
»»————><————««
Satu minggu berada di rumah sakit kini Hazel sudah bisa pulang. Selama satu minggu itu Kanaya dan juga Syifa sering keluar masuk rumah sakit hanya untuk menemuinya, mereka ingin melihat keadaan Hazel apakah sudah membaik atau belum. Jelas itu karena mereka sangat khawatir.
Tapi berbeda dengan Davin Papanya Hazel, selama satu minggu itu juga dia sama sekali tidak datang menjenguk bahkan menanyakan kabar melalui ponsel saja juga tidak. Sepertinya dia benar-benar marah, atau mungkin benar tengah ada masalah dengan Kristin.
Tetapi itu tidak membuat Hazel merasa sedih karena semenjak dia mengubah keyakinan papanya memang begitu membencinya. Sebenarnya dia menyayangkan kenapa harus terjadi. Tapi, dia juga tidak bisa memaksakan Papanya untuk merestui apapun yang menjadi niatnya.
Syifa begitu bahagia setelah mendapat kabar bahwa Hazel diperbolehkan pulang hari ini juga, bahkan dia mawanti-wanti kepada Kanaya untuk menjemputnya ketika pulang sekolah. Dia sangat ingin menjemput hasil di rumah sakit.
Mobil terus berjalan menuju rumah sakit di mana Hazel berada, dia begitu tidak sabar. Berkali-kali dia tersenyum, dia juga terus bertanya berapa lama lagi mereka berada di jalan.
"Umi, masih lama ya?" Tanya Syifa sembari menoleh ke arah Kanaya yang pernah serius menyetir mobil.
Kanaya menoleh melihat putrinya yang bikin itu tak sabar, "sebentar lagi kita akan sampai." jawab Kanaya.
"Syifa sangat tak sabar," ucapnya dengan wajah yang mengerut.
Kanaya tersenyum tanpa membalas dengan kata, Dia sedikit menambah kecepatan mobilnya supaya bisa cepat sampai dan membuat anaknya itu senang.
__ADS_1
Setelah 15 menit airnya mereka berdua sampai juga di rumah sakit, bergegas turun dan Syifa langsung menarik tangan Kanaya untuk masuk ke rumah sakit.
"Ayo, Umi." Teriak Syifa heboh, terus menarik Kanaya hingga keduanya berlari.
"Hati-hati sayang." Meskipun mengingatkan Kanaya tetap menyamakan langkah Syifa yang begitu cepat, meskipun juga dia juga terasa diseret oleh Syifa namun dia tetap tidak marah.
Sampailah keduanya di ruangan Hazel, dan ternyata Hazel sudah siap untuk segera pulang. Bajunya juga sudah berganti dengan bajunya sendiri yang sebelumnya memakai baju dari rumah sakit.
"Assalamu'alaikum, Om." Sapa Syifa heboh.
"Wa'alaikumsalam, Sayang." Hazel menoleh cepat. Dia langsung menghentikan fokusnya dari ponsel.
"Om sudah siap pulang?" tanya Syifa setelah berdiri di hadapan Hazel setelah menyalaminya.
"Sudah, yuk kita pulang sekarang?" Ajak Hazel.
Tangannya menangkap tangan Syifa yang begitu kecil, menggenggam dengan erat kali dia berdiri dan perlahan berjalan.
Sementara Kanaya, dia membantu Kristin untuk membawa barang-barang Hazel selama ada di rumah sakit.
__ADS_1
Mereka pulang dengan mengendarai mobil Kanaya, dan juga Kanaya yang menjadi pengemudi saat itu. Sementara Hazel dia berada di sampingnya dengan memangku Syifa yang tidak ingin jauh, dan Kristin ada di belakang seorang diri.
"Om jangan sakit lagi ya, nanti kalau Om sakit Syifa sedih loh." Bocah itu menoleh pada Hazel.
"In_ InsyaAllah." jawab Hazel dengan tersenyum kikuk. Dia belum bisa sempurna dalam pengucapan kata insyaallah.
Kristin tersenyum, dia begitu bahagia melihat hubungan mereka yang semakin erat. Seperti sudah saling memiliki dan juga membutuhkan.
'Semoga kalian bisa bersatu secepatnya dan bisa bahagia.' batin Kristin penuh harap.
"Ye! Dah sampai rumah Om!" teriak Syifa begitu girang. Melihat rumah Hazel juga mobil yang sudah berhenti membuat bocah itu cengengesan dengan sangat bahagia.
"Yuk kita turun," Ajak Hazel.
"Hem," Syifa mengangguk dan langsung bersiap untuk turun dari mobil.
»»————><————««
Bersambung....
__ADS_1