
Hallo semua, disini Mimin kasih bocoran sedikit ya Chapter dari Season 2 karya Hot Mother 😘
Dan jika bertanya kapan Publishnya nanti Mimin akan informasikan di pertengahan puasa ya🙏🏻🙏🏻
👩🏻💻 Happy Reading 📖
Dengan keadaan yang lelah, Morgan langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, dan begitu sampai di kamarnya Morgan melihat Briell yang sedang asik bermain game online di ponselnya, tanpa sama sekali memperdulikan keberadaanya.
Morgan langsung emosi melihat semua itu, baginya karna Briell lah dia berada di dalam kondisi seperti ini, dan melihat Briell yang seperti tidak memiliki beban sama sekali malah asik bermain game, benar-benar membuatnya tersulutkan emosi yang membara, tanpa basa basi Morgan merampas ponsel milik Briell lalu melemparnya menghantam dinding hingga hancur berantakan.
“Morgan apa-apaan kamu!” Bentak Briell yang juga marah karna Morgan se enaknya menghancurkan ponsel miliknya.
Mendengar Briell yang berani sekali membentaknya membuat Morgan semakin tersulutkan emosi. “Kamu pikir jalang seperti kamu akan mendapatkan kenikmataan di rumah ini ha? Kamu pikir dengan cara menjebak ku seperti ini kamu sudah berhasil menjadi ratu rumah ini, kamu salah, sekali murahan tetaplah murahan, jangan pernah bermimpi menjadi seorang ratu jika kamu hanyalah seorang wanita rendahan.” Ucapnya yang membuat Briell benar-benar merasakan sakit hati yang mendalam karna kalimat-kalimat hinaan yang di ucapkan oleh Morgan kepadanya.
Tanpa takut Briell menatap balik mata Morgan yang memeperlihatkan kemarahan yang besar. “Kamu pikir kamu pria sekaya apa ha? Jika kamu merasa aku hanyalah jalang yang murahan lalu mengapa kamu dan keluargamu yang budiman itu memaksa ku untuk menerima pernikahaan laknad ini ha.” Kalimat yang pertama kali terucapkan oleh Briell dengan penuh amarah, karna semenjak hari itu Briell hanya menjawab dan berbicara seperlunya saja, dan ini pertama kali Morgan mendengar kalimat dalam amarah dari Briel.
“Kenapa kamu diam ha? Ingat karna mu saya kehilangan mahkota ku! Pergi dan cari tau dulu apa yang terjadi sebelum kamu mencap seseorang murahan, dan oh ya perlu kamu ingat satu hal, di dalam pernikahaan ini hanyalah sebuah status di atas kertas, aku tidak membutuhkan uang mu apa lagi kedudukan ratu di rumah ini, berikan saja semua itu pada wanita mu yang menikah dengan kakak kamu itu!” Seru Briell panjang lebar yang membuat Morgan tak mampu membalas seluruh perkataan dari Briell.
“Dan ingat ini baik-baik jika perlu simpan di otak bodohmu itu.” Ujarnya sinis memperlihatkan jari tanganya tepat di wajah Morgan.
Dengan perlahan, dan tatapan yang tajam Briell melepaskan cincin pernikahaan yang melingkar di jari manisnya hari ini, tepat di mata Morgan. “Jari ini tidak akan pernah sudi menerima pernikahaan dengan laki-laki pengecut seperti kamu!” Sindir Briell langsung melemparkan cincin itu di wajah Morgan, dengan senyuman sinisnya, tanpa dia sadari jika saat ini Morgan sedang mengepalkan tanganya menahan penghinaan yang di lontarkan Briell kepadanya, apa lagi dengan beraninya Briell melemparkan cincin pernikahaan ke wajahnya yang sama saja menandakan jika Briell melemparkan kotoran di hadapanya.
Dan tanpa memperdulikan tatapan tajam dari Morgan, Briell memilih melangkahkan kakinya keluar kamar, mencari udara segar untuk meredam amarahnya, dia benar-benar bingung dengan keadaanya saat ini, bahkan orang suruhanya saja belum bisa mendapatkan bukti kejadian malam itu.
__ADS_1
“Shitt! Sampai kapan aku bertahan dengan pria sampah itu.” Umpatnya masih menahan amarah dengan melangkahkan kakinya mencari taman rumah itu.
Sedangkan di dalam kamar setelah kepergian Briell, Morgan benar-benar meluapkan emosinya dengan menghancurkan seluruh barang-barang yang berada di kamarnya, “aaaarrggghh sialaan kamu Briell berani-beraninya kamu menantang dan menghinaku seperti ini, aarrggghhh. Akan ku buat kamu bertekuk lutut kepadaku wanita sialan.” Morgan tentu saja tidak akan tinggal diam dengan kejadian hari ini, dia pasti akan membalas segala penghinaan yang telah di lontarkan Briell terhadapnya.
“Aku pasti akan membalasmu Briell.” Janjinya dengan mantap akan menciptakan neraka di dalam kehidupan Briell.
Setelah meluapkan amarahnya, serasa belum puas dia kembali melangkahkan kakinya keluar rumah, tanpa memperdulikan keberadaan Briell saat ini, tujuanya saat ini hanyalah Club, menghabiskan malamnya dengan sebuah minuman keras.
Waktu telah menunjukan pukul 02.00 Pm.
Tok,,tok,,tok suara ketukan pintu membangunkan Briell yang sedang asik dalam mimpinya, dengan rasa malas dia bangkit dari tidurnya dan membuka pintu untuk melihat siapa yang berani menggangu tidurnya malam-malam.
Cklekk dia membuka pintu dengan rasa malas, dan melihat sosok Morgan yang tengah di papah oleh kedua teman prianya yaitu Vincent dan Martin
“Liat.” Jawabnya santai dan acuh, Vincent dan Martin langsung menatap satu sama lain melihat sikap dingin yang di perlihatkan oleh Briell. “Apakah kamu tidak khawatir kepadanya?” Tanya Martin dengan bingung ke arah Briell.
Briell tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari teman Morgan itu. “Jika dia yang mabuk lalu kenapa aku yang harus khawatir?” Briell dengan santai berjalan melangkahkan kakinya masuk dan duduk di sofa kamar Morgan. “Letakan saja dia di tempat tidur, dan gantikan pakaianya, aku masih merasa jijik untuk menyentuh tubuhnya.” Ucap Briell yang sontak membuat Vincent dan Martin memandang bingung ke arah Briell.
Mereka begitu heran, bagaimana ada wanita yang mampu bersikap sedingin dan sekejam Briell, sedangkan yang mereka tau Briell itu hanyalah seorang pelayan Restoran yang rendah, lalu mengapa dengan angkuhnya dia bisa berbicara seperti dia adalah orang dari kalangan atas. “Cepat bawa dia masuk! Apa lagi yang kalian tunggu ha.” Bentak Briell yang sudah muak melihat tiga pria tak berguna di hadapanya.
Dengan cepat Keduanya langsung memapah tubuh Morgan masuk ke dalam kamar dan meletakanya perlahan, tak lupa Vincent memanggil kepala pelayan untuk mengganti seluruh pakaian Morgan, karna Briell menolak mentah-mentah untuk menyentuh tubuh Morgan.
Dan setelah kepergian kedua pria itu, Briell kembali menutup pintu kamar itu, dan menatap kesal pada Morgan yang karnanya lah Briell yang sebenarnya sangat kurang tidur, kali ini tidak bisa menutup kembali matanya karna tidak ingin berada di satu tempat tidur bersama dengan Morgan.
__ADS_1
Dengan rasa malas, Briell memilih mengaktifkan laptopnya dan ingin melanjutkan karya Novel yang sudah tertunda beberapa hari, hingga pagi menjelang dia masih belum memejamkan matanya.
Bahkan dia memilih untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit untuk bekerja, tanpa memeperdulikan kondisi Morgan sama sekali.
Saat ini matahari sedang tinggi-tingginya memancarkan sinarnya membangunkan pria yang sedang asik dalam tidurnya, “engguhh.” Rancaunya mengembalikan nyawanya dan meregangkan otot-otornya yang terasa kaku.
Dan di saat kesadaraanya telah kembali sempurna, dia langsung mencari sosok Briell yang harusnya ada di kamar itu. “Kemana dia?” Tanyanya mengidarkan pandanganya ke seluruh ruangan di kamarnya, “ini baru jam 8 pagi, kemana dia pergi sepagi ini?” Morgan bingung melihat Briell yang sama sekali tidak memperlihatkan sisi wanitanya, “siapa sebenarnya kamu Briell? Mengapa sikapmu begitu angkuh? Tidak mungkin jika kamu hanyalah seorang pelayan,” Morgan benar-benar pusing dengan teka-teki Puzzle kehidupanya saat ini, dia bingung mencari jalan keluar dari permasalahanya ini, jujur sebenarnya dia sangat ingin berbicara baik-baik bersama dengan Briell, bahkan dia sadar jika dialah yang mengambil kehormatan Briell, namun sikap angkuh dan tatapan tajam Briell lah yang membuatnya enggan berdamai dengan wanita itu.
Setelah lelah berpikir panjang, Morgan memilih melangkahkan kakinya menuju lantai dasar rumahnya untuk mencari makanan.
“Tuan, makananya sudah siap.” Ucap pelayan rumah Jully mempersilahkan tuamya untuk menyantap sarapan paginya.
Dengan tenang Morgan duduk untuk menyatap breakfastnya, namun sorot matanya tetap mencari sosok Briell yang sejak dia buka mata tidak melihat sosoknya, “bi, apakah kamu melihat istri ku?” Tanyanya pada kepala pelayan rumahnya.
“Maaf tuan, sejak subuh saya tidak melihat sosok siapa pun, hanya ada para pekerja dan yang lainya di sini.” Sahut Jully yang memang belum pernah melihat sosok istri tuanya yang kamarin datang.
“Kemana dia sebenarnya?” Lirih Morgan pelan sambil dengan santai memakan Breakfastnya, karna memang dia sangat lapar saat ini.
“Oh iya Tuan, tadi Nyonya besar mengingatkan jika tuan dan nona harus pergi ke Hotel siang ini juga untuk resepsi tuan Victor.” Jully mengingatkan Morgan atas pesan yang di sampaikan oleh nyonya besar yang merupakan mamah Morgan.
“Iya.” Jawabnya singkat dan padat membuat pelayan Jully langsung terdiam tanpa berkata apa pun.
Tiba-tiba Morgan mengingat sesuatu dan dia langsung menghubungi Vincent. “Siapkan satu ponsel dengan brand yang paling terbaik dan antarkan ke rumah ku sekarang!” Perintahmya dengan tegas mengingat jika kemarin dia sudah merusak ponsel milik Briell, dia menganggap bahwa Briell tidak akan mampu membeli ponsel baru dengan merek yang sama dalam waktu satu hari.
__ADS_1