
๐ฉ๐ปโ๐ป Happy Reading ๐
Kini usia pernikahaan Mario dan Eden sudah memasuki tahun kelima, bahkan hubungan mereka semakin romantis dengan adanya tiga kurcaci dalam kehidupan mereka.
Gabriella Jonathan, Gabrio Jonathan, dan juga Garbina Jonathan adalah tiga mahluk yang Tuhan kirimkan untuk melengkapi keluarga kecil mereka.
Dulu setelah mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung, Eden dan Mario memutuskan untuk kembali ke Prancis untuk menetap di kampung halaman Eden di kota Lyon, namun setelah dia melahirkan anak ke dua mereka yang berjenis kelamin laki-laki, Mario mengajak seluruhnya untuk pindah ke Paris, dan Eden mengikuti saja kemanapun suaminya itu membawanya, dan selang dua bulan setelah melahirkan, Eden di nyatakan hamil kembali, dan melahirkan seorang bayi perempuan.
Dan di saat Brina sudah berusia lima bulan, Mario terus-terusan merengek untuk meminta Eden hamil kembali. Namun dengan tegas Eden menolak permintaan Mario.
Kini tidak ada lagi kesedihan dalam ujian cinta mereka, karna setiap Mario pulang dari bekerja dengan membawa segudang kepenatan di otaknya, dia selalu merasa bahagia ketika melihat putri dan putranya yang bermain dan bertengkar.
Briell dengan sikap dingin dan juteknya, sedangkan Brio dengan sifat pemarahnya, dan Brina dengan sifat cengengnya membuat warna tersendiri di rumah mewah itu.
Seperti saat ini Mario yang baru saja kembali dari Kantornya dengan wajah yang sangat terlihat jelas sekali bagaimana beban di kepalanya, dan di saat dia memasuki rumah mewahnya dia langsung di suguhkan dengan pemandangan yang menyejukan melihat istri dan anak-anaknya yang tengah duduk bersantai di ruang tamu, dengan Briell yang tengah mengajarkan adik-adiknya mewarnai dan menempel foto-foto liburan mereka dulu, di usia empat tahun, Brio sudah bisa menunjukan kecerdasaan yang dia miliki. Dia sudah bisa berbicara dengan benar dan bahkan bermain game online. Bahkan Brina yang masih berusia tiga tahun saja juga sudah mampu bermainkan game online di ipad milik Mario, hanya saja dia belum pandai berbicara dan lebih suka menangis dengan kencang.
"Hey anak-anak, Daddy pulang." Seru Mario melangkah menghambur untuk memeluk ketiga anaknya.
Namun bukanya menjawab, ketiga orang itu hanya diam dan fokus pada barang-barang mereka tanpa memperdulikan kehadiran Mario.
Dan karna kesal Mario langsung mendudukan tubuhnya dengan kasar di sofa sebelahnya.
Eden yang menyadari kedatangan suaminya langsung mencecar suaminya dengan sindiran halus. "Daddy, kamu dulu janji setiap tahun akan membawa kami pergi berlibur keliling, ambil foto-foto yang cantik, tapi kenapa tahun ini satu foto tidak ada." Cecarnya halus.
__ADS_1
"Tidak ada." Sahut ketiga anaknya mengikuti ucapan Mommynya mencecar Mario yang terkejut mendengar cercaan kesayaangnya itu.
"Keadaan kan masih belum pulih stabil, masih banyak Virus di luar, kalian semua mau kemana memangnya?" Tanya Mario dengan datar sambil memainkan ponselnya.
"Briell mau pergi ke London pergi shopping-shoping."
"Brio mau pergi ke Swiss pergi main salju."
"Baby au gi eenang ( berenang.)"
"Mommy mau pergi Istanbul bulan madu."
Mario terdiam melongo mendengar ucapan dari ke empat pasukanya. "Baiklah, nanti kita pergi tunggu libur." Jawabnya pasrah.
Malampun tiba, Eden yang tengah sibuk mempersiapkan makan malam dengan di bantu beberapa pembantu di rumahnya itu, mempercayakan Mario untuk mengawasi anak-anaknya belajar.
Namun mungkin memang dari sananya Mario sudah tidak bisa di percaya lagi. Stelah Eden selesai memasak dia langsung menuju ruang belajar rumahnya untuk memanggil anak-anaknya dan suaminya yang sibuk menjadi guru bagi ketiga anaknya.
Dan sesampainya dia di depan pintu, Eden membuka pintu itu dengan perlahan melihat apa yang di lakukan oleh pasukanya itu, dan benar saja bukanya belajar pasukanya itu malah sibuk dengan gedgetnya masing-masing. "Luar biasa mereka." Lirihnya menggelangkan kepala melihat kelakuan suaminya yang tidaj mendidik.
Eden menutup pintu itu kembali dengan sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara sama sekali. "Ekhem,,ekhem." Eden sengaja membuat suara senyaring mungkin agar pasukanya di dalam mendengar. Lalu dia kembali membuka pintu itu dengan normal.
Dan benar saja, yang tadinya mereka memegang gedget dan ponsel masing-masing kini berubah menjadi buku pelajaran, dan yang membuat Eden kesal melihat Mario tanpa rasa bersalah memagang sebuah undang besar asli yang dia ambil di dapur tadi untuk menjadi contoh untuk Brio menggambar. "Huh, pintar sekali Daddy mengajarkan anaknya menggambar ya," sindir Eden dengan lembut.
__ADS_1
Mario membalasnya dengan senyuman penuh kebanggaan. "Tentu saja sayang, aku adalah orang tua yang paling bisa di andalkan." Jawabnya sombong yang membuat Eden rasanya ingin menjitak kepala suaminya itu.
"Oh seperti itu, untung saja Brio meminta untuk menggambar undang, coba saja Brio meminta menggambar Harimau, apa kamu juga akan membawanya ke sini sebagai contoh untuk anakmu menggambarnya?" Sontak Mario langsung menyengir bagaikan kuda mendengar sindiran halus dari istrinya.
"Sudah ayo makan! Kalian lambat tidak akan ada makan malam." Tegasnya galak, yang membuatnya di juluki Singa oleh pasukanya itu.
Waktu menunjukan pukul 9.00 pm, Briell, Brio dan Mario sedang asik duduk di ruang tamu, sedangkan Eden sedang berada di dalam kamar menidurkan Brina.
"Kakak, saya sepertinya lapar lagi," ucap Brio mengadu pada Briell.
Briell yang tengah sibuk bermain ponsel itu hanya melirik sedikit ke arah adiknya. "Kamu panggil Daddy pesan makanan di luar lah." Jawab Briell dengan santai.
"Di luar banyak Virus, Brio takut kak." Tolaknya dengan malas, membuat Briell langsung menatap tajam ke arahnya. "Jika kamu tidak mau, panggil saja Mommy pergi masak." Seru Briell yang langsung menciutkan nyali Brio dan sontak langsung menoleh ke arah Mario. "Daddy, Brio lapar lagi, pesan makanan dari luar ya." Pintanya pada Mario yang langsung di iyakan.
Meskipun rumah mereka banyak pembantu, tapi keluarga kecil Mario sangat menghargainya, karna peraturan rumah Mario setelah makan malam seluruh pekerjaanya boleh beristirahat terkecuali satpam yang berjaga malam. Membuat keluarganya paling di segani di masyarakat.
Kebahagian keluarga mereka benar-benar indah dan sejuk di pandang oleh siapapun yang melihat, bahkan seluruh pekerja di rumahnya selalu ikut mendoakan kebahagian mereka.
Pertengkaran-pertengkaran kecil yang terjadi di keluarga mereka bahkan tidak seperti pertengkaran melainkan menjadi sebuah hiburan bagi yang melihatnya.
Hingga anak-anaknya bertumbuh dewasa Mario dan Eden masih terus terlihat mesra.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~The End\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1