
BAB 66
SLUUURRPP
Di senja yang tenang,, Drake duduk di jendela kamarnya sambil menyeruput kopi panas buatannya. Lukisan bulan sabit di kejauhan dengan sinar matahari berwarna kekuningan yang mulai terbenam itu tampak indah menghiasi langit berbintang.
Seminggu yang lalu, ia menemukan kebenaran atas Lulu. Siapa sangka, gadis yang ia kencani itu ternyata seorang pengagum rahasianya. Ya. Lima tahun sudah, Lulu melakukan pencarian atas dirinya.
Karena kini Drake tahu Lulu sering memata-matainya, ia selalu melempar senyum ketika dirasakannya aura milik Lulu muncul di dekatnya.
TING TUNG
Dari kamarnya, Drake bisa mendengar suara bel rumah berdering. Lantas, ia segera turun untuk membukakan pintu.
"Drake..."
"Terra? Ada apa?"
"Em,,, Bolehkah aku pinjam mobilmu? Ayah sedang menuju kemari, tapi bus yang seharusnya lanjut ke perhentian kedua kota ini sedang diperbaiki. Jadi, mereka memutuskan akan berangkat besok pagi-pagi sekali setelah semuanya beres."
"Paman mau ke sini? Kenapa tidak minta bantuanku dari tadi?"
"Aku kemari, tapi kau sedang tidak ada di rumah. Luna sendiri masih lembur, jadi aku menyuruh ayah menungguku."
"Baiklah. Ayo jemput dia sekarang."
"Eh? Kau mau ikut denganku? Em, tapi beneran. Aku bisa sendiri kok. Aku tidak mau mere,-"
"Merepotkanku??"
"Iya..."
"Tidak sama sekali. Paman Gibson sudah seperti ayah kandungku. Jadi tidak ada salahnya jika aku ikut menjemputnya."
"Baiklah. Ayo pergi sekarang."
Akhirnya Drake mengantar Terra untuk menjemput ayahnya. Perhentian bus pertama lumayan jauh dari lokasi perumahannya sehingga membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke sana.
Setelah hampir satu jam, mereka pun sampai dan langsung melihat pak Gibson yang sedang duduk termangu di bangku depan sambil memangku tasnya.
"Ayah!" panggil Terra sambil berlari menghampiri ayahnya.
Yang dipanggil itu pun langsung berdiri dan tersenyum sumringah menerima pelukan dari putrinya.
"Paman.." Drake juga memeluk pak Gibson seperti memeluk ayahnya.
"Drake? Apa Terra memaksamu ikut menjemputku?"
"Tidak. Aku yang memaksanya ikut," jawab Drake ramah.
"Hmm,,"
"Ayo ayah, kita pulang. Oh ya, apa ayah sudah makan?"
"Ya. Sudah. Ayah membawa bekal roti dari rumah."
"Hmm,, Ayah juga tidak lupa bawa roti kesukaanku dan Luna kan?"
"Sudah pasti, ayah selalu ingat roti kesukaan putri-putri ayah yang cantik."
Drake tersenyum melihat kedekatan Terra pada ayahnya. Ia berjalan di belakang dan membawakan kedua tas tenteng yang dibawa pak Gibson dari rumah.
"Wah,, paman ingat pada mereka. Tapi tidak ingat padaku? Bukankah aku juga suka roti kacang buatanmu?" Drake mencoba berkomunikasi.
"Jiahaha,, kau juga mau roti kacang? Tenang, akan paman buatkan setelah sampai di rumah," pak Gibson menoleh sambil tertawa.
GREB
Begitu pintu ditutup, mobil melaju ke jalanan dengan cepat. Sepanjang perjalanan, Drake mendengarkan percakapan antara ayah dan anak manja itu.
"Oh ya Drake, bagaimana kabarmu? Apa kau sudah berdamai dengan orang tuamu?"
Suasana hening sebentar.
__ADS_1
"Ehem. Aku baik saja, paman. Soal orang tuaku,,, emm, kami cukup sering bertemu akhir-akhir ini," jawab Drake akhirnya.
"Begitu, ya? Baguslah jika memang seperti itu. Meski ayah dan ibumu pernah berbuat salah, tapi mereka tetap orang tuamu. Kau tidak bisa memungkiri bahwa darah mereka ada dalam dirimu."
Drake diam dan tetap menyetir. Ia memang ingin memungkiri semua itu. Kenyataan bahwa ayah dan ibunya telah membawanya pada dunia ini. Justru hal seperti itulah yang amat menyakiti hatinya.
Terra memperhatikan Drake usai ayahnya bicara seperti itu. Ia yakin, Drake pasti amat tidak nyaman mendengarnya. Bahkan ia dapat melihat dengan jelas bagaimana perubahan sikap Drake dari bangku belakang.
Kemudian ia juga melirik ayahnya karena ia pikir, ayahnya membahas sesuatu yang tidak perlu untuk dibahas. Sebab ia tahu. Beberapa kali bertemu ibu Drake, ia mendapat kesan bahwa keluarga itu tidaklah akur.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di rumah. Tentu saja, mereka bisa hemat setengah jam perjalanan sebab Drake menyetir dengan laju maksimal.
"Nah, akhirnya sampai juga di rumah,,hahaha,," pak Gibson amat senang.
"Kalau begitu, selamat beristirahat paman. Aku pulang dulu," kata Drake.
"Kau yakin tidak mau masuk dulu? Biasanya tanpa disuruh pun kau suka sekali menginap?"
"Aahh,, sepertinya,, itu sudah lama sekali."
"Benar. Sudah lama sekali dia tidak pernah menginap, ayah," kata Terra.
"Benarkah? Kenapa?"
"Emm, itu karena aku sibuk dengan pekerjaanku."
"Ooih,, ya sudah. Pulanglah, pulanglah. Tapi jangan lupa, besok ikut sarapan di rumah, ya."
"Baik."
Karena tidak ada yang ingin ia bicarakan, Drake berbalik dan melangkah pergi. Terra memperhatikannya sebentar, lalu mengajak ayahnya masuk.
TRAK
Drake masuk ke kamar dan melempar kunci mobilnya ke atas meja kerjanya. Sambil mendengus kesal, ia duduk dengan lesu di pinggir tempat tidurnya.
Ia ingat perkataan pak Gibson tadi yang sedikit menyinggungnya. Mau tidak mau, ia jadi mengakui, ada darah tuan Halbert dan nyonya Wendy di dalam tubuhnya.
"Hisss. Benar. Kenapa harus darah mereka yang ada di tubuhku?"
Dengan kasar ia menjatuhkan pantatnya dan mulai mengoperasikan laptop serta tablet miliknya. Ia mengetik beberapa naskah untuk novelnya yang sempat terbengkalai beberapa hari.
Dengan cara itulah, ia membuang semua pikiran yang mengganjal di kepalanya.
••••••
CLOMP CLOMP....
Pagi hari ketika keluarga Luna sarapan, Drake tidak muncul di sana. Pak Gibson sudah menunggunya, namun pemuda itu tetap tidak kelihatan batang hidungnya. Bahkan mobilnya sudah tidak ada di depan rumah.
"Kenapa dia belum juga kemari?"
"Mungkin belum bangun," jawab Luna.
"Tidak. Sepertinya dia sudah pergi," Terra melongok keluar jendela.
"Eh? Sudah pergi? Pagi-pagi begini? Apa dia masih suka ikut pertandingan apa itu? Gulat tinju??"
"Tahun lalu masih, tapi entah sekarang. Kami tidak begitu mengetahui kegiatannya yang sekarang," sahut Terra.
"Kenapa? Apa dia sekarang sibuk?"
"Hmmm. Dia jarang di rumah."
TRAK.. TRAK..
Luna meletakkan lauk-pauk yang baru matang ke atas meja. Ia menyambut kedatangan ayah mereka dengan masakan spesial.
"Sudah,,, jangan bicarakan dia terus. Ayo sarapan."
"Baiklah, ayo makan..."
Ternyata, Drake berada di dalam mobil dan berhenti di pinggir jembatan. Ia memperhatikan orang yang berlalu lalang dari dalam mobilnya.
Kemudian karena bosan, ia turun dan keluar dari mobil. Berdiri di pinggir jembatan dan menatap lurus ke depan.
__ADS_1
"Ehemm,, Apa kau sedang memikirkan sesuatu?"
"Woh?? ZuanYi? Sedang apa kau di sini?" Drake menoleh ke belakang dan melihat beberapa mobil terparkir dengan beberapa orang penjaga.
"Yaaah, aku sedang menuju ke suatu tempat. Lalu tanpa sengaja melihatmu di sini."
"Aaah. Begitu rupanya," Drake tetap menatap ke depan.
Karena pada saat itu masih sangat pagi, matahari baru menampakkan sinarnya. Udara sekitar yang terasa dingin pun perlahan terasa hangat. ZuanYi melirik ke arah Drake. Sudah cukup lama mereka tidak berjumpa.
Terakhir kali mereka bertemu, itu saat Drake datang untuk minum dan bertemu kakaknya, ZuanYan. Sejak itu, Drake tidak pernah datang lagi ke tempatnya.
"Apa sekarang kau sibuk?"
"Sibuk?"
"Hmm. Kau tidak pernah mampir lagi ke bar atau tempat latihan. Lihat, otot lenganmu sedikit kendur. Kau pasti jarang berolahraga," ucap ZuanYi sambil menyentuh lengan Drake dengan telunjuknya.
"Nyonya, kita akan terlambat pergi jika terus,-" seorang ajudan mencoba mengingatkan ZuanYi tentang waktu yang tersisa.
Namun tanpa mengeluarkan kata, ZuanYi hanya melirik tajam ke arah ajudannya tersebut. Dengan cara itu saja, pria yang baru saja bicara langsung menundukkan kepala.
"Kau ada pertemuan penting? Kenapa tidak pergi sekarang?"
"Hmm, baiklah aku pergi sekarang."
"Ya. Sampai jumpa," Drake mempersilahkan ZuanYi pergi.
"Sesekali mampirlah ke bar. Apa kau tidak merindukanku?" ZuanYi menyentuh dada Drake dengan nakal menggunakan jari telunjuknya.
"Ahaha,, iya baiklah. Aku akan mampir kalau tidak sibuk," jawab Drake.
"Benar, ya? Ya sudah, aku pergi dulu."
Begitu rombongan ZuanYi meninggalkan dirinya, Drake juga bergegas pergi dan memasuki mobilnya. Entah ke mana, yang penting tidak di rumah. Ia sedang ingin menghindari keluarga Luna. Itu saja.
••••
Kembali lagi bersama keluarga Luna. Tampak Terra sedang menonton drama bersama ayahnya. Gadis itu menempel di lengan ayahnya dengan manja.
Seraya menikmati buah-buahan segar yang Terra beli kemarin, keduanya tertawa terpingkal-pingkal karena adegan lucu di drama yang mereka tonton.
"Hmmm,, anak manja siapa ini? Kau senang sekali ayah datang, ya?" ejek Luna.
"Tentu saja. Selama ayah ada di sini, kita bisa makan enak, ehehehe. Ya kan, ayah?" Terra meringis di depan ayahnya.
"Iya,, ayah akan membuat banyak makanan untuk kalian berdua. Terutama daging bumbu spesial kesukaan Luna dan udang asam manis kesukaanmu," pak Gibson amat senang berkumpul dengan putri-putrinya.
"Yes! Ayah memang yang terbaik!" seru Terra semakin mempererat pelukannya pada lengan sang ayah.
"Hehehe," pak Gibson mengusap kepala putrinya yang manja.
Mereka berdua pun kembali tertawa riang tanpa melihat ekspresi di wajah Luna. Ada sedikit rasa kekhawatiran yang terpancar di sana.
"Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu ya, ayah," Luna memungut sepotong anggur hijau dari piring dan buru-buru pergi.
"Emm,, Luna. Pulang nanti ajak Alan mampir kemari, ya. Sudah lama dia tidak menyapa ayah," seru pak Gibson.
DEG
Luna berhenti dan menjelaskan, "I iya. Tapi aku tidak janji, ya ayah. Dia orang yang sibuk dengan pekerjaannya, jadi,,,.Ah! Sudahlah,, aku pergi dulu.. daaahh."
Mendengar ucapan Luna, Terra melirik saudarinya itu bergantian dengan ayahnya. Diam-diam, ia mengetahui rahasia yang disembunyikan Luna soal putusnya dengan Alan.
Ia hanya bisa ikut bersedih. Seandainya Drake tidak memberitahunya waktu itu, ia juga tidak akan tahu persoalan ini.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1