
»»————><————««
Tak mudah untuk bisa membuat Kanaya kembali tersenyum, harus ada perjuangan yang sangat besar dan itu masih terus Hazel usahakan.
Dengan di bantu oleh Syifa dia terus berusaha, terus mendekati Kanaya meski sama sekali tak menyentuh. Belum tau kenapa itu tidak boleh di lakukan, tapi sebenarnya dalam hatinya Hazel ingin sekali bisa memeluknya atau mungkin memberikan bahunya untuk di jadikan sandaran.
"Om! Jangan!" Yang menjadi pelampiasan akhirnya Syifa, dia memeluk dengan sesekali menggelitikinya. Jelas saja Syifa akan tertawa tak tertahankan hingga dia terus terbahak-bahak dan memenuhi taman.
Ada badut juga yang di sewa, ada monyet dan sang pawang yang di sewa. Semua Hazel lakukan hanya untuk bisa membuat Kanaya tersenyum.
Hembusan nafas keluar, kenapa begitu susah. Dari tadi dia terus melakukan, seakan ingin membuktikan kalau Hazel sangat sayang pada Kanaya dan dia juga peduli, tapi tetap susah.
Frustasi, jelas saja. Hazel rasanya ingin menyerah, dia sangat bingung mau melakukan apa lagi. Tapi dia tak menyerah siapa tau Kanaya akan tersenyum nantinya.
Meski belum tersenyum namun Kanaya terus melihat semuanya. Tak pernah dia berpaling dari satu persatu yang Hazel lakukan dan usahakan untuk dirinya.
'Apa ini, Mas? Apakah kamu rela dan ikhlas dengan kedatangan mas Hazel dalam kehidupanku juga Syifa? Ataukah memang kamu yang menginginkannya hingga kamu mengirimnya ke sini?' batin Kanaya.
Menatap Hazel yang terus membuat Syifa tersenyum bahagia.
Perlahan sudut bibirnya tertarik hingga perlahan-lahan menjadi sebuah senyuman.
Begitu terpana Hazel yang tak sengaja menoleh dan akhirnya bisa melihat lagi senyum manis itu. Hatinya berbunga-bunga, dia berhasil melakukannya.
Syifa ikut menoleh, dia ikut bahagia dengan langsung memeluk leher Hazel yang berjongkok di hadapannya.
Cup!
Kecupan di pipi Hazel dapatkan dari Syifa, keduanya langsung memalingkan wajah dari Kanaya dan saling bertatapan.
__ADS_1
"Terima kasih ya, Om. Akhirnya Umi bisa tersenyum," Kembali Syifa memeluk Hazel semakin erat. Itu adalah wujud dari kebahagiaan Syifa.
"Hem, kita yang telah membuatnya tersenyum lagi. Kan kita yang ada di sini." Jawab Hazel.
Syifa tersenyum, dia akhirnya melepaskan Hazel dan berlari ke arah Kanaya.
"Umi, ayo ikutan main," ajaknya yang sudah sampai di hadapan Kanaya. Tangan kecil itu seketika menggenggam tangan Kanaya yang dari tadi hanya ada di pangkuan saja.
Kanaya menggeleng lemah, "tidak, Sayang. Umi di sini saja," tolaknya.
Tapi Syifa tak mau kalah, dia terus menarik Kanaya hingga membuat dia bergerak karena tarikan si kecil itu.
"Ayo, Umi." rengek Syifa.
Sementara Hazel, dia hanya diam menunggu dengan harapan Kanaya akan mau menerima ajakan dari Syifa, bisa bermain bersama hingga dia bisa melupakan apa yang sudah terjadi padanya.
Kanaya berdiri, berjalan dengan perlahan hingga sampai di hadapan Hazel, keduanya berhadapan dan Syifa ada di sebelah samping namun di tengah-tengah.
"Ayo Umi."'Syifa kembali berbicara, menarik Kanaya untuk duduk di hadapan Hazel dan bermain bersama.
Begitu bahagia Syifa bisa melihat Uminya duduk di hadapan Hazel dengan jarak yang dekat. Bocah itu masih berdiri dan mengawasi kedua orang dewasa itu yang kini saling bertatapan.
'Seandainya saja Om Hazel jadi Abinya Syifa, pasti Syifa akan bahagia. Dan Umi akan ada yang jagain dan juga terus membuatnya tersenyum. Abi, boleh kan kalau Syifa berharap bahwa Om Hazel akan menjadi Abi untuk Syifa?' batinnya.
Penuh harapan dalam hati Syifa, dia sangat ingin. Meminta izin pada Abinya yang mungkin saja mendengar.
'Syifa janji tidak akan pernah melupakan abi meski Om Hazel jadi Abinya Syifa. Syifa akan tetap menjenguk abi juga, boleh ya Abi? Dan bantu Syifa untuk membuat Umi dan Om Hazel bisa bersatu. Syifa pengen sekali bisa punya orang abi sama seperti yang lainnya.' imbuhnya lagi masih di dalam hati.
Setelah mengatakan semua keinginannya di dalam hati Syifa langsung duduk sehingga mereka bertiga seperti membentuk segitiga.
__ADS_1
"Hem," Hazel mengawalinya dengan tersenyum. Itu akan lebih baik dan ternyata juga berhasil membuat Kanaya tersenyum juga.
Tak lama Kanaya tersenyum, senyum itu pudar kala dia mulai menunduk.
Tak menyerah, Syifa yang membuat Kanaya bisa kembali tersenyum dengan mengajaknya bergurau.
"Umi, Umi tau nggak? Om Hazel itu takut sama kecoak loh," Bisik Syifa.
"Hah!" Kanaya menoleh ke arah Hazel tak percaya. Mana orang segagah Hazel takut sama kecoak yang kecil.
"Bukan takut, tapi geli," jawab Hazel, ternyata dia mendengar apa yang Syifa katakan.
"Ih, Om kok nguping sih!" protesnya.
"Hem?" Hazel mengernyit, padanya dia sama sekali tidak menguping, tapi memang suara Syifa yang sedikit keras hingga membuat dia mendengarnya.
"Tidak," jawab Hazel.
"Masak, kok bisa denger? Hayo, nggak boleh bohong loh, bohong itu dosa." kata Syifa membulat seraya memberikan nasehat pada Hazel.
"Iya, maaf." Tetap Hazel meminta maaf, padahal dia sudah jujur. Tapi makan bagaimana lagi, dia tak akan membuat Syifa kecewa.
"Akk!" Teriak Hazel, dia langsung loncat ketika Syifa melemparkan mainan yang persis seperti kecoak.
"Akk ak!" Hazel terus berlonjakan hingga membuat Syifa tertawa, begitu juga dengan Kanaya. Lucu sekali melihat ekspresi Hazel saat ini. Antara takut dan geli.
»»————><————««
Bersambung....
__ADS_1