
BAB 23
GYUUTT
Sepeda yang dikayuh Drake itu sampai juga di depan rumahnya. Drake turun dan mengambil Joy dari pangkuan Lulu.
"Terima kasih, sudah membantuku membawa anak ini ke rumah."
Lulu mengangguk, "Ayo cepat bawa dia ke dalam."
Pada saat mereka berlari ke dalam sambil menggendong seorang anak, Terra memperhatikan dari rumahnya.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka membawa anak itu ke rumah Drake?" Terra yang penasaran pun turun dan bergegas menghampiri rumah pria itu.
Sementara itu, Drake membawa Joy ke kamarnya. Sedangkan Lulu berinisiatif mengambilkan air minum untuk Drake dan juga anak kecil itu.
Beberapa menit setelah Drake meletakkan Joy di kasurnya, anak itu membuka mata perlahan.
"Eh? Kau sudah sadar, Joy?"
Joy mengangguk.
"Syukurlah," Drake merasa bersyukur.
"Ini, kalian minum dulu," Lulu menyodorkan gelas pada Drake dan juga Joy.
"Eh? Terima kasih, Lulu," ucap Drake.
"Hmmm," angguk Lulu.
GRETEK
Terra datang dengan langkah gedebukan.
"Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Mereka baru saja mengalami kecelakaan," sahut Lulu.
"K kecelakaan? Yang benar?"
"Hmm.. itu benar."
Terra mendekati Drake dan memeriksanya. Tidak ada luka sedikit pun.
"Benarkah kau mengalami kecelakaan? Tapi tidak ada luka sedikitpun di tubuhmu?"
"Em, itu,, Anggap saja aku sedang beruntung."
Terra menghela nafas tanda setuju.
"Lalu, siapa anak ini? Kau menculiknya dari mana? Bagaimana kalau orang tuanya mencarinya dan melaporkanmu atas kasus penculikan anak?"
"Dia Joy. Tidak, aku tidak menculiknya. Untuk sementara ini, dia akan tinggal bersamaku karena suatu hal."
"Tinggal bersama? Suatu hal?"
"Ya."
"Apa itu??"
Drake menepuk pundak Terra sambil mengangguk dan memejamkan mata, "Nanti aku ceritakan lagi."
Meski bingung, Terra akhirnya mengerti maksud Drake.
"Kalau begitu, aku akan menyiapkan makan malam untuk kalian," kata Lulu.
Mendengar ucapan Lulu, Drake buru-buru menahan tangannya, "Ehm, Lulu. Tidak perlu repot-repot. Aku akan memesan makanan dari luar."
"Eh, begitu ya?"
"Hmm. Kau duduk saja, ya," senyumnya.
Ingatan Drake tentang makanan buatan Lulu yang tidak enak dan membuatnya ingin muntah itu benar-benar masih dapat ia rasakan.
"Iya baiklah."
••••••
SIINGG
Beberapa jam kemudian, mereka selesai makan. Joy yang semula canggung pun kini sudah mulai membuka diri dengan para wanita teman Drake.
Sesekali ia melirik Drake, orang yang menyelamatkannya. Ia merasa sangat berterima kasih padanya karena sudah peduli pada dirinya. Entah bagaimana jadinya bila paman Drake tidak menyelamatkannya. Dia pasti sudah tiada malam itu.
"Apa kau sudah selesai makan?"
"Sudah.."
"Kalau begitu, pergilah tidur."
Joy mengangguk tanpa banyak bicara. Ia berpamitan dan bergegas pergi tidur. Karena malam kian larut, Lulu dan Terra pun berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
"Kau tidak tidur?" tanya F5.
__ADS_1
"Hmm.. aku tidak bisa tidur."
"Istirahatlah. Tubuhmu perlu beristirahat untuk pemulihan."
"Apakah begitu?"
"Ya. Sebenarnya, kakimu sempat patah dan bengkok. Lalu daging punggungmu juga robek terkena lempengan besi. Meski aku dapat menyembuhkanmu seketika itu juga, kau tetap harus beristirahat setidaknya sampai seminggu lamanya."
"Juga... Karena ini luka besar akibat kecelakaan, kau tidak boleh menggunakan kekuatan fisikmu untuk keperluan apapun. Harus istirahat betul-betul di rumah. Jika tidak,,,"
"Eh,,, apa ada resikonya?"
"Ya. Jika tidak, darah akan merembes keluar dari lukamu. Dan akhirnya luka itu akan muncul kembali."
GLEK
Dia harus istirahat satu minggu lamanya? Kalau begitu, bagaimana dengan pertandingan musim panas yang akan ia ikuti nanti?
"T tunggu. Apakah tidak bisa istirahat selama tiga hari saja?"
"Lebih baik satu minggu."
"Tapi, aku ada pertandingan musim panas tiga hari lagi. Apakah akan baik-baik saja jika tetap melakukannya?"
"Aku tidak tahu. Tapi sebaiknya ikuti ucapanku jika tidak ingin mengambil resiko besar."
Drake menelan ludah. Ia berpikir keras apa yang akan ia lakukan. Pertandingan itu adalah satu-satunya cara baginya melunasi hutang. Selain itu, ia juga dapat menghindarkan Luna dari genggaman tangan nona ZuanYi.
Drake berjalan menuju kamar. Rupanya Joy sudah tidur nyenyak di tempat tidurnya. Merasa kasihan dengan nasib anak itu, didekatinya Joy perlahan. Kemudian dirapikannya selimut yang menutupi tubuh kecilnya.
"Anak yang malang. Kau mengingatkanku pada diriku sendiri," ucapnya sambil mengelus lembut kepala Joy.
Benar. Seumuran Joy dulu, Drake yang memiliki dua orang tua seakan tidak memiliki siapa-siapa. Ayah dan ibunya lebih mengkhawatirkan Pitt dari pada dirinya meski beberapa kali ia mengalami kecelakaan kecil seperti terjatuh dari sepeda.
Atau, ketika Pitt memecahkan pot tanaman antik dan justru menuduhnya. Kedua orang tuanya tidak mau percaya apa yang ia katakan.
Sungguh masa lalu yang menyakitkan!
TREK
Dibukanya jendela kamar perlahan. Drake semakin tidak bisa tidur. Ia mendengus pelan sambil meraih bungkus rokok dalam kantung celana.
Dari jendela kamarnya itu, ia memperhatikan rumah Luna yang lampunya masih menyala.
"Aku akan tetap bertanding."
"Heh?"
"Aku tidak bisa berhenti begitu saja karena sudah menandatangani perjanjian. Jika aku tidak datang bertanding, nona ZuanYi pasti akan terus mengejarku dan berbuat sesuatu pada Luna."
"Tiga hari ini, aku akan beristirahat penuh. Jadi dengan hanya itu, aku berharap semuanya dapat pulih dengan sempurna."
Mendengar keputusan Drake, F5 tidak bisa memaksa. Ia tahu, ada dua tanggungan yang diletakkan di pundak Drake. Ia hanya bisa berharap. Tiga hari sudah cukup bagi Drake untuk memulihkan tubuhnya.
•••••••
WUUZZZZ
Drake merasakan sesuatu begitu dekat denganya. Bahkan ia juga bisa merasakan sesuatu seperti ular kadut sedang menggelitik lubang hidungnya. Dalam keadaan tidur, beberapa kali ia mengernyitkan dahinya.
Rupanya, Joy tengah mengamati dirinya yang sedang tidur dengan mulut menganga. Bahkan benar apa yang dirasakan Drake!
Anak kecil itu memainkan lubang hidung dan bibirnya dengan bergantian sambil cekikikan.
Xi xi xi xi ... 😂
HAP!
Drake segera membuka mata dan menutup mulutnya bersamaan. Kemudian, ia yang kesal pun melirik pada Joy yang tiduran di sampingnya dengan telunjuk tangan kanan yang masuk ke dalam hidungnya.
"Hey,, Apa yang sedang kau mainkan?" tanya Drake dengan wajah datar dan kesal.
"Eh? Paman.. hihihi. Lubang hidung paman lucu,," kata Joy terkekeh.
"Haiss, apa yang kau lakukan! Cepat keluarkan jarimu,," ucap Drake sambil menghembuskan nafas kasar lalu mengganti posisi tidurnya menjadi miring ke kanan.
Tapi, Joy yang disingkirkan Drake itu kembali menggelendot padanya.
"Paman, apa aku boleh tahu nama paman?" Joy terus mengganggu tidur Drake.
"Hmm.."
"Siapa, paman? Ayo cepat katakan."
"Drake."
"Drake saja?"
"Drake Halbert," jawab Drake malas-malasan.
"Drake Halbert? Apa itu sama seperti pengusaha yang bernama Pitt Halbert itu?" Joy melongokkan kepalanya dari atas lengan Drake.
__ADS_1
Drake tertegun. Dari mana Joy mengenal nama itu.
"Kau tahu nama itu dari mana?"
"Saat pertemuan bisnis di rumah kami minggu lalu, Pitt Halbert datang sebagai tamu. Apakah kalian berdua, bersaudara?"
"Tidak."
"Eh, yang benar paman? Nama kalian sama."
"Nama boleh sama. Tapi kami bukan."
Joy mengamati wajah Drake sambil bersandar pada lengan kiri Drake.
"Hoaheemm.. Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Drake sambil menguap.
KRUYUK
KRUYUK
KRUYUUKK
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan. Joy meringis malu saat perutnya mengeluarkan bunyi keruyuk.
"Kau lapar?"
"Ehehehe,,, aku belum makan dari kemarin pagi," kata Joy sambil menggaruk kepalanya.
"Dari kemarin pagi?"
Joy mengangguk.
"Baiklah, pergilah mandi terlebih dahulu. Paman akan membuatkanmu makanan."
"Iya," Joy mengangguk lalu bergegas pergi ke kamar mandi.
Melihat anak kecil itu bersemangat, Drake bangun dari tidurnya dan merapikan tempat tidurnya dengan cepat.
Kemudian setelah ia menyusul Joy ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi, ia pun bergegas menuju dapur untuk menanak nasi dan membuat telur ceplok.
Kebetulan, ada dua potong daging yang dibawakan Luna kemarin untuk sarapannya. Jadi ia memasaknya sekalian.
••••••••
TREK
"Nah, makanlah dengan cepat."
"Iya," Joy yang sudah segar itu menerima piring berisi telur dan dua potong daging yang dihidangkan untuknya dengan anggukan kepala.
Joy yang melihat Drake tidak ikut makan dan justru melepas celemeknya sambil berjalan meninggalkannya itu pun bertanya.
"Eh, paman mau ke mana? Tidak ikut makan denganku?"
"Makanlah. Paman bisa sarapan nanti," jawab Drake.
"Tapi,,,"
Drake pergi ke kamarnya dan mengambil tasnya. Hari ini ia akan ke kantor Thomas untuk mengerjakan sesuatu.
"Paman mau pergi?"
"Ya."
"Apa aku boleh ikut?"
"Tidak. Untuk saat ini tinggallah di dalam rumah. Pamanmu yang jahat mungkin sedang mencarimu di mana-mana."
GLEK
Joy tahu soal itu. Maka dari itu, ia pun mengangguk menuruti ucapan Drake, "Iya baiklah. Aku akan menunggu paman pulang."
"Anak baik. Ingat pesan paman, ya. Ohya. Kalau kau ingin cemilan, di dalam laci dapur ada beberapa makanan ringan. Kau boleh memilikinya," Drake mengelus kepala Joy.
"Hmm. Baik paman."
Karena Joy menurut, Drake pun bergegas pergi. Namun begitu keluar rumah, ia dikagetkan oleh kedatangan Terra dan Luna.
"Kalian? Sedang apa di sini?"
"Kata Terra, kau membawa anak kecil kemarin? Bisa aku melihatnya?" tanya Luna.
"Kebetulan sekali. Aku mau keluar sebentar. Apa kalian bisa jaga dia untukku?"
"Tentu saja," Luna buru-buru masuk ke dalam rumah Drake. Begitu pun Terra.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG......