
BAB 52
Jika Drake sedang mengalami masalah, berbeda lagi dengan Luna yang sedang bersenang-senang dengan Alan. Ia berkemah dengan romantis dan penuh gairah.
Di tempat itu, Alan dan Luna sedang duduk bersama di bawah pohon dengan posisi Alan memeluk Luna dari belakang. Mereka menikmati pemandangan awan di langit yang cerah namun juga teduh.
Dari atas lembah itu, mereka bisa melihat gedung-gedung dan bangunan rumah di beberapa lokasi.
Saking jarangnya Alan membawa dirinya berkencan di alam seperti saat itu, Luna merasa bahwa hari itu benar-benar istimewa.
"Hari ini, aku sangat senang. Kau meluangkan waktumu untuk berkemah denganku," ucap Luna sambil memeluk lutut.
"Begitupun aku. Aku senang sekali, akhirnya memiliki waktu hanya berdua denganmu. Melihat gunung, burung terbang dan bunga-bunga. Indah sekali..."
Luna mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kau ingat saat pertama kali kita bertemu?"
"Tentu saja. Saat itu kau sedang marah-marah. Tidak, tidak. Kau memarahiku setiap hari."..
"Hmm. Aku ingat kau menangis di hari pertama kerjamu karena dimarahi aku."
"Iya benar. Dulu, kau galak sekali."
"Itu kan dulu. Sekarang tentu saja aku sudah berubah. Apa kau tahu, meski pemandangan di sini indah, ada yang lebih membuatku tertarik dari pada itu semua."
"Apa itu?"
"Kau."
"Aku? Ahahaha," Luna tersipu malu.
"Aku bersungguh-sungguh. Kau cinta pertama dan terakhirku, Luna. Kau juga membuat duniaku lebih berwarna. Saat ini dan masa yang akan datang, kau akan selalu ada dalam hatiku."
Alan benar-benar membual soal kesetiaannya. Luna yang beberapa waktu lalu sedikit goyah dan memikirkan soal pernyataan Drake mengenai perasaannya, menjadi sedikit terpengaruh.
SHAAASSSS....
Saat sedang romantis-romantisnya, tiba-tiba saja hujan turun. Alan dan Luna yang duduk di luar tenda itu pun bergegas membereskan barang-barang yang masih ada di luar sehingga mereka kehujanan dan basah kuyup.
"Huuff,, kenapa hujan? Padahal di ramalan cuaca, hari ini akan cerah," ucap Alan.
"Iyakah?" timpal Luna.
"Iya, aku melihat dan mendengarnya di berita rutin," jawab Alan.
"Lalu, kita harus bagaimana? Jika hujan turun, jalanan untuk kembali akan licin, bukan?"
"Iya. Sepertinya kita terpaksa menginap di sini malam ini," Alan merasa senang.
"Me.. menginap??" Luna menoleh cepat.
Alan mengangguk dengan semangat. Sambil mengusap pakaiannya yang basah, ia mendekati Luna yang jadi gugup.
Dalam keadaan hujan yang deras itu, situasi menjadi canggung. Baru kali ini Luna mengalami keadaan yang memaksanya tinggal berdua bersama Alan.
Karena suhu udara di atas begitu dingin, Luna pun menggigil kedinginan.
"Apa kau kedinginan?" tanya Alan.
"S sedikit."
"Kemari, biar aku menghangatkanmu," Alan memeluk Luna.
Saat Alan memeluknya, Luna merasakan kehangatan. Namun ia justru teringat kembali saat-saat Drake merengkuhnya dengan hangat. Bahkan ia mengingat setiap ucapan Drake waktu itu.
Alan yang tidak mengetahui apa yang ada di pikiran Luna pun mendekatkan kepalanya dan bermaksud menciumnya.
Sayangnya, Luna yang sedang mengenang kehangatan yang diberikan Drake padanya waktu itu langsung memejamkan matanya tanpa ia sadari. Bodohnya, ia melihat Alan sebagai Drake!
Alan yang merasa seperti diberi peluang itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mencium dan mulai melakukan sesuatu pada Luna.
Baru setelah setengah jalan, Luna tersadar dari lamunan. Ia bukan sedang bermesraan dengan Drake, melainkan dengan Alan, pacarnya.
Setelah benar-benar sadar, ia merasakan bagaimana semangatnya Alan dalam menikmati tubuhnya.
"Alan...???" Luna membelalakkan matanya karena kaget setengah mati.
"Aah. Mari saling menghangatkan, sayang," jawab Alan santai.
"A'h,, tapi,,,"
__ADS_1
"Hussstt,,, Tidak apa. Nikmati saja, ya.." Alan menutup mulut Luna dengan bibirnya.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Drake selama ini dalam mengawasi dan melindungi Luna dari Alan pun sia-sia.
Di dalam tenda dan di cuaca yang dingin itu, Luna kehilangan kegadisannya karena kecerobohannya sendiri. Sebab, ia membayangkan Drake di waktu yang tidak tepat.
•••••••
Di bengkel mobil....
Drake sedang menunggui mobilnya yang diperbaiki. Tetapi, karena mobilnya itu tidak bisa jadi dalam sehari, Drake memutuskan pulang naik angkutan umum.
Peony sendiri sudah pergi karena ada panggilan mendesak dari rumah sakit. Wanita itu pun membayar lunas biaya perawatan mobilnya tanpa banyak tawar menawar.
"Aku akan memesankanmu taksi untuk pulang," kata Drake pada Lulu.
"Kau sendiri?"
"Aku akan pulang naik angkutan umum," Drake meraih ponselnya dan membuka layanan taksi online.
"Tunggu. Jangan pesan dulu," Lulu menahan tangan Drake.
"Kenapa?"
"Aku ikut denganmu saja. Naik angkutan umum asik juga kok," jawab Lulu.
"Eh? Begitu, ya.."
"Hmm," Lulu mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, aku menemui mekanik dulu," Drake menemui mekanik yang sedang menangani mobilnya.
Setelah melakukan kesepakatan kapan mobilnya akan diambil dengan sang mekanik, Drake menghampiri Lulu kembali.
"Ayo jalan."
"Ayo."
Sialnya, baru saja hendak melangkah keluar dari bengkel, hujan turun dengan lebatnya.
"E buset! Kenapa hujan turun di saat kita mau pulang?" umpat Drake.
Lulu menadahkan tangannya untuk menyentuh air hujan.
"Huff, kalau begitu ayo duduk dulu di sini," Drake mendekati kursi panjang di depan bengkel.
Hujan yang lumayan lama turunnya itu membuat Drake dan Lulu lumutan. Mereka tampak lesu menunggu hujan reda.
Menjelang sore hari, hujan baru berhenti. Mereka bergegas menuju halte bus. Dan mendapatkan bus tumpangan yang menuju rumah Lulu dengan mudah.
••••••
BRUUUMM
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah berada di dalam bus. Lulu duduk di pinggir jendela dengan Drake di sisinya.
Ketika Drake melepas jaketnya dan menggunakannya untuk menutupi pahanya yang terbuka, Lulu benar-benar merasa diperhatikan.
DEG
DEG
DEG
Jantung Lulu berdegup dengan kencang. Sesekali ia menoleh ke arah Drake yang terlihat santai-santai saja.
"Apakah hanya perasaanku saja, atau aku yang terlalu kegeeran?"
"Kenapa?" tanya Drake.
"Tidak apa-apa, hihi," Lulu tersenyum dan membuang muka cepat. Ia benar-benar tidak sanggup menyembunyikan rasa deg-degannya.
Begitu Drake kembali fokus mengawasi jalanan di depan bus, Lulu melirik sekali lagi pada Drake.
"Apakah,, memang begitu kepribadiannya. Selalu perhatian dan baik hati pada semua orang? Apa dia akan melakukan itu pada siapapun juga sebagai wujud sopan santun?"
"Tidak terasa, hari sudah malam."
"Hoahem,, Iya, akhirnya sebentar lagi bisa istirahat di rumah," jawab Lulu sambil menguap.
Karena hampir seharian ini ia menghabiskan waktu untuk menunggu, Lulu pun mulai merasa ngantuk. Beberapa kali ia terdengar menguap dan tidak sanggup menahan air mata kantuknya.
"Maaf ya, aku mengantarmu pulang dengan cara seperti ini," kata Drake.
__ADS_1
"Iya,,, tidak apa-apa kok," jawab Lulu sangat mengantuk.
"Kau pasti lelah mengikutiku ke bengkel seperti tadi. Kita berdua juga menunggu hujan reda cukup lama. Oahhemm,, bahkan sekarang aku sudah merasa lapar," Drake menguap sambil menengok ke sekelilingnya.
Pada saat yang pas, tiba-tiba bus berguncang karena ngerem mendadak. Lulu yang sudah ngantuk berat itu pun terantuk-antuk ke sandaran kursi dan jendela.
DUK!
Drake langsung menoleh mendengar Lulu terantuk jendela. Tepat saat Lulu hendak terantuk sekali lagi, dengan cepat Drake menahan kepala Lulu dengan telapak tangan kiri.
"Ups..." Drake berkata lirih.
Perlahan ia menggiring kepala Lulu supaya bersandar di bahunya.
Sepanjang perjalanan, Lulu tidur dalam dekapan tangan kiri Drake.
"Ehem," dehem Drake.
Sepertinya, Drake menjadi gugup dan salah tingkah meski Lulu tidur dan tidak melihat apa yang ia lakukan.
•••••
TRAK
Lulu membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Drake masuk. Pada saat itu, di komplek perumahan Lulu sedang ada pemadaman listrik bergilir. Itulah mengapa Drake menawarkan diri untuk menemani Lulu sementara waktu.
"Kenapa kau tidak mempekerjakan asisten rumah tangga saja? Jadi, setiap kau pulang ke rumah, akan ada seseorang yang menyambutmu."
"Hmm, sebenarnya aku masih memikirkannya. Tapi untuk mencari asisten rumah tangga seperti itu, aku pikir akan sulit."
"Bukankah sekarang ada beberapa rumah layanan untuk pencarian PRT? Kau bisa meminta satu atau dua dari mereka."
"Sayangnya, aku sudah tidak memercayai orang-orang seperti mereka. Dulu, asisten rumah tangga kami mencuri perhiasan ibuku dan membuat kakakku hilang di tempat hiburan. Itulah mengapa akhirnya aku tidak memiliki saudara."
"Hmm.. jadi seperti itu?"
"Iya."
Lulu menyalakan senter pada ponselnya dan berjalan masuk ke dalam.
"Seandainya aku tidak mampir, apa kau takut jika listrik mati seperti ini?" Drake mengikuti langkah Lulu.
"Takut, sih. Tapi jujur, aku lebih takut padamu," Lulu berhenti dan menoleh ke belakang.
"Hiiyyeeh?? Takut padaku?" Drake melotot.
"Iya. Kau menakutkan jika berubah wujud seperti semalam."
"Aah... itu, ya?"
"Apa kau mau berjanji padaku untuk tidak menampakkan wajah mengerikan seperti itu lagi?"
Drake diam.
"Kalau soal itu, aku tidak bisa memberi kepastian. Aku lepas kendali tanpa aku sadari. Jadi, aku sendiri juga tidak tahu bagaimana cara menghentikannya."
"Kau tidak boleh terlalu marah atau sedih, Drake. Aku rasa, kau harus pandai mengontrol perasaanmu kapanpun itu."
Suasana hening sesaat. Tanpa Lulu duga, Drake meraih kedua tangannya dan mengatakan bahwa dirinya butuh bantuan dari orang seperti Lulu.
"Lulu. Apa kau mau membantuku? Hmm?"
"Eh? Hehehe,, Apa yang bisa aku bantu?"
"Jika kau mendapat penglihatan tentang perubahanku menjadi monster itu, tolong hentikan aku secepat mungkin."
"I iya, baiklah."
"Janji, ya?"
"Hmm," angguk Lulu.
Drake tersenyum. Ia merasa lega, ada seseorang yang bersedia berbagi rahasia dengannya.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1