
BAB 15
Sepanjang perjalanan, langkah Drake terlihat gontai hingga ia sampai di depan penjual bubur daging.
"Minta satu porsi buburnya, bibi," kata Drake.
"Baiklah, tampan. Apa kau mau pakai daun bawangnya?"
"Beri aku semuanya."
"Oke. Tunggu sebentar, ya."
Setelah seporsi bubur daging dihidangkan di atas mejanya, Drake segera melahapnya dengan nikmat. Sejenak, ia melupakan apa yang baru saja ia alami.
TREK
Mangkuk buburnya sudah kosong. Ia memesan satu porsi lagi dan mengabiskannya dengan cepat. Setelah selesai makan, ia berdiri dan mendekati bibi penjual.
"Kau mau tambah?"
"Bungkuskan aku dua porsi ya," katanya.
"Oke siap."
Tak lama berselang, Drake sudah berjalan meninggalkan warung. Ia berencana membawakan dua bubur itu untuk Luna dan Tera. Sebab ia ingat betul, bahwa anak-anak itu dulu sangat senang saat ia membawakan bubur tersebut untuk sarapan mereka.
KLIK
KLIK
CKREK
"Ke mana mereka? Sepi sekali?"
Rumah Luna sepi tidak ada orang. Drake meletakkan bubur yang ia beli tadi di atas meja.
"Baiklah. Aku letakkan ini di sini saja."
Drake mendengus sesaat, kemudian menoleh ke kanan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
••••••
Begitu sampai di rumah, dilepasnya sepatu but kulit dari Madden Martin miliknya. Ada bagian yang sedikit mangap.
"Huff,, sepertinya aku harus membeli sepatu baru lagi," Drake mengamati robekan pada sepatunya sambil duduk di lantai depan pintu.
TREK
Ia berdiri dan pergi ke kamar untuk mengambil lem sepatu dari laci meja kerjanya.
"Sudah enam tahun lebih kita bersama, apa sekarang kau sudah lelah dan ingin pensiun?" Drake bicara pada sepatunya.
Lalu ia menoleh pada beberapa sepatu ketsnya yang berjajar rapi di rak.
"Kalian semua. Jangan meniru Martin. Berusahalah bertahan setidaknya hingga sepuluh tahun. Jika kalian ikut-ikutan mangap seperti Martin, aku tidak akan memberi kalian lem lagi. Aku akan langsung membuang kalian yang tidak berguna," Drake seperti orang sinting yang bicara pada sepatu.
Usai memberi lem si Martin, Drake menghamburkan diri ke atas kasur.
"Fuaahh! Nikmatnya...."
Mata yang mengantuk itu perlahan menutup. Namun sesaat kemudian mata itu terbuka kembali.
KLIP
Ada apa?
"Yang tadi itu, aku masih bingung."
Ia mengingat kembali peristiwa beberapa saat lalu. Kemudian ditatapnya telapak tangan kanan yang sempat mengeluarkan sinar.
"Ada apa denganku? Apa yang sebenarnya terjadi? Ini bukan di dunia dongeng. Mengapa aku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal seperti tadi?"
Drake terus saja berpikir. Ia mengganti posisi tidurnya dari tengkurap menjadi menelentang, kemudian tengkurap lagi dan akhirnya duduk di pojokan.
Dibukanya genggaman tangan kanannya perlahan. Kemudian ia amati lekat-lekat. Tidak ada sinar seperti yang ia lihat tadi.
"Kenapa menatapku begitu? Tutup mulutmu yang menganga itu. Kau membuatku tidak fokus."
__ADS_1
"Eh buset, tanganku bisa bicara?!!" Drake terkejut sampai terjungkal jatuh dari kasur sebab tiba-tiba saja muncul sebuah mulut dari telapak tangannya.
Dikibas-kibaskannya tangan kanannya itu karena Drake merasa ngeri.
"Berhenti mengibaskan tanganmu! Aku merasa pusing..." tangan Drake meminta agar pemiliknya berhenti menggoyangkannya.
Drake kalang kabut di dalam kamarnya. Ia merasa bahwa dirinya sedang tidak sehat, namun ia sadar betul bahwa saat ini ia sedang tidak berhalusinasi.
"S siapa kau? Apa kau muncul dari dalam dagingku?" tanya Drake ngeri.
"Aku F5. Ya. Aku hidup bersamamu sejak beberapa tahun lalu."
"Tidak. Tidak. Aku tidak pernah melihatmu selama ini. Kenapa kau baru muncul sekarang!" Drake bicara pada tangannya sambil tetap menjaga jarak.
"Hmm, sebenarnya aku sering muncul. Tapi kau saja yang tidak tahu."
"Apa? S sering?"
"Yah.."
"Omong kosong! Keluar dari tanganku. Atau aku akan menusukmu sampai mati!" bentak Drake.
"Silahkan saja jika kau berani. Toh, kau juga yang akan merasa kesakitan."
GLEK
Tanpa menunggu lama lagi, Drake bangkit dan bergegas pergi ke dapur. Diraihnya sebuah pisau lalu dengan cepat ditusuknya tangan kanannya itu tepat di bagian mulut si F5.
CRAK
"Arrgghh! Hosh,, hosh,, Ini gila! Aku melukai tanganku sendiri," Drake mengerang kesakitan.
Ia melihat bahwa tangan kanannya telah tertusuk dan berdarah. Namun, suara itu tetap saja terdengar.
"Percuma, kau tidak bisa mengusirku begitu saja karena aku sudah hidup sangat lama dalam tubuhmu. Jadi bisa dikatakan bahwa aku ini adalah dirimu."
Drake mendengus sambil menarik keluar pisau yang menancap di tangannya.
"Yaah.. itu aku..."
Drake mencoba menghela nafasnya yang sesak, "Baiklah. Aku akan mencoba memahaminya. Tapi ceritakan padaku. Bagaimana mulanya kau bisa ada di dalam tubuhku."
••••••
SSSHUUU
Drake duduk dengan lesu di bangku keramik sandaran bathup. Tempat ia meletakkan kosmetik mandinya yang berjejer rapi. Setelah membalut luka tusuk di telapak tangannya, ia mendengarkan cerita tangan yang dapat berbicara itu dengan seksama.
Jadi begini, saat ia bergabung ke klub gulat beberapa tahun lampau. Drake pernah sekali mengalami cidera. Dan karena cidera itu, ia harus dirawat di rumah sakit.
Dari sanalah, awal mula tangannya hidup. Ia tidak sengaja mendapat suntikan yang terkontaminasi oleh bakteri F5 1833. Dikatakan, bahwa pada masa lalu, bakteri tersebut sangat mematikan dan berhasil membunuh ribuan orang.
Namun demikian, hanya orang istimewa yang mampu bertahan hidup dengan bakteri semacam itu. Selain dapat hidup di tubuh inangnya, bakteri tersebut bisa menetap bertahun-tahun lamanya tanpa menunjukkan gejala apapun.
"Kau masuk lewat darah yang ditranfusikan padaku? Kebohongan macam apa itu?"
"Aku tidak berbohong. Saat itu kau menerima darah emas dari seorang pria. Aku berpindah dari tubuh pria itu ke tubuhmu."
Drake tidak bisa mencerna apa yang ia dengar. Darah emas berbakteri telah masuk ke dalam tubuhnya.
"Seorang pria?"
"Ya. Dia seorang yang istimewa sepertimu dan hidup beratus-ratus tahun bersamaku di masa lalu. Namun beberapa tahun ini, dia memilih untuk berhenti menjadi orang yang istimewa dan akhirnya memilihmu sebagai penerusnya."
"Aku tidak ingin menjadi manusia yang dia pilih. Ini namanya pemaksaan hak asasi!" ia bangkit dan pergi ke dapur untuk mengambil minuman dari kulkas.
"Tidak juga. Tubuh dan darahmu akan menolakku dengan otomatis jika kau tidak menginginkanku. Tapi nyatanya, tubuhmu menerimaku dengan baik. Itu artinya, kau tidak menolak keberadaanku."
Drake mendengus. Mau tidak mau, memang ia harus menghadapi keistimewaannya itu.
BRAK
Drake menutup pintu kulkas dengan sedikit tenaga. Kemudian menuang botol berisi air mineral ke dalam gelasnya.
__ADS_1
"Jadi, apa yang bisa ku lakukan dengan adanya kau di sini?"
"Kau bisa menghentikan waktu dan meraih sesuatu tanpa menyentuhnya. Jika tidak percaya, coba gerakkan kursi itu dari sini."
"Menggerakkan kursi itu?"
"Ya. Fokuslah."
Karena tidak ada pilihan lain, Drake pun menuruti perkataan F5. Diayunkannya tangan kanan tersebut seolah sedang menyentuh kursi.
GRETEK
Kursi itu benar-benar bergeser tanpa ia harus menyentuhnya! Kemudian diulanginya lagi dengan benda lain. Dan hasilnya pun sama. Ia bisa menggerakkan sebuah benda tanpa menyentuhnya.
Drake melongo sambil mengamati tangannya. Ia tidak tahu harus bersedih hati atau berbahagia.
"Ini fantastis! Aku baru saja melakukan hal yang di luar nalar. Apakah ada sesuatu yang harus ku lakukan untuk membayar kekuatan yang ku terima?"
"Tidak ada."
Drake menarik nafasnya dalam-dalam, "Kalau begitu, aku bisa memanggilmu F5, bukan?"
"Ya. Tentu saja. Kau boleh memanggilku dengan sebutan apa saja."
"F5."
"Ya??"
"Apa ada efek samping jika kau terlalu lama berada di dalam tubuhku?
"Hampir tidak ada."
"Hampir? Itu artinya ada kemungkinan terjadi efek samping?"
"Hmm. Hanya saja, kemampuanku bisa melemah jika inangku sedang berci*man dengan seorang wanita."
UHUK! UHUK!
Drake yang sedang menelan air minumnya itu pun tersedak.
"M maksudmu melemah bagaimana?"
"Kau bisa pingsan tiba-tiba."
"K kau serius?"
"Ya."
"Baiklah. Aku bisa menerimanya. Lagipula, aku juga tidak akan melakukan itu dengan siapapun. Hanya saja, aku masih memikirkan sesuatu. Karena kau mempunyai mulut, apa kau juga membutuhkan makanan sepertiku?"
"Ya. Aku makan."
"Eh, makan juga ternyata? Apa yang kau makan? Apakah makanan mentah atau semacam darah?"
"Tidak. Aku tidak perlu menelan makanan dari mulutku secara langsung. Karena jika kau makan, secara otomatis kau sudah berbagi energi denganku. Dengan kata lain, sebagian nutrisi yang kau makan, akan membuatku hidup."
Drake berpikir tentang makhluk dari masa lalu yang ada di tubuhnya itu. Lalu ia juga ingat tentang kapan ia menjadi pria yang doyan makan. Benar! Sejak ia keluar dari rumah sakit kala itu. Ia benar-benar menjadi seorang pencinta makanan.
"Apa karena itu nafsu makanku jadi berlebihan? Bahkan aku terkesan sangat rakus beberapa tahun ini."
"Hehe,, ya maaf. Selera makanku mempengaruhi pikiranmu."
"Sudah ku duga! Selama ini kau mempengaruhi kehidupanku. Lalu, apa kemalasan dan kebiasaan burukku juga pengaruh darimu?"
"Enak saja. Kebiasaan burukmu murni milikmu lah... Aku tidak sejorok dirimu, tau!" F5 tidak mau mengakui bahwa dirinya tidak suka jika Drake mandi atau membasahi tubuhnya. Itulah alasan mengapa ia sering menyetir pikiran Drake.
"Apa? Ck.. kau mengataiku?"
"Mengapa jadi mengatai? Itu kenyataan!"
GLEK
Drake mendesis. Ia benar-benar ingin mengikat mulut F5. Bakteri tidak tahu diri. Sudah menumpang hidup di dalam tubuhnya, masih berani menjelek-jelekkannya.
...----------------...
BERSAMBUNG.......
__ADS_1