HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
KAMAR SEBELAH


__ADS_3

BAB 71


Keluarga Luna baru saja menikmati sarapan mereka. Sambil mengobrol, pak Gibson menyodorkan dua lembar tiket ke hotel mewah untuk honeymoon pasangan pengantin baru.


"Ini hadiah untuk kalian."


"Apa ini, ayah? Tiket menginap di hotel mewah??" Luna menerima hadiahnya.


Saat Drake melirik dan melihat tiket di tangan Luna bertuliskan honeymoon. Seketika ia menelan ludahnya.


"Itu untuk keberangkatan hari ini. Bersenang-senanglah di sana sebagai pasangan suami istri," kata bibi Jena.


"Waaahh?? Honeymoon??" anak-anak yang lain berseru riang.


"Selamat, adik sepupu,, aku akan mengantar kalian ke sana," kata Loca.


"I ini.. apa tidak berlebihan??" tanya Luna.


"Terima saja. Itu hadiah ayah buatmu. Kau tidak tahu seberapa mahalnya itu," kata Terra.


Karena semua mendesaknya pergi, Luna melirik ke arah Drake. Namun Drake membuang muka karena tidak peduli akan semua itu. Ia bahkan tidak menyangka bahwa ayah Luna bekerja amat keras untuk putrinya.


••••


Pada akhirnya, Drake dan Luna berangkat menuju hotel mewah di pusat kota. Mereka berangkat naik mobil Drake dan diiringi mobil lain di belakang mereka.


Ketika sampai di halaman hotel, semuanya turun untuk mengucapkan selamat dan salam perpisahan pada keduanya.


"Selamat bersenang-senang selama satu minggu," kata bibi Jena.


"Terima kasih sudah mengantar kami sampai di sini,,," jawab Luna.


"Sampai jumpa,," kata Drake.


Mereka masuk sambil mendorong koper masing-masing. Yang lain tetap mengawasi sampai pasangan pengantin itu memasuki hotel tanpa gangguan.


"Permisi, reservasi atas nama Luna," Luna menyerahkan dua buah tiketnya pada petugas resepsionis.


"Silahkan, kamar 787, lantai 8.


"Terima kasih."


Tanpa berlama-lama, keduanya mencari kamar dengan nomor 787 di lantai 8.


"Itu kamarnya," kata Luna.


SRUK


Drake menyeret kopernya memasuki kamar mereka. Kamar yang lumayan luas dengan satu ranjang besar di tengah.


"Hanya satu ranjang?"


"I iya. Karena ini untuk pasangan suami istri yang sedang honeymoon," Luna menunduk malu.


"Apa kau pikir kita benar-benar suami istri yang sedang honeymoon?"


"Eh??"


"Dengar, Luna. Aku pikir, kau bisa menggunakan kamar ini sendiri. Aku akan memesan kamar di sebelah. Selama satu minggu penuh, kita habiskan malam di masing-masing kamar."


"Kenapa harus begitu, Drake?"


"Karena aku tidak bisa melakukannya. Bukankah kita menikah hanya untuk mendapatkan akta putrimu?"


"B benar. T tapi, tetap saja kita sudah menikah. Bagaimana kalau ada seseorang yang mengawasi honeymoon kita?"


"Maksudmu keluargamu ada yang datang kemari dan memata-matai?"


"M mungkin saja."


"Kalau begitu, kau harus lebih hati-hati. Berpura-puralah kita sekamar dan menghabiskan waktu seminggu penuh di sini."


"Drake.. tidak bisakah kau tidur di sini?"


"Maaf jika aku menyingung perasaanmu. Tapi aku pria yang sehat dan normal, aku tidak bisa tetap di sini bersamamu," ucap Drake seraya melangkah keluar.


"Apa sekarang kau tidak ingin bersamaku? Bukankah waktu itu kau pernah mengatakan kalau kau mencintai dan ingin memilikiku?"


Drake menoleh, "Maafkan aku. Tapi itu sudah lama berlalu. Jujur saja. Aku tidak lagi berpikir untuk memberikan hatiku ini padamu. Semua yang ku lakukan ini adalah bentuk kepedulianku sebagai seorang sahabat. Jadi tolong, beri aku kebebasan."


"Drake...."


"Aah, aku lupa. Kau bisa meneleponku jika ada sesuatu yang mendesak."


Usai mengatakan itu, Drake pergi meninggalkan Luna di kamarnya. Ia bergegas turun dan memesan kamar tepat di sebelah kamar Luna.


••••••


HUFFT


Kamar 788. Itulah kamar di sebelah kamar Luna, yang disewa Drake selama satu minggu untuk menghabiskan liburan honeymoon yang dijadwalkan bersama istri sementaranya.

__ADS_1


Ia meninggalkan kopernya di kamar Luna untuk berjaga-jaga seandainya keluarga Luna datang untuk memeriksa.


"Aah,, melelahkan sekali," gumamnya.


Direbahkannya tubuhnya ke atas ranjang. Sambil menatap langit-langit kamar, ia memikirkan hari-hari yang harus ia jalani dengan penuh sandiwara.


Setengah hari penuh, Drake hanya tidur-tiduran di kamar. Ia tidak bersemangat melakukan apapun juga saat itu. Bahkan ia melewatkan jam makan siangnya begitu saja.


Tapi pada sore harinya, ia berpikir untuk mendapatkan baju ganti dari toko. Maka, ia bergegas pergi menuju toko bajunya yang tidak terlalu jauh dari lokasi hotel.


KLING


KLING


Suara lonceng pintu toko berdering saat Drake masuk.


"Selamat sore, tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Lulu yang kebetulan sedang bekerja dan belum melihat siapa yang datang.


Begitu ia mengangkat kepala, ia terkejut saat melihat Drake berdiri di hadapannya.


"Lulu? Sedang apa kau di sini?"


"A aku bekerja di sini," jawabnya.


"Bekerja?" Drake baru tahu. Bahwa pelamar yang disebut Zack waktu itu adalah Lulu.


Kebetulan macam apa ini?


"Kau sendiri, sedang apa di sini? Apa mau membeli baju??"


"Ehh,, i iya,,," Drake tidak bisa mengatakan pada Lulu bahwa ia datang ke tokonya sendiri.


"Kalau begitu, mari ku tunjukkan model yang bagus untukmu," kata Lulu belum tahu.


"Boleh..."


Saat ia mengikuti Lulu, Zack melihat dan hendak menegur karyawan baru tersebut. Namun Drake menyuruhnya diam dengan gerakan menarik resleting mulutnya. Karena bos sudah memintanya menutup mulut, maka ia pun menyingkir dan memberi kebebasan sepenuhnya.


"Apa kau mau sebuah kemeja? Atau kaos santai?"


"Dua-duanya boleh,,"


"Baiklah. Mana yang bagus untukmu? Mari kita lihat,,," Lulu berkonsentrasi penuh.


Tiba-tiba Drake memeluknya dari belakang. Sejak tiga hari yang lalu, ia tidak bisa menemui Lulu sebab sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Luna.


"Aku merindukanmu,,,"


"Eh,, aku juga merindukanmu. Tapi cepat lepaskan tanganmu, Drake. Aku takut bos akan melihat dan memarahiku," Lulu benar-benar khawatir.


"Tapi tetap saja, ada cctv di sana. Bos bisa melihatnya."


Drake melepas pelukannya meski ia tahu, hanya ia dan Zack yang bisa memeriksa cctv di ruangannya.


"Ah, kau benar. Jadi, bagaimana aku harus menyiasati itu?"


"Maksudmu?"


"Datanglah ke hotel sebelah. Aku ada di kamar 788, lantai 8."


"Hotel??"


"Hmm. Datang saja lebih dulu, nanti aku ceritakan semuanya di sana."


"Tapi,,"


"Kau harus datang. Aku akan menunggumu," ucap Drake sambil tersenyum.


Drake berbalik dan mengambil beberapa kaos serta celana. Kemudian ia membayar semuanya dan pergi kembali menuju hotel.


"Kenapa dia di hotel? Apa dia pergi untuk honeymoon?" pikir Lulu.


•••••



Sepulang bekerja, Lulu mengayuh sepedanya ke hotel terdekat. Ia memandangi gedung bertingkat itu sampai lehernya mendongak.


"Hotel ini kan yang dia maksud? Apa aku benar-benar harus masuk?"


Ketika akhirnya Lulu memutuskan masuk dan naik ke lantai delapan, ia harus naik lift untuk menuju ke sana.


Pada saat Lulu sedang di dalam lift, Luna tampak keluar dari kamar. Ia hendak keluar hotel untuk mencari udara segar. Sejak datang pagi ini, Drake belum menemuinya lagi. Ia merasa kecewa, tapi ia bisa apa? Ia memang bersalah karena memaksa Drake untuk menanggung aibnya.


Tepat saat Luna masuk ke dalam lift sebelah kiri, pintu lift satunya terbuka. Di sanalah Lulu berdiri dengan ragu-ragu.


Begitu ia keluar, pintu lift Luna sudah menutup dan mulai turun ke bawah.


"Di mana kamar 788?" Lulu mencari kamar yang disebutkan Drake.


Sampai di depan kamar 788, Lulu berdiri mematung. Ia tidak yakin akan masuk.

__ADS_1


"Benarkah kamar ini yang dimaksud?" gumamnya sambil memilin-milin ujung bajunya.


KLIK


Kebetulan sekali, Drake hendak keluar. Ia melihat seseorang yang ia tunggu sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Kau datang juga."


"Iya. Apa kau benar-benar menginap di sini? Kenapa? Apa kau sedang liburan bulan madu? Kalau begitu di mana Luna??"


"Masuklah lebih dulu," ajak Drake.


TRUK


Lulu masuk dan mengganti sepatunya dengan sandal yang sudah disiapkan.


"Kau pulang bekerja?"


"Iya,,"


"Hmm, kau mau minum apa? Kopi? Air putih?" Drake mengeluarkan minuman kaleng dari kantung kresek.


"Air putih."


Drake membawa semua minuman kaleng itu ke meja. Lalu ia duduk di sebelah Lulu.


"Jadi, bagaimana ceritanya?"


"Seperti katamu. Ayah Luna menyiapkan hadiah bulan madu ini untuk kami."


"Kau datang bersama Luna? B bagaimana kalau dia melihatku ada di kamar kalian?"


"Dia ada di kamar sebelah. Aku memesan kamar ini agar aku bisa bebas bertemu denganmu."


"B bebas??"


Drake merengkuh tubuh Lulu yang mungil.


"Apa kau tahu? Aku amat kesal karena tidak bisa bertemu denganmu seperti sebelumnya. Bahkan saat pesta semalam, aku hanya bisa menatapmu dari jauh. Melihatmu didekati Arthur seperti itu, membuat hatiku terasa sangat sakit."


"Benarkah? Em, aku juga sedih. Melihat kekasihku bersanding dengan wanita lain, aku merasa diriku ini amat menyedihkan."


"Jadi??"


"Jadi apa?"


"Apa kau mau berjanji padaku?"


"Janji??"


"Hmm. Berjanjilah, kita akan terus meluangkan waktu untuk bertemu seperti ini."


"Drake,, apa kau serius??"


"Aku serius. Sejak aku bersedia menerima perasaanmu, saat itu pula aku benar-benar menanam namamu di hatiku. Karena aku sudah memilihmu, maka kau harus bertanggung jawab padaku, berada di sisiku, dan terus menjadi kekasihku."


"Tapi bertemu denganmu dengan cara begini, aku justru merasa akulah yang menjadi orang ketiga," Lulu terdengar amat berputus asa.


Drake menjauhkan tubuh Lulu darinya kemudian ditatapnya gadis itu dengan wajah yang serius.


"Aku ingin tahu. Apa yang kau pikirkan saat menyatakan perasaanmu padaku?"


"Saat itu, aku hanya berpikir ingin selalu dekat denganmu," Lulu berujar lirih.


"Lalu,, apa sekarang semua itu berubah??"


"Ah??" T tidak sama sekali."


"Kalau begitu, apa lagi yang membuatmu risau? Kita jalani hubungan ini seperti yang kita inginkan."


"Meski statusku yang sekarang adalah suami Luna, namun ingatlah bahwa kaulah pemilik sebenarnya. Hmm? Lepas dari sini, aku akan menemuimu sepulang kau bekerja sampai jam sembilan malam."


Lulu meneguk air putihnya sambil mencoba berpikir. Semua perkataan Drake memang masuk akal. Bukan dirinya orang ketiga. Melainkan Luna. Jadi mengapa ia harus mengalah?


"Baiklah....."


"Terima kasih karena sudah memahamiku. Jujur saja, aku tidak bisa berpikir jernih jika berada jauh darimu. Aku bahkan takut, jika sewaktu-waktu aku berubah wujud karena tidak bisa bertemu denganmu meski hanya sehari."


Drake meraih dan menggenggam erat kedua tangan Lulu.


"Lalu, apa yang harus ku lakukan sekarang?"


"Selama satu minggu ini, temani aku di sini," jawab Drake.


"Apa?"


"Menginaplah bersamaku."


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG....


__ADS_2