Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Kenekatan Dirga


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Karena terkena halangan lampu merah membuat Hazel terlambat untuk mengejar Kanaya, padahal dia mengendarai motor tapi yang namanya lampu merah tidak akan bisa di kalahkan.


Dia bisa saja mendahului kendaraan lainnya dan maju terus pantang mundur selama ada celah untuk maju, tapi kalau yang namanya lampu merah, sekali dia maju maka peluit dari pak polisi akan menghentikannya. Masalah akan semakin runyam nantinya.


Setelah bisa berjalan Hazel cepat menjalankan dengan lajunya, dia tidak ingin sampai ketinggalan jauh, dan tidak akan tau apa yang terjadi. Baru saja dia sampai di tempat Kanaya berhenti dia sudah di buat panas dengan kelakuan Dirga yang memaksa Kanaya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Bukan hanya amarahnya yang menguap, tapi tanduknya juga seolah tumbuh dan ingin sekali nyeruduk Dirga hingga mental jauh. Tapi apalah daya, itu hanya sebuah istilah saja, Hazel bukan seekor banteng yang memiliki tanduk kuat.


"Hey!" teriak Hazel, tapi teriakannya tak terdengar oleh Dirga ataupun Kanaya. Dirga sudah keburu masuk kedalam mobil setelah berhasil memaksa Kanaya masuk.


Semakin emosi ketika mobil mulai berjalan. Sungguh keterlaluan nih Dirga.


Kring!


"Ah, apa lagi sih!" kesalnya. Jelas saja Hazel rasakan. Baru saja dia ingin mengejar Kanaya malah ponselnya berbunyi.


Untung ada headset yang selalu ada di telinganya jadi dia tinggal menekan tombolnya saja dan telfon sudah tersambung.


"Dok, ini ada pasien darurat. Kapan dokter sampai?" Suaranya terdengar begitu gusar, tentu saja, sang dokter belum juga sampai di rumah sakit dan malah mengejar wanita pujaannya yang kemungkinan ada dalam masalah besar.


"Maaf, saya belum bisa datang sekarang. Kamu minta dokter Ridwan dulu untuk memeriksanya, saya usahakan akan secepatnya datang kalau urusan saya sudah beres."


"Tapi, Dok?"


Tut!


Belum juga Hazel menjawab sambungannya sudah dia matikan begitu saja, tak ada waktu lagi, dia harus secepatnya menolong Kanaya.


Tin!


Ada lagi gangguannya ketika dia akan menjalankan motornya.


"Ada apa Zel, kok berhenti? Kamu tersesat ya, bukankah seharusnya kamu ke rumah sakit? Ini bukan jalan menuju rumah sakit?" tanyanya. Seorang laki-laki yang sepertinya sangat mengenal Hazel.


"Iya, ini bukan menuju rumah sakit, tapi menuju bengkel kamu kan? Urus itu mobil, awas kalau sampai lecet. Dan ya! Jaga barang-barang yang ada di dalamnya." titahnya.


"Lah, kenapa jadi gu...," ucapannya terhenti karena Hazel sudah keburu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


"Kenapa tuh orang, kesurupan?" tanyanya pada diri sendiri, melihat Hazel yang begitu buru-buru dan tak lagi menoleh.


"Ini mobil siapa lagi. Mana masih ada barang-barangnya gini lagi. Kuncinya juga masih ada, apakah terjadi penculikan?"


Matanya menerawang jauh ke arah Hazel pergi tadi, dia percaya pasti ada yang tidak beres, pasti ada yang terjadi dan itu bukan hal yang baik.


"Tumben Hazel begitu peduli dengan orang ketika di luar pekerjaan." gumamnya. Tangannya mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang untuk mengambil mobil tersebut. Tidak mungkin dia bisa membawa dua kendaraan sekaligus.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Begitu buru-buru Hazel untuk bisa mengejar mobil Dirga, kali ini dia tidak boleh ketinggalan lagi, dia harus mengejar mobil Dirga dan bisa menghentikannya, atau kalau tidak yang penting dia bisa terus di belakangnya dan tau Dirga akan membawa Kanaya kemana.


Tak akan dia biarkan sesuatu terjadi pada Kanaya, dia akan menyelamatkannya. Dia akan melakukan apapun pada Dirga jika sampai ada sesuatu yang terjadi pada Kanaya atau ada yang dia lakukan.


Dia merasa ada tanggung jawab untuk menjaga keselamatannya. Meski hanya dari sepucuk surat saja dari mendiang suaminya tapi itu sudah menjadi tanggung jawab, apalagi di tambah dengan sekarang dia yang mencintainya.


"Awas saja kalau sampai kamu melakukan hal buruk kada Kanaya, tuan Dirga. Aku akan patahkan tangan dan kakimu."

__ADS_1


Hazel begitu geram, dia sudah sangat emosi dengan Dirga. Melihat kejadian tadi saja dia sudah sangat marah bagaimana kalau sampai Dirga melakukan hal yang lebih buruk dari itu.


"Pantas saja Kanaya tidak mau menerimamu meski kamu sudah berjuang cukup lama, kamu begitu tempramen, tabiatmu begitu buruk."


Terus saja Hazel mengomentari Dirga yang sangat dia yakini tidak baik. Jika Dirga sangat baik pada Kanaya tentu dia tidak akan pernah melakukan hal yang sangat buruk seperti sekarang.


Jika dia benar mencintai Kanaya pasti dia akan menjaga dan tidak akan pernah menyakitinya, dan dia pasti akan membiarkan Kanaya bahagia meski dia harus bersanding dengan orang lain yang menjadi pilihannya.


"Aku tidak akan biarkan kamu melakukan hal buruk, Tuan Dirga."


Semakin terdengar geram suara dari Hazel semakin dia melajukan motor dengan cepat, dia tidak ingin sampai ketinggalan dengan mobil Dirga yang saat ini tepat berada di depannya.


Meski tepat berada di belakangnya namun Hazel tidak dapat mendahului mobil Dirga karena keadaan jalan yang begitu ramai. Tentunya dia juga tidak mau sampai celaka.


Mobil Dirga membelok masuk ke salah satu gang dan Hazel pun juga mengejarnya. Tak akan dia biarkan Dirga berhasil dalam apapun yang dia pikirkan.


Sementara di dalam mobil Kanaya terus meminta Dirga menurunkannya, Kanaya juga sudah sangat ketakutan hingga dia terus saja menangis.


Tangannya terus berusaha untuk membuka pintu mobil padahal dia sangat yakin kalau tidak akan terbuka, Dirga telah menguncinya dan apapun yang Kanaya lakukan tidak akan berhasil.


"Mas, turunin Kanaya di sini. Sebenarnya apa yang mas inginkan." ucap Kanaya.


Kanaya ingin menghubungi siapapun, ingin meminta tolong tapi itu tidak bisa dia lakukan karena dia tidak membawa apapun, tasnya ada di dalam mobilnya tadi.


"Apa yang aku mau? Hem, aku hanya mau kamu, Nay." Dirga sedikit menoleh namun itu tidak lama karena dia kembali fokus dengan jalan yang terus dia lalui.


"Nay sudah katakan, Mas. Naya tidak mau."


"Kamu tidak mau kan? Maka ini harus aku lakukan supaya kamu mau. Dengan ini kamu tidak akan menolak ku lagi."


Ucapan Dirga semakin menakutkan bagi Kanaya, dan apa yang dia niatkan sepertinya akan menjadi sebuah momok untuk kehidupannya.


Tak peduli Kanaya yang ketakutan, tak peduli dia menangis dan tak peduli dia yang terus meminta, hati dan akal sehat Dirga sudah berselimut kabut hitam yang sangat pekat hingga dia tak bisa melihat kebenaran, dia tak bisa menerima kenyataan bahwa Kanaya tidak pernah mau menerimanya.


Air mata Kanaya hanya seperti sebuah aliran tak berarti dan tetap akan dia abaikan sampai dia bisa berhasil mendapatkan apa yang dia mau.


Mobil berhenti di sebuah rumah, Kanaya tidak tau itu rumah siapa karena dia memang belum pernah datang, apakah itu rumah Dirga? Mungkin saja.


Cepat Dirga turun dia juga langsung berlari ke arah Kanaya, membuka pintunya dan kembali menarik tangan Kanaya.


Tak peduli mereka yang tak pantas untuk bersentuhan dan Dirga tetap menyentuhnya. Mencengkram semakin kasar dan menarik paksa masuk ke rumah itu.


Langkah Kanaya begitu terseok, dia tak mau masuk, jelas saja. Dia terus menangis, berteriak namun sama sekali tidak di dengar oleh Dirga. Dia telah gelap mata saat ini.


"Mas, lepasin, Mas!" teriak Kanaya yang kini semakin takut.


Dia terus berontak, berusaha melepaskan tangannya dari tangan Dirga namun tetap saja tak berhasil.


Kenapa wanita selalu saja kalah jika soal tenaga, mungkin inikah yang membuat para wanita selalu saja mendapatkan kekerasan. Apakah Kanaya juga akan mendapatkannya dari Dirga?


Dirga membawa Kanaya masuk, semakin masuk bahkan hingga sampai ke salah satu kamar. Dirga mendorong Kanaya dengan keras hingga Kanaya berhasil terjerembab di kasur itu.


"Akk!" Teriak Kanaya.


Tangisnya semakin pecah, dia semakin ketakutan. Apakah tidak akan ada orang yang menolongnya sekarang?


Dengan siapa Kanaya akan meminta pertolongan, dulu selalu ada suaminya yang akan setia menolongnya dalam hal apapun, tapi sekarang?

__ADS_1


'Ya Allah, tolong selamatkan aku. Jauhkan aku dari kejahatan mas Dirga. Ya Allah, aku mohon,' batin Kanaya.


Hanya kepada Sang Pencipta lah Kanaya berharap, meminta pertolongan pada-Nya siapa tau Allah akan mengirimkan seseorang yang akan menyelamatkannya.


"Kamu yang memaksa aku melakukan ini, Nay. Jadi jangan pernah salahkan aku."


Mata Dirga begitu memerah penuh amarah, menyalahkan semua yang ingin dia lakukan adalah kesalahan Kanaya, padahal apa sebenarnya kesalahannya.


Apakah salah jika dia menolaknya, apakah salah jika dia tak bisa menerima cinta Dirga karena dia masih sangat mencintai suaminya?


"Mas, jangan lakukan ini, Mas. Lepaskan saya." Kanaya semakin terisak, dia menjauh dari Dirga yang sudah seperti orang kesurupan.


"Begini saja, bagaimana kalau kamu menerima ku. Kita menikah secepatnya maka aku tidak akan menyakiti mu."


Dirga mencoba memberikan penawaran pada Kanaya, tapi Kanaya menggeleng cepat, dia tidak mau menikah dengan Dirga apalagi dia semakin tau betapa besar sisi gelap dari seorang Dirga.


"Tidak, saya tidak mau," Kanaya menggeleng.


"Kalau begitu jangan salahkan aku." Senyum penuh maksud keluar dari Dirga, dia menyeringai dengan kebahagiaan yang tampak semakin besar bersamaan dengan langkah yang semakin mendekat.


Kanaya terus menggeleng, dia juga terus menjauh dari Dirga yang semakin dekat.


"Jangan, Mas. Jangan lakukan ini pada Naya." Kanaya semakin menangis sekarang. Dia semakin ketakutan karena Dirga yang terus mendekat dengan terus menyeringai.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Begitu tak sabar Arifin menunggu kedatangan Kanaya, mereka harus meeting tapi malah sampai sekarang Kanaya belum datang juga. Sudah hampir satu jam Arifin menunggu tapi tak ada tanda-tanda Kanaya akan datang.


Arifin sudah berkali-kali menghubunginya tapi tak ada jawaban sama sekali, di chat juga tidak di balas. Arifin tanya orang rumah tapi Kanaya sudah berangkat satu jam yang lalu, lalu?


"Kamu kemana sih Nay?" Arifin nampak gelisah dan sekarang sudah berganti menjadi khawatir.


Kembali Arifin menghubungi nomor Kanaya, memang nyambung tapi belum juga ada yang mengangkatnya.


Arifin nampak senang karena kali ini ada yang mengangkatnya.


"Halo, kamu di mana sih, Nay?"


"Maaf, saya bukan orang yang Anda maksud. Saya hanya di minta menjaga barang-barang milik orang yang punya ponsel ini oleh teman saya. Anda siapa ya?" tanya orang dari seberang.


Arifin nampak bingung.


"Saya kakak dari pemilik ponsel ini, terus adik saya kemana?"


"Saya tidak tau, tapi tadi mobil dan barang-barangnya ada di jalan XX namun orangnya sudah tidak ada dan teman saya sepertinya juga mencari adik Anda."


"Siapa teman Anda?" tanya Arifin.


"Namanya Hazel."


"Hazel?"


ponsel langsung dimatikan oleh Arifin, dia berdiam sejenak.


"Jalan XX, bukankah itu jalan menuju rumah Dirga?" gumam Arifin, ternyata Arifin lebih tau soal Dirga daripada Kanaya.


"Aku harus ke sana." Arifin langsung bergegas.

__ADS_1


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Bersambung...


__ADS_2