HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
KESERUAN DI MALAM HARI


__ADS_3

BAB 12


PUSSSHH


PUSSSHH



Drake sedang duduk di jendela kamarnya sambil merokok memperhatikan rumah Luna. Sesaat kemudian, Alan datang dan mengajak Luna pergi berkencan.


"Ke mana mereka akan pergi?" Drake memperhatikan keduanya dengan seksama.


"T tunggu. Dari mana dia mendapat pakaian kurang bahan seperti itu? Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus berbuat sesuatu!"


Drake melihat Luna mengenakan rok pendek. Ia tidak bisa membiarkan gadis itu melakukannya sebab ia tahu, itu bukan ciri khas Luna. Maka dengan cepat ia turun menemuinya.


TAP TAP TAP


"Ehem! Apa kau akan pergi?"


"Eh? Iya. Kebetulan sekali kau kemari, tolong jaga Tera ya. Kami mau pergi makan malam sebentar," kata Luna.


"Apa?"


Drake tidak menyangka, ia yang datang untuk hal lain malah disuruh menjaga adik Luna.


"Eh buset. Malah disuruh jagain anak kecil manja," pikir Drake dalam hati.


"Drake?? Kau bisa mendengarku?"


"Ya. Aku mendengar dengan jelas."


"Nah, baiklah, kami pergi dulu ya," Luna tampak berkali-kali menurunkan ujung roknya yang pendek.


"Tunggu. Ikut denganku sebentar," Drake menahan tangan Luna.


"Hei, ada apa denganmu? Dia mau pergi denganku, kenapa aku merasa kau mencoba mengulur-ulur waktunya?" Alan merasa kesal.


"Tunggu saja sebentar, tidak usah berisik," ucapnya pada Alan.


Drake membawa Luna masuk kembali ke dalam rumah dan memintanya mengganti rok yang ia pakai dengan celana.


"Apa-apaan kau ini? Kenapa pakai rok sependek itu untuk keluar? Cepat ganti dengan celana!" Drake memarahi Luna dengan wajah yang serius.


"A apa? Ganti celana? Aduh Drake, kami sudah terlambat untuk pergi ke bioskop, itu bisa menghabiskan waktuku jika harus mengganti pakaian," rengek Luna.


"Cepat ganti."


"Tidak usah, ya..." Luna melangkah pergi.


SRET


Drake menahan pundak Luna, "Ganti atau tidak pergi sama sekali."


"A apa?"


"Jika ingin keluar dengan Alan, setidaknya kenakan pakaian yang membuatmu nyaman. Bukan rok pendek seperti ini," Drake menarik ujung rok Luna.


"Kau ini, seperti orang tua saja. Tidak bisakah melihat anak muda bersenang-senang sedikit," Luna berjalan ke kamar dengan bibir monyong karena merasa dipaksa.


"Ck Ck Ck,,, Benar-benar seperti anjing dan kucing," Tera yang bersandar di dinding dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada itu menyindir Drake.


"Kalau begitu, kau tikusnya," Drake berkacak pinggang memelototi Tera.


"Apa? Iiihhh.. mana ada tikus cantik dan imut sepertiku," Tera langsung meluruskan kedua tangannya ke bawah dengan tangan mengepal.


"Bah, imut? Hahaha,,, siapa yang bilang?" Drake meledek Tera.


"Pacarku."


"Baik, siapa pacarmu. Suruh dia kemari. Biar aku bertanya sendiri padanya."


Tera geram dan hendak melontarkan balasan untuk Drake, namun Luna sudah keluar dan mengenakan celana seperti perintah Drake.


"Nah, itu baru benar," Drake menoleh dan merasa puas dengan pakaian Luna sekarang.


"Iya. Baiklah, aku pergi sekarang ya. Jaga Tera untukku," Luna berlalu sambil melambaikan tangan.


••••••


HENING


Di rumah Luna, Drake tengah menemani Tera menonton televisi. Mereka belum bicara sepatah katapun sejak Luna pergi.


Tera yang sebenarnya merasa senang ditinggal berdua saja dengan Drake melirik pria itu beberapa kali.


"Apa kau mau mi instan?" tanya Tera berusaha memecah kesunyian.


"Kau mau membuatkannya untukku?" tanya Drake balik.

__ADS_1


"Iya lah. Makanya aku bertanya."


"Bolehlah. Pakai telur ya, dua buah. Kalau ada sosis atau sayur, boleh tambahkan juga, hehe," ucap Drake.


"Ealah? Bilang saja kalau mau mi instan dengan toping lengkap. Dasar tukang makan," sahut Tera sambil geleng-geleng kepala.


"Hihihi," Drake meringis.


Tiga puluh menit kemudian, mie instan buatan Tera matang. Gadis itu membawa panci masak ke meja bersama dua buah mangkuk.


"Sudah siap. Ayo makan," ucapnya.


"Ayooo!!" Drake semangat sekali.


NYAM


SLUURRPP


Suara tarikan nafas Drake saat menyeruput mi ke dalam mulutnya terdengar amat lezat.


"Ini enak. Aku tidak tahu kalau kau pandai memasak mi juga," kata Drake sambil mengunyah makanan.


"Tentu saja dong, kalau hanya mie instan, aku pandai membuatnya," jawab Tera mengibaskan rambutnya.


GLUK


GLUK


Kuah gurih dan kental dari mi buatan Tera yang ada di dalam mangkuknya sudah diseruput habis. Kini Drake merasa kekenyangan dan berakhir bersendawa.


"Aaaaaaarrrrggggkkk..."


"Ih, kakak jorok sekali!"


"Hehehe, maaf, itu reflek keluar."


Tera mengibaskan tangan kanannya seakan membuang nafas sendawa Drake dari hadapannya.


"Ngomong-ngomong, kau baru saja memanggilku kakak, kan?" Drake tidak percaya dengan pendengarannya.


Sebab, selama ini Tera sulit sekali jika disuruh memanggil dirinya dengan sebutan kakak.


"Apa? Siapa bilang?" Tera bicara sambil mengangkat tinggi dagunya.


"Kau. Aku mendengarnya barusan."


"Tidak, kau salah dengar mungkin," Tera merasa malu.


Drake menuang air minum pada gelasnya. Kemudian ia menyandarkan punggungnya ke sofa dan meraih ponselnya kembali.


"Memangnya apa yang akan terjadi jika aku meninggalkanmu sendiri?" tanyanya pada Tera.


"Tidak ada."


"Lalu? Kenapa aku harus di sini menungguimu?" tanya Drake lemas.


"Itu kemauanmu sendiri. Aku tidak memintanya,, hihihi," jawab Tera meletakkan sumpitnya.


Drake berdiri dan berjalan ke jendela samping rumah tersebut. Kemudian membuka jendelanya.


"Aku mau merokok, ya?" dirogohnya bungkus rokok dan pemantik dalam saku celana.


"Baiklah."


PUUUSSHHHH


Asap rokok yang dihembuskan Drake itu mengepul dan terbang keluar terbawa angin. Tera memperhatikan kegiatan Drake tersebut sambil tersenyum.


"Sebenarnya, kau menyukai Luna, kan?" tanya Tera mengejutkan.


UHUK ! UHUK !


"Heh? Apa yang kau katakan?"


"Kau menyukai Luna sejak dia SMA, kan?"


"Omong kosong, tau apa kau anak kecil?" kata Drake sambil terkekeh mencoba menyembunyikan perasaannya.


"Hmm, tentu saja aku tahu. Aku mengamati sikapmu selama ini. Lagi pula, aku bukan anak kecil lagi woy. Aku sudah besar."


"Eh? Gitu, ya? Hmm.. Apa sikapku begitu mencolok?" Drake menjadi bersemangat.


"Tidak sih. Luna tidak tahu soal itu karena cintanya hanya untuk kak Alan."


"Iya, aku sudah tahu."


"Lalu kenapa kau masih saja menyukai dia?" tanya Tera.


"Aku tidak tahu."

__ADS_1


Mendengar jawaban Drake, Tera tersenyum. Ia percaya bahwa ada kekuatan cinta antara dua sahabat.


Suasana kembali hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba saja....


BROOOTTT


Drake tampak memiringkan pantatnya 30° saat membuang gas.


"Iiihh!! Kenapa kau kentut di sini? Dasar jorok! Minggir sana!!" Tera langsung menutup hidungnya karena tidak mau menghirup aroma kentut.


Bukannya menyingkir, Drake justru tertawa kencang melihat ekspresi Tera yang lucu. Gadis itu, meski cuek dan jutek, memang manja dan menggemaskan sejak kecil. Ia pun suka mengisengi Tera dengan kentutnya untuk memancing tawanya.


"Waah,, tidak usah berlebihan. Kentutku tidak bau kok. Kau bahkan bisa menghirup aroma mi instant yang baru aku makan," kata Drake mengarang cerita.


"Bohong! Tidak mungkin!"


"Tidak percaya. Nih lihat,," Drake mencontohkan menghirup nafas dalam-dalam dan dia tampak baik-baik saja.


Tera yang sedari tadi menutup hidungnya itu pun tertipu. Begitu ia melepas tangan dan mencoba bernafas, aroma kentut Drake masih belum hilang.


"Kau membohongiku,," Tera mengejang bak keracunan.



Drake tertawa terbahak-bahak. Sebab ekspresi Tera benar-benar membuatnya terhibur. Jangankan Tera, ia sendiri pun merasa ingin muntah menghirup bau kentutnya sendiri.


Karena Drake menertawakannya, Tera meraih bantal kursi yang ada di belakangnya dan melemparnya pada Drake.


SPLASSH!


SPLASH!


"Pergi sana! Mendingan aku di rumah sendiri daripada keracunan kentutmu!" dua bantal yang Tera lempar tepat mengenai sasaran.


"Kau yakin aku pulang sekarang? Bukankah kau itu takut hantu?"


"Jika begini yang terjadi, mending ketemu hantu deh daripada kau yang ada di sini. Tukang buang angin sembarangan!" seru Tera gemas.


SRET


"Baiklah. Aku pulang sekarang ya. Aku juga ada kerjaan penting," Drake berdiri dan menutup kembali jendela rumah Luna.


"Eh, mau pergi beneran, ya? Dasar tidak peka," batin Tera dalam hati.


"M mau pulang beneran?"


"Tentu saja."


Drake berjalan melewati Tera dan membuka pintu dengan santai.


"Hati-hati di rumah. Kalau ada suara dari kamar mandi, hadapi saja. Barangkali ada hantu yang ingin mengobrol denganmu, hahaha," Drake keluar sambil meledek Tera.


"Apa??!! Kak Drake!!"


Tera berlari menghambur ke arah Drake namun Drake dengan cepat menutup pintu dan berlari ke rumahnya sambil terbahak-bahak.


Tepat di tengah jalan, mobil Alan datang dan hampir menabrak Drake yang sedang berlari menyeberang.


DIN


DIN


"Drake? Kau sudah mau pulang?" tanya Luna turun dari mobil.


"Eh, iya."


Baru saja Drake menjawab pertanyaan Luna, Tera datang sambil berlari ngos-ngosan.


"Ada apa, Tera?"


"Eh? Kakak?" terkejut karena Luna sudah pulang.


"Kenapa kau berlari seperti dikejar hantu?" Luna merasa heran.


Drake melirik Tera seraya menahan tawa. Begitu pun Tera. Ia memilih merahasiakan kejadian yang baru saja terjadi untuk dirinya sendiri.


Meski kesal, nyatanya Tera senang bahwa Drake menemaninya malam itu. Bahkan ia tahu, Drake melakukan itu untuk meramaikan suasana seperti biasanya.


"Tidak ada apa-apa, hehe..."


.


.


.


BERSAMBUNG....


Ikuti dan baca lanjutannya yuk... 😀😁

__ADS_1


Likenya jangan lupa....👍🏻


__ADS_2