HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
KUAH PANAS


__ADS_3

BAB 41


Setelah menerima keputusan Joy untuk ikut bibinya ke luar negri, kini tinggal menghitung waktu sebelum anak itu benar-benar pergi meninggalkan rumah Drake.


KRAUK


KRAUK


Siang itu, Drake sedang duduk sendiri di ruang tengah. Tangan kanannya tampak asyik memainkan ponselnya dengan tangan kiri yang sibuk memungut kue sus kering dari mangkuk toples.


Dengan satu kaki naik ke atas sofa, ia menyandarkan punggungnya dengan kasar. Sudah beberapa kali ia mengernyitkan dahi karena memikirkan suatu.


Tepat pada saat itu, Joy datang bersama Terra dan Luna. Karena besok ia akan pergi, ia mengunjungi rumah Luna dan bermain bersama mereka sejak pagi.


Joy mengatakan ingin makan siang bersama di rumah Drake, maka anak itu mengajak Luna dan Terra untuk bergantian datang berkunjung.


Dengan kedua tangan yang membawa keranjang berisi daun bawang, jahe dan bawang putih kupas, Joy berlari-lari kecil saat memasuki rumah. Kebetulan, ia melihat Drake sedang asyik sendiri dengan ponselnya.


"Kami pulaaang..." kata Joy.


Hening.


Rupanya, Drake sedang serius dengan pesan yang dikirim Elouise tentang makan malam atau kencan buta yang sudah ia janjikan pada ibundanya sewaktu bertemu di mall, sehingga ia tidak mendengar mereka datang.


Merasa diabaikan, Joy berjalan berjingkat-jingkat dan memikirkan suatu keisengan.


Ia meraih toples sus kering dan menggantikannya dengan semangkuk bawang putih dari keranjang yang ia bawa. Sambil menoleh pada Terra dan Luna, Joy tersenyum nakal.


Mendapat senyuman jahil dari Joy, Luna dan Terra segera menggerakkan tangan membentuk silang. Yang artinya, mereka menyatakan tidak setuju dengan keisengan Joy.


Mereka yang menyembunyikan kenyataan tentang Drake satu sama lain menjadi sangat gugup dibuatnya.


"Hey, tidak! Jangan macam-macam dengannya, bisa bikin masalah nanti.."


Jerit Terra dalam hati.


Beda lagi dengan Luna, ia membatin soal penolakan cinta yang ia lakukan beberapa hari yang lalu.


"Oh, tidak. Jangan! Apakah aku benar-benar harus di sini dan bertemu dengannya lagi? Bagaimana ini? Kemarin aku menolak perasaannya. Akankah dia mendendam dan mengusirku setelah melihatku datang?"


Dan....


Drake yang baru saja membalas pesan Elouise itu mendengus dengan kesal.


"Haiss!! Apa aku benar-benar harus melakukan itu demi orang lain?!"


Drake tampak jelas sedang kesal. Ia memaki ponselnya dan melemparnya begitu saja ke lantai.


CRAK


Kemudian, dengan sisa kekesalannya, ia kembali meraih makanan yang ada pada sisi kiri tubuhnya dengan tangan kiri.


SRET



Tanpa menyadari apa yang ia ambil, Drake memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya begitu saja diikuti ekspresi cemas dari Terra dan Luna.


Tapi belum lima detik mengunyah,,,,


"PUIH! PUIHH!!"


Drake yang merasakan bawang putih dalam kunyahannya itu segera melepehkannya dengan cepat. Kemudian ditengoknya toples yang seharusnya ada di sisinya. Namun raib dan berganti dengan mangkuk yang berisi bawang putih.


"Apa ini? Kenapa bisa ada-,"


Belum juga selesai marah, Drake mendengar tawa cekikikan dari arah belakang. Rupanya Joy dan dua tetangganya berdiri di sana.


Sambil menuding kesal ke arah Joy, Drake melangkah mendekat.


"Jadi, kau yang melakukan itu?!!" tanyanya.


"Ehehehe,,, maaf, paman.." Joy menyodorkan toples milik Drake.


"PUIH!! Dasar anak nakal! Beraninya menggangguku saat hatiku sedang kesal!" teriak Drake mencoba menahan amarah.


Terra mendekat dan menengahi. Gadis itu memegangi lengan Drake untuk menahannya.


"Tenang Drake, Joy hanya iseng kok. Hihi,, bawang putih itu, untuk bahan masakan kami.." Terra tersenyum berusaha untuk santai.

__ADS_1


Hening.


Drake tidak merespon. Untuk sesaat, tatapannya tertuju pada Luna. Ia melihat bahwa gadis itu masih enggan bertemu dengannya. Terbukti saat Drake menatapnya, Luna membuang muka dengan cepat.


DEG


"Baiklah. Terserah kalian saja. Anggap saja rumah sendiri," Drake menyingkirkan tangan Terra seraya mengedikkan pundak.


Kemudian sambil meraih kembali toples cemilannya dari tangan Joy, ia pergi menjauhkan diri dari mereka.


"Siap. Kalau begitu tunggu makanan kami matang," seru Terra sambil menjinjing tinggi plastik berisi sosis sapi dan udang.


"Yeaayy!" Joy berlari ke dapur untuk meletakkan baki berisi bawang.


Drake melirik pada Luna begitu Joy dan kedua gadis itu melewatinya.


••••••


PUSSHH


PUSSHH


Asap panas dari makanan lezat yang baru saja dihidangkan di atas meja tampak jelas dari mata Drake. Sembari duduk melamun dengan kedua tangan berpangku di atas meja, ia memainkan sumpit di tangannya.


Pada saat itu, Luna datang membawa sup kari dari pancinya langsung. Melihat Drake ada di meja makan lebih dulu, Luna menjadi gugup. Ia kehilangan konsentrasinya hingga tidak melihat bahwa saat itu Joy juga berjalan di depannya membawa beberapa mangkuk.


DUKK


Ia menubruk Joy dan kehilangan keseimbangan. Ia oleng ke arah Drake dan tanpa sengaja menumpahkan sup kari. Naasnya, sup kari panas itu mengguyur punggung dan lengan kiri Drake hingga baju yang dipakainya mengkerut terkena air panas.


SPLASSHH


"Aduh, duh,, Panas!!" pekik Drake spontan begitu tubuhnya tersiram sup.


Seketika itu juga Drake bangkit dan berusaha melepas bajunya. Namun ternyata, ia mengalami kesulitan saat bagian lengan dan punggung kiri bajunya menempel ke kulit.


Begitu ia menarik paksa bagian kain yang menempel tersebut, sebagian kulit yang melepuh tampak ikut terlepas dari dagingnya.


PRUT!


"Oh, Ya Tuhan!" Luna melihat hal tersebut.


"Drake, apa kau baik-baik saja?" Terra datang tergopoh-gopoh. Ia merasa cemas begitu melihat lengan dan punggung Drake yang melepuh dan memerah karena rembesan darah.


Karena khawatir, Terra hendak menyentuh lengan Drake. Namun Drake menghindar dan menutupi luka di lengan kirinya dengan tangan kanan. Ia juga berbalik dan menyembunyikan luka di punggungnya dari pandangan semua orang.


Saat itu, ia merasakan lengannya seperti bergelembung dan mengeluarkan sesuatu yang bergerak-gerak dari dalam dagingnya.


"Ssshhh... Aku tidak apa-apa. Lain kali, bisakah lebih berhati-hati? Untung saja aku yang tersiram kuah panas, bukannya Joy," jawab Drake sambil meringis perih.


Ia harus segera bersembunyi dan mencari air untuk mendinginkan tubuhnya. Dan untuk mendapatkan air, ia perlu pergi ke kamar mandi.


Sayangnya, jika ia bergerak sedikit saja. Kemungkinan yang terjadi, semua yang tengah menatapnya akan melihat sesuatu yang mendesak dan mencoba keluar dari punggungnya.


Untuk mengalihkan perhatian semuanya, Drake menggerakkan sedikit jarinya untuk membuat suara di belakang.


PRANG


Baik Luna, Terra maupun Joy menoleh ke arah belakang ketika mendengar suara benda yang lumayan keras. Rupanya, sebuah panci jatuh ke lantai.


"Heh? Pancinya kenapa bisa jatuh?" Terra memungutnya dengan heran.


"Paman Drake?? Ke mana, kau?" Joy kembali menghadap ke depan dan kehilangan Drake.


Kedua bola mata Luna bergerak-gerak karena cemas. Jujur saja, ia tidak bisa diam begitu saja melihat Drake terluka. Meski kemarin ia menolak dengan kasar perasaan Drake, namun jauh di dalam hatinya, ia tetap khawatir saat sesuatu yang buruk terjadi pada pria itu.


Seketika itu juga, ia melihat bayangan Drake berlari menaiki tangga. Luna buru-buru mengejarnya karena khawatir. Sebab tadi, ia melihat dengan jelas luka melepuh pada punggung Drake.


Setelah sebelumnya ia meraih kotak obat, Luna berjalan mendekati kamar mandi untuk membantu Drake mengobati lukanya.


"Berhenti!! Jangan kemari!!" Drake yang tahu bahwa seseorang mengikutinya itu pun berteriak dari balik pintunya.


Luna berhenti sejenak di depan kamar mandi dengan cemas. Ingin ia bicara dan bertanya, namun entah mengapa, lidahnya terasa kelu.


Akhirnya, ia berdiri dan bersandar di dinding depan kamar mandi itu selama setengah jam lebih.


"Sedang apa dia di dalam? Kenapa tidak ada suara?"


Usai Luna membatin, terdengar suara air keran yang mengalir deras dari dalam. Maka, ia pun berpikir bahwa saat itu Drake sedang mengguyur tubuhnya dengan air.

__ADS_1


Siapa sangka, di dalam kamar mandi itu, Drake tengah kewalahan menangani ribuan benda berwarna merah yang meliuk-liuk menjulur keluar dari dalam lengannya.


"Aaarrrgghh!!" erangnya lirih di bawah guyuran air.


Untuk pertama kalinya, ia merasakan dengan kesadaran penuh, bagaimana benang-benang saraf itu berlomba keluar menampakkan diri saat melakukan proses penyembuhan.


Benar-benar menyakitkan!


"Ada apa dengan F5? Kenapa dia kehilangan kendali dan muncul begitu saja di depan orang?"


Baru saja ia bisa mengambil nafas, dari punggung itu muncul pula benang saraf yang sama persis dengan yang muncul di lengan. Bahkan lebih banyak dan mengerikan.


KRYYTKRRYYTT



Drake mematikan keran air. Sepertinya, tubuhnya telah dikuasai F5. Tanpa pemberitahuan ataupun rencana. Bahkan beberapa hari terakhir, ia tidak dapat berkomunikasi dengan makhluk yang menyebut dirinya bakteri itu.


••••••


Setelah hampir satu jam berlalu, Joy menyusul Luna naik ke lantai atas. Dilihatnya wanita itu berdiri melamun sambil memeluk kotak P3K.


"Bibi? Apa dari tadi paman belum keluar?" tanyanya.


Luna menggeleng pelan.


"Kalau begitu aku bantu panggilkan."


Sekarang Luna mengangguk.


TOK


TOK


TOK


Pintu kamar mandi di kamar Drake diketuk oleh Joy. Ajakan untuk makan malam sudah tiba.


"Paman, apa kau baik-baik saja di dalam? Makanan sudah siap, ayo kita makan bersama-sama."


Drake tidak memberi jawaban.


"Paman Drake??? Apa kau baik-baik saja?" Joy khawatir.


Begitu pun Luna. Apalagi setelah tanpa sengaja ia mendengar Lulu bicara pada Terra, soal kematian Drake di rumah sakit. Ia menjadi ketakutan jika Drake kembali mengalami hal serupa.


"Drake??? Kenapa kau lama sekali di dalam?? Aku akan mendobrak pintu, ya! Apa kau mendengarku??!!"


Luna siap-siap menendang pintu tatkala Drake keluar dari dalam kamar mandi dengan lemas. Nafasnya terdengar tidak beraturan.


"K Kau baik-baik saja?" tanya Luna.


"Iya, apa paman baik-baik saja?" Joy juga bertanya.


Drake menoleh sedikit pada Luna, "Aku baik-baik saja."


"Syukurlah, paman. Ayo makan bersama kami," Joy merasa senang.


Drake mengangguk dan berjalan melewati Luna menuju lemari pakaian. Kebetulan, Luna melirik luka siram kuah panas yang ada di lengan dan punggung Drake.


"Eh, lukanya hilang??? Bagaimana mungkin luka melepuh seperti itu hilang secepat ini."


Luna membatin kaget. Matanya mendelik dan terus saja menatap keanehan tersebut.


"Emm, Drake.. Maaf, aku-," Luna hendak meminta maaf soal kejadian barusan.


Tapi Drake buru-buru memotong, "Kalian bisa keluar sekarang, aku akan menyusul."


"Apa?? Ah, i iya, baiklah. Ayo Joy, kita turun lebih dahulu."


Luna berlalu dengan kepala menunduk.


.


.


.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2