
BAB 36
"Satu kali lagi, ya," Drake sedang menyuapi Joy dengan bubur buatannya tadi.
Joy menuruti ucapan Drake dan membuka kembali mulutnya.
Nyam Nyam Nyam...
"Nah, biar ku siapkan obat untukmu."
Sambil menyiapkan obat flu untuk Joy, Drake membuka jendela kamarnya agar cahaya matahari masuk ke dalam.
"Hari ini, aku ada pemotretan sebuah majalah. Kau tidak apa-apa kan jika ku tinggal sendiri di rumah?"
Joy mengangguk.
"Em, tapi nanti aku akan meminta tolong bibi Terra untuk melihatmu beberapa waktu."
"Iya paman, tidak apa. Lagipula, aku sudah sembuh."
"Hmm. Baiklah. Ingat, jika ada orang lain yang datang ke rumah, jangan bukakan pintu. Apalagi orang itu tampak mencurigakan, segera telepon bibi Terra atau bibi Lulu untuk menemanimu."
"Baik. Aku mengerti."
"Ya sudah. Aku pergi dulu.."
"Hati-hati paman..."
"Hmm.."
Saat melangkah pergi menuju tempat sepatu, Drake berpikir untuk menelepon seseorang.
"Hai Tony, apa perwakilan Burberry membawa banyak contoh pakaian mereka? Hadiah yang mereka kirimkan padaku tidak sengaja terkena saus. Aku harus bagaimana?
"Tenang saja. Mereka membawa banyak macam pakaian. Mr. Jhon ingin agar kau mencoba semuanya."
"Sungguh?"
"Ya."
"Syukurlah. Kalau begitu aku akan pergi sekarang juga," kata Drake yang saat itu sedang bicara dengan kru pemotretan.
DOEENGG
Drake tengah tiduran di kursi sofa dengan muka ditutup menggunakan sebuah majalah. Sebenarnya ia sudah menunggu jadwal pemotretan dirinya sekitar setengah jaman.
Ada nona Claudia sebagai model wanitanya Yang sekarang sedang melakukan pemotretan. Ketika Drake sedang tiduran itu, datanglah dua kru yang mungkin masih baru. Mereka membicarakan orang yang tidur di sofa tanpa tahu menahu siapakah orang tersebut.
"Aahh. Panas sekali cuacanya."
"Benar."
Seorang menoleh pada Drake, "Siapa dia?"
"Heh? Entahlah, dari mana datangnya orang tidak jelas ini? Apa dia salah satu model kita?"
"Aku rasa bukan. Lihat cara berpakaiannya. Benar-benar mencerminkan orang yang semrawut. Mana ada model Burberry yang berpakaian lusuh dan bolong-bolong seperti dia," ucap seorang sambil menyeruput kopinya.
"Benar juga."
"Oh ya, ngomong-ngomong, model yang namanya Drake itu. Setampan apa sih dia? Mengapa Sisil dan yang lain merasa senang saat mengetahui dia akan menjadi model mereka kali ini."
"Tampan apanya? Palingan lebih tampan aku. Dengar-dengar, dia suka mengorek kupingnya. Jorok sekali, bukan? Aku rasa dia punya orang dalam yang membawanya masuk," pria keriting dengan hidung lebar itu mengolok-olok Drake dengan senangnya.
Pada saat kedua pria itu sedang menggunjingkan Drake, datang satu lagi pria yang bertugas sebagai asisten tukang make up.
"Kalian di sini? Apa kalian melihat model pria kita?" tanyanya dengan gerakan tangan yang gemulai.
"Tidak. Seperti apa dia?"
"Menurut rumor sih dia tinggi dan tampan. Kata nona Claud, dia juga atlet tinju yang mempunyai tato di lengan kanannya. Jadi dia punya badan yang bagus."
"Sedari tadi, tidak satu pun orang terlihat seperti itu."
Asisten make up itu duduk dan menyeruput kopi dari gelas temannya, "Heh? Siapa yang tidur itu? Ck Ck Ck,, semua orang bekerja dia malas-malasan di sana. Cepat bangunkan dia. Orang tidak penting seharusnya dilarang memasuki ruangan ini."
"Benar. Cepat usir dia."
"Kau saja."
"Sudah, sana bangunkan dia dan suruh dia pergi," kata salah seorang.
Saat seseorang mendekatinya dan hendak menyentuhnya, Drake menurunkan majalah yang menutupi wajahnya. Tampaklah kedua matanya yang terbuka lebar.
Orang yang hendak membangunkannya pun terkejut dan melompat ke belakang.
"Dia bangun! Dia bangun!"
"Hoaaaheemmm..... apa pemotretan sudah selesai??" tanya Drake sambil menggeliat dan membentangkan kedua tangannya.
Orang-orang itu tidak mengenal Drake, alhasil mereka hanya melongo saja melihat Drake bangun dan duduk menghadapi mereka.
__ADS_1
Sambil meletakkan buku majalah yang ia gunakan tadi, Drake tersenyum ramah pada semua orang di depannya. Akan tetapi, senyuman itu tampak mengerikan bagi orang yang tadi menyebutkan bahwa Drake jorok karena suka mengorek kuping.
Karena tiga-tiganya hanya terbengong menatapnya, Drake melangkah mendekat dan merangkul mereka sambil berbisik pelan.
"Benar sekali apa yang kalian dengar, Drake itu orang yang tampan dan seorang atlet tinju. Yang paling penting, dia juga suka sekali mengorek telinga! Seperti ini," Drake mencontohkan cara mengorek telinganya sambil terkekeh kegelian.
GLEK
"A Apakah....???" gumam si pria keriting gugup sampai mau jatuh.
"Drake!" panggil Claud dari kejauhan.
Tiga pria itu menoleh pada Claudia sambil mendelik kaget, lalu kembali lagi menoleh pada Drake yang masih tersenyum.
GLEK
"DRAKE???? Dia model pria kita???" seru mereka serempak.
"I itu benar dia, pria yang suka mengorek telinga," kata si keriting gugup.
Claud datang dan duduk di samping Drake, ia menggelendot manja di lengan Drake sambil bertanya, "Apa yang kau kenakan ini?"
"Ah, ini. Entahlah, ini ada di atas kursi saat aku datang. Aku pikir tidak ada salahnya jika aku memakainya untuk selimut," jawab Drake seraya menyingkirkan rok dari tubuhnya.
HOSH.. HOSH...
Seorang pria berkacamata datang buru-buru dan menghampiri Drake.
"Drake, cepat ganti pakaian. Sekarang giliranmu," katanya.
"Hmm,, baiklah."
Setelah tahu benar bahwa pria yang sedari tadi mereka olok-olok adalah Drake asli atau model pria mereka, tiga pria itu pun kesulitan menelan ludah. Mereka berkeringat dingin dan menjadi pucat pasi.
"Sampai jumpa kawan-kawan," kata Drake sambil menepuk pundak-pundak mereka yang gemetaran.
Bahkan ia masih ingat untuk melambaikan tangan persahabatan untuk ketiga pria yang mengolok-olok dirinya tadi.
••••
Lima menit kemudian,
Drake sudah berada di ruang make up. Tukang make up tampak sedang menata rambutnya.
Pada saat tukang make up pergi sebentar untuk mengambil sesuatu, datanglah seseorang dan mengendap-endap ke belakang kursi Drake.
"DRAKE!!!" seru orang itu mengagetkan.
"Eh buset! Kenapa kau muncul dari sana?? Mengagetkanku saja," Drake terkejut sebab ia sedang berkonsentrasi pada ponselnya.
"Siapa yang mengatakan itu? Dia hanya mengarang cerita dan menipumu saja."
"Mana ada?? Nona Claud yang memberitahuku semuanya," katanya berbinar-binar sambil memijit kedua pundak Drake.
Drake merasa tidak nyaman dengan pijatan yang diberikan asisten make up itu. Disingkirkannya jari-jari lentik itu dari pundaknya. Namun tetap saja menempel kembali dan semakin bertenaga.
Oops! Drake meringis karena benar-benar tidak nyaman. Ia pun bangkit dan menyuruh asisten make up itu duduk di kursi sebelahnya.
Sambil duduk kembali ia bergumam soal Claudia, "Claudia,,, Claudia. Mulutmu masih saja idak bisa menyimpan rahasia."
"Eh, tidak apa-apa, tenang saja tuan muda. Aku akan menyimpan rahasia ini hanya untukku."
"Sungguh? Siapa namamu?"
"Rebecca," jawab asisten makeup itu dengan gemulai luar biasa. Ia berwujud pria namun jiwanya seorang wanita.
"Kalau begitu aku mempercayaimu,,"
Rebecca mengangguk senang sambil mengusap pelan lengan kanan Drake. Karena Drake belum mengenakan pakaian untuk pemotretannya dan masih menggunakan kaos tanpa lengan, Rebecca dapat melihat dengan mata kepalanya sendiri, seperti apa otot-otot lengan modelnya.
Melihat mulut Rebecca tidak bisa mingkem, Drake hanya tersenyum dan membiarkan pria setengah wanita itu membantu tukang make up dalam menata rambutnya.
JEPRET
JEPRET
JEPRET
Kilau cahaya yang dihasilkan dari kamera para photographer itu menerpa tubuh Drake. Berkilauan menyilaukan mata.
Saking bagusnya hasil jepretan, Drake diminta untuk mengenakan beberapa macam pakaian.
"Oke, selesai!" seru photographer.
"Terima kasih," ucap Drake.
Claud membawakan Drake minuman dingin dalam gelas.
"Untukmu,,"
"Kopi?"
__ADS_1
"Ya. Kau suka minuman kopi ini, kan?" tanya Claudia.
"Hmm. Terima kasih."
"Sama-sama."
Drake berjalan menuju ruang tunggu lagi dan duduk sebentar untuk minum kopinya.
"Aku senang, kau menerima job ini. Kita bisa lebih sering bertemu seperti dulu."
"Aku juga senang bertemu denganmu. Tapi, aku melakukan ini hanya untuk mengisi waktu luangku saja."
"Ah, kau ini. Mentang-mentang pewaris grup KS. Pekerjaan sekeren ini hanya untuk mengisi waktu luang??"
"Tidak, bukan begitu maksudku. Lagipula, sudah ku katakan padamu sejak lama. Aku bukan pewaris grup itu."
"Omong kosong. Sejak kita satu kelas dulu, aku hanya menganggapmu sebagai satu-satunya ahli waris grup KS."
"Tidak. Kau salah besar. Mereka punya Pitt," jawab Drake tidak bersemangat.
Usai memberikan jawabannya, Drake melempar gelas plastik kosong tempat kopi dinginnya tadi ke tong sampah lalu berdiri dengan cepat sambil merapikan pakaiannya.
"Pekerjaanku di sini sudah selesai, kalau begitu aku pulang dulu."
"Heh, tunggu. Makan-makan dulu lah,, ya,,," ajak Claudia.
"Baiklah. Sekali ini saja aku menurutimu," jawabnya setelah berpikir lebih dahulu.
•••••
Tak lama kemudian, mereka berdua tengah duduk santai menikmati makanan yang mereka pesan.
Sebagai penutup, Drake meraih bungkus rokoknya dan berdiri keluar dari restoran.
"Aku mau merokok sebentar. Aku sudah membayar makanan yang kita makan,, jadi kau tidak perlu membayar lagi," katanya.
Karena Drake sudah keluar, Claud pun ikut keluar. Ia mengikuti langkah santai Drake yang menuju area untuk merokok.
Ketika Drake mulai menyalakan sepuntung rokok dengan api pemantik. Claud menepuk pundak Drake.
"Kau masih merokok?"
"Hmm. Ngapain kau ke sini?"
"Ikut denganmu."
"Ini tempat merokok, tunggu saja di depan," Drake menggiring Claudia keluar.
Tepat saat ia membawa gadis itu keluar, Drake melihat Alan sedang bersama seorang wanita berambut pendek.
"Cih, beraninya dia bertemu dengan wanita lain tepat di depan mataku?"
Sebenarnya, Drake pernah melihat Alan bersama wanita itu sebelumnya. Namun ia tidak sempat mengambil gambar mereka. Kali ini, ia langsung meraih ponselnya dan mengambil bukti nyata untuk ia perlihatkan pada Luna.
"Ada apa? Kau ngintai orang yang sedang berpacaran itu?" Claud menoleh penasaran.
"Hmm. Dia pacar temanku."
"Ah, perselingkuhan memang kerap terjadi dalam hubungan percintaan."
Claud memperhatikan ekspresi wajah Drake yang menatap Alan dengan kebencian.
"Aku tebak, kau menyukai teman wanitamu yang menjadi pacarnya itu, ya?"
"Eh? Apa yang kau katakan?" jawab Drake sambil tertawa lirih.
"Sudah, tidak perlu menutupinya dariku. Aku bisa melihat dengan jelas."
"Apa terlihat jelas, ya?"
"Sangat."
Drake diam menatap Alan. Tiba-tiba saja pikiran jahilnya muncul, ia pun menggerakkan jarinya untuk mengerjai tunangan Luna itu.
Saat Drew sedang bersandar di lengan Alan dan tampak tidak peduli orang-orang sekitar, dari jarak jauh Drake mengambil sebuah batu dan menyentilkannya tepat ke arah dahi Alan.
BLETAK!
"ADDDDAAWWW!!!"
Alan mengaduh kencang. Seketika itu juga, ia memiliki warna merah pada dahinya.
"Ada apa, sayang?"
"Seseorang melempar dahiku dengan batu," Alan celingak celinguk mencari pelaku.
"Memangnya siapa yang iseng melakukannya? Semua orang tampak sibuk dengan urusan mereka sendiri," kata Drew ikut menyapukan pandangannya.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG......