
๐น Happy Reading ๐น
Setelah menjalani liburanya selama beberapa hari, tepat di hari ini keluarga Jonathan sudah kembali ke Mansionya di Prancis. Karna besok mereka akan melakukan runitas seperti biasa.
Namun berbeda dengan Eden dan Briell yang akan berangkat ke Inggris untuk mendaftarkan putri kesayanganya itu masuk University.
Briell tidak jadi ambil Unif di Rusia, karna permintaan dari sang kekasih yang menginginkanya satu Kampus dengan Briell.
Dan akhirnya Mario menyetujuinya, dengan alasan jika ada Aiden, maka keselamatan Briell akan jauh lebih terjaga.
"Sayang, kamu akan pergi sekitar berapa lama?" Tanya Mario yang terpaksa harus tinggal di rumah menjaga dua kurcaci dengan di bantu oleh suster mereka.
"Entahlah, belum liat jadwal soalnya. Mungkin sekitar seminggu kan Kak," balasnya dengan melempar pertanyaan pada putri sulungnya.
"Iyah Dad, kayanya seminggu deh, soalnya kan banyak ini itunya, jadi ya mohon bersabarlah ini adalah ujian," jawab Briell yang tau jika Daddnya itu tidak bisa jauh lama dengan sang istri tercinta.
Sontak mata Mario membulat besar mendengar kata seminggu dari dua wanitanyan itu. "What the hell? Seminggu! Really?" Tanyanya tidak bisa membayangkan jika dirinya tanpa Eden selama seminggu. Sudah bagaikan ambulance yang uw,uw.
"Enggak, Brio, Brina ayo kita pergi ke Inggris Holiday," seru Mario yang tidak akan tinggal diam jika seperti ini.
"Let'go Dad," jawab keduanya dengan membawa tubuh dan Ipad mereka masing-masing.
Sedangkan Mario menatap ke arah dua suster anaknya memberikan kode untuk menyiapkan keperluan Brio dan Brina selama liburan dadakan.
"Kenapa ikut?" tanya Eden frustasi dengan Mario yang tidak pernah membiarkanya berjalan sendiri tanpa buntut.
Mario, Brio dan Brina langsung tersenyum penuh kemenangan, dan menaik turunkan alis mereka. Sebagai tanda bahwa keputusan mereka untuk ikut adalah hal yang paling mutlak.
"Mommy, can not jalan sendiri, harus ingat bawa anak sama Daddy," lirih Brio yang mau membuka suaranya jika bersangkutan dengan liburan.
"Peraturan dari mana itu?" tanya Eden dengan ketus.
"Karna Daddy adalah suami Mommy, jadi peraturan itu Daddy yang buat lah," jawabnya dengan santai.
Mario merasa menang saat ini, tiga lawan dua.
"Mommy, Ina follow you yes," imbuh Brina dengan mulut manis.
"No," jawab Eden dengan meringis.
"Yes," balas Brina.
__ADS_1
"No, Brina No,"
"Yes, Mommy yes," balasnya lagi yang membuat Eden merasa terjepit sekarang.
Pasalnya jika 3 manusia ini ikut, dia tidak akan pernah bisa belanja dengan puas, karna Mario selalu saja menjadikan alasan anak-anak yang gak betah keliling mengikuti Mommynya jalan, padahal itu semua hanyalah sebuah alibi agar Eden tak lama-lama di luar rumah.
"Otak Politik memang," ketus Eden yang melihat Mario dan dua kurcacinya itu bertos ria.
"Mommy, jadi kita berangkat sama Daddy?" Tanya Briell yang masih gagal fokus.
"Emangnya ada pilihan lain?" tanyanya balik.
"Kita mau daftar Kuliah atau mau tamasya?" Imbuh Briell yang kesal karna dua adiknya itu pasti akan merusuh.
Mario langsung menghubungi Billy menyampaikan prihal liburanya ini.
Tutt,,tutt,,tutt, nada sambung panggilanya.
"Hallo Tuan," sahut Billy di ujung sana.
"Ya Billy, kamu atur jadwal liburan ku besok selama seminggu ya." Perintah Mario pada asistenya yang paling menyedihkan itu.
Mario lupa jika besok dia ada pertempuan meeting penting di Turkiy. Dia mengalihkan pandangan pada Eden yang masih sibuk merapikan barang mereka buat berangkat besok. "Bil, apa kamu tau jika keberangkatan ku ini adalah hal yang jauh lebih penting menyangkut hidup dan mati," ucapnya memulai drama yang menyedihkan.
"Tidak Tuan, saya tidak tau," jawab Billy malas, karna ini sudah kesekian kalinya Mario menggunakan alasan hidup dan mati untuk kebolosanya.
Mario menggelengkan kepalanya pusing, karna jika dia tidak mendapatkan alasan yang tepat, maka Billy akan mengatur jadwal yang pasti membuatnya batal berangkat.
"Ehm jadi begini Billy, nyonya mau pergi ke Inggris, nanti kalo Nyonnya belanja gak ada saya saya tidak menemaninya nanti dia bisa letih dan kecapeen, terus kalo kecapean dia bisa sakit, nah siapa yang repot coba ? Kamu mau misalnya saya ganggu malam-malam karna butuh dokter dan segala hal? Pasti gak mau kan, jadi atur ulang aja ya pertemuanya, nyonya lebih penting loh," bujuknya dengan serius.
Sedangkan Billy di ujung sana hanya komat kamit mendengarkan alasan Mario yang sudah sangat di hafalnya Mati.
"Baiklah Tuan Mario yang terhormat, nanti akan saya atur ulang ya, kalo begitu selamat Holiday, semoga pulang bawa oleh-oleh yang banyak ya, bye," jawabnya begitu manis. Namun langsung mematikan panggilan ponselnya.
"Cikhh, pergi aja sana! Kalo nih perusahaan bangkrut, aku akan menjadi orang pertama yang bersorak dengan riang gembira," ketusnya menatap pada layar ponselnya yang sudah mati. Lalu kembali fokus ke layar laptopnya untuk melanjutkan pekerjaanya.
Sedangkan Mario menatap layar ponselnya dengan bingung, "akukan Bos, kenapa dia yang matikan." Ujarnya tidak terima. Lalu kembli menelpon Billy.
"Ya hallo Tuan, ada apa lagi?" tanya Billy kesal.
"Aku bosnya aku yang telpon berarti aku yang matikan," bentak Mario tidak terima jika Billy memutuskan panggilanya.
__ADS_1
Billy langsung meringgis ingin melemparkan ponselnya itu sejauh mungkin, "ya Tuhan, cukup satu saja mahluk Spesies seperti bos saya ya, jangan ada lagi," keluhnya pada sang pencipta.
"Billy apa kamu dengar ucapanku!" Bentaknya lagi ketika tidak mendengar jawaban dari asistenya.
"Iya Tuan, silahkan di tutup panggilanya ya," ucapnya dengan seramah mungkin.
"Bagus," jawab Mario singkat dan langsung mematikan panggilnya begitu saja.
Membuat Billy mengelus dadanya menahan sabar yang hampir penuh.
Eden sebenarnya mendengar semua yang di katakan Mario tadi, hanya saja dia malas menegur karna suaminya ini masuk ke dalam jejejeran manusia kepala Batu. Jadi biar di ceramahi hingga mulut berbusa juga dia tidak akan dengar.
Mario yang melihat istrinya sedang menatapnya dengan malas kini langsung menghampirinya dan memeluk dari belakang, "sayang kita sekalian bulan madukan," bisiknya pelan. Mumpung anak-anak sedang berada di kamarnya masing-masing.
Eden yang kesal langsung berdiri membuat tubuh Mario terdorong ke belakang, "bulan madu, bulan madu! Ini tuh mau daftar sekolah anak bukan bulan madu, ini otak bisa gak sih gak ngeres, udah anak tiga juga," bentak Eden dengan emosi yang memuncak.
"Sayang,,sayang tenanglah," bujuk Mario meredahkan emosi istrinya.
"Sayang,sayang kepalamu peyang, lagian juga bagaimana bisa tenang kalo pergi sama kamu itu bukan ngurus pendaftaran anak, malah ngurusin kamu, dan ujung-ujungnya kamu menggerakan anak buahmu yang mendaftarkan Briell, menghilangan momen kita sebagai orang tua yang mendaftarkan pendaftaran anaknya sendiri," ucapnya panjang lebar.
Dengan cepat Mario mengelus bahu istrinya, "sabar sayang,sabar gak jadi oke kita bulan madu nanti aja ya, setelah pulang dari Inggris," jawabnya lagi santai.
Bugghhh Eden langsung menginjak kaki suaminya dengan keras, "gak ada bolos kerja lagi ya Mario Jonathan, jadi contoh yang baik buat anak bisa gak sih," seru Eden yang benar-benar pusing dengan suaminya satu ini.
"Oke,,oke, gak bulan madu." Balasnya dengan lemas. Dan langsung berlalu pergi. Dengan merajuk pada Eden.
Eden yang melihat Suaminya sedang ngambek itu, hanya mampu memijat keningnya pusing, "bagaimana anaknya gak Angry bird dan bar-bar semua, kalo bapaknya aja begitu," lirihnya lagi menghembuskan nafasnya kasar. Dan kembali fokus dengan barang-barangnya.
Ayo-ayo udah pada sarapan roti sobek belum ??๐ฅฐ
Jangan di tatap lama ya. Ini suami pertama Mimin๐
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**๐๐*
Terima kasih๐๐ป๐๐ป
Follow IG Author @Andrieta_Rendra
__ADS_1