Hot Mother ( Tragedi Cinta Satu Malam )

Hot Mother ( Tragedi Cinta Satu Malam )
Penolakan Brina


__ADS_3

Happy Reading BESTie 😘


 


“Okey, jadi kamu merasa bahwa Brina adalah putri kita ber dua, seperti itu?” ujar wanita itu pelan, sambil menimbang – nimbangkan semua kalimat yang dia utarakan.


“Bukan aku merasa, tetapi memang itulah kenyataanya.” Lagi – lagi Aldo tertawa kecil, mendengar kalimat Brina yang seperti tidak berpikir dulu.


Mendapatkan kalimat Aldo yang semakin memojokkannya, membuat Brina semakin bertambah kesal kepada pria itu.


Dan di detik selanjutnya dia berpura – pura untuk tertawa,  Seakan – akan, dia sedang menutupi rasa kesalnya. “Jadi, itu berarti kamu mau kita untuk menikah begitu? Untuk mendapatkan status Anak kita pada Hanna.” Ucapnya disertai dengan tawa yang pecah. Dia merasa mungkin itu ide konyol yang akan terdengar seperti pria itu mengemis kepadanya.


“Tapi, maaf Aldo, aku sudah tidak tertarik kepadamu sama sekali,”  sambungnya, menolak Aldo lebih dulu, walaupun pria itu belum mengatakan apa – apa.


Aldo kembali menggelengkan kepalanya pelan, sikap Brina sama sekali tidak berubah sedari dulu, Konyol, sok pintar dan begitu aroghant.


“Tidak, aku tidak berniat untuk melamar mu,” sahut Aldo, yang sontak membuat Brina tersedak air liurnya sendiri.


“Aku hanya ingin meminta kamu untuk tinggal di sini dalam beberapa waktu saja, karena aku ingin mengetahui semua tentang Hanna, tanpa terkecuali,” ungkap, Aldo lagi, yang begitu berani memerintah kepada gadis bungsu dari keluarga Jonathan itu.

__ADS_1


Brina menghela nafasnya berat, lalu wanita itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah Aldo, bahkan terlihat tidak ada jarak di antara mereka, hingga bahkan Brina bisa melihat jelas, setiap lekukkan wajah Aldo dengan begitu intens.


“KAMU BUKAN SIAPA – SIAPA YANG BERHAK MEMERINTAHKU!!”


“DAN MESKIPUN KAMU SUDAH TAHU, JIKA HANNA ADALAH PUTRIMU, BUKAN BERARTI AKU MAU MENDEKATKAN DIRINYA PADAMU!! CAMKAN ITU BAIK – BAIK !!” Brina menekan setiap kalimat yang terucap dari bibirnya. Dan bahkan menatap sinis ke arah Aldo.


“Tidak akan pernah ada kesepakatan di antara kita, dan aku! Tidak akan membiarkan dia bersama mu, sampai kapan pun,” tegasnya lagi. Dan kali ini, dirinya terlihat sangat tidak main – main dalam mengucapkan kalimatnya.


“Baiklah, aku terima keputusanmu ini Brina,” balas Aldo dengan pasrah. Dia berpikir, mungkin memang masalah yang ada di antara mereka ini, memang sangat sulit untuk dipecahkan, hingga dirinya harus berusaha mencari celah untuk melelehkan besi yang menutupi hati Brina.


“Tetapi, bolehkah aku bertanya kepadamu?” Aldo, menatap Brina dengan penuh harap, dia sangat menginginkan jawaban dari Brina. Pertanyaan yang sudah cukup lama dia simpan, dan mungkin sudah saatnya dia mengungkapkannya.


“Jika, kamu mempermasalahkan masalah kasta, dan bahkan hanya mendekati para CEO, aku sekarangpun juga sudah menjadi CEO, bahkan aku adalah seorang bangsawan Brina, tetapi –“


“Entahlah, aku rasa aku tidak membencimu,” jawab Brin, seperti menaruh harapan pada kalimatnya ini.


“Tetapi sayang, aku sudah lebih dulu mengetahui semuanya,” timpalnya lagi, Namun kali ini dia kembali memasang wajah meremehkan pada Aldo dan bahkan mulai melangkahkan kakinya menjauh dari tubuh pria itu.


“Kamu bukanlah keluarga bangsawan yang sebenarnya, karena kamu hanyalah seorang anak pungut di keluarga ini, jadi tidak ada yang membuatku harus atau mau menerima seorang anak kasta rendahan seperti mu,” ujarnya, kembali mengeluarkan kalimat hinaanya pada pria itu, walaupun sudah bertahun – tahun lamanya, dia bisa melihat sendiri perjuangan Aldo dalam membangun perusahaan.

__ADS_1


“Intinya jangan pernah melupakan posisimu sebagai anak pungut keluarga Phantominve,' tegas Brina, lalu langsung melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Aldo sendiri di dalam ruangannya.


Dia merasa, untuk berbicara dengan Aldo ini hanyalah sebuah omong kosong belaka. Tidak ada tempat untuk seorang anak pungut di hatinya.


Namun, hati sama sekali tidak bisa dibohongi, Brina memang mencintai Aldo, tetapi rasa Gengsi itu benar – benar sudah meresap ke dalam kehidupannya bahkan hingga ke daging – daging di dalam tubuhnya.


Melihat Brina yang meninggalkannya,, Aldo kini lebih memilih diam di dalam ruangannya, dia sedang merenungi apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


“Tidak ada yang ingin hidup di dalam kesendirian gelap sunyi yang terikat oleh dendam masa lalu, aku bahkan sudah lupa caranya tertawa dengan tulus itu seperti apa, jika hanya luka yang ditorehkan oleh Dunia,' gumamnya, yang sepertinya kembali mengingat Kalimat hinaan anak pungut yang diberikan oleh Brina kepadanya.


 


**To Be Continue.


Hey, Teman - teman, jangan lupa ya, untuk Like, Komen, Vote dan Hadiah untuk karya Mimin ya, agar, Mimin lebih semangat lagi untuk Updatenya.


Dan jangan lupa untuk Mampir ke karya Mimin yang lainnya ya.


Terima Kasih 🙏🏻**

__ADS_1


__ADS_2