
BAB 53
Ketika bangun tidur, Drake membuka jendela kamarnya karena sinar matahari sudah muncul dari ufuk timur. Sambil menggeliat dan menguap lebar, ia memperhatikan jalanan depan rumah.
Untuk sesaat ia tertegun ketika dilihatnya Luna turun dari mobil Alan. Sepertinya Alan tidak mampir. Pria itu langsung pergi setelah menurunkan pacarnya di depan rumah.
"Dari mana mereka? Kenapa pulang pagi-pagi sekali?" gumam Drake.
Ia mengamati Luna yang tampak ragu-ragu memasuki rumahnya.
"Kenapa dia?" Drake mengernyitkan dahi sambil tangan kanannya masuk ke dalam baju dan menggaruk dadanya.
Karena penasaran, ia menyapa Luna dari jendela rumahnya, "Hey Cantik, apa kau baru pulang dari bepergian?"
Luna mencari-cari asal suara. Dan akhirnya menemukan Drake sedang duduk di jendela dan tengah menatapnya.
"Ah??"
Wajah Luna langsung memerah. Ia mengingat kembali apa yang terjadi kemarin petang bersama Alan. Gara-gara ia memikirkan Drake, secara tidak sadar ia melepas kegadisannya.
Tanpa memberi jawaban pada Drake, Luna bergegas masuk ke dalam rumah. Ia benar-benar merasa malu sebab berani memikirkan Drake. Padahal sudah jelas saat itu ia menolak cintanya dengan kasar.
GREBB!
Luna terdengar membanting pintu rumahnya dengan kasar begitu ia masuk.
"Kenapa sih dia?" pikir Drake.
Pada saat Drake hendak berpaling dari jalanan rumahnya, sekilas ia melihat ada seekor anak burung yang jatuh dari sarangnya.
"Heih? Apa itu burung kecil?"
Tanpa berpikir panjang, Drake melompat turun dari jendela kamarnya yang ada di lantai dua untuk memungut si burung kecil.
SYUUUTTTT
Ketika ia melompat turun itu, seseorang meneriakinya dengan lantang sehingga ia kurang fokus dan akhirnya terpeleset jatuh.
"Hey! Berhenti!"
"Eh??" Drake yang mendengar seruan itu pun menoleh dan salah mengambil hitungan.
KRUSUK
"Aduhh.." ringiknya.
Rupa-rupanya, Drake turun dan mendarat di pohon yang ada di bawah jendela. Sialnya, ia jatuh dengan posisi kepala di bawah dengan saku celana yang tersangkut di salah satu ranting.
"Siapapun yang di sana, tolong aku..." ia memanggil seseorang yang tadi meneriakinya itu.
Bukannya menolong, orang itu justru tertawa cekikikan.
"Hahaha! Kau itu sedang apa??" Terra tidak berhenti tertawa melihat temannya yang sudah besar itu jatuh terjungkir.
Drake menoleh lesu, "Kau rupanya! Jangan cuma menertawakanku, cepat bantu aku turun."
"Iya, iya. Hahaha," Terra mendekati Drake sambil tertawa.
Drake mengira ia akan segera ditolong, namun Terra yang jahil malah mengabadikan momen penting itu sebagai kenangan.
JEPRETT
"Sialan kau. Kenapa malah ambil gambarku saat sedang begini?" Drake jadi kesal.
"Xixixixi. Lihat ekspresimu ini. Kau pasti akan merindukan momen lucu yang seperti ini," kata Terra.
"Alah, terserah kau saja. Sudah cepat bantu aku turun," pinta Drake.
"Oke. Tapi apa yang akan kau berikan setelah aku membantumu turun?"
"Haisss! Cepat turunkan aku!!"
"Katakan dulu."
"Katakan apa?!"
"Kau mau memberiku apa?"
"Lupakan saja, aku bisa turun sendiri!" Drake mulai kesal dan mencoba menggoyangkan badannya agar jatuh.
PLAKK
"Aduh!! Kenapa kau dan kakakmu suka sekali memukulku?"
"Habisnya, kau menggemaskan sekali."
Drake mengusap-usap kepalanya yang baru saja kena pukul.
"Jadi,, kau mau menolongku apa tidak?"
"Tidak, turun saja sendiri, xixixi," Terra berbalik dan ngeloyor pergi.
HEEEEEEYYYYY!!
(Maaf ya kalau gambarnya jelek. Author berusaha untuk lebih baik lagi dalam mengekspresikan tingkah Drake dan kawan-kawannya yang ada di dalam cerita)
__ADS_1
💕
Lanjut baca ya,,
jangan lupa kasih Likenya,,,👍🏻
...----------------...
"Jangan pergi, Terra! Turunkan aku dulu!!"
Tanpa menoleh, Terra melambaikan tangannya sambil berjalan. Ia sengaja melakukan itu untuk menjahili Drake yang terlihat sangat menggemaskan.
"Sampai jumpa. Xixixi."
••••
HUP!
Drake turun setelah sepersekian menit mencoba melepaskan sakunya yang kecantol ranting.
"Dasar anak nakal. Bukannya membantu orang tua yang sedang kesusahan, malah dia asyik mengambil gambar lalu kabur begitu saja," umpat Drake kesal sambil membetulkan celananya.
KLIP
"Eh??"
Drake melihat anak burung yang tadi hendak ia selamatkan. Dengan cepat, ia memungut anak burung tersebut dan membawanya dengan kedua telapak tangan.
"Hai sobat kecil, apa sarangmu ada di atas?"
"Cuit.. cuit.."
"Baiklah, ayo kita lihat, apakah ada sarangmu di atas sana," ucapnya.
Tanpa berlama-lama, Drake segera memanjat pohon yang tadi dan mencari letak sarang burung milik si burung kecil.
"Nah, itu dia sarangmu," ucapnya sambil duduk di dahan besar dengan kedua kakinya yang menjepit dahan pohon tersebut.
"Selamat berkumpul kembali dengan saudara-saudaramu," lanjutnya sambil meletakkannya si burung kecil ke dalam sangkarnya dengan pelan.
Suara cicitan burung kecil itu seakan mengucapkan terima kasih pada Drake karena sudah membawanya kembali ke rumah yang hangat.
Tidak lama kemudian, induk burung itu datang membawa ulat untuk sarapan anak-anaknya.
Drake yang merasa senang melihat burung-burung itu pun tersenyum. Pada saat ia menikmati hiburan yang ada di depannya, ia melihat Luna berjalan ke belakang rumahnya untuk menjemur cucian.
Tanpa membuat suara, Drake mengamati Luna dari seberang. Dari tempatnya bersembunyi itu, ia melihat dengan jelas sekali bahwa Luna tengah melamun.
Maka, turunlah ia dari pohon dengan hati-hati supaya tidak menarik perhatian dari Luna. Kemudian, sambil mengendap-endap ia berjalan ke rumah seberang.
Sejak mengungkapkan perasaannya waktu itu, hubungannya dengan Luna jadi renggang. Ia berharap, setelah ia mengajaknya bicara nanti, hubungan diantara mereka akan kembali seperti semula.
Luna menyibak seprai yang sedang ia jemur sebab ia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.
"Siapa di sana?"
Karena melihat sepasang kaki yang bersembunyi di belakang selimut yang baru saja ia jemur itu, Luna berjalan mendekat.
"Ini aku," kata Drake keluar dari persembunyiannya.
"Ah? Drake?" Luna terkejut karena ternyata Drake lah yang ada di sana.
"Hmm..."
Melihat wajah Drake yang ada di depannya, Luna menjadi gugup. Ia bersiap melarikan diri dari hadapan pria itu namun Drake lebih dulu mencekal tangannya.
"Tolong jangan menghindar lagi."
"Ah..." Luna berdiri membelakangi Drake.
"Aku... mau minta maaf soal..."
GLEK
Luna menundukkan kepala. Ia tidak ingin mendengar tentang itu lagi. Sebab, semakin ia mengingatnya, ia merasa semakin tersesat.
"Cukup, Drake. Kau tidak perlu mengatakan apapun lagi," kata Luna seraya melangkah pergi.
Drake yang tidak mau menyerah itu pun segera menghalangi jalan Luna.
"Tunggu. Apa semua ini karena sikap dan ucapanku waktu itu? Kau jadi tidak mau bicara santai lagi denganku?"
Luna diam.
"Jika semua itu membuatmu tidak nyaman. Lupakan saja, ya Lun. Kau tidak perlu mengingat sedikitpun ucapanku. Anggap saja saat itu aku sedang mabuk berat dan bicara asal-asalan."
Drake menunggu Luna membalas ucapannya. Akan tetapi, karena Luna tetap diam dan tidak mau menghadap dirinya, Drake pun melanjutkan bicaranya.
"Aku berharap, kita bisa berteman lagi seperti dulu. Tanpa ada perasaan yang mengganggu," ucap Drake seraya memutar tubuh Luna agar menghadap dirinya.
"Apa? Dia memintaku menganggap semuanya hanya sebagai ocehan saat mabuk belaka? Apa kau tahu, Drake? Sebab dirimu, tanpa sadar aku telah menyerahkan harta berhargaku pada Alan."
"Ah! Tidak. Aku yang bodoh. Bisa-bisanya aku membayangkan dirimu saat sedang bersama Alan. Bahkan untuk beberapa saat, aku melamun dan menganggap Alan itu sebagai dirimu!"
Luna berdebat dengan dirinya sendiri sambil matanya menatap lurus ke arah Drake.
"Ba baiklah," jawab Luna akhirnya.
__ADS_1
Drake mengangguk tersenyum, "Apa itu artinya kita berteman lagi?"
Luna mengangguk pelan.
•••••••
TING TUNGG
Suara bel rumah terdengar sangat jelas di malam hari. Drake yang sedang tidur itu pun menggeliat. Namun ia kembali tidur tanpa menghiraukan suara bel.
Begitu suara itu terdengar kembali, ia duduk dengan malas-malasan.
"Siapa sih yang membunyikan bel berkali-kali seperti ini?"
Tanpa mencuci mukanya, Drake berjalan turun dengan ogah-ogahan dan langsung membuka pintu rumahnya tanpa melihat ke layar kunci pintu.
"Hai..."
"K kau?" Drake tampak kaget.
Matanya yang sedari tadi terasa dilem dan berat dibuka itu langsung melek dengan gampangnya.
"Apa aku boleh masuk?"
"Hiieeh??"
Peonya yang saat ini sudah jatuh cinta pada Drake itu tidak mau menunggu persetujuan si empunya rumah. Ia menerobos masuk meski Drake tidak mempersilahkannya masuk.
"Wah, rumahmu boleh juga," ucapnya saat sudah berada di dalam.
"K kau. Aku tidak mengundangmu kemari. Kenapa tiba-tiba datang dan menerobos masuk begitu saj,-"
"Husstt..." Peony menutup mulut Drake dengan tangan kanannya.
"Aku sudah dapat ijin dari ibu mertua."
Drake mendelik dan langsung menyingkirkan tangan Peony dari mulutnya, "Apa? Ibu mertua?"
"Iya. Karena kita akan bertunangan dan menikah, nyonya Wendy mengijinkanku memanggilnya dengan sebutan ibu mertua."
"Omong kosong. Siapa yang akan menikah?"
"Tentu saja kau dan aku."
"Jangan asal bicara. Aku tidak akan menikah denganmu atau siapapun itu."
"Walaupun mereka mengancam tidak akan memberikan hakmu sebagai seorang putra?"
"Ya."
"Eh?"
"Asal kau tahu. Sejak lulus sekolah, aku tidak pernah meminta uang sepeserpun dari mereka."
"Lalu, bagaimana dengan rumah ini?"
"Aku membelinya dengan usaha hasil keringatku sendiri."
"Kau pasti bohong kan?"
"Untuk apa bohong. Kau mengira aku akan menuntut hak warisku?"
"Tidak seperti itu. Sudah sejak lama, aku pergi dari rumah. Memutuskan hubunganku dengan mereka dan hidup sendiri. Meski susah payah, aku berusaha keras untuk mencari uang dengan usahaku sendiri."
"Selama itu juga, tidak ada satu dari mereka yang peduli kepadaku. Aku berjuang mati-matian di tengah kerasnya ibu kota tanpa pertolongan mereka."
"Benarkah itu...." Peony merasa tersentuh.
Ia sempat mendengar cerita miring tentang keluarga Drake yang mengangkat seorang putra dan putra angkat tersebut dimanjakan oleh orang tua angkatnya sehingga sikapnya begitu angkuh melebihi putra kandung.
"Jadi, jika mereka memaksaku untuk bertunangan atau menikah, aku tidak akan melakukannya. Ini hidupku. Aku akan menikah dengan orang yang aku sukai dan aku inginkan."
Peony menatap Drake.
"Aku minta maaf. Sejak awal, ini sudah salah faham. Sesungguhnya aku melakukan kencan buta itu dengan terpaksa. Sebagai balasan untuk janji ibu yang tidak akan memecat beberapa staf karyawan mal yang melakukan kesalahan."
"Tapi, dua keluarga sudah bertemu, apa kau bisa menghadapinya?"
"Sebagai seorang pria, aku akan menyelesaikan kesalahpahaman ini dengan menemui keluargamu. Bagaimanapun juga, aku yang membiarkan semuanya berlarut-larut."
"Tapi ayahmu...."
"Tenang saja. Tidak ada yang bisa ikut campur masalah hidupku, meski itu ayah atau ibuku sendiri."
"Tapi Drake, bagaimana jika aku juga menginginkanmu menjadi suamiku?"
GLEK
Drake menoleh kaget.
...----------------...
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....