
BAB 6
SERR
"Jadi, ini rumahmu?" tanya Drake seraya menuntun sepeda milik Lulu.
"Iya. Apa kakak mau mampir?"
"Eh, bolehkah?"
"Tentu saja boleh. Mari masuk."
NGIIIIIIIKKKK.....
KLANG!!
Lulu membuka pintu gerbang perlahan. Tampaklah halaman yang cukup luas dengan tanaman hijau di sekitarnya.
"Benarkah tidak apa-apa aku masuk ke rumahmu?" Drake merasa canggung karena mereka belum lama bertemu.
"Iya, tidak apa. Aku senang, ada seseorang yang mau berteman denganku," Lulu tersenyum cerah.
Lulu mengambil alih sepedanya dan menuntunnya ke samping rumah. Kemudian, ia mengajak Drake masuk ke dalam rumahnya.
"Ayo masuk, kak!"
"Eh? Iyya..."
Begitu melangkah memasuki ruang tamu, Lulu meletakkan tasnya dan pergi ke dalam untuk mengambil minuman. Drake memperhatikan situasi rumah tersebut. Rumah yang sama dengan rumah orang tuanya. Sunyi. Tidak banyak kebahagiaan yang tercipta di dalamnya.
"Apa dia tinggal sendirian? Rumah ini luas, tapi terlalu sepi untuk ditinggali satu orang."
"Sebenarnya, aku tinggal di sekitar sini. Tapi kenapa aku tidak pernah melihatmu sebelumnya?"
"Benarkah? Kak Drake tinggal di sini juga? Di mana?" Lulu kembali membawa dua buah cangkir dan sebuah teko.
"Rumahku masih sedikit ke barat dari rumahmu."
"Oohh.. Sebenarnya aku pindah kemari tahun lalu. Sejak orang tuaku meninggal di usiaku yang masih 7tahun, aku ikut tinggal bersama pamanku. Lebih tepatnya, pamanku yang pindah ke rumah kami."
"Tapi beberapa waktu lalu, saat usiaku memasuki dua puluh tahun, pengacara ayahku memberitahu tentang warisan yang ditinggalkan ayah padaku. Ternyata mereka mempunyai rumah ini dan beberapa aset di bank."
"Itulah mengapa akhirnya kau memilih tinggal di sini?"
"Ehem.. begitulah..."
SRUPUT
Suasana hening sesaat. Mereka menyeruput minuman mereka masing-masing.
TRING
Drake meletakkan kembali cangkirnya, "Apa kau tidak takut ada seseorang yang datang dan menyelinap masuk?"
"Seseorang? Tidak. Aku sedikit bisa melakukan gerakan bela diri. Jika ada seseorang yang jahat padaku, aku akan memukulnya," Lulu tersenyum menampakkan gigi kelincinya.
"Wah, tidak bisa ku percaya. Kau bisa bela diri? Itu mengesankan..." Drake merasa senang mengenal gadis seperti Lulu.
"Ah, sepertinya dari tadi aku yang terus bercerita soal kehidupanku. Kak Drake sendiri, bagaimana?"
"Eh? Aku... tidak terlalu mengesankan."
"Benarkah? Tapi sepertinya dengan kepribadian kakak yang supel, kisah hidup kakak pasti lebih menarik untuk diceritakan," Lulu memberi kesempatan Drake untuk bercerita.
"Apa, ya..." Drake memang tidak merasa ada yang istimewa di hidupnya. Sebab semuanya menyedihkan.
"Misalnya, saudara kakak, mungkin?"
"Saudara?"
"Ya. Apa kakak punya saudara?"
"Hmm."
BERPIKIR!
"Ya. Seorang."
__ADS_1
"Benarkah? Apa dia perempuan?"
"Tidak. Dia laki-laki. Em, sebenarnya dia bukan saudara kandungku. Lebih tepatnya, ayah dan ibuku mengadopsinya karena suatu alasan."
"Ada alasan khusus?"
"Ya. Dulu, saat aku berusia lima tahun. Kami sedang dalam perjalanan menuju taman bermain. Karena itu permintaanku di hari ulang tahun."
Lulu manggut-manggut mendengarkan kisah Drake.
"Saat kami sampai di tempat bermain, ayah menemukan seorang anak laki-laki yang usianya beda satu tahun denganku, sedang menangis sambil menggenggam sepucuk surat."
"Ibu memeriksa surat itu dan mengetahui kenyataan bahwa anak itu dibuang karena penyakit kelainan jantungnya. Ternyata orang tuanya terlalu miskin untuk membiayai pengobatan anak tersebut hingga memilih untuk membuangnya."
"Ya Tuhan..."
"Lalu, bagaimana lanjutannya?"
Drake memikirkan semua kejadian masa lalunya. Orang tuanya meminta dirinya untuk berjanji, agar tidak membahas masalah masa lalu kakaknya demi kebaikannya.
* flashback on *
Kala usia Drake tujuh tahun, Pitt berusia delapan tahun. Saat itulah masalah mulai datang ke keluarga Drake.
Sebagai anak angkat yang penyakitan, Pitt tidak tahu kalau dirinya diadopsi keluarga Drake. Pada usia delapan, sifat mau menang sendiri dari Pitt mulai terlihat.
Ia yang penyakitan dan selalu mendapat perhatian lebih dari ayah ibu Drake semakin manja dan mengambil keuntungan darinya.
Seperti saat natal, ketika Pitt menginginkan mainan pesawat super, ayah dan ibu Drake benar-benar mewujudkannya. Berbeda dari Drake yang sederhana. Ia tidak meminta sesuatu yang istimewa dari kedua orang tuanya selain agar mereka tetap diberi kesehatan dan selalu mencintainya.
Namun, hari-hari yang ia lalui rupanya tidak semudah yang dibayangkan. Pitt selalu menggunakan penyakitnya untuk mengalahkan Drake.
Ataupun mencari perhatian ayah ibunya. Ia tidak mau mengalah dan selalu ingin menang sendiri dalam hal apapun. Bahkan ia berusaha membuat adiknya selalu dimarahi ayah mereka.
Suatu ketika, saat usia Drake masuk dua puluh satu tahun, terjadi sesuatu yang sangat fatal dalam kehidupannya. Saat itu, ia sedang berenang di rumahnya dengan tenang. Tiba-tiba saja Pitt datang dan mengganggu Drake.
"Kau berpacaran dengan Eloise?"
"Kau tahu dari mana soal itu?" Drake yang merahasiakan hal itu dari siapapun terkejut.
"Tidak penting aku tahu dari mana."
SUURRR
Suara air kolam.
"Apa kau tahu, dia itu wanita seperti apa?" Pitt mulai memancing.
"Apa maksudmu?"
"Aku rasa kau belum mengetahuinya."
Drake tidak menggubris ucapan Pitt. Ia menepi dan naik ke atas. Namun Pitt mengatakan sesuatu yang tak pantas tentang Eloise sehingga Drake turun kembali ke dalam air dan memukulinya.
"Jangan pernah menjelekkan gadisku seperti itu! Dia gadis yang baik!"
"Hahaha, Semakin kau membelanya seperti ini, aku semakin menginginkannya."
Pitt yang sejak kecil gemar merebut apa saja yang dimiliki Drake, rupanya kali ini ia menginginkan pacar Drake juga.
"Jangan berharap!"
Ketika mereka sedang saling pukul, ayah dan ibu mereka datang. Posisi Pitt yang menghadap depan pun mempunyai kesempatan untuk mengubah fakta dan bersandiwara.
Tiba-tiba saja ia berlagak gelagapan dan merasakan sakit pada jantungnya. Bahkan ia membiarkan Drake terus memukulinya.
BERHENTI DRAKE!!!
Ayah mereka berseru lantang sambil berjalan menghampirinya. Wajahnya dipenuhi emosi yang meledak-ledak.
"Cepat angkat Pitt dari sana!" perintah ibu Drake pada para pelayan.
Drake berdiri mematung di tengah kolam. Ia melihat bahwa ibunya hanya peduli pada Pitt. Bahkan wanita itu menangisi orang yang baru saja menyakiti hatinya.
"Ibu, kenapa......" panggilnya dalam hati.
Perlahan, Drake naik ke atas. Baru saja ia berdiri dan hendak pergi, ayahnya datang dan mengayunkan tangannya.
__ADS_1
PLAK!
Drake ditampar kencang oleh ayahnya. Benar-benar kencang hingga keluar darah dari hidungnya.
"Dasar anak kurang ajar! Kau memukuli abangmu hingga sekarat seperti itu!"
Drake memegangi pipinya karena sakit, "Dia bukan kakakku."
"Sudah berkali-kali ayah ingatkan. Berbuat baiklah padanya karena dia memiliki keadaan yang istimewa."
"Lalu, apa ayah juga memintanya berbuat baik padaku?"
"Apa? Kau memutar pembicaraan lagi!!"
"Dia lebih dulu menggangguku. Apa aku harus diam saja saat dia menyakiti perasaanku?!" Drake menatap mata ayahnya dengan sengit.
Tanpa mempedulikan emosi ayahnya, Drake pergi begitu saja dari hadapan tuan Halbert.
* flashback off *
••••
Drake memejamkan mata sesaat.
"Yah. Kami baik-baik saja hingga sekarang," kata Drake bohong. "Dan seperti yang sudah kau duga. Dialah saudaraku yang sekarang."
"Senangnya, memiliki saudara. Aku ingin memilikinya, tapi aku rasa itu hanya mimpi saja," Lulu menanggapi dengan ceria.
Drake menoleh dan tersenyum, "Kau boleh menganggapku sebagai abangmu kalau kau mau."
"Eh? Benarkah, boleh??"
"Ya.."
•••••••
SAT SET SAT SET
Alan menyelesaikan pekerjaannya dengan terburu-buru sebab Drew datang mencarinya. Ia tidak bisa membiarkan Drew bertemu dengan Luna di sana.
Sebagai pemberitahuan, Luna dan Alan bekerja dalam satu perusahaan penjualan yang sama.
"Alan, ada koleksi terbaru dari D'je Diamond. Belikan aku satu, ya. Willary sudah memilikinya, dia terus saja mengejekku karena kau amat pelit," ucap Drew manja.
"Kenapa kau datang kemari? Aku sedang bekerja dan tidak bisa kau ganggu setiap saat, sayang," Alan mencoba membawa Drew keluar dari market tersebut.
"Eh? Kita mau ke mana?"
KLIP
Dari jauh, Alan melihat Luna berjalan ke arahnya.
"Sayang, sayang. Ayo cepat ikut aku," Alan menjadi panik. Takut kalau-kalau Luna melihatnya bersama Drew.
DRAK
DRAK
DRAK
Ia pun membawa Drew turun ke lantai satu menggunakan tangga biasa yang digunakan untuk para karyawan.
"Ada apa sih denganmu? Kau jadi pucat. Seperti melihat hantu saja," Drew menoleh-noleh ke belakang.
"Tidak ada apa-apa. Pulanglah lebih dulu, aku akan membelikanmu itu nanti sepulang bekerja."
"Sungguh?"
"I-iyya..." Alan tidak punya pilihan selain menyanggupi permintaan Drew.
YEEEAAHH!
Drew amat senang. Ia menciumi bibir Alan dengan bersemangat.
"Baiklah. Aku pulang dulu, ya. Jangan lupa pulang nanti bawa hadiah itu untukku,,," Drew melambai pergi sambil tersenyum-senyum senang.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.......