
BAB 46
Siang itu, hampir semua permainan sudah Joy naiki. Bersama Terra dan Lulu yang senantiasa menemaninya, Joy amat senang.
"Tinggal satu permainan lagi, kali ini paman harus ikut naik. Ya??" ucap Joy.
"Ah, tidak tidak. Sebaiknya kita makan siang saja dan bersantai di tepi kolam itu," jawab Drake.
"Ayolah, paman. Sekali ini saja, ya??"
"Sudahlah, Drake. Turuti saja keinginan Joy. Kita berada di sini kan untuk menyenangkannya," sela Terra.
"Iya baiklah. Aku akan naik," Drake mengusap wajahnya.
"Yes."
Joy senang dan langsung menyeret Drake ikut dengannya.
"Em anu, aku tidak ikut, ya. Kalian naik saja, aku akan menjaga tas bekal kita," kata Luna.
"Gitu, ya?" Terra menoleh.
"Iya."
"Baiklah. Ayo naik roller coaster!" Terra mengangkat tangan kanannya sambil mengepal.
JENG JENG !
Ular naga panjangnya bukan kepalang. Antrian di wahana roller coaster benar-benar padat. Nampaknya semua orang menyukai permainan satu itu.
Berbeda dengan Drake, butiran keringat mengaliri tubuhnya. Bukan karena ia takut, tapi lebih karena perasaan mual yang ia rasakan sejak pagi.
Entah bagaimana jadinya, perut yang sejak pagi tidak bisa diajak kerjasama itu akan tenang atau justru membuat masalah.
Setelah melewati antrian yang panjang, Drake dan yang lain naik ke kereta yang sudah siap. Karena Joy duduk dengan Terra, ia pun duduk di sayap kiri dengan Lulu di sebelah kanannya.
"Baiklah, bersiaplah semuanya!" seru Terra.
Beberapa detik setelah Terra menyerukan semangatnya, kereta roller coaster itu pun bergerak maju.
DREK
DREK
DREK
WUUUUZZZZZ...
Kereta yang meluncur di atas rel magnet itu menghajar siapapun yang menumpanginya. Suara jeritan senang dari beberapa penumpang wanita menambah keseruan yang ada.
Salah satunya Lulu. Gadis itu sangat menikmati buaian angin yang begitu kencang menerpa wajahnya. Rambutnya yang panjang pun berkibar-kibar bebas di udara.
"KYAAAAA!!" seru kesenangan ala Lulu.
Berbeda dengan Drake yang baru pertama kali naik wahana seperti itu. Matanya membelalak lebar ketika merasakan perutnya mulai bereaksi. Saat itu juga, ia merasa mual dan ingin muntah.
"Oh tidak. Jangan sekarang."
Batin Drake.
GLUGUK
Drake terus saja menelan ludah guna menahan rasa mualnya. Ia tidak berteriak-teriak seperti kebanyakan para wanita dan anak-anak. Hanya saja, ekspresi wajahnya berubah-ubah sesuai alunan dan hentakan si kereta.
ZLUUGGG!
Tiba-tiba saja, Kereta luncur yang mereka tumpangi berhenti di tengah jalan dalam posisi terbalik.
Spontan saja, semua orang khususnya para wanita dan anak-anak berteriak histeris karena ketakutan.
"Tolong selamatkan kami!!" teriakan yang berkali-kali terdengar di telinga Drake.
Dalam keadaan terjungkir seperti itu, Drake tidak bisa menahan rasa mualnya. Ia pun memuntahkan air dari dalam mulutnya.
"Aku tidak tahan lagi. Apa kalian masih bisa bertahan??" ia bertanya pada Lulu dan yang lainnya dengan suaranya yang liyer.
"Ka kami masih bisa bertahan. Tapi sampai kapan kita akan seperti ini? Aku mulai pusing," jawab Terra.
"Iya, aku juga," Joy juga merasakan hal yang sama.
__ADS_1
"Berpeganglah yang erat pada pengaman dada kalian. Semoga orang-orang di bawah melakukan usaha penyelamatan terhadap kita dengan cepat," Drake berusaha menenangkan teman-temannya.
"Iya."
Pada saat Drake sedang mabuk udara seperti itu, tiba-tiba saja seorang wanita meluncur jatuh ke bawah karena pengaman badannya tidak bekerja dengan efektif.
"KYAAAAA!!" teriakan putus asa terdengar begitu melengking dari bibir wanita itu.
"Ibuuuuu!!!"
Drake mendelik dan terkejut melihat wanita itu jatuh ke bawah. Jika ia tidak buru-buru menangkapnya, tentu saja wanita itu akan menjadi daging penyet begitu sampai di bawah.
HUP!
Dengan keyakinan dan kekuatan pada dirinya, Drake menggerakkan telapak tangannya seakan menggenggam sesuatu. Ia berusaha menangkap wanita itu dari jauh dengan kemampuan ajaibnya.
Syukurlah!
Meski awalnya ia ragu karena jarak di antara mereka cukup jauh, Drake berhasil juga menangkap tubuh wanita itu dengan tepat.
Wanita itu tentu saja terkejut saat merasakan sebuah sentuhan gaib menahannya dari keterjatuhannya. Namun apapun itu, ia benar-benar bersyukur dan mengucapkan terima kasih pada siapapun yang menyelamatkannya.
"Oh, ya Tuhan. Keajaiban apa yang sudah menyelamatkanku? Hhhh,,, siapapun itu, berkatilah dia," doa si wanita di tengah-tengah ketakutannya.
Ketika wanita itu mendongak karena mengkhawatirkan putrinya yang masih berada di atas, ia pun melihat Drake yang sedang mengulurkan tangan seakan tengah menggenggam sesuatu.
"Dia? Apakah dia yang menolongku? Oh, Tuhan, jika itu benar, berikan dia kekuatan untuk mempertahankanku."
Sementara itu di bawah, semua orang memandang ke atas demi melihat kejadian mengerikan yang sedang terjadi. Mereka juga menjerit-jerit ngeri, ketika melihat bagaimana wanita itu meluncur jatuh ke bawah dan tiba-tiba saja berhenti seperti diselamatkan sesuatu yang gaib.
Satu jam lamanya, mereka dipaksa bertahan dalam posisi terbalik. Darah pun seakan berkumpul di kepala dan tidak tersisa sedikitpun di bagian tubuh lainnya.
Banyak penumpang yang pingsan. Termasuk Joy dan Terra. Banyak pula yang kesemutan dan mati rasa pada bagian kaki.
Karena kemampuannya hanya itu, mau tidak mau Drake harus bertahan. Seandainya ia bisa terbang, tentu saja ia akan menghentikan waktu dan terbang menurunkan orang-orang itu satu persatu.
Sayangnya tidak begitu.
Bahkan, karena posisi yang tidak menguntungkan baginya itu, otot-otot saraf Drake menyembul di lengan kanannya.
Lulu yang lemas namun tetap sadar itu melihat semua yang dilakukan Drake. Akhirnya ia juga mengerti, bahwa yang ia lihat kala itu memang benar.
Drake mempunyai kemampuan bisa menggerakkan sesuatu tanpa menyentuhnya.
Setelah membatin seperti itu, Lulu menepuk-nepuk kaki Drake sebagai bentuk dukungannya.
•••••
GRUK
GRUK
Ketika akhirnya kereta itu bergerak kembali dengan perlahan, Drake juga ikut mengarahkan tubuh si wanita agar turun ke tanah.
SYUUT
Wanita itu turun dengan selamat dan disambut banyak orang khususnya dari tim kedokteran.
Dan kereta yang akhirnya berhenti itu diserbu tim penyelamat untuk mengamankan para korban yang pingsan dan kehabisan tenaga.
Rombongan Drake sudah diamankan dan dibawa ke tempat rendah yang lebih aman. Mereka diperiksa dan diberi minuman serta makanan untuk memulihkan kesadaran dan tenaga.
Luna yang sejak tadi menunggu adik dan temannya diselamatkan itu pun bergegas menghampiri barak istirahat mereka. Ia begitu syok dan ketakutan dengan apa yang terjadi.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya begitu memasuki tenda dan langsung menangis.
HUHUHUHU......
"Ya, kami baik-baik saja, jawab Terra yang ternyata sudah siuman."
Lalu, karena Luna menoleh padanya, Drake pun mengangguk sambil tersenyum.
Pada saat sedang beristirahat, telinga Drake bergerak-gerak. Ia mendengar sesuatu seperti suara reporter yang sedang mendekat ke barak penampungannya.
"Lulu, bisa membantuku keluar dari sini?" bisiknya.
"Keluar?"
"Hmm."
"Baiklah."
__ADS_1
Lulu membantu Drake keluar dari tenda. Tepat setelah itu, rombongan reporter memasuki barak tendanya dan mencari pria berbaju putih yang terekam kamera.
Rupanya, orang itu sudah mengunjungi tenda-tenda tempat para korban dirawat untuk mencari orang yang dengan misterius menggunakan tenaga gaibnya.
Namun karena di tenda tersebut tidak ada yang mengenakan baju berwarna putih, reporter itu pun keluar tanpa hasil.
"Dari mana kau tahu dia akan datang?"
Lulu yang ikut bersembunyi di bagian belakang tenda itu merasa penasaran. Sebab, ia sendiri tidak mendapat penglihatan dalam mimpi sehingga ia tidak tahu akan terjadi kecelakaan roller coaster hari ini.
Tapi berbeda dengan Drake, ia tahu akan ada seseorang yang datang mencarinya sehingga ia kabur dengan tepat waktu.
"Ah, bukan apa-apa. Kebetulan saja,," Drake tidak mengakui.
"Menurutku itu bukan kebetulan. Kau memintaku membantumu keluar tepat sebelum dia datang. Aku rasa, kau sudah tahu dia akan datang," jawab Lulu lagi.
"Kau berpikir berlebihan. Aku hanya kebetulan saja memintamu membawaku keluar seperti tadi."
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
Drake diam seakan berpikir.
"Kalau begitu, yang tadi itu apa? Itu kau, bukan? Kau menahan wanita yang jatuh itu dengan tenaga ajaibmu?"
"Ehh?? I itu...."
Belum sempat Drake bicara, Terra, Joy dan Luna datang menyusul. Mereka mengajak semuanya makan siang sebelum pulang.
"Ayo makan siang dulu. Setelah itu pulang saja," kata Terra.
"Iya, aku juga sudah lelah dan masih merasa terkejut," sambung Joy.
"Oke. Baiklah."
••••
Akhirnya, rombongan Drake beristirahat di tepi danau yang airnya jernih nan bersih. Terdapat banyak ikan dengan berbagai jenis berenang indah di dalamnya.
"Nah, ayo makan bekal kita," Joy bersemangat.
"Mari makan," sambung Lulu.
Semuanya makan dengan lahap dan tenang sambil menikmati pemandangan danau dengan air jernih dan berdasar kehijauan.
Bahkan, karena pemandangan itu terlalu bagus, Terra buru-buru menyelesaikan makanannya dan mengajak Luna berfoto.
"Kakak, ayo kita ambil gambar di sana. Itu indah sekali," ajaknya pada Luna.
"Benar. Ada bunga anggrek menari juga di sana. Lihat, bahkan angsa liar yang sedang berduaan pun memilih tempat itu," kali ini Luna benar-benar bersemangat.
"Wah, bibi Luna, bibi Terra. Kenapa tidak mengajakku juga? Aku juga mau dong, foto-foto."
"Hihihi, boleh boleh. Ayo kita ambil gambar bersama."
Luna, Terra dan Joy berlari kecil mendekati taman bunga anggrek menari. Selain anggrek terestrial, ada pula anggrek angsa.
"Lihat Terra, bunga anggrek ini seperti balerina yang sedang menari dengan indah," ucap Luna terhibur dengan adanya taman bunga di dekat danau tersebut.
Sementara itu, di lokasi mereka menggelar tikar piknik, Drake masih duduk menikmati makanannya bersama Lulu. Gadis itu berniat menanyakan kembali soal yang terjadi beberapa saat lalu.
Sedang enak-enaknya makan telur rebus, seseorang datang dan menyapa Drake. Ia menggelar tikar juga di sana bersama putrinya.
"Maaf, bukankah itu kau?"
Drake langsung menoleh karena dipanggil. Tapi, saat itu juga ia jadi tersedak oleh putih telur yang belum ia kunyah dengan baik.
"UHUK! UHUK!"
Ternyata, ia mengenali siapa wanita yang sedang bicara dengannya. Siapa lagi kalau bukan wanita yang jatuh dari roller coaster tadi.
"Eh, maaf. Apa aku mengganggumu?" wanita itu khawatir dan mengeluarkan sapu tangan dari kantung jaketnya.
"Tidak, aku tidak apa-apa."
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....