HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
SETAN PAIT


__ADS_3

BAB 14


Listrik di komplek tempat tinggal Luna dan Drake tiba-tiba saja padam. Drake yang sedang berbaring di kasur itu pun berusaha meraih-meraih meja tempat ia meletakkan ponselnya.


Namun ia tidak menemukan ponsel yang ia cari, "Aduh, ke mana sih ponselku. Perasaan aku menaruhnya di sini."


Walau tidak dapat melihat apa-apa di dalam kegelapan, Drake mengerjap dan tetap membuka kedua matanya. Sambil tangannya meraba-raba benda di sekitarnya.


GLEDUK


"Aduh duh aduh!" jempol kaki kiri Drake tidak sengaja terantuk kaki lemari pakaian.


Tentu saja Drake langsung mengangkat kaki kirinya tersebut dan memijatnya perlahan sambil mecoba terus berdiri. Siapa yang pernah merasakan hal serupa? Pasti sakitnya luar biasa hingga terasa ke ubun-ubun, bukan?


"Sshhh,, sakitnya,,,"


Tiba-tiba saja, Drake melihat gelembung bercahaya biru melayang di dekatnya.


"Apa itu?" tanyanya heran.


Gelembung itu menuntun Drake ke rak buku yang ada di sisi barat kamarnya dan menunjukkan bahwa ponselnya tergeletak di sana.


"Oh, ini ponselku!" Drake buru-buru meraih ponselnya.


Baru saja ia mau mengatakan sesuatu pada gelembung yang tadi, rupanya gelembung itu sudah lenyap.


"Eh? Apa yang aku lihat tadi? Kenapa sekarang tidak ada di sini?"


Drake celingukan mencari gelembung. Sambil disenterinya ruangan kamarnya, tetap saja ia tidak melihat gelembung tersebut.


"Apa sudah pecah, ya? Tapi ngomong-ngomong, dari mana asalnya gelembung tadi? Apa ada yang sedang main sabun di dekat sini?" Drake bicara sendiri karena merasakan hal ganjil.


Setelah mengucapkan hal itu, Drake menoleh perlahan ke belakang. Alangkah kagetnya ia melihat wajah putih yang menyala terang muncul tepat di belakangnya.


"Eh buset! Setan pait!!"


BANG!


Spontan Drake menendang sosok yang dikiranya setan dan berdiri mengagetkannya itu dengan cepat. Tapi aneh, ia malah mendengar suara mengaduh dari mulut si setan.


"Aduuhh..."


"Loh??"


"Kira-kira dong kalau mau balas dendam. Tendanganmu kuat sekali. Uhuhu,, sakit sekali."


Drake mengenali suara itu. Maka dengan cepat ia mendekati dan menyenteri muka si setan.


"Tera!"


"Iya, memangnya siapa yang kau lihat?" Tera memijit-mijit pinggulnya.


"Ahahaha, salah siapa kau berdiri mengejutkanku seperti tadi?"


"Siapa yang mengejutkanmu sih?"


"Kau, tadi?"


"Aku kesini disuruh kakak."


"Ngapain?"


"Nganterin makanan. Alan datang dan membawa banyak pizza. Kakak membaginya sedikit untukmu."


"Ohh. Tapi tetap saja. Caramu masuk itu salah."


"Salah bagaimana?"


"Seharusnya kau mengetuk pintu atau apalah. Jangan mengendap-endap tanpa suara seperti tadi," Drake duduk di sisi Tera.


"Dasar keterlaluan. Seharusnya, kau jangan menyalahkanku. Kau sendiri yang lepas kendali dan menendangku seenak pantatmu," Tera mendengus kesal.


"Lalu, apa itu yang di wajahmu. Gara-gara itu, aku pikir kau hantu yang main gelembung."


"Ini masker."


"Masker?" kata Drake seraya menyenteri wajah Tera dan memperhatikannya dari dekat dan mencoba melepaskannya.


DEG


Tera merasa gugup saat Drake melakukan itu. Apalagi hembusan nafas pria dewasa itu tepat mengenai telinganya. Ia merasa sesuatu mempermainkan perasaannya.

__ADS_1


"Iichh! Modus, ya! Jangan-jangan, kau mau..." Tera langsung menutup bibirnya lalu mendorong tubuh Drake agar menjauh darinya.


"Apa. Apa yang kau pikir akan aku lakukan?" Drake bertanya sambil melotot.


"Tidak ku sangka, ternyata kau mau mengambil kesempatan dalam kesempitan,," Tera terus saja mengira Drake akan menciumnya tadi.


"Enak saja. Memangnya aku mau apa tadi?" Drake menjitak kepala Tera.


"Bukankah,,, bukankah kau mau menciumku, tadi?"


"Sontoloyo!! Ngapain aku menciummu?" Drake memarahi adik Luna sambil menghadiahinya sebuah jitakan lagi.


"Aduuuhh... Lalu apa lagi kalau bukan itu? Kau mendekatkan wajahmu ke wajahku. Dan itu,, nafasmu,, kau sengaja meniup-niupkannya di telingaku untuk merangsangku, bukan?"


"Astaga bocah ini,,,," Drake terkekeh karena merasa adik Luna itu benar-benar konyol.


"Hey, dengar ya, anak manja. Aku mendekatimu seperti tadi, karena ingin memastikan masker yang kau pakai. Itu saja, tidak lebih," lanjut Drake.


"Be benarkah?"


"Iya lah. Memangnya apaan. Ciuman?? Huh, tidak segampang itu, Ferguso!"


"Hehehehe,,, Begitu, ya?" kini Tera merasa malu karena salah mengira.


"Hmm," Drake mengangguk sambil mencibirkan bibirnya.


"Tapi, bisa saja kan. Karena listrik sedang padam, seorang pria kesepian sepertimu..."


BLETAK


"Aduh.."


"Dengar ya, adik manis. Meskipun aku ada di dunia antah berantah yang hanya dihuni para wanita. Pikiranku tidak sekotor itu. Aku masih punya akal sehat," Drake mengetuk-ngetuk pelipis kanannya dengan jari telunjuk.


"Lagipula, ciuman itu tidak boleh sembarangan dilakukan. Harus ada dua orang yang sama-sama suka dan bersedia melakukannya."


"Eh?? Kau yakin dengan ucapanmu barusan?"


"Tentu saja."


"Apa jangan-jangan, kau belum pernah mencium seorang gadis, ya?" tanya Tera seraya melepas maskernya.


"UHUK! UHUK!" Drake tersedak saat melahap pizza.


Ia tidak percaya bahwa Drake belum pernah mencium seorang gadis. Sambil meliriknya tipis-tipis, ia memperhatikan sosok yang sedang duduk di sebelahnya itu.


Jika dilihat dari penampilannya, pria macam itu harusnya seorang play boy lah, atau suka berganti-ganti pacar setidaknya. Tapi apa yang baru saja ia dengar???


"Kenapa menatapku seperti itu?" Drake merasa malu sebab ucapan Tera barusan.


"Kau serius?" Tera melongo di depan wajah Drake.


"Apaan sih?"


"Serius??"


"Apanya?"


"Belum pernah mencium seseorang?


GLUP!



Drake mendengus, "Yaaa. Aku belum pernah melakukannya. Apa kau sudah puas?"


Tera terkekeh. Rupanya pria yang ia anggap playboy itu justru masih seputih salju.


TRING


Semua lampu di rumah Drake kembali menyala terang.


"Eh, sudah nyala lagi?" Drake mematikan senter pada ponselnya.


"Iya, sudah nyala. Kalau gitu aku mau pulang ah," Tera menggosok-gosok lengannya.


"Hmm, katakan pada Luna, terima kasih sudah mengirim makanan dari Alan ini untukku," kata Drake sibuk mencuil makanannya.


"Iya. Baiklah, akan ku sampaikan ucapan terima kasihmu" jawab Tera.


••••••

__ADS_1


TUK


TUK


TUK


Drake sedang memaku ulang meja kayunya yang sedikit kendor. Mengingat usianya, meja itu sebenarnya sudah mau ia buang. Tapi karena ia belum memiliki gantinya, makanya meja itu tidak jadi ia buang.


"Nah, sudah selesai."


SRET


Drake melihat jam dinding. Sudah jam sepuluh. Ia menyambar jaketnya dan beranjak keluar rumah. Sejak pagi tadi, ia belum sarapan. Dan hari ini, ia ingin makan bubur daging berbumbu yang dijual di luar.


Sambil melangkah di jalan, Drake memeriksa saku jaketnya. Takut seandainya ia lupa membawa dompet.


Tepat pada saat ia hendak menyeberang di belakang seorang kakek, sebuah truk melaju kencang ke arah si kakek. Tanpa pikir panjang, Drake berlari melindungi kakek tersebut dan mencoba membawanya ke sisi jalan.


Namun karena sepertinya waktu untuk menyelamatkan diri tidak cukup, Drake hanya bisa berdiri kaku sambil melipat tangan kanannya ke depan wajah untuk melindungi kepalanya karena merasa bahwa sebentar lagi ia akan mati tertabrak.


Matanya pun memejam karena tidak mampu menyaksikan tragedi yang akan terjadi kepadanya.


WIIRR


WIIRR


Tiba-tiba saja sebuah cahaya muncul dari telapak tangan kanan Drake dan memendar terang ke sekitar.


Dan sebuah keajaiban pun terjadi. Entah bagaimana mulanya, semua yang ada di sekitarnya tiba-tiba berhenti bergerak.


Drake yang tidak merasakan terjadi apa-apa, membuka matanya perlahan.


"A apa yang sedang terjadi?" Drake tercengang saat melihat kejanggalan yang ada di depan matanya.


Apalagi saat ia melihat cahaya biru yang tersisa di tengah telapak tangannya dan perlahan menghilang.


"Apa ini? Apa telapak tanganku bersinar?" Drake sedikit takut saat menatap telapak tangannya.


Digerakkannya tangan tersebut menutup dan membuka. Lalu ia pun tersadar bahwa orang-orang di sekitarnya mematung. Bahkan truk yang tadi ngebut, burung yang terbang dan semua benda yang ada di sekitarnya pun ikut berhenti bergerak.


Drake menyapukan pandangannya ke seluruh tempat. Itu benar-benar aneh baginya.


"Benarkah waktu sedang berhenti? Lalu, apa aku yang menghentikan semuanya?" tanyanya gugup dan terbengong-bengong.


Drake menoleh ke arah kakek tua dan bertanya cemas, "Kakek, apa kau mendengarku?"


Kakek itu diam dan tetap mematung. Ia pun berlari ke sana kemari menanyai orang-orang yang ada di jalan. Namun sia-sia saja. Karena tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya, Drake pun membawa kakek tua ke sisi jalan. Begitu pun orang-orang yang sekiranya akan tertabrak truk ngebut tadi.


"Hosh.. hosh.. aku lelah sekali," Drake yang memindahkan orang-orang yang mematung ke sisi jalan itu merasa kehabisan tenaga.


Setelah semuanya terkondisikan, Drake membuka tangannya dan berkata, "Kembalilah seperti semula."


Hening. Tidak ada yang terjadi atau berubah sedikitpun.


"K kenapa tidak terjadi apa-apa?" Drake gugup dan menoleh ke kanan dan kiri.


"Apa benar, aku yang tadi menghentikan waktunya? Jika benar, seharusnya aku juga mengembalikannya seperti semula. Tapi mengapa ini tidak berhasil?" lanjutnya.


Dalam kecemasan luar biasa itu, Drake memejamkan matanya. Ditariknya nafas perlahan-lahan lalu ia hembuskan kembali. Kemudian, dengan keyakinan penuh bahwa ia bisa mengembalikan keadaan, Drake mencoba sekali lagi.


Dibukanya genggaman tangannya dengan pasti. Lalu dilambaikan tangannya tersebut perlahan.


Lagi-lagi tidak terjadi apa-apa. Lalu bagaimana cara mengembalika keadaan?


Drake berpikir keras. Ia terus memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengembalikan waktu yang terhenti.


Pada saat Drake memejamkan mata dengan pikiran yang hanya fokus pada pengembalian waktu, tiba-tiba saja ada suara gemuruh.


WUUZZZZ


Angin berhembus dan seketika semuanya kembali seperti semula. Truk yang melaju kencang itu tetap melaju di jalanan, namun tidak sampai menabrak siapapun.


Kakek tua dan orang-orang yang dipindahkan pun semuanya selamat. Mereka kembali melanjutkan aktivitas yang mereka kerjakan tanpa mengetahui apa yang terjadi. Hanya saja, mereka sedikit kebingungan karena posisi mereka yang berubah.


"Aaah,,, syukurlah..." gumam Drake lega.


.


.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Baca terus ya...


Dan jangan lupa Likenya 🤗


__ADS_2