HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
PROLOG


__ADS_3

• BAB 1


Perkenalan :



(Ilustrasi di atas murni khayalan penulis ya😋)


Seperti yang tertulis di atas, sosok pria ini bernama Drake Halbert. Usianya 29tahun. Ia seorang mantan petarung MMA yang kini memiliki pekerjaan sebagai penulis komik webtoon. Kesehariannya tidak lain dan tidak ada yang spesial. Hanya diam di rumah dan berjalan-jalan ke manapun ia mau.


Tampilannya yang tampan, sanggup menutupi segala kekurangannya. Sebenarnya Drake sendiri tidak begitu peduli pada penampilannya. Bahkan ia seorang yang malas dan berantakan.


...----------------...


Sore itu, ia baru saja menyelesaikan naskahnya. Karena semalaman suntuk ia belum pergi tidur, maka tidak ada keinginan lain selain tidur nyenyak.


Ia sudah memposisikan dirinya dengan nyaman di atas sofa dengan satu kaki yang naik ke sandarannya. Tiba-tiba bel rumahnya berbunyi. Kemudian terdengar kuncinya sedang dibuka.


PIP


PIP


PIP


KLIK


Drake menjulurkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang. Seperti dugaannya, Lunalah yang masuk ke dalam.


"Kau tidak pergi bekerja?" tanyanya.


"Aku sedang ingin libur," jawabnya singkat.


"Apa kau mau bir?" sambung Luna.


"Bir? Tidak. Aku belum tidur dari kemarin. Kalau kau mau minum, minum saja sendiri. Tapi jangan ganggu aku, ya?" Drake terdengar mengantuk berat. Ia menguap lebar sambil membetulkan posisi pantatnya.


PLAK


Pukulan Luna tepat di bibirnya membuat Drake terkejut, "Apa yang kau lakukan? Sudah ku bilang aku mau tidur..."


"Temani aku."


"Tidak mau," Drake kembali memejamkan mata.


Namun baru beberapa detik berjalan, ia kembali membuka matanya karena peduli pada Luna.


SRET


Ia bangun dan duduk lesu menoleh pada sahabatnya itu, "Ada apa? Apa Alan membuatmu menangis lagi?"


Luna menggelengkan kepala.


"Lalu?"


"Dia membatalkan janji makan malam di hari jadiku ini," Luna menceritakan kekecewaannya.


KLIP! KLIP!


Drake mengedipkan matanya yang mengantuk. Lalu turun dari Sofanya dan berjalan menghampiri Luna yang duduk di bawah memeluk kantung plastik putih berisi bir kaleng.


Drake mengambil alih plastik tersebut dan mengatakan pada Luna bahwa dirinya merasa lapar.


"Kebetulan sekali, perutku lapar. Apa kau punya uang?"


"Aku tidak bisa menraktirmu. Uangku baru saja kuserahkan pada bibi Clark."


"Cih, kau bekerja siang dan malam ujung-ujungnya bokek juga."


"Lah, memangnya kau sendiri tidak mengalami hal itu?" Luna melotot.


"Hehe,, aku sih.. lebih bokek darimu," Drake menggaruk-garuk pantatnya.


Luna melirik dan melihat Drake masih mengenakan celana jins pendek model ripped kesukaannya. Gadis itu pun mengangkat bibir sebelah kanannya, "Kau belum mandi? Aku lihat kau belum mengganti celana."

__ADS_1


"Eh? Iya nih.."


"Dasar jorok. Sudah berapa hari kau pakai celana itu?"


"Entahlah. Sepertinya tiga hari."


"Apa katamu? Cepat mandi sana!" Luna memarahi Drake.



(Gadis ini namanya Luna. Umurnya 25 tahun dan bekerja di salah satu pusat perbelanjaan. Dia sahabat Drake dari kecil. Itulah mengapa ia hafal semua kebiasaan buruk Drake)😅


WUUZZZ


Kekuatan amarah Luna benar-benar mengerikan. Drake sampai tersedak saat tengah meneguk birnya. Karena bir yang ia minum tumpah masuk ke hidungnya.


"Uhuk! Uhukk!!"


Luna melotot (wajah kesal seperti hantu).


GLEK


"I Iya. Santai saja dong, wajahnya. Aku mandi nih,, mandi..." Drake berdiri dan melangkah ke kamar mandi sambil melepas kaosnya.


Baru satu detik ia memasuki kamar mandi, Drake melongokkan kepalanya keluar sambil bertanya, "Jadi bagaimana? Apa kau benar-benar tidak mau menraktirku makan di luar?"


KLANG!


KLANG!


KLONTANGG!!


"Sialan! Mandi cepat!" Luna melempari Drake dengan kaleng bir karena kesal.


Drake buru-buru menutup pintu kamar mandi. Sebenarnya ia senang jika Luna sedang memarahinya seperti itu. Itu artinya, gadis itu memperhatikannya.


Pakaian yang sering dipakainya saja Luna sampai hafal. Bahkan, celana dal*m kepunyaannya yang tersimpan di dalam lemari pun, Luna tahu. Baik itu merk apa, jumlahnya berapa, warnanya apa saja. Luna tahu. Apa itu artinya Luna berperan sebagai ibunya?


Ah, tentu saja tidak. Pow!


••••••


TRINGG


Suara gelas yang saling dibenturkan terdengar nyaring. Malam itu, Drake menraktir Luna makan di sebuah warung mi panjang umur. Ia membawa sahabatnya itu makan malam sebagai ganti Alan.


"Ah, tunggu. Aku punya sesuatu untukmu," kata Drake.


"Benarkah?"


"Sebentar," Drake merogoh kantung celananya dan mengeluarkan sebuah kotak kado mini.


Diulurkannya kotak tersebut pada Luna. Dari tampilan kotak itu sih, cantik, menggemaskan dan membuat penasaran. Dengan perlahan, Luna menarik pita polkadot berwarna pink yang mengikat kotak kadonya.


SLAP


SLAP


JEDHUAARRRR!!!


Wajah Luna yang semula bahagia tiba-tiba saja berubah kecut.


"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanya Drake.


Dengan wajah yang datar dan bola mata melirik ke kiri, Luna mengucapkan terima kasih atas kadonya.


"Terima kasih.. Tapi alangkah baiknya jika kado darimu tidak pernah kau berikan padaku!!" tiba-tiba saja Luna menggebrak meja dan kembali melotot seperti saat di rumahnya.


"Kenapa?"


NGIK


NGIK

__ADS_1


Bibir atas Luna bergerak-gerak. Seakan ia mengalami sesak nafas.


"Serius kau memberi hadiah untukku sesuatu yang tidak berguna ini??????" tanyanya sambil mencondongkan kepala melampaui meja ke arah Drake.


Bahkan dari sudut pandang mata Drake, kepala Luna menjadi tampak lebih besar dari tubuhnya saat gadis itu bicara tepat di depan hidungnya.


HOSH


HOSH


HOSH


Drake tersenyum, "Tapi menurutku. Ini sangat bermanfaat. Lihatlah," Drake meraih kotak hadiah untuk Luna dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi tusuk gigi.


"Setelah makan bersama Alan, kau bisa menggunakan tusuk gigi dariku untuk membersihkan sisa makanan yang menyelip di gigimu. Kau tidak perlu repot-repot bertanya pada pemilik restoran soal tusuk gigi, bukan? Hahaha," Drake tertawa renyah karena sengaja melakukan keisengan.


Luna yang merasa kesal dengan Alan menjadi semakin kesal. Meski ia tahu Drake suka bercanda seperti itu, tapi suasana hatinya sedang tidak bisa diajak bercanda. Maka, dengan sengit, ia menyuapi Drake dengan sosis dan mie yang tersisa di piring.


"Buka mulutmu."


"Untuk apa?"


"Buka saja."


Meski sudah curiga dan memang selalu berakhir dengan kekesalan Luna jika ia bercanda dengannya, Drake tetap menuruti perintah Luna.


"Aaaaaaakkkk....." dibukanya mulutnya itu lebar-lebar.


SLOP


SLOP


SLOP


Mulut Drake sampai tidak bisa menutup karena Luna memenuhinya dengan makanan. Siapa sangka, Luna mengerjai Drake balik. Ia menancapkan beberapa tusuk gigi ke makanan yang ada di dalam mulut Drake.


"Silahkan! Pakai tusuk gigimu!!"


Usai melakukan itu, Luna berpamitan pulang, "Aku pulang dulu, ya. Terima kasih untuk traktirannya."


"Eh?" Drake segera memuntahkan makanan yang ada di dalam mulutnya itu dan berlari mengejar Luna.


Walau terburu-buru, ia tidak lupa pergi ke kasir untuk membayar makanan yang ia pesan sebelumnya. Sayangnya, saat ia hendak keluar, ia tidak memperhatikan pegawai restoran sedang mengepel lantai.


PLUSUUUTTT


Drake terpeleset dan jatuh dengan punggung lebih dahulu menyentuh lantai.


"Eh buset!! Lantai kenapa licin amat?" ringiknya sambil mengurut pinggangnya yang sakit.


"M maaf pak, anda melewari saya yang sedang mengepel lantai..." seorang pelayan cleaning service itu segera meminta maaf dan membantu Drake bangun.


Dari tempatnya berdiri, Luna merasa terkejut. Antara kasihan dan ingin tertawa melihat Drake jatuh seperti itu. Tapi akhirnya, ia tertawa juga.


"Sudahlah. Yuk pulang," panggil Luna.


Drake melangkah mendekati Luna sambil membungkuk sedikit karena tulang punggungnya yang keseleo, "Apa tadi kau tertawa?"


"Ya. Sedikit."


Drake menoleh, "Hissh! Dasar tidak setia kawan. Harusnya kau menolongku berdiri, bukan malah menertawakanku dari jauh."


"Ya maaf. Apa mau aku ulangi? Kalau begitu, cobalah jatuh sekali lagi. Hihihi."


"Eh buset ini anak. Tidak. Tidak perlu," Drake melangkah mendahului Luna.


Pada saat Drake melangkah ke depan, Luna yang tahu Drake sebagai mantan petarung MMA itu pun merasa tidak percaya kalau jatuh seperti tadi dapat mencelakai punggung pria itu.


Maka dengan percaya diri, ia molompat naik ke punggung Drake begitu saja dan minta digendong.


KRAAKKK!


Terdengar suara "Krak" seperti ada tulang yang patah pada tubuh Drake. Sambil menjerit dalam hati, ia mengangkat kedua tangannya setengah dada. Seolah-olah tengah meremas sesuatu di awang-awang karena saking gemasnya.

__ADS_1


😋


BERSAMBUNG...


__ADS_2