
🌹 Happy Reading 🌹
Setelah melakukan kegiatan panas tadi, kini Mario dan Eden tengah duduk di meja makan bersama dengan anak-anak mereka dan juga keluarga Lesham , tengah Dinner bersama.
"Brio Brina, ayo makan," panggil Eden kepada dua anak yang fokus bermain Ipad ini.
Dan seperti biasa Eden mendengar Brina yang mulai brisik di jam-jam tertentu.
"I want Kakak Phone," ucapnya merengek meminta ponsel Briell, namun Briell tak mau memberikanya.
"I want Kakak phone," rengeknyan lagi.
Eden dan Mario yang tengah makan menoleh pada Briell yang terlihat santai. "Briell pinjamkan dulu ponselmu," ucap Eden yang pusing mendengar suara rengekan dari putri kecilnya.
Kelurga Lesham terutama Stella yang sudah beberapa hari ini bersama dengan mereka, sudah sangat terbisa dengan suara-suara ribut dan tangis anak-anak Mario.
"Enggak, Brina itu bukan di pakai main game Mom, tapi dia injak dan berdiri di atas ponsel Briell," tolaknya memberikan ponselnya pada adik kecilnya.
"Brina Daddy Phone mau gak? Sini pakai Daddy phone saja," sahut Mario yang mengambil jalan tengah.
Brina menggelengkan kepalnya pelan, "I want Kakak phone," tolaknya yang tetap menginginkan ponsel Briell.
"Briell pinjamkan ponselmu sama ade," ucap Eden lagi.
__ADS_1
"Enggakk mau Mom, kemarin dia banting sekarang dia berdiri di atas ponsel Briell, hancur teruss," tolaknya dengan kesal.
"Its okay,its okay, hanya berikan saja agar dia tidak menangis." Seru Eden lagi. Membuat Briell kesal dan langsung berdiri memberikan ponselnya.
"Nah makan," umpatnya kesal dengan adik-adiknya.
Aiden yang melihat kekasihnya kesal, langsung mengelus kepala Briell dengan lembut, "its okay sayang, dia hanya pinjam saja, kalo rusak aku belikan kamu lagi," ucapnya dengan lembut.
Briell hanya mengedikan bahunya singkat tanda tidak kepedulianya.
Selepas mereka makan malam, Briell dan Aiden memilih untuk bersantai di Vila belakang, sedangkan Mario dan Eden memilih untuk ke pantai menikmati suasana romantis.
Dan untuk dua kurcaci kecil Brio dan Brina, tidak perlu di tanyakan lagi, karna ketika mereka bermainkan Ipad, maka mereka sudah tidak akan perduli dengan sekeliling mereka.
Eden tersenyum menggelengkan kepalanya, "kamu ini, sudah tua masih aja gombal," lirih Eden dengan tersipu malu.
"Kamu sudah tua masih aja malu-malu meong," balas Mario mendekatkan wajahnya ke leher Eden.
Cuppp, Mario mengecup singkat pipi istrinya dengan lembut, "terima kasih ya sayang, sejauh ini kamu masih setia mendampingku dengan sabar, terima kasih karna sudah memberikanku cinta yang begitu besar, mungkin jika dulu kamu meninggalkan ku atau pun tidak ingin bersama ku, seluruh kebahagiaan ini tidak akan pernah aku dapatkan. Dan hidupku akan selalu kosong tanpa ada mentari di dalamya," ucap Mario menggengam tangan Eden dengan penuh kelembutan.
"Mungkin jika kamu tidak berjuang dan menyakinkan aku pada saat itu, aku tidak akan pernah mau bersama dengamu, dan karna kekuatan cinta itulah yang mampu membuatku taklut dan tunduk kepadamu, kita sama-sama mencintai tanpa syarat, aku dan kamu adalah satu paket yang telah di ciptakanya, mungkin pertemuan kita memang salah, namun takdir tidak akan pernah salah untuk menyatukan garisnya," balas Eden.
"Apakah kamu pernah jatuh cinta sebelumnya?" tanya Mario, jujur selama mereka berumah tangga. Pertanyaan ini baru terpikir sekarang.
__ADS_1
Dia tidak pernah tau tentang masa lalu dan kehidupan remaja istrinya, dia juga tidak pernah menanyakan karna terlalu asik dengan kenyataan yang ada bahwa Eden hanyalah miliknya.
"Pernah sama kakak kelasku dulu," jawab Eden.
"Lalu? Kamu pernah pacaran?" tanyanya lagi.
"Tidak, aku tidak pernah pacaran." Balas Eden lagi dengan santai.
Mario memandang Eden dengan tatapan penuh seldik, "iyah kah?" Ucapnya tidak percaya.
"Iyalah, aku memang pernah jatuh cinta, tapi tidak pernah pacaran, karna waktuku hanya habis untuk karirku saja, untuk apa aku buang waktu berpacaran yang akan menjerumuskanku ke hal-hal negatif, meskipun takdirku dulu emang negatif," tuturnya yang membuat Mario tersenyum kikuk.
"Maaf-maaf sayang, dulu aku khilaf. Lagian karna masa lalu negatif itulah makanya kita bersama, dan aku sangat menyukai momen itu, di saat pertama aku melihatmu, wanita satu-satunya yang berhasil melepaskan busur panahnya tepat di jantungku, aahhhh," ucap Mario memegangi dadanya.
"Padahal aku gak bawah panah hari itu,"jawabnya polos.
"Yalah, karna kamu memanahku pakai cinta," balas Mario lagi.
"Rayuanmu benar-benar receh pak." Tawanya dengan bahagia.
"Mencintai seseorang akan memberikan kita sebuah kekuatan, dan dicintai seseorang akan memberikan kita keberanian yang besar, danyang paling penting, Wanita adalah buah karya terindah dari Sang Pencipta maka perlakukanlah mereka dengan penuh kelembutan, keimanan, dan penuh rasa cinta serta kasih sayang,"
\~\~Mario Jonathan\~\~
__ADS_1