
»»————><————««
Rasa trauma masih saja menyelimuti Kanaya meski sudah beberapa hari dari kejadian saat itu yang hampir saja merenggut kehormatannya. Dia masih sangat sedih, jelas saja.
Senyumnya hanya selalu sesaat saja, meski sang buah hati terus mengajaknya bermain dan bercanda tapi belum juga bisa mengembalikan kebahagiaan yang ada dalam dirinya.
Hatinya masih begitu kalut, membayangkan kenapa Dirga begitu tega padanya hanya karena tak mendapatkan cintanya. Mungkin dia memang salah, tapi mau bagaimana lagi, cinta tak bisa di paksakan.
Cinta tak akan bisa datang begitu saja meski seberapapun keras dia mencoba. Di tambah dengan tabiat Dirga yang begitu buruk tentu hal itu membuat Kanaya tak akan bisa menerimanya.
Opa Hasan dan juga Oma Uswah hanya bisa berkaca-kaca setiap kali melihat Kanaya yang tersenyum pilu apalagi di saat melamun seorang diri. Tak seharusnya Kanaya mengalami hal ini.
Mereka berdua merasa gagal menjadi orang tua, tak bisa menjaga Kanaya dengan baik dan tak bisa menjadi pengganti orang tua yang bisa menghiburnya kala dia sedih.
"Abi, seharusnya ini tidak terjadi kan?" tanya sang Oma Uswah.
Keduanya tengah menatap Kanaya yang diam dan hanya akan tersenyum sekilas saja ketika Syifa mengajak bicara, itupun dari kejauhan.
Di ruang tengah mereka bermain bersama, lebih tepatnya Kanaya hanya menemani saja. Rasanya tenaganya tak semangat sama sekali.
Sudah beberapa hari Kanaya tidak berangkat kerja, semua pekerjaan di kerjakan oleh Arifin. Tentu itu juga karena permintaan dari Opa Hasan yang juga sudah sangat percaya pada Arifin.
"Jangan menyesalinya, Umi. Semua ini sudah menjadi takdir." jawab Opa yang sebenarnya tak tega melihat keadaan Kanaya sekarang.
__ADS_1
"Sudah sudah, jangan menangis lagi, Umi. Nanti umi jadi sakit." imbuh Opa.
Baru saja Opa dan Oma akan keluar dari tempat itu dia melihat sekelebat seseorang yang ingin masuk lewat dari kaca jendela.
Sebelum orang itu benar-benar masuk Opa langsung keluar lebih dulu. Langkahnya begitu cepat dan melewati Kanaya begitu saja.
"Assalamu'alaikum," ucapannya begitu lemah. Namun dapat di dengar oleh semua yang ada di dalam rumah termasuk Kanaya.
Mendengar saja sudah langsung membuat Kanaya membulatkan mata dalam sekejap namun tak lama kemudian dia mulai takut. Tubuhnya gemetar hebat hanya karena suaranya saja.
Opa yang keluar sementara Oma lebih memilih mendekati Kanaya, dia tau pasti akan ada yang terjadi pada Kanaya dan ternyata benar.
"Wa'alaikumsalam," jawab Opa. Suaranya terdengar tegas.
"Untuk apa kamu datang?" tanya Opa. Dia tau akan pahala menyambut dan menghargai tamu, tapi itu tidak akan dia lakukan. Menyambut baik pada orang yang telah membuat Kanaya menjadi kehilangan keceriaan seperti saat ini.
Dirga begitu memohon, dia sangat ingin bertemu dengan Kanaya untuk minta maaf. Terlihat sangat menyesal tapi Opa tidak mengizinkan Dirga masuk.
Dia bisa memaafkan, tapi dia tak lagi bisa percaya pada Dirga. Sudah kesekian kalinya dia membuat kesalahan dan sebanyak itu juga dia memaafkan, tapi tidak untuk sekarang.
"Maaf, Dirga. Saya tidak bisa memberikan kesempatan kamu lagi. Jangan khawatir, kami sudah memaafkan mu, tapi kami tidak bisa berhubungan lagi dengan mu."
"Lupakan Kanaya, biarkan dia tenang dan bahagia dalam hidupnya. Buka hatimu untuk orang lain, saya yakin ada yang baik untukmu yang sudah Allah siapkan dan itu bukan Kanaya." ucap Opa.
__ADS_1
"Tidak, Om. Saya hanya menginginkan Kanaya. Saya hanya mencintai dia saja, Om."
"Maaf, Dirga. Lebih baik kamu pulang." Dengan cepat Opa menutup pintunya, tak akan dia beri kesempatan untuk Dirga masuk ke dalam rumah dan membuat Kanaya semakin ketakutan.
"Om, izinkan saya bertemu dengan Kanaya! Om!" teriak Dirga namun tak ada lagi jawaban.
Dia terus menggedor pintu namun tak dia dapatkan jawaban sepatah katapun.
Penyesalan, hanya itulah yang Dirga rasakan sekarang. Dia menyesal karena begitu keras pada Kanaya. Seharusnya dia tidak melakukan itu dan dia masih bisa perlahan mendekati Kanaya tapi kalau sudah seperti ini?
Dirga pergi dari sana dengan lesu, kedatangannya tak mendapatkan hasil apapun. Padahal dia juga belum sembuh benar karena di hajar oleh Hazel saat itu tapi usaha dia tak di lihat sama sekali oleh keluarga Kanaya.
"Argh!" teriaknya begitu frustasi. Tangannya langsung melayangkan pukulan pada angin dengan rasa penyesalan yang begitu mendalam.
Sementara di dalam, Oma Uswah masih terus memeluk Kanaya, menenangkannya yang ketakutan. Sementara Syifa, dia menangis melihat Uminya yang seperti sekarang ini.
"Oma, Umi kenapa?" tanyanya dengan derai tangis yang terus berjatuhan.
"Tidak apa-apa, Umi hanya lelah saja, Umi hanya butuh istirahat. Kita antar Umi ke kamar yuk," ajak Oma Uswah.
Syifa mengangguk dengan patuh, ikut berdiri ketika Oma Uswah menuntun Kanaya untuk berdiri.
Ketiganya berjalan menuju kamar dengan Kanaya yang terus diam dengan tubuh yang masih gemetar.
__ADS_1
»»————><————««
Bersambung....