
Sebelum baca cuman mau ingatin ya teman-teman, di Like dulu oke π₯°
Jangan sinder ππ
πΉ Happy Reading πΉ
Di saat waktu menunjukan angka 3 dini hari, Briell merasakan dan meraba ke sisi sebelahnya yang tidak ada sosok Aiden kekasihnya.
Dengan perlahan dia membuka matanya mencari sosok kekasihnya, "kemana dia malam-malam begini?" Gumamnya, dan berusaha bangkit dari tidurnya.
"Sayang," panggilnya namun tak ada sahutan.
Freya mencoba mencari di kamar mandi, ruang tamu, dapur dan sekelilingnya, namun lagi-lagi tidak menemukanya.
"Kemana dia?" Gumamnya lagi, lalu melihat di box kunci dan tak melihat kunci mobil kekasihnya yang menandakan bahwa dia pergi keluar.
Briell yang merasa marah, kini mencoba untuk menghubungi Aiden berkali-kali namun tidak di angkat.
Namun dia baru teringat jika ponselnya dan ponsel Aiden itu saling terhubung, lalu dia bergegas menggangti pakaianya untuk mengikuti arah GPS dari ponsel Aiden.
Dia mengambil kunci mobilnya dan berusaha mencari tau, kemana kekasihnya itu pergi di jan segini.
Hingga dia sampai di sebuah hutan yang sangat gelap, dan melihat mobil Aiden terparkir di sudutnya.
Dan tanpa berpikir panjang Briell memarkirikan mobilnya dan terus mengikuti arah GPS itu.
__ADS_1
"Aideennnn," teriak Briell ketika melihat kekasihnya yang sedang menguliti kepala seorang pria.
Aiden yang merasa tak asing dengan suara itu, seketika langsung menoleh dan melepaskan korbanya, "sayang," lirih Aiden yang terkejut melihat sosok kekasihnya berdiri di hadapanya dan melihat aksinya.
Plaaakkkkk dengan berani Briell menampar Aiden di depan seluruh anak buahnya, "kamu benar-benar ya! Apa kesalahanya sama kamu sampai kamu harus menyiksanya seperti ini," bentak Briell yang membuat Aiden menjauh dari pria yang sudah setengah nyawa itu.
Briell yang melihat orang itu masih bernyawa, kini menatap ke arah anak buah Aiden dengan tajam, "apa yang kalian lihat? Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Perintah Briell lantang.
Doorr,,dorrr Aiden menembak pria itu hingga kepalanya hancur dengan 2 kali tembakan darinya.
Briell kembali tersenyum, melihat aksi dari kekasihnya tersebut.
Ploookkk,,pllloookk, "hebat kamu sayang, kamu bahkan berani membunuh di depan mataku." Serunya tepat di depan wajah Aiden.
"Sayang aku bisa jelasin," balas Aiden ingin menggengam tangan Briell, namun kekasihnya itu malah mundur dan menjauh darinya.
Aiden yang melihat kekasihnya pulang, langsung menatap tajam pada anak buahnya, dan meminta sebuah bensin lalu menyiramkan pada tubuh pria itu.
"Api," ucapnya dan seketika anak buahnya yang sedang merokok saat ini langsung melemparkan rokok mereka pada mayat itu hingga api berkobar sangat besar, membuat Aiden tersenyum puas melihatnya.
Tanpa dia sadari jika Briell masih melihat aksinya dari kejauhan, "benar-benar kok dia ini,mau di kasih pelajaraan," gumamnya lalu melajukan mobilnya pulang ke apartemen, menunggu Aiden mejelaskanya di sana.
Aiden yang merasa jika Briell sedang on fire saat ini, memilih untuk tidak pulang terlebih dulu ke apartemen kekasihnya.
Dia memilih untuk pulang ke apartemenya sendiri, untuk menenangkan pikiranya sejenak.
__ADS_1
Dia tidak ingin mengahadapi Briell yang sedang emosi dan juga dirinya yang sedang emosi, karna takutnya nanti malah masalah akan semakin panjang.
Namun bukan Briell namanya jika dia diam saja melihat Aiden yang tidak mengindahkan ucapanya.
Briell langsung memutar balikan mobilnya menuju apartemen Aiden, yang cukup jauh dari lokasinya saat ini.
Ketika dirinya sudah sampai, dia melihat Aiden yang baru saja ingin menutup pintu, dan segera dia menahanya.
"Sayang," ucap Aiden terkejut melihat kekasihnya yang sekali di kejutkan oleh kehadiran Briell yang sudah seperti bayangan yang mengikutinya kemana pun dia melangkah.
Briell langsung menerbos masuk ke dalam aapartemen kekasihnya dan mengambil posisi nyaman duduk di ruang tamu.
Aiden yang melihat aksi dari Briell kini hanya bisa mengenduskan nafasnya kasar, dia merasa jika Briell terlalu menyetir kehidupanya dan segala pergerakanya.
Namun karna perasaan cintanya pada Briell, dia masih bisa memahami sikap Briell yang seperti ini.
"Aku mandi dulu," ucap Aiden pamit pada Briell yang sedang menatapnya lekat.
Lalu dia menutup pintu kamar, membiarkan Briell di luar untuk sementara.
Dia ingin meredamkan terlebih dulu amarahanya sebelum menghadapi kemarahan Briell nantinya.
To be continue.
*Jangan lupa Like,Komen,Hadiah,Dukungan dan Votenya ya semua para pembaca yang terhormat, biar Mimin lebih rajin lagi Updatenya**ππ*
__ADS_1
Terima kasihππ»ππ»
Follow IG Author @Andrieta_Rendra