
๐น Happy Reading ๐น
Beberapa bulan kemudian, terlihat keluarga besar Jonathan sedang berlibur ke Indonesia, untuk mengajak seluruh anak-anak mereka menikmati masa liburanya yang pendek itu.
Saat ini Mario dan anak-anaknya tengah berada di Mansion Lesham atas undangan makan malam dari Stella.
Terlihat Briell yang begitu anggun di usianya yang sudah menginjak 17tahun, sedangkan Brio masih seperti biasa selalu Angry birsd di usianya 6 tahun ini. Dan Brina selalu yang menjadi pusat perhatian karna wajah imut yang dia miliki.
Dan di saat Eden dan Stella yang sibuk dengan masakan mereka di dapur, berbeda dengan Arnon dan Mario yang sibuk membicarakan tentang bisnis.
Sedangkan Briell kini memilih menyendiri di belakang rumah dengan membawa laptopnya mengerjakan hobbynya yaitu menulis Novel, hobby yang dia dapatkan dari Mommynya.
"Kamu sendiri di sini?" tanya suara yang tiba-tiba menegurnya.
Briell menoleh ke arah sumber suara itu, dan mendapatkan Aiden yang tengah berdiri di belakangnya. "Eh kak Aiden, iya nih lagi berimajinasi." Jawabnya santai, yang di anggukan kepala oleh Aiden.
"Boleh aku lihat?" balasnya sambil melangkah mendekat ke arah Briell yang terlihat ragu berada di sebelahnya.
Briell yang merasa canggung karna belum pernah dekat dengan seorang pria, kini tersenyum tipis membalas ucapan Aiden kepadanya, lalu dia menggeserkan Laptopnya agar bisa di lihat oleh Aiden.
Meskipun mereka dulunya adalah teman kecil, namun sudah begitu lama mereka tidak bertemu. Apa lagi di saat itu usia Briell masih 11 tahun dan Aiden sudah 12 tahun, di usia yang memang terkesan sangat cepat akrab untuk menjalin hubungan pertemanan.
Berbeda dengan sekarang, mereka sudah sama-sama dewasa, dan Aiden yang sudah melanjutkan studynya di Oxford England, sedangkan Briell baru saja lulus tahun ini, dan baru ingin melanjutkanya.
Aiden yang melihat Briell menegang seperti itu, langsung tersenyum dengan manis, "kamu kenapa gugup? Biasa aja kitakan teman sedari dulu." seru Aiden yang semakin membuat Briell canggung.
"Bukan kak, aku hanya merasa aneh saja, karna selama ini tidak pernah berdekatan dengan pria mana pun," jawab Aiden dengan jujur.
"Oh ya? Reaally?" tanya Aiden yang ragu dengan kalimat itu.
Lalu Briell membuka ponselnya dan memperlihatkan pada Aiden. "Kakak cari deh, ada gak di situ kontak cowok, selain Daddy," ucap Briell dengan malas. Sejujurnya ini tidak terlalu penting. Hanya saja dia malas ketika nanti Aiden menyangka dia hanyalah sedang mencari perhatian saja.
Dengan tenang Aiden benar-benar memeriksa ponsel Briell, dan melihat seluruh isinya tanpa terkecuali.
Setelah puas memeriksa ponsel Briell, Aiden langsung mengembalikanya lagi.
"Briell aku ingin bicara sesuatu sama kamu," ucapnya dengan serius.
__ADS_1
Briell yang tadi gugup, malah semakin gelisah saat ini. Melihat ekspresi Aiden yang begitu datar dan sulit di artikan.
Dan belum saja Briell menjawab, Aiden terlihat berdiri dari temapatnya, dan berlutut di hadapan Briell, lalu dia mengeluarkan sebuah cincin berlian yang ada di dalam sakunya.
"Kak, what the?" Briell sangat bingung dengan apa yang di lakukan oleh Aiden saat ini.
"Gabriella Jonathan, selama ini aku mencintai dan menyukaimu, namun aku tidak berani mengungkapkanya karna di saat itu, usia kita masih sangat-sangat kecil, dan kali ini di usiamu yang sudah menginjak 17 tahun, aku ingin mengatakan jika aku mencintaimu, will you to be my girl friend?" ungkapnya yang sontak membuat Briell meneteskan air matanya kaget dengan semua ini.
Melihat Briell yang tidak kunjung menjawab, namun meneteskan air matanya, Aiden langsung saja memasangkan cincin itu di jari Briell, dan lalu mengecup singkat punggung tangan itu.
Aiden tersenyum puas karna Briell hanya diam tanpa menolaknya, "I Love you Briell, now and forever." Bisik Aiden, lalu memeluk tubuh Briell dengan sangat erat.
Mendapatkan pelukan seperti itu, Briell mencoba untuk membalasnya, "kak, aku gak tau ini semua benar atau salah, tapi aku ingin meminta izin orang tua terlebih dahulu." Lirihnya yang membuat Aiden melepaskan pelukannya dari tubuh Briell.
Cupppp Aiden mencium kening Briell dengan rasa sayang, "sebelum aku menyatakan cinta sama kamu, aku sudah lebih dulu mengatakanya pada Uncle Mario dan Papah, dan mereka setuju." jawab Aiden dengan jujur.
"Benarkah? Aku masih kecil loh masa Daddy bolehkan pacaran?," sahutnya kurang yakin dengan pernyataan Aiden.
"Iya serius, kamu boleh tanya Uncle Mario, dan kamu tau, malah kita itu sebenarnya sudah di jodohkan sedari kecil. Tapi perasaan itu tumbuh tanpa mesti harus di paksa, cuppp." Balasanya smabil mengecup kening Briell kembali.
Di saat mereka berdua tengah bermesraan, tiba-tiba datang Brio dengan angry bridnya, langsung duduk menyendiri di ujung ruangan.
Brio dengan wajah marahnya kini hanya diam tanpa bicara.
"Brio kenapa sayang?" tanya Aiden yang juga melihat Brio diam dengan wajah marahnya.
Briell tersenyum sambil mengejek ke arah adiknya. "Diakan bodoh, marah cuman gara-gara Game doang, haha biar aja kamu nanti di marahin sama Mommy." Ejeknya yang suka sekali menganggu dan memancing kemarahaan adik laki-lakinya itu.
Brio terlihat bernafas dengan cepat menampilkan kemarahan yang berada di puncak mendengar ucapan dari kakaknya.
Dan tanpa aba-aba, Brio langsung menjambak dan menarik rambut Briell dengan sangat keras. "Aaaarrrggghh stupid sakit." Teriak Briell dengan memukul tangan Brio dengan keras.
"Brio kamu apa-apaan sih?" tanya Aiden yang juga kaget melihat Brio yang melukai kekasihnya.
Brio menatap tajam ke arah Aiden dan Briell. "Kamu bilangin aku gila ha, rasakan ini." Ucapnya sambil menarik rambut Briell lagi.
Aiden hanya pusing menggelengkan kepalanya, karna baginya ini hanyalah sebuah perkelahian antara kakak dan adik.
__ADS_1
Briell yang sudah tidak tahan lagi, langsung mendorong tubuh Brio yang kecil. Dan memukulnya.
"Briell, kamu gak boleh mukul adik kamu." Bentak Aiden pada Briell.
"Dia duluan kan tarik rambutku." Balas Briell dengan santai.
Terlihat Brio yang sudah menangis, dan mencari sesuatu yang bisa di gunakan untuk membalas dendam pada Briell. Dan karna itu adalah halaman belakang, Brio melihat ada sebuah batu yang besar.
Dengan penuh amarah Brio langsung melemparkanya kepada kakaknya dengan brutal.
Buuuggghhhh "aaarrrggghhhh." Teriak Briell di saat batu itu terlempar di kepalanya hingga bocor.
"Sayang," seru Aiden yang terkejut melihat Brio yang berani sekali melukai orang lain dengan benda lain hingga parah.
Briell menangis menahan sakit di kepalanya, namun tidak sampai di situ, Brio yang masih menangis langsung kembali menjambak rambut Briell dengan sangat keras.
"Hhuaaaa,.hiisskkk,,hisskk lepasssin." Tangis Briell.
Aiden langsung melepaskan tangan Brio dengan paksa dan membawa Briell masuk ke dalam untuk mengobati lukanya.
Sedangkan Brio masih bertahan menangis di belakang tanpa siappun yang menemaninya.
Sesampainya di dalam, Mario dan Eden sontak terkejut melihat kepala putrinya yang mengeluarkan banyk darah. "Briell kenapa Aiden?" cerca Mario yang khawatir melihat putrinya.
"Brio lempar kepala ku pake batu."sahut Briell yang mengadukannya pada Mommy dan Daddynya.
Eden langsung menanmpilkan wajah emosinya " dimana dia?" tanya Mommy dengan sedkit membentak.
Aiden dan Briell hanya diam dan menunjuk arah taman belakang.
Eden langsung segera melangkah menghampiri Brio dan memberikan pelajaran untuk anak angry bird itu.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
__ADS_1
Follow IG Author @Andrieta_Rendra