"

__ADS_1


Baru saja Kanaya ingin fokus dengan berkas Arifin kembali bertanya dan pertanyaannya sangat membuat dia tertegun dalam sesaat.


"Nay, sudah saatnya kamu melanjutkan kehidupan mu. Hazel pria yang baik, dia juga sangat bertanggung jawab. Dan yang terpenting, dia sangat sayang pada Syifa juga kamu."


"Apa kamu tau betapa khawatirnya dia saat kamu dalam masalah kemarin? dia seperti orang nggak waras." jelas Arifin.


Kanaya masih tertegun namun kini tidak melihat ke arah Arifin. Dia berpikir dan sangat bingung akan semuanya. Benarkah dia harus menerimanya?


"Aku yakin, Dirga tidak mau sampai kamu seperti ini. Dia pasti sangat menginginkan kamu bahagia."


"Akan saya pikirkan, Mas." jawab Kanaya.


Ada rasa sedikit lega pada hati Arifin, setidaknya Kanaya mau memikirkan semuanya.


"Bukan hanya Dirga saja yang ingin kamu bahagia dan juga Syifa, tapi semuanya! kami sangat ingin melihat kamu bahagia."


"Hem," Kanaya mengangguk kecil.


»»————><————««


Tertegun Kanaya di dalam kamarnya, menatap kegelapan malam dari jendela yang masih terbuka hingga membuat angin malam bebas menyapa dirinya.


Membayangkan dan memikirkan akan kenangan yang telah lampau, dan juga memikirkan jalan setelah sekarang jika dia benar menerima Hazel dalam hidupnya.


"Apakah itu benar?" gumamnya.


Hatinya terus berperang dalam rasa kalut yang begitu dalam. Semua jelas harus dia pertimbangan dan harus dia pikirkan, tidak mungkin dia mengambil keputusan begitu saja.


Bintang begitu banyak namun tak ada suara hewan malam sama sekali dan terasa begitu sunyi dan hanya ada Kanaya seorang diri dalam kesendiriannya.


Hembusan angin saja yang kian menyapa dengan lembut dan terasa semakin membuat wajahnya dingin.


"Haruskah aku menjalankan shalat istikharah?" gumamnya lagi.


Sangat susah untuk bisa melakukan hijrah dalam cintanya. Cinta yang sudah begitu besar untuk mendiang suaminya dan harus dia pindah pada orang lain, itu tidaklah mudah.


"Ya Allah, beri aku jawaban yang datang dari-Mu, bukan hanya apa yang aku inginkan." gumam Kanaya lagi.


»»————><————««

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2