HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
SOSOK BERAMBUT PANJANG


__ADS_3

BAB 27


Saat Drake turun dari arena tanding, Terra menyusul dengan cemas. Ia tidak peduli lagi meski harus membelah lautan manusia yang ada di sana.


"Drake!"


Yang dipanggil pun menoleh dan terkejut melihat Terra ada di sana.


"Heh? Sedang apa kau di sini?"


Terra berdiri satu meter di depan Drake. Nafasnya kembang kempis dengan mata yang berair, "Apa kau sedang kesulitan uang? Makanya bertanding lagi seperti ini?"


"Apa?"


Pada saat yang tepat ZuanYi datang dan memeluk Drake karena berhasil menang. Ia mengajak Drake ke kantornya untuk membicarakan hasil kemenangan mereka.


"Jagoanku tersayang, aku sudah mengira bahwa kaulah yang menjadi pemenangnya," ZuanYi tersenyum puas sambil memandangi wajah bonyok Drake.


Perlahan, jarinya bergerak seolah mengusap perlahan luka-luka pada wajah Drake.


"Ouuhh... malangnya kekasihku yang tampan. Wajahmu jadi seperti ini demi mendapatkan kemenangan. Ayo ikut aku, kita obati lukamu lebih dahulu," kata ZuanYi menggiring Drake pergi.


Sebelum pergi jauh, ZuanYi menoleh pada Terra dan memberinya senyuman cemooh.


"Siapa lagi gadis ini? Apa aku pernah melihatnya sebelumnya?"


Pikir ZuanYi.


Karena Drake pergi meninggalkannya, Terra pergi ke luar gedung dan menunggunya di depan. Ia berjongkok di salah satu sudut tembok sambil memainkan lidi yang ia temukan.


PREK


ZuanYi mengajak Drake duduk dan minum segelas bir. Kemudian ia meminta ajudannya untuk mengambilkan koper miliknya.


"Ini bagianmu," ZuanYi meletakkan koper yang ia terima di hadapan Drake.


Tanpa mengomentari apapun, Drake meraih koper berisi uang bagiannya. Kemudian ia membukanya perlahan tanpa memikirkan berapa nominalnya.


Baru saja ia membuka separuh bagian koper tersebut, matanya membelalak lebar. Di dalam sana, dilihatnya setumpukan uang kertas yang berwarna putih kecoklatan. Itu semua dolar!


"Gimana, apa kau puas?"


Drake tersenyum, "Hmm, sangat puas."


"Ambillah. Aku juga punya satu Hadiah untukmu," ZuanYi meletakkan sebuah kunci mobil.


Drake terkejut saat ZuanYi memberinya hadiah mobil.


"Kau serius?" tanyanya tak percaya.


"Yah. Itu hadiah dariku untukmu. Karena sudah membuatku senang dengan memenuhi janjimu."


"Huh,, sudah ku katakan, aku tidak mau menerima apapun darimu. Kau tahu sendiri, bukan? Aku tidak akan goyah dengan sogokan semacam ini," jawab Drake sambil menggeser kunci mobil ke arah ZuanYi.


"Tidak, tidak. Ini bukan sogokan seperti yang ku lakukan dulu. Ini murni hadiah. Jadi terimalah, hmm?" ZuanYi menggeser kembali kunci mobil, lalu menatap Drake dan menunggu jawaban cukup lama.


Setelah berpikir cukup lama, Drake akhirnya menerima hadiah dari ZuanYi tersebut dengan perjanjian bahwa kelak ZuanYi tidak akan mengungkit kembali pemberiannya dengan trik apapun.


"Nyonya, seseorang yang mencurigakan kutemukan mondar-mandir di depan kasino. Apa yang harus kami lakukan terhadapnya?"


Tiba-tiba seorang anak buah ZuanYi datang melapor sambil diikuti dua bawahannya yang mencekal tangan Terra.


"Drake!" panggil Terra ketakutan.


Melihat bahwa orang yang dimaksud adalah Terra, Drake pun meminta ZuanYi melepaskannya. Setelah urusannya selsai, Drake pun memarahi adik Luna itu.


"Kenapa kau tidak pulang dan malah keluyuran di depan kasino?"


"Aku...."


Drake berdiri dan menarik Terra keluar ikut bersamanya.


•••••


Sudah setengah jam lamanya, Drake dan Terra saling berdiam diri di dalam mobil baru hadiah untuk Drake.


Bukan apa-apa, hanya saja Drake takut jika nanti Terra mengadukan apa yang ia lihat pada Luna. Jadi, ia memilih untuk menunggu Terra membuka suara.


"Em, apa Luna tahu kalau kau bertanding lagi?" tanya Terra sambil melirik Drake.


"Tidak."


"Heh? Lalu, kenapa kau kembali bertarung seperti ini? Lihat bagaimana penampakan wajahmu. Jika Luna tahu, kau bisa mendapat masalah besar," Terra bingung.


Drake menoleh, "Itu gampang. Tinggal kaunya saja. Jangan beritahu Luna soal malam ini."


"Apa?"


"Tutup mulut."


"Eh,, emm,, tapi, wajahmu,," Terra berpikir sambil sesekali melirik pada Drake.


"Apa yang menjadikanmu berpikir? Lihat. Bukankah aku kembali dengan kemenangan?" ucap Drake sambil tertawa.


"Kalau kau mau seperti itu sih, aku menurut saja. Tapi bagaimana kau menjelaskan padanya soal luka pada wajahmu dan mobil barumu ini?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa seandainya ia melihatku seperti ini. Aku harus menerima konsekuensinya, bukan?"


"Kau serius?"


Pada saat mereka lewat di depan sebuah market, Drake melihat Lulu sedang berjalan sendirian sambil menenteng kresek.


DIN DIN!


Drake memperlambat laju mobilnya. Sambil tersenyum ramah, ia memanggil Lulu. Lulu pun menoleh terkejut.


"Lulu.."


"Kak Drake??" tanyanya kaget. "Eh, ada Terra juga, ya?" Lulu juga melihat Terra di samping Drake.


"Hai..." sahut Terra.


"Hah?? I itu, wajah kakak kenapa?" Lulu cemas dan terus menatap Drake.


"Oh, ini? Tidak apa-apa. Kau baru berbelanja, ya?" Drake menunduk sebentar kemudian melirik kresek yang dibawa Lulu.


"Eh? Iya nih, hehe.. Aku kelaparan tengah malam. Jadi aku keluar membeli beberapa makanan," Lulu terkekeh malu.


"Ngomong-ngomong, di mana sepedamu?"


"Em,, sebenarnya rantai sepedaku lepas sejak kemarin. Aku tidak bisa memperbaikinya, jadi apa boleh buat,,"


"Kalau begitu, naiklah. Aku akan mengantarmu pulang."


"Hmm, baiklah," Lulu melangkah memasuki mobil.


Di dalam mobil, Lulu terus saja memperhatikan Drake dari kaca depan. Ia merasa sangat ingin tahu soal luka-luka di wajah Drake tersebut.


Terra yang menyadari bahwa Lulu terus memperhatikan Drake pun memberitahunya, "Dia ini petarung MMA. Jadi jangan heran jika wajahnya jadi bonyok seperti ini."


"Apa? Pe petarung apa?"


"MMA."


"Heh? Tidak. Tidak. Bukan begitu, aku hanya pemain musiman. Bukan petarung asli."


"Bukankah itu olahraga bela diri dengan gaya bebas? Sejak kapan kak Drake menjadi petarung semacam itu?"


"Baru sekali ini saja," jawab Drake.


"Sejak lulus sekolah, dia sudah bertanding beberapa kali," jawab Terra.


Jawaban Drake dan Terra keluar bersamaan. Lulu menjadi bingung dibuatnya, "Mana yang benar?"


"B baru sekali ini," sahut Drake cepat.


Terra hanya mendengus dan melirik Lulu serta Drake bergantian.


"Nah. Kita sudah sampai di rumahmu."


"Eh, iya. Ya sudah, aku pulang dulu ya. Terima kasih karena sudah mengantarku, kak."


"Hmm."


"Dah Lulu,, sampai jumpa lagi.." seru Terra.


"Da daah.."


••••••••


TREK


Begitu memasuki rumah, Drake duduk di lantai depan pintu sambil melepas sepatunya. Ia melirik jam dinding yang ada di atas rak sepatu yang rupanya sudah menunjuk jam 3 dini hari.


"HOAAAHEEMM.." ia menguap kelelahan.


Pada saat itu, ada sesuatu yang datang mendekat pada Drake dan berdiri mematung di belakangnya.


WUUUUZZZZZ


Aura horor tiba-tiba menyelinap menggelitik bulu roma Drake.


"Kenapa tiba-tiba auranya jadi horor, ya?" Drake mengusap tengkuknya sambil memperhatikan sekitarnya tanpa menoleh ke belakang.


Ia meletakkan sepatunya ke dalam rak kemudian berdiri sambil menggeliat. Saat ia berbalik, sesuatu membuatnya jantungan.


"HYAAAAA!" teriaknya kencang.


HOSH


HOSH


HOSH


Nafas Drake kembang kempis karena melihat penampakan yang ada di depan matanya. Roh dan tulang belulangnya pun seakan meloncat keluar meninggalkan raganya.


Drake yang sedang berniat memasuki rumah itu benar-benar terkejut melihat sosok berambut panjang menghadangnya di depan.


Dengan rambut putih tergerai menutupi wajah, ditambah mata membelalak di sela-sela poninya, sosok tersebut tampak sangat mengerikan.


GLEK!

__ADS_1


"L Luna, apa itu kau??"


Tanpa memberi jawaban, sosok itu mendekatkan wajahnya sambil menatap Drake lekat-lekat. Tidak bisa dipungkiri, Drake berulang kali menelan ludah mendapat tatapan mengerikan seperti itu.


Hampir saja ia terkencing di celana jika sosok tersebut tidak tertawa dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya.


"Cih! Dasar penakut!" caci Luna.


Drake menghela nafas lega.


"Apa kau benar-benar takut padaku?" Luna mempraktekkan mode horornya kembali.


Tapi siapa sangka, Drake justru menyingkirkannya ke samping hingga menubruk dan menempel ke tembok, sambil buru-buru pergi ke kamar mandi karena ia kebelet kencing.


"Haiss,, minggir,, minggir,,"


"Hey! Mau ke mana kau? Jelaskan padaku lebih dulu, dari mana saja kau sampai pulang jam segini!??"


"Au ah!!" seru Drake dari dalam kamar mandi.


Tepat saat Luna sedang marah-marah, Terra datang mencarinya. Wah, sepertinya bakal ramai!


GLEK


Gadis itu berhenti melangkah karena melihat kakaknya berdiri seperti hantu di ruang tamu rumah Drake.


"Ehehehe,, kak Luna. Sedang apa kau di sini?" tanya Terra gugup.


"Dasar anak nakal! Dari mana saja, kau? Siapa yang mengajarimu menyelinap keluar di tengah malam??!" Luna mendekati Terra dan langsung menjewer telinga adiknya itu sambil menggiringnya ke dalam.


"Aduh.. aduh.. Kenapa kau menjewerku, sih kak?" Terra mengikuti langkah Luna seperti kerbau dicucuk hidungnya.


BANG!


BANG!


Suara pintu kamar mandi yang ditendang oleh Luna, gadis itu meminta Drake keluar dari kamar mandi segera.


"Cepat keluar!"


••••••


SIIIINGGG


Beberapa menit kemudian, tampak Terra dan Drake bersimpuh dengan kedua tangan mereka masing-masing berada di atas lutut.


Rupanya, mereka sedang dihukum oleh Luna!


Keduanya tampak menunduk menghindari tatapan membunuh milik Luna. Namun begitu, rupanya mereka saling lirik memberi isyarat, siapa yang harus menjelaskan semuanya.


"Apa rapatnya sudah selesai?" Luna menghentikan acara lirik melirik kedua manusia yang berlutut di hadapannya.


"Eh? Hehehe,,, Luna. Apa yang mau kau bicarakan dengan kami?" tanya Drake sambil sesekali mengangkat wajahnya. Ia tidak berani menunjukkan wajah babak belurnya itu kepada Luna.


"Angkat kepalamu."


"Aku?" Terra melawak.


"Bukan. Tapi kau!" Luna memukulkan sebuah botol air mineral kosong ke kepala Drake.


"Aduh..."


GLEK


Perlahan, Drake pun mengangkat pelan kepalanya. Akhirnya, Luna dapat melihat jelas bagaimana keadaan wajah sahabatnya itu.


"Kau bertarung lagi? Bukankah kau sudah berjanji,-"


SRET


Drake mendekati Luna dengan cepat, "Em, Luna. Hehehe,,, Jangan marah lagi, ya? Yang penting kan aku pulang dalam keadaan hidup. Lagipula, aku memenangkan hadiah besar kali ini. Kau mau ku belikan apa? Katakan saja," Drake sengaja banyak bicara agar gadis itu tidak marah lagi.


"Kau!!" Luna mendelik.


Karena semua ucapannya belum bisa meredakan amarah Luna, Drake menggunakan jurus kucing manjanya.


Jurus kucing manja?? Apaan tuh?


Jadi, Drake sengaja menggelendot ke lengan Luna sambil mengusap-usapkan kepalanya persis seperti kucing yang minta disayang tuannya.


"Ayolah,,, Yang penting aku pulang lagi, kan?" kata Drake.


Terra yang menonton kelakuan Drake itu mengangkat sebelah bibirnya.


"Cih,, menjijikkan sekali. Hey, kau tidak pantas bersikap manja seperti itu padanya!" kata Terra sambil berlagak mau muntah.


"Hissss,, aku melakukan ini agar kita tidak jadi dimarahi tau!" gerutu Drake.


"Huh! Alasan..." Terra membuat ekspresi wajah mencibir.


Drake menatap Terra kesal. Mereka berdua pun saling tatap dengan bibir terangkat sebelah.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2