Hijrah Cinta Kanaya

Hijrah Cinta Kanaya
Bertukar mobil


__ADS_3

┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


Di perjalanan pulang tiba-tiba saja mobil yang dikendarai oleh Kanaya mogok, tentu saja hal itu membuat Kanaya sangat bingung. Dia hanya bersama Syifa sementara pak Danu sudah lebih dulu dengan mobil yang lain.


"Umi, kok kita berhenti di sini? Kan kita belum sampai?"! Jelas saja Syifa akan bertanya, mereka belum sampai di rumah tapi sudah berhenti.


"Hem, ini sayang. Mobilnya mogok," jawab Kanaya seraya menoleh. Tangannya masih tetap berada di atas setir sedangkan matanya sudah kembali lagi melihat keluar.


"Mogok, terus kota bagaimana pulangnya, Umi? Kita nggak akan jalan kaki kan? Kaki Syifa kan masih kecil kalah nanti capek bagaimana?"


Begitu imut Syifa bercerita, sebenarnya bukan bercerita melainkan menjelaskan kalau sebenarnya Syifa tidak mau jalan kaki.


Kanaya tersenyum, mana mungkin dia akan mengajak Syifa jalan kaki dia juga sangat lelah lah. Kanaya juga jelas kasihan dengan Syifa, terus buat apa uangnya kalau hanya masalah seperti itu saja sampai jalan kaki, Kanaya tidak sepelit itu lah.


"Tidak sayang, kita tidak akan pernah jalan kaki, tapi kita akan panggil taksi," jawab Kanaya begitu yakin.


Tok tok tok...


Kanaya menoleh dan ternyata Hazel yang mengetuknya. Kanaya heran, bukannya tadi Hazel sudah pulang lebih dulu tapi kenapa dia sekarang ada di sana? Apakah dia sengaja?


"Kenapa?" tanya Hazel.


"Hem, mobil saya mogok, Mas." jawab Kanaya menjelaskan. Kacanya langsung di buka hingga dia benar-benar bisa lebih jelas saat berbicara dengan Hazel.


Hazel malah menggaruk tengkuknya, dia juga ikutan bingung kayaknya.


"Hem..., maaf, aku nggak bisa bantu. Aku nggak ngerti soal mesin. Tapi aku bisa panggilkan temen yang punya bengkel."


"Begini saja, kamu dan Syifa pulang pakai mobil ku, biar aku yang mengurus mobilmu, bagaimana?"


"Tidak udah, Mas. Nanti malah jadi ngerepotin mas Hazel lagi," jelas Kanaya sangat sungkan untuk menerima tawaran dari Hazel. Hazel dari pagi belum pulang, dia terlihat sangat lelah mana mungkin dia bisa melakukan itu padanya. Tidak.


"Tidak apa-apa, biar aku yang mengurusnya nanti kalau sudah jadi aku antar ke rumah kamu, ya sekalian ambil mobil ku."


"Tapi, Mas."


"Tidak usah pikir panjang, kasihan Syifa dia terlihat sangat lelah." Begitu kekeuh Hazel meminta.


Kanaya menoleh, melihat bagaimana wajah anaknya yang memang terlihat sangat kelelahan. Meski Syifa tidak mengatakan tapi sangat terlihat.


"Baiklah," jawab Kanaya menerima tawaran Hazel. "Tapi beneran tidak ngerepotin mas Hazel?"


"Hem, atau aku panggil pak Danu saja, Mas," imbuhnya.

__ADS_1


"Tidak usah, Nay, akan sangat lama menunggu pak Danu datang. Pak Danu juga terlihat capek, kasihan. Cepat gih pakai mobilku saja. Nggak apa-apa."


"Baiklah," jawab Kanaya pasrah.


"Sayang, kita pulang pakai mobil om Hazel ya," Kanaya menoleh dan Syifa langsung mengangguk.


"Iya, Umi." Suara Syifa sangat terdengar lelah, sepertinya tidurnya ketika di taman juga belum puas.


Kanaya yang setuju Hazel langsung menghampiri tempat Syifa, membuka pintu dan langsung menggendong si kecil itu. Jelas saja Syifa tidak menolak, justru dia sangat senang.


"Terima kasih ya, Om. Sudah mau pinjemin mobilnya. Nanti kalau mobil Umi sudah jadi nanti datang ke rumah ya, Om. Syifa buatkan sesuatu untuk Om," ucap Syifa yang berada di gendongan Hazel yang sedang berjalan.


"Sesuatunya apa? Hem..., om jadi penasaran."


"Rahasia lah, nanti kalau di kasih tau om malah tidur datang."


"Baiklah sayangku, nanti om datang. Sesuatunya yang banyak ya, om pasti suka." Begitu gemas Hazel pada Syifa hingga dia mencium pipi Syifa dengan sedikit menekan.


"Pasti, Om. Pasti buanyak banget," Syifa begitu girang.


Perlahan Hazel memasukkan Syifa ke kursi penumpang di sebelah pengemudi dan Kanaya sudah ada di sana dengan posisi pengemudi.


"Sampai jumpa, Om. Dah..."


"Mas, terima kasih ya. A_aku pinjem mobilnya." Hanya ingin mengucapkan kata 'Aku' saja membuat Kanaya begitu gugup. Tadi masih terus dengan kata saya dan sekarang dia malu sendiri ketika mengubahnya.


Memakai kata 'saya' terdengar begitu formal dan Kanaya baru belajar tidak terlalu formal.


"Pakai saja, dan hati-hati di jalan," Hazel tersenyum.


Terpana mata Hazel melihat Kanaya yang tersenyum, sungguh manis sekali membuatnya tidak berkedip.


Deg...


'Sepertinya jantungku akan mulai bermasalah ini,' batin Hazel.


"Mari, Mas!" Mobil mulai berjalan meninggalkan Hazel, jelas Kanaya hanya ingin menghindar dari Hazel yang terus menatapnya.


Hazel hanya tersenyum.


"Dah, Om!!" Syifa berteriak. Kepalanya masih menyembul keluar saat mobil mulai berjalan dan setelah beberapa meter Syifa kembali lagi, pasti di tegur oleh Kanaya karena sangat berbahaya menyembulkan kepala keluar dari jendela mobil.


Hazel tetap membalas lambaian, bibirnya juga masih tersenyum.

__ADS_1


"Ya Tuhan, jangan Engkau buat masalah yang rumit ya," ucapnya.


Masalah yang rumit, maksudnya?


Bibir mengatakan seperti itu tapi jantungnya masih tidak bisa di kendalikan, tangannya terangkat, menyentuh dadanya dan terasa nyata betapa kuat jantungnya bekerja saat ini.


"Benar-benar tidak waras nih aku," umpatnya. Satu tangan langsung mengambil ponsel di saku dan menghubungi seseorang, mungkin teman yang punya bengkel yang dia maksud tadi.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅


"Loh, pak Danu, Syifa dimana?" Oma Uswah begitu panik karena tidak melihat cucunya bersama pak Danu. Tadi dia pergi bersamanya seharusnya pulang juga bersama pak Danu juga kan?


Oma Uswah, Opa Hasan duduk di ruang tengah menemani tamu yang sedati tadi menunggu kepulangan Syifa, siapa lagi kalau bukan Dirga.


Mereka langsung menoleh kearah pak Danu, dan juga kearah pintu karena siapa tau Syifa berjalan belakangan tapi kok tak kunjung masuk?


"Pak Danu, dimana Syifa?" Dirga sudah berdiri dengan perasaan yang sangat khawatir, dia jelas takut kalau terjadi apa-apa dengan Syifa.


"Syifa tidak apa-apa kan, Pak?" imbuh Dirga.


"Neng Syifa tidak apa-apa, Bu. Tapi sekarang Neng Syifa bersama Bu Naya." jawab Pak Danu.


Semua bernafas lega, alhamdulillah Syifa tidak kenapa-napa dan hanya bersama uminya saja.


"Alhamdulillah," ucap ketiganya bersamaan.


Pak Danu merasa gimana gitu setiap ada Dirga, dia cukup bisa mengenali karakter seseorang meski hanya melihat wajahnya saja, dan Dirga tidak begitu baik menurutnya.


Dirga memang sangat menyukai majikannya Kanaya, juga sangat sayang pada Syifa, tapi Dirga yang sedikit tempramen itulah yang membuat pak Danu tidak rela jika Kanaya bersamanya.


Ya, meski pak Danu tidak bisa melarang Kanaya jika memang mau membuka hati lagi dan akan dia terima untuk Dirga, tapi untuk pak Danu, semoga bukan Dirga.


"Saya pamit kebelakang dulu, Pak, Bu."


"Iya, Pak. Istirahatlah," Opa Hasan yang menjawab.


Dengan sedikit membungkuk pak Danu berjalan masuk dia menoleh sebentar kearah Dirga yang ternyata menyadarinya.


'Kenapa pak Danu menatapku seperti itu? Apakah aku ada salah padanya?' batin Dirga merasa tak nyaman mendapatkan tatapan yang berbeda dari Pak Danu.


Pak Danu berlalu cepat dan tak lagi menghiraukan Dirga dan segala yang dia pikirkan, mau dia memikirkan apapun pak Danu tidak masalah, asal jangan membuat masalah saja.


┅┅┅┅༻❁༺┅┅┅┅

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2