HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
PENITIPAN ANAK


__ADS_3

Halo semuaa,,,


Jangan lupa,,,


Klik tombol like dulu ya,,, 👍🏻🥰


...........


BAB 31


Pagi setelah beberapa hari berseteru dengan Luna, Drake tampak sedang berolahraga di samping rumahnya.


Ia melakukan push up dengan satu atau dua tangan bergantian.


"Wah, paman hebat sekali!" seru Joy yang datang dari pintu belakang.


Anak itu datang sambil menikmati roti sobek coklat yang semalam Drake beli dari rumah roti. Sambil menyuapkan sepotong kecil rotinya ke dalam mulut, Joy berjongkok di dekat Drake.


"Bagaimana paman bisa melakukannya?" Joy bertanya sambil mengamati Drake yang sedang push up dengan satu tangan menopang tubuhnya.


"Tahan dan lakukan. Itu saja," jawab Drake asal.


Dirasa cukup mengolah raganya, Drake bangun dan melangkah memasuki rumah diikuti oleh Joy.


GLUK GLUK GLUK


Drake meneguk air minum dari dalam lemari pendingin lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangan.


"Hari ini aku ada urusan di luar. Kau main ke rumah bibi Terra dulu, ya."


"Baiklah," angguk Joy.


Akhirnya, setelah bersiap, Drake mengantar Joy ke rumah Luna. Kebetulan, yang membukakan pintu adalah Luna sendiri.


"Eh, Luna. Em, apa Terra ada kelas, hari ini?"


"Aku kurang tahu, kenapa?" nada suara Luna masih kesal.


"Itu..."


"Aku senggang hari ini. Apa kau mau menitipkan Joy?" Terra muncul dari dalam dan langsung ikut bicara.


"Ehehe,, iya nih. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan di luar. Jadi aku mau minta tolong padamu menjagakan Joy selama aku pergi."


"Hmm, ya sudah. Kau pergi saja. Joy pasti aman bersamaku."


Waktu Drake hendak melangkah pergi, Luna berkata, "Kau ini, tidak pantas menjadi orang tua asuh. Apa kau tahu? Sering menitipkan anak pada orang lain adalah bentuk sikap tidak bertanggung jawab. Kau pikir kami tidak punya kerjaan juga? Tahu diri dong."


"Aahh..." Drake berhenti melangkah dan berbalik perlahan.


Terra langsung menyikut pinggang Luna. Sebab, ia merasa bahwa kakaknya itu bicara agak kasar pada Drake.


Joy yang melihat Drake berdiri sambil menundukkan kepala itu pun menatapnya bergantian dengan Luna dan Terra.


"Em, maaf karena aku agak lamban dalam memahami situasinya. Kalau begitu, aku akan membawa Joy kembali agar tidak membuat kalian repot," Drake menepuk pundak Joy dan menggiringnya pergi.


"Eh eh eh,, kenapa langsung pergi begitu saja?" Terra berlari keluar dan mendapatkan Joy.


"Sepertinya Luna benar, aku harus tahu diri," Drake jadi merasa canggung.


"Biarkan Joy bersamaku. Aku juga libur, jadi tidak apa-apa. Kau ada urusan di luar, bukan? Kalau begitu pergilah, tidak perlu memikirkan Joy. Dia aman bersamaku."


Drake berpikir beberapa saat.


"Tapi, apa kau sungguh tidak apa-apa?" Drake takut membuat kesalahan.


Terra mengangguk. Bagaimana bisa ia membiarkan orang yang disukainya itu kesulitan.


"Bagaimana Joy. Apa kau mau ikut denganku, atau bermain bersama bibi Terra?" tanya Drake pada Joy.


"Aku ikut paman Drake saja," Joy takut melihat Luna yang sedikit berbeda.


"Em, sepertinya Joy ingin ikut denganku. Kalau begitu, kami pergi dulu," jawab Drake sambil tersenyum.


Setelah sebelumnya menyapa Luna, ia pun meninggalkan rumah kedua gadis tersebut.


•••••


Di rumah Luna....


Terra duduk di meja makan sambil mengupas buah pir.


"Kau sedikit keterlaluan tadi saat bicara pada Drake," ucap Terra jujur.


"Eh?"


"Apa kau masih marah soal ulat dan tai anjing kemarin?" tanya Terra.

__ADS_1


"Ya. Jujur saja aku masih kesal padanya. Alan itu atasanku, seharusnya Drake bisa bersikap sopan sedikit terhadapnya. Apa yang dia lakukan kemarin benar-benar sikap kekanakan," kata Luna sambil menjatuhkan pantatnya ke kursi dengan kasar.


"Alan memang atasanmu, tapi bukankah dia bukan atasan Drake? Bagaimana dia harus tunduk pada Alan?"


Luna menoleh. "Apa kau sedang membela Drake?"


"Kelihatannya seperti itu, ya?"


"Yah, jelas sekali.."


"Kalau begitu memang seperti itu."


"Heh?"


"Hihihi,, jangan lupa, kak. Dulu saat Drake tinggal di rumah kita, bukankah kita sering mengerjainya?"


Luna merenung. Memang benar apa yang dikatakan Terra. Dulu, saat mereka belum berteman dan menganggap Drake hanya seorang tamu yang menginap di rumahnya, dirinya sering mengerjai Drake.


Keisengan mereka yang paling parah adalah ketika mereka memberi obat pencahar pada makanan yang hendak disantap Drake. Alhasil saat itu Drake bolak-balik ke kamar mandi selama tiga hari penuh sampai lemas.


"Bukankah kau juga pernah bilang padaku, kalau toko roti ayah bisa kita miliki kembali berkat usaha Drake."


"Ya,, ya,, kau benar. Semuanya benar," Luna seakan tidak mau diingatkan.


SRET


"Aku berangkat dulu ya," sambung Luna.


"Apa Alan datang menjemputmu?" Terra ingin tahu apakah calon iparnya datang menjemput sang kakak.


"Tidak, dia sibuk sekali akhir-akhir ini."


•••••


Di rumah Lulu.


"Kak Drake?"


"Em, Lulu, apa aku bisa meminta bantuanmu?" tanya Drake ragu.


"Tentu saja."


Lulu yang sedang menyiram tanaman di halaman rumahnya mematikan selang dan mempersilahkan Drake serta Joy duduk di bangku taman.


"Jadi, apa yang bisa aku bantu?"


"Aku akan menjaganya untukmu. Hari ini aku libur, jadi serahkan urusan Drake padaku," jawab Lulu seakan tahu apa yang Drake lalui beberapa menit yang lalu.


"Sungguh? Aku tidak merepotkanmu?"


"Bagaimana mungkin, Joy anak yang pintar dan menggemaskan. Dia akan baik-baik saja di sini."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku pergi dulu, ya," pamit Drake.


"Hmm. Tidak usah terburu-buru."


••••••


SIIIINNGGG


Drake berjalan memasuki perusahaan ayahnya dengan santai. Bahkan ia datang hanya dengan celana pendek dan kaos putih yang ditutup jaket kulit berwarna hitam putih.


Saat melewati beberapa karyawan eksekutif, mereka menyapa dengan ramah. Bahkan beberapa karyawati yang sedang berjalan beriringan di kejauhan pun berlarian datang saat melihatnya. Mereka jejeritan sendiri sambil memanggil putra ke dua yang terkenal tampan dan ramah.


"Tuan muda ke dua!!" seru mereka heboh.


Mendengar panggilan itu, Drake tersenyum pada mereka semua. Namun, dua penjaga khusus atau tangan kanan langsung dari tuan Halbert menahan para gadis agar tidak mengikuti Drake.


"Silahkan tuan muda, langsung ke lantai empat saja. Tuan sudah menunggu di ruang kerjanya," kata salah seorang bawahan ayahnya.


"Hmm."


Setelah sampai ke lantai empat menggunakan lift, Drake segera menuju kantor ayahnya.


"Presdir, tuan muda ke dua sudah datang."


"Biarkan dia masuk."


"Silahkan, tuan muda."


"Hmm."


TAP TAP TAP


Tanpa basa-basi, Drake langsung menghadapi ayahnya. Di ruang tersebut, ibunya juga duduk menunggunya.


"Apa maksud ayah dengan mendaftarkan namaku untuk beberapa kencan buta???"

__ADS_1


"Sudah saatnya, bukan? Kapan kau akan menikah dan bersikap dewasa? Lihatlah dirimu. Berpakaian resmi untuk ke kantor saja kau tidak tahu. Khh! Celana pendek. Memalukan sekali."


Drake tersenyum kecut seraya menunggu ayahnya berhenti menghinanya. Lalu tanpa ragu ia mengatakan keputusannya yang tidak ingin menikah.


"Aku tidak ingin menikah."


"Apa maksudmu?? Bercerminlah pada Pitt, dia menikahi Eloise di usia muda. Dia bersikap dewasa dan bergabung dengan perusahaan tanpa ayah paksa," ayahnya tidak tahu menahu soal Eloise yang direbut oleh Pitt.


"Sebaiknya batalkan semua janji kencan dengan mereka. Aku tidak akan datang menemui mereka," Drake tidak ingin mengikuti keinginan ayahnya.


"Kau!!"


"Eh, Drake sayang. Cobalah sekali kencan buta ini. Ibu menjadwalkan pertemuanmu dengan putri tuan Sinam. Namanya Peony. Dia seorang dokter muda yang karirnya mentereng. Kau pasti cocok dengannya," nyonya Wendy menyebutkan seorang calon yang paling berkualitas.


Drake terkekeh, "Ada apa dengan kalian? Kenapa tiba-tiba peduli padaku seperti ini?"


"Bagaimana kami tidak peduli, kau juga putra kami," nyonya Wendy berusaha tidak menunjukkan niat aslinya.


Sebenarnya, orang tua Drake ingin mengembangkan sayapnya dengan mempersatukan dua keluarga berlatar belakang tinggi.


Ayah Peony adalah pemilik perusahaan farmasi nomor satu di beberapa kota.


"Sayang sekali. Aku tidak tertarik dengan rencana kalian. Lain kali, bicarakan dulu semuanya denganku. Aku tidak suka seseorang menggunakan fotoku untuk bisnis," Drake berbalik pergi.


"DRAKE!!" tuan Halbert marah dan menggebrak meja.


Drake berhenti melangkah. Namun tidak menoleh ke belakang.


"Lakukan atau kau benar-benar tidak akan mewarisi sepeserpun hartaku!"


"Cih.." Drake terkekeh kesal. "Silahkan. Aku juga tidak tertarik dengan harta ayah."


Usai mengatakan itu, Drake pergi meninggalkan kedua orang tuanya yang tampak sangat kesal.


••••••


GYUTT


Setelah sebelumnya ia mampir lebih dulu ke toko kue dan membeli bronis keju dan puding mangga, Drake kembali ke rumah Lulu.


"Paman!" seru Joy yang langsung menghamburkan diri ke arah Drake.


"Maaf menunggu lama," katanya.


"Tidak. Kami menunggumu pulang dengan menanam bibit dan bermain menangkap belalang."


"Syukurlah. Lihat yang kubawa. Mari makan bersama," Drake menunjukkan apa yang ia bawa di tangan.


Tidak lama kemudian, mereka duduk mengobrol sambil menikmati kue dan puding lezat.


"Paman, bibi Lulu mengajariku menangkap belalang dan capung. Apa paman mau lihat aksiku menangkap mereka?" Joy meraih tangan Drake dengan bersemangat.


"Heh?"


Karena Joy amat gembira dan penuh semangat, Drake menuruti keinginan anak tersebut dan mengikutinya pergi ke halaman samping rumah Lulu.


Di dalam halaman, Lulu dan Joy membuat taman kecil tempat mereka berdua menanam bunga. Tanah tersebut mereka lingkari dengan pagar kayu agar bibit bunga yang mereka tanam tadi terlindungi dari hama.


Saat mencari capung dan belalang, Joy ingat dengan hasil karyanya bersama Lulu. Maka dengan bangganya ia menunjukkannya pada Drake.


"Paman, lihat kemari!"


"Ada apa?"


"Aku dan bibi Lulu tadi menanam bunga di sini. Menurutmu, apa bibit bunga itu akan segera tumbuh?"


"Di dalam itu?" Drake memperhatikan pagar kayu yang ditancapkan ke tanah mengelilingi beberapa tanah gundukan.


Drake masuk ke dalam lingkaran pagar dan duduk di atas rumputnya. Ia duduk dengan tubuh yang sedikit membungkuk dan condong ke depan. Tangan kiri menopang pada lutut kiri sedang tangan kanan menarik-narik iseng rumputnya.



"Jika kau beruntung, apa yang kalian tanam akan tumbuh dengan subur," jawab Drake.


"Benarkah? Asik sekali kalau begitu," Joy bertepuk tangan dan tersenyum pada Lulu.


Dari tempat duduknya, Drake mengamati keduanya dengan seksama. Meski ia merasa senang melihat mereka bahagia, ada sedikit kesedihan di dalam hatinya.


Ucapan Luna pagi ini, membuatnya berpikir. Mungkin mulai sekarang, ia harus sedikit mengurangi pekerjaan di luar agar tidak menitipkan Joy lagi pada siapapun.


.


.


.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2