HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
JAHIL


__ADS_3

BAB 55


Selesai menjenguk bisnis coin loundrynya, Drake gantian pergi ke toko baju prianya. Sama seperti yang pertama, ia disambut hangat oleh karyawannya.


Jika di coin loundry karyawannya hanya ada empat orang, maka di toko baju pria ini ia memiliki sepuluh orang. Empat pria dan enam wanita.


Dari ketiga wanita itu, ada juga Drew. Dialah pacar Alan yang lain. Selama bekerja di toko milik Drake itu, Drew tidak pernah berani berbuat sesuatu yang merugikan. Sebab, meski Drake selalu baik terhadap para karyawannya, tetapi akan sangat tegas dan menakutkan jika sedang marah.


Pernah sekali waktu, temannya yang baru bekerja beberapa hari berbuat kesalahan dan Drake mengetahuinya. Maka semua orang di sana terkena amukan.


Kebetulan lagi, waktu itu Drake juga baru bertemu ayahnya dan memuji Pitt. Hal itu membuat Drake semakin mudah menunjukkan emosinya ketika ada karyawannya yang berbuat salah.


"Coba bawa kemari laporan bulanan kita. Apa kalian sudah mengamati? Kira-kira, brand mana yang banyak diminati pembeli?"


"Sudah bos, setelah kami catat dan amati, mayoritas pelanggan lebih menyukai baju dan celana, brand dari Juventus dan ZAV," jawab Zack. Kepala tokonya.


"Begitu, ya? Lalu, apakah yang lainnya tidak diminati?"


"Ada. Namun hanya berapa persen saja."


"Kalau begitu itu PR buat kalian. Usahakan semua merek di toko kita bisa terjual sebanyak mungkin. Cari cara untuk mempromosikan merek yang lain dengan sebaik-baiknya."


"Siap, bos. Kami akan usahakan untuk mempromosikan merek lainnya seperti yang bos inginkan."


"Hmm."


Drake berdiri dan berjalan-jalan mengelilingi ruangan dalam toko. Ia memeriksa penataan baju dan kebersihannya.


"Pertahankan kebersihan yang seperti ini. Jangan sampai ada debu secuil pun."


"Baik," Zack mengangguk.


"Dan itu, pindahkan patung dispaly ke sebelah barat rak yang celana jeans. Menurutku penataan di sana terlalu sepi."


"Baik, siap bos."


"Oh ya. Apa kalian sudah makan siang?" tanya Drake.


"Belum, bos. Jam istirahat untuk shift pagi setengah jam lagi."


"Suruh mereka pesan makanan di restoran depan, biar aku yang traktir. Dan untuk anak-anak shift malam, berikan juga hak yang sama nanti."


"Sungguhan bos?"


"Hmm."


"Terima kasih, bos," seperti biasanya, Zack tersenyum senang karena bosnya selalu memberi kejutan.


••••••


Saat masuk ke dalam rumah, Drake melihat sandal selop warna kuning dengan hiasan pom-pom di atasnya.


"Siapa yang datang?" gumamnya menunduk memperhatikan si sendal kuning.


Ketika ia berjalan ke ruang tengah, didengarnya suara gaduh di dapur. Drake coba mengintip. Dan dari tempatnya berdiri sekarang, ia bisa melihat pergerakan seseorang yang sedang sibuk dengan kulkasnya.


Tanpa sadar, tangan Drake bergerak sendiri dan menepis ke arah kiri. Spontan saja, pintu kulkas itu bergerak dan memukul kepala orang tersebut.


BLETAK!


"Aduh! Siapa yang menutup pintu kulkas,-" suara Terra yang terdengar.


"Ups..." sadar bahwa itu Terra, Drake langsung bersembunyi di balik dinding.


Sambil mengusap kepalanya yang terantuk pintu kulkas, gadis itu celingak celinguk dan mencari Drake. Ia pikir, Drake yang mengerjainya. Akan tetapi, ia tidak mendapati seseorang pun di sekitarnya.


"Apa-apaan ini? Tadi seperti ada yang menutup pintu. Aku pikir itu drake. Tapi kenapa tidak ada seorang pun di sini?"


Terra berpikir lagi, "Jika bukan Drake, lalu siapa dong?"


Seandainya itu Drake, Terra pasti bisa melihatnya. Sebab tadi ia langsung menoleh ke belakang. Mustahil orang akan menghilang secepat itu jika benar tadi ada di belakangnya.


"Mungkinkah... ada hantu di rumah Drake?" Terra merinding.


"Cih, kau masih saja takut dengan hantu? Hihihi... Rasakan balasanku. Itu untuk yang kemarin. Salah siapa tidak mau menolongku turun dari pohon."


Sifat jahil Drake rupanya muncul juga.


TRAK


Terra tampak terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya ia datang membawa beberapa kotak sayur dan lauk yang dibuat kakaknya sore ini.


Sesekali ia menoleh ke kanan dan kiri rumah Drake yang remang-remang karena hanya lampu tertentu saja yang menyala.


"Siapapun kalian,, tolong jangan ganggu aku.. Aku hanya datang membawa makanan untuk tuan rumah kalian..." Terra bicara pada hantu yang sebenarnya tidak ada.


Drake tersenyum melihat tingkah Terra. Sekali lagi ia menjahili gadis itu dengan menggerakkan kursi yang ada di samping Terra.


KRENGKETT


"KYAAAA!" saking kagetnya, Terra malah melompat ke atas meja.


"Astaga! Apa kur,, kursinya bergerak sendiri barusan?"

__ADS_1


Drake menahan tawanya sekuat tenaga karena melihat ekspresi ketakutan Terra. Sejak dulu, ia benar-benar senang sekali menjahili anak itu.


Dan ketika beberapa lampu bergoyang, Terra pun berteriak kencang dan turun dari meja untuk melarikan diri. Namun ketika ia keluar dari dapur dan berbelok ke arah kiri, ia dikagetkan dengan wajah Drake yang disinari lampu ponsel.


"Haaarrrrhhh!!" seru Drake.


"KYAAAA!!!" teriak Terra sebelum pingsan.


BUK


Karena Terra terlalu takut, ia jatuh pingsan. Drake yang melihat gadis itu jatuh pun jadi bingung.


"Hey, kau sedang berpura-pura, kan?" tanyanya sambil berjongkok dan menyentuh pipi Terra dengan telunjuknya.


Karena Terra tidak juga bangun, akhirnya Drake membopongnya dan merebahkannya ke sofa ruang tengah.


PLUK


"Hufff. Apa becandaanku tadi keterlaluan, ya?" Setelah merebahkan Terra ke sofa panjang, Drake duduk di sofa lain yang ada di sana.


"Haisss, dasar penakut. Ngomong-ngomong, badanmu berat juga. Pasti karena kebiasaanmu makan nasi empat ember," Drake bicara sendiri.


"Hoaahheemmm! Ngantuk sekali," kata Drake.


Maka, tanpa pergi ke kamarnya, Drake menyandarkan punggungnya dengan rendah dan mulai tidur di sofa.


SIIIIINNGGG


Waktu pun berjalan tanpa mereka sadari. Terra perlahan membuka mata ketika hari sudah mulai petang.


"Uuh,, tadi aku ngapain?" tanyanya bingung seraya perlahan duduk.


KLIP


Terra melihat Drake ada di sana dan tidur di salah satu sofa.


"Heh? Sejak kapan dia datang?" Terra menengok jam tangannya dan menyadari bahwa hari sudah beranjak malam.


"Apa aku tidur di sini sejak tadi?" Terra mengusap-usap tengkuknya yang masih merinding.


Disapukan pandangannya sekali lagi ke seisi rumah Drake. Memang sepi dan sedikit beraura mistis.


Disaat ia mengawasi ruangan itu, ia menyadari bahwa Drake tampak manis jika sedang tidur.



"Manis sekali," gumamnya.


Perlahan ia menggeser bok*ngnya ke samping dan mengamati Drake dengan begitu dekat.


Digerakkannya tangannya untuk menyentuh alis dan bulu mata Drake.


"Apa kau ingat, dulu aku pernah berkata padamu bahwa aku akan menjadi pengantinmu saat dewasa nanti. Apa kau bersedia jika sekarang aku memintanya ulang?" Terra mulai ngelantur.


Terra tersenyum dan meraih ponselnya. Ia memiliki kesempatan untuk foto berdua dengan Drake.


"Nah, ayo tersenyum,, kita ambil gambar,,," Terra mendekatkan kepalanya ke kepala Drake dan mulai mengambil gambar.


JEPRET


Satu kali, dua kali. Saat ketiga kalinya, Terra dibuat kaget karena mata Drake terbuka.


"Oh, ya Tuhan! Kau mengagetkanku!" pekiknya.


"Kau sedang apa??" tanya Drake malas dan menutup matanya kembali.


"T tidak apa-apa. Hanya hanya iseng mengambil gambar, ehehehe..." jawab Terra salah tingkah.


"Kenapa pingsan?"


"Eh, Pingsan? Siapa?"


"Kau. Kenapa tadi kau tidur di lantai?" Drake berpura-pura menemukan Terra tidur di lantai.


"Benarkah? Aku tidur di lantai? Apa pingsan, ya?"


"Pingsan."


"Oh, iya iya. Ah! Itu karena,,," Terra celingukan.


"Kenapa?" suara Drake masih malas.


"Apa kau serius menemukanku jatuh di lantai? Jadi sungguh bukan kau yang menjahiliku?"


Drake membuka mata dan duduk dengan benar, "Maksudmu?"


"Sepertinya rumahmu ini berhantu!" bisik Terra.


"Ah! Mana ada hantu..."


"Sungguh, tadi aku sedang menata kotak makanan di kulkas. Tiba-tiba saja pintunya menutup dan mengenai kepalaku. Aku kira itu kau. Tapi tidak ada siapapun di dekatku. Lalu, waktu aku membereskan barang-barangku, kursi yang ada di dekatku juga bergerak sendiri! Pasti itu hantu!!" cerita Terra panjang lebar.


Drake diam. Lalu tiba-tiba saja ia tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Kau itu lucu. Mana ada hantu di rumahku. Itu perasaanmu saja," jawab Drake berlagak tidak percaya.


"Sungguh!!"


"Tidak ada hantu."


"Tapi...."


"Sudah. Sekarang pulang saja dulu, besok lanjutkan ceritamu. Hihihi, hantu kau bilang? Dasar penakut.." ucap Drake sambil melangkah pergi.


"Apa katamu?"


"Kau. Penakut," Drake menoleh seraya menjulurkan lidah.


"Cih,,," Terra merasa sebal. "Aku pulang saja."


"Hmmm.. hati-hati di luar. Pasti lebih banyak hantu berkeliaran," ucap Drake tetap jahil.


Selesai mengucapkan itu, Drake pun berlari ke kamarnya meninggalkan Terra yang jadi makin merinding.


Tidak mau berlama-lama di dalam rumah Drake, Terra buru-buru keluar. Ia merasa kalau Drake tidak peduli padanya sedikitpun. Namun tanpa Terra sadari, pada saat berlari menuju lantai atas tadi, Drake masih sempat menoleh padanya sambil tersenyum.


••••••••


KRINCING


KRINCING


Suara gemerincing lonceng terdengar dari halaman rumah Drake. Ada apa?


Drake membuka jendela kamarnya dan melihat Terra, Luna dan seorang dukun sedang menari sambil membaca mantra.


"Kalian sedang apa? Kenapa memutari rumahku sambil menari tarian aneh seperti itu?" tanya Drake.


"Hai Drake! Kemarilah! Nenek Siro sedang mengusir setan yang menempati rumahmu!!" seru Terra.


"Apa? Setan??"


"Ya. Ada makhluk mengerikan yang tinggal bersamamu di rumah ini!" seru Terra lagi.


Drake tertegun, "Apa maksudnya?"


Tidak lama kemudian, Drake turun setelah mencuci muka dan menggosok gigi. Baru saja turun menapaki tangga, Terra dan Luna langsung menyeretnya keluar dari rumahnya.


SRET.


"Eh eh eh,, ada apa sebenarnya?" Drake bingung karena Terra dan Luna mengijinkan nenek dukun itu masuk ke rumahnya.


"Cepat kemari, lihat ini."


Terra mengambil selembar foto. Rupanya itu adalah gambar yang semalam ia ambil dan baru pagi tadi dicuci oleh Terra. Kebetulan teman Terra ada yang memiliki hobi fotografer sehingga ketika Terra meminta temannya itu untuk mencucikan fotonya, tidak membutuhkan waktu lama untuk melihat hasilnya.


"Lihat. Ada penampakan makhluk mengerikan yang menutupi wajahmu,,," kata Terra.


DEG


Drake tidak mengira bahwa sosok F5 tertangkap kamera ponsel Terra pada malam kemarin mereka mengambil gambar.


"I ini...."


"Benar, kan? Tapi jangan khawatir. Nenek Siro adalah dukun paling sakti di kota ini. Jadi kau tidak perlu takut setan itu akan mengganggumu," kata Luna.


"Ti tidak. Hentikan dia," Drake masuk kembali ke dalam rumah sambil mendekati nenek dukun karena mulai merasakan darah di dalam tubuhnya mendidih.


"Kenapa? Kita tunggu di sini saja," jawab Terra.


"Hentikan dia sekarang!" wajah Drake mulai berkeringat.


Terra dan Luna berpandangan. Mereka pikir, Drake hanya tidak suka jika ada dukun yang datang dan masuk ke rumahnya. Namun kenyataannya, lebih dari itu.


Perapalan mantra yang diucapkan dukun itu membuat tubuh Drake bereaksi. Teryata F5 bukan setan? Lalu kenapa bisa bereaksi dengan mantra dukun pengusir setan??


Drake gemetaran. Ia membungkuk karena merasa dadanya kesakitan.


"Kau kenapa, Drake?"


"Tidak apa-apa. Sudah cukup baca mantranya. Suruh nenek itu pergi. Aku tidak suka ada orang asing yang masuk ke rumahku tanpa ijin.


"Tapi... Kami hanya membantumu supaya tidak diganggu setan, atau makhluk apapun itu."


Drake yang merasa kepalanya mau pecah itu pun berteriak kesal.


"Aku bilang hentikan dukun itu!!" suara Drake terdengar agak berbeda. Seperti erangan atau auman monster.


Seiring dengan teriakannya, keluarlah ledakan aura gelap di sekitar tubuhnya yang oleh manusia biasa dapat dirasakan dalam bentuk hembusan angin.


WUUUZZZZ


...----------------...


BERSAMBUNG....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2