
Hai readers,, maaf ya,, kemarin2 author lagi sibuk garap pesanan,, tapi sekarang sudah up episode lanjutan kok,, Yuk baca! Jangan lupa Likenya ya,,🤗
...----------------...
BAB 37
KIT KIT
Suara saat Drake mengunci mobilnya dengan remote control. Setelah sampai di rumah, hanya tidurlah satu-satunya yang ingin Drake lakukan.
"Aku pulang," ucapnya seraya melangkah memasuki rumahnya.
Begitu masuk, ia dikejutkan dengan keberadaan ibunya yang tengah duduk di ruang tamunya bersama Eloise.
"Kau dari mana?"
"Ibu?"
Drake diam sebentar, lalu berkata, "Ada urusan apa sampai ibu datang ke mari?"
Drake menatap Terra dan Joy yang duduk bersama ibunya dan Eloise di ruang tamu.
Nyonya Wendy menggeser sebuah amplop golden untuk dilihat putranya, "Ini sebuah tiket untuk makan malammu bersama Claudia."
"Claudia? Teman SDku?"
"Ya. Putri tuan Joshep. Kalau kau tidak mau melakukan kencan buta dengan Peony, Claudia juga tidak masalah," jawab ibunda Drake.
"Aku tidak bisa."
Drake tidak menghiraukan tawaran itu dan justru melenggang pergi menuju tangga lantai atas. Ia berpura-pura tidak mendengar semua ucapan ibunya dan bersiul seraya melepas kancing kemejanya.
"DRAKE!!" panggil ibunya.
Drake tidak berhenti melangkah.
"Selangkah lagi kau pergi, ibu tidak akan lagi mengakuimu sebagai putra!!"
DEG
Mendengar ucapan ibunya, Drake berhenti seketika. Ia mematung sebelum sempat menapaki anak tangga menuju kamarnya.
Meski ia membenci ayahnya, namun ia masih menghormati ibundanya, wanita yang telah melahirkannya itu. Meski begitu, gejolak dalam jiwanya begitu sakit ia rasakan. Ia pun menundukkan kepala sambil mendengus pelan.
Nyonya Wendy berdiri dan berjalan mendekati Drake. Begitu pun Eloise.
"Jika kau tidak memenuhi permintaan ibu, ibu tidak akan lagi menemuimu," kata nyonya Wendy melanjutkan ancamannya. Ia tahu, meski putranya susah diatur, namun putranya itu masih menghormati dirinya sebagai ibu.
Namun, keyakinan nyonya Wendy itu salah besar. Drake bukan lagi anak remaja. Ia sudah dewasa dan memiliki pendapat dan tujuan hidup sendiri.
"Sejak kapan ibu menganggapku sebagai putra?" Drake akhirnya membuka suaranya.
"Apa?"
"Bukankah sejak dulu, putra ibu hanya ada Pitt? Aku yang lahir dari rahim ibu, selalu saja disalahkan seperti anak tiri. Aku jadi berpikir, sebenarnya siapa yang kalian adopsi. Aku atau Pitt?"
Mendengar pernyataan itu, nyonya Wendy benar-benar syok. Ia tidak tahu harus menjawab pernyataan Drake itu bagaimana.
"Drake... Ibu hanya..."
"Maaf, ibu. Aku lelah. Biarkan aku istirahat," selanya dengan wajah datar tanpa senyuman.
"Drake. Apa kau benar-benar tidak mau bicara baik-baik dengan ibu?" panggil Eloise.
"Bawa ibu pulang. Bagaimanapun,, Aku tidak ingin kencan buta itu. Jadi pergilah."
Usai mengatakan itu, Drake melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang.
Terra dan Joy yang berdiri menonton perdebatan antara Drake dengan ibundanya itu pun jadi gugup. Mereka duduk kembali sambil berpandang-pandangan.
"Kalau begitu, kami pulang saja. Aku akan bicara denganmu lagi setelah kepalamu dingin," seru Eloise.
Suasana di sana benar-benar canggung untuk Terra. Seperti dugaannya. Drake bukan berasal dari keluarga biasa saja. Tidak tanggung-tanggung lagi, ia putra kedua dari grup KS!
Jadi, mengapa dulu Drake minggat dari rumah dan hidup bersama keluarga miskinnya?
Ah, ia benar-benar tidak mengerti. Namun begitu, sejak pertama bertemu memang ada aura yang berbeda dari pria itu.
Kalau dipikir-pikir, Drake ataupun Joy, adalah para ahli waris perusahaan besar. Tidak disangka, ia bisa berteman dengan mereka. Bahkan bercanda sesuka hati tanpa ada rasa minder.
Tapi, setelah tahu rahasia itu, apakah ia bisa bersikap santai seperti semula?
Tapi tunggu. Ada satu lagi. Jika Drake dari grup KS, maka itu artinya, Luna dan Alan,, bekerja di perusahaan milik keluarga Drake!
Matilah mereka!
__ADS_1
•••••
Sementara itu di King Store pusat kota, atau bisa dibilang juga sebagai mall tempat Luna bekerja, Luna sedang bertanya pada teman selesnya.
"Hai, Dwine. Kau kelihatan tampan malam ini," sapanya.
"Eh, kau, Luna? Ada apa?"
"Ini untukmu," Luna menyodorkan sebuah minuman kaleng dingin.
"Wah, untukku? Terima kasih ya."
Dwine menerima kaleng minuman yang diberikan Luna lalu membukanya.
"Sepertinya ada yang ingin kau katakan?"
"Ehehe,, iya sih."
"Kalau begitu katakan saja."
"Hmm, baiklah. Itu,, Apa kau tahu merk baju Burberry?"
"Burberry?? Ada apa memangnya?" Dwine ingin tahu.
"Em,, sebenarnya aku mencari baju merk itu di lapak obralan. Kenapa nggak ada ya? Aku pikir, Drake membelinya hanya di pasar loak atau obralan semacam itu. Tapi kenapa sulit sekali menemukannya?" Luna bertanya pada Dwine dan dilanjut bicara pada diri sendiri.
Mendengar ucapan Luna, Dwine tertawa.
"Kau mencari pakaian merek itu di pasar loak?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Kau melucu apa memang tidak tahu?" Dwine bertanya sambil tertawa.
"Eh,,,hehe. Memangnya kenapa? Apa itu lucu, ya?" tanya Luna dengan wajah polos.
"Tentu saja. Kau lucu sekali. Kalau mau mencari baju merek itu, kemarilah."
Dwine mengajak Luna ke bagian dalam koleksi khusus yang ditawarkan King Store.
"Di sini."
Luna mendelik, "Di sini?"
Ditatapnya deretan busana mahal dan bergengsi dengan label harga yang tidak murah.
"Uhuk! Uhuk! Apa kau serius, merek itu semahal ini harganya??" Luna terbatuk saat melihat harga-harga pakaian yang ada di gerai khusus tersebut.
"Iya. Ini belum seberapa dibanding dengan koleksi eksklusif mereka," kata Dwine menjelaskan.
"Apa katamu barusan? Koleksi apa??" Luna ingin mendengar lagi kata yang sepertinya tidak asing ditelinganya.
"Koleksi Eksklusif."
Aha! Benar sekali! Itu kata yang diucapkan Drake saat mereka berdebat tadi pagi.
"Eks,,, Eksklusif??"
"He em. Biasanya mereka mempunyai label merah untuk moment tertentu."
"L-label me-merah?"
GLEK
Pakaian Drake yang ia tumpangi kuah itu berlabel merah. Apa artinya?
"Apa kau tahu berapa harga sebuah kemeja dengan label merah?"
"Label merah? Ahh, aku tidak tahu. Tapi yang ku dengar, itu lebih mahal dari label hitam dan biru berkuda."
"Celaka."
Luna goyah dan hampir jatuh ke belakang. Untung saja Dwine menangkapnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"T tidak apa. Aku baik-baik saja," jawab Luna dengan nafas sesak.
"Oh ya, Dwine. Menurutmu, jika seseorang mempunyai label merah itu, apakah dia membelinya?"
Dwine mengerutkan alisnya dan berpikir, "Kalau dia orang kaya raya, tentu saja. Apa temanmu itu kaya?"
"Dia tidak kaya. Eh, tunggu. Atau kaya, ya? Hmm. Yang aku tahu, dia pernah mendapatkan uang banyak dari hasil pertandingan. Cuman,, aku juga tidak yakin sih,," Luna berpikir karena bingung.
"Barang seperti ini tidak sembarangan orang yang bisa memilikinya. Hanya orang-orang yang berani menghamburkan uang untuk membeli sebuah baju, jaket atau celana."
Pada saat Luna mulai meragukan kemiskinan Drake, Alan muncul dan menyapa Luna.
__ADS_1
"Luna, sedang apa di sini?"
"Eh? Hehe,, aku ingin jalan-jalan saja. Bosan duduk diam di ruanganku."
"Ooh. Aku kira kau sengaja mencariku ke mari. Em, Kau sedang mengobrol dengannya?" Alan menoleh pada Dwine.
"I iya, aku menyapanya tadi saat lewat. Tapi sudah selesai kok, ehehehe. Ayo ke kantin, kita makan ayam panggang madu," kata Luna sambil menggandeng Alan pergi.
Sebelum itu, ia memberi pesan isyarat pada Dwine bahwa ia berterima kasih.
••••
TIK TIK TIK
Luna : Drake, apa kau bisa datang ke tempat kerjaku?
Begitu bunyi pesan singkat yang dikirim Luna pada Drake. Karena Drake sedang bersantai di rumah, ia mengirim balasan dengan cepat.
"Ya."
Tidak lama kemudian setelah ia mengirim balasan, Drake datang ke mall tempat Luna bekerja.
Karena pusat perbelanjaan itu milik keluarganya, Drake datang dengan pakaiannya yang paling jelek. Ia juga mengenakan topi dan berpenampilan tidak meyakinkan.
Drake : Aku sudah datang, apa kau bisa keluar sekarang?
Drake mengirim pesan.
"Masuk saja, temui aku di dalam," Drake membaca pesan Luna dengan bersuara.
"Tumben sekali, dia meminta bertemu di luar? Apa yang mau dia katakan?" tanya F5 mengagetkan.
"Psst,, pelankan suaramu."
Drake menoleh ke kanan dan kiri. Untungnya sepi.
"Huff, aku juga tidak tahu kenapa dia memintaku bertemu di King Store," desahnya.
"Ya sudah, masuk saja. Karena kau memakai topi, aku rasa kau tidak akan dikenali."
"Mungkinkah?? Baiklah kalau begitu."
Maka Drake pun berjalan masuk ke dalam pusat perbelanjaan bernama King Store tersebut. Sambil terus menundukkan kepala, ia berjalan menuju lantai tempat Luna bertugas.
Setelah menginjakkan kaki di lantai dua, tiba-tiba saja ia melihat manager Guman, seseorang yang dipercaya ayahnya untuk bertanggung jawab atas keseluruhan mall itu.
SRET
Drake bersembunyi dengan cepat di sela-sela produk pakaian yang tertata rapi.
"Kau, sedang apa kau di sana? Mau mengutil, ya?" seru seseorang yang tidak sengaja melihat Drake mengendap-endap bersembunyi dan menggenggam sebuah pakaian untuk menutupi wajahnya.
Drake menoleh sambil menggeleng, lalu mengibaskan tangannya mengisyaratkan kata "Tidak."
Karena orang itu tidak percaya, dikejarnya Drake seperti seorang maling karena pakaian itu masih di tangannya.
"Tunggu di sana!!" teriaknya.
Drake yang menghindari manager Guman pun terpaksa melarikan diri agar dirinya tidak ketahuan datang menginjakkan kaki di tempat itu.
"Hey! Tangkap dia! Dia mencuri!"
Drake kalang kabut karena semakin banyak orang yang mengejarnya. Bahkan ia terpaksa melompat dari lift satu ke lift yang lain. Lalu meluncur dari tangga atas ke bawah.
Tepat saat ia berlari sambil menoleh ke belakang, ia bertubrukan dengan Luna.
GLUBRAAKK
SPLASSH
Seketika minuman kopi yang dibawa Luna itu tersiram ke wajah dan pakaiannya.
"D Drake???"
Drake menghela nafasnya dan meraih tangan Luna. Ia berniat meninggalkan tempat tersebut sesegera mungkin.
Tapi apalah daya. Takdir menginginkan hal yang berbeda. Tepat pada saat ia berbalik, ibunya datang bersama Claudia. Wanita itu terkejut melihatnya putranya dengan penampilan seperti itu.
"Drake?? Apa itu kau??" panggil nyonya Wendy.
.
.
.
BERSAMBUNG......
__ADS_1