HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
DONAT


__ADS_3

BAB 17


PLUP


Lulu selesai memberi salep pada punggung tangan dan lutut Drake yang terluka. Sebenarnya Drake sudah mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Tapi gadis itu memaksa untuk mengobatinya.


"Nah, selesai."


"Eh? Sudah selesai ya? Terima kasih. Kau perhatian sekali pada luka kecilku," Drake meringis sambil sesekali meniup salep yang basah.


"Jangan sungkan," Lulu menutup kotak P3K.


"Ohya, sekarang saatnya menyantap makanan yang ku bawa," lanjutnya meraih plastik makanan darinya.


Disiapkannya kotak makan itu di depan Drake. Bahkan ia membantu menempatkan sumpit ke jari Drake dengan senyuman.


"Ayo silahkan dicicipi. Aku membuatnya sendiri sebelum datang kemari."


Lulu menunggu Drake mengambil makanannya. Begitu pria itu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, mata Lulu berbinar-binar menanti komentar. Kedua tangannya mengepal di depan dada dengan bibir yang tersenyum indah.


ZOOONGG


Begitu makanan buatan Lulu masuk ke dalam mulutnya, Drake mengunyah perlahan. Ia merasakan perpaduan rasa yang aneh dalam daging tumis yang ia makan.


Sebenarnya tidak ada yang salah pada jenis makanannya karena Drake bisa makan apa saja. Tapi daging gosong yang berpadu dengan bumbu yang sepertinya salah campur itu membuat rasanya menjadi sangat tidak enak. Huek!


DAMN!


"Apa ini?? I ini,, sangat tidak enak. Bagaimana dia bisa repot-repot memasak di dapur hanya untuk makanan yang tidak enak ini?? Oh tidak, aku ingin memuntahkannya. Huupp.. aku mual. Tidak. Jangan sekarang! Jangan sekarang!"


Batin Drake heboh sendiri karena menahan rasa ingin muntahnya.


"Bagaimana rasanya, kak? Apakah enak?" Lulu bertanya lagi.


Hidung Drake kembang kempis menahan rasa mualnya. Ia tidak tega untuk mengatakan rasa yang sebenarnya pada Lulu.


"Enak,, hehe,,, kau membuatnya sendiri, ya?" Drake melipat daging diantara lidahnya.


"Syukurlah kalau kau suka, hihihi," padahal baru sekali ini aku mencoba memasak sendiri di dapur."


"Baru sekali? Apa itu artinya aku menjadi kelinci percobaannya?? Aiihh,, Lulu ini, Cantik sih cantik,, sayang sekali,, tidak pandai memasak.. huhuhu..."


Air mata kepedihan mengalir deras dari mata batin Drake. Seakan-akan ia berada di ruang hampa, tersudut dan dipaksa menyantap daging yang membuatnya haru biru.



SET


"Kau tidak apa-apa kak?" pertanyaan Lulu membuat Drake mempunyai ide cemerlang.


"Eh?"


Ia berlagak meminta tolong Lulu menuangkan air putih dari teko ke dalam gelasnya dengan bahasa isyarat.


Karena Lulu mengerti, maka gadis itu segera berdiri dari kursinya dan mendekati meja dapur. Begitu Lulu pergi, Drake melepeh daging yang sejak tadi dikulumnya.


PUIH


"Akhirnya..." begitu pikir Drake.


Namun Lulu cepat kembali dan berjalan mendekatinya. Karena panik, Drake menyentil daging lepehannya dengan kuat.


PLOP


"Ya Tuhan! Bagaimana ini??" pekiknya dalam hati.


Tidak disangka-sangka, daging lepehannya yang alot itu terbang melenting dan mendarat indah di pundak kanan Lulu.


Untung saja Lulu sedang konsentrasi dengan gelas di tangannya.


"Ini kak, minum dulu."


"Eh, iya. Hehehe,,, terima kasih,,," Drake menjawab dengan tidak fokus karena ia fokus pada hal lain.


"Setelah minum, dimakan lagi ya kak. Aku tidak akan pulang sebelum makananmu habis," kata Lulu.


DHUAARRR


"Eh buset! Beneran dia tidak akan pulang sebelum makanan ini habis?? Astagaaa,,, aku harus cari jalan keluar!"


Drake bicara dalam hati lagi.

__ADS_1


Setelah meneguk habis air putihnya, Drake berdiri dan menggiring Lulu ke ruang tamu.


"Eh, Lulu. Aku baru ingat. Di rumah Luna ada Terra. Apa kau mau berkenalan dengannya?" tanyanya sambil berusaha menyentil jauh daging yang tadi jatuh di atas pundak Lulu.


"Yes! Berhasil!" pekik Drake dengan riangnya. Tanpa sadar ia tersenyum sambil memejamkan mata.


"Siapa Terra?" Lulu bertanya sambil menoleh ke arah Drake.


Drake buru-buru membuka mata kembali.


"Terra? Dia itu adiknya Luna, ya, hehehe,,, Sepertinya kalian seumuran. Ayo kita ke rumah mereka," kata Drake bersemangat.


"Tapi itu makanannya?" Lulu menoleh pada makanannya yang tertinggal di atas meja.


"Oh, ini akan ku simpan di kulkas. Nanti malam akan aku makan lagi. Besok biar ku antarkan kotak makannya ke rumahmu," Drake berlari mendapatkan kotak makan Lulu dan menyimpannya ke dalam kulkas.


"Begitu, ya? Ya sudah kalau begitu," Lulu tersenyum.


Drake pun mengangguk manis. Di dalam hatinya ia tertawa senang karena mampu berbohong di depan Lulu, "Baiklah. Ayo kita pergi."


"Hmm."


•••••••


Ketika sampai di rumah Luna, Terra tampak sedang mengangkat jemuran selimut tebal dan memasukkannya ke dalam keranjang.


"Luna belum pulang, ya?"


"Eh? Belum. Kenapa?" Terra menjawab pertanyaan setelah lebih dulu melongokkan kepalanya melihat siapa yang datang.


"Tidak apa. Ngomong-ngomong, aku mau memperkenalkan temanku padamu. Kemarilah," kata Drake sambil duduk di atas dipan kayu yang ada di samping rumah Luna.


"Siapa?" Terra menghentikan kegiatannya dan berjalan mendekat.


"Lulu, kenalkan, dia adik Luna. Namanya Terasi."


"Terasi?"


"Bukan, bukan. Enak saja. Namaku Terra. Hehehe," sela Terra buru-buru seraya memukul lengan Drake.


"Terra ya? Kalau aku Lulu. Senang berkenalan denganmu," kata Lulu.


"Eheheh, iya. Aku juga."


Wah, Terra membalas candaan Drake barusan. Bisa ramai, ini!


"Waaah,, tidak beres. Sampah katamu?" Drake menoleh cepat sambil mendelik.


"Iya,, benar kan? Kau remukan upil yang terkubur di dalam sampah, hahaha,,"


"Haiisss....."


"Hihihi,,,," Lulu tertawa kecil mendengar candaan Terra. Bahkan saat Drake sedang mencubit pipi Terra, ia pun tertawa renyah.


"Kenapa tertawa, Lulu?"


"Kalian berdua lucu. Pasti senang ya, punya teman akrab yang saling ejek untuk lucu-lucuan seperti kalian."


Drake dan Terra akhirnya terkekeh dan saling bertatapan.


"Kau juga teman kami," jawab Drake.


"Eh, iya, ya. Aku sekarang juga berteman dengan Terra," Lulu tertawa kecil lagi.


Pada saat yang tepat, sebuah mobil berhenti di depan rumah mereka. Rupanya, Luna pulang diantar Alan.


"Eh, kalian sedang kumpul di sini? Kau juga Lulu??" tanya Luna saat turun dari mobil dan melihat semuanya sedang mengobrol di samping rumah.


"Iya, kami baru saja datang," kata Lulu.


"Kebetulan sekali. Aku bawa donat," seru Luna sambil menjinjing kotak kardus donat tinggi-tinggi.


"Waah, asyik!" Drake langsung berdiri dan bersiap menerima kardus donat dari Luna.


PLAK


Terra memukul pantat Drake dengan kencang, "Issh,, Apa kau tidak bisa jaga image sedikit di depan gadis?"


"Hehehe,, iya. Maaf,,"


Semuanya pun tertawa melihat kekonyolan Drake. Kecuali Alan. Dia turun dari mobil dan berdiri kaku melihat orang ramai-ramai di rumah pacarnya.

__ADS_1


"Kalian semua sedang apa di sini!" tanyanya.


"Kumpul-kumpul lah, apa kau tidak melihatnya?" jawab Drake.


"Halah. Tidak perlu ngotot jawabnya."


"Siapa yang ngotot?"


"Kau."


Drake hanya melirik Alan sambil berdehem. Ia memang tidak cocok dengan pacar Luna itu. Lebih-lebih saat beberapa waktu lalu tanpa sengaja ia melihat Alan sedang bersama wanita lain.


"Sudah sudah,,, ayo kita makan donat saja,," kata Luna sambil membuka tutup kotaknya.


TARAAA



Ada dua belas buah donat yang ada di dalam kotak. Masing-masingnya terlihat cantik dengan topingnya yang lezat.


HUP!


Tiba-tiba saja Alan menyomot donat toping milk almond lebih cepat dari yang lain.


"Eh? Itu milikku," kata Drake.


"Tidak, aku sudah memilikinya," kata Alan masa bodoh dan langsung menjilati seputar donat almond tersebut lantas menggigitnya dengan ejekan.


"Hihihi,,,," Luna tertawa karena pacarnya tumben-tumbenan jadi konyol.


Luna mengambil donat strawbery frost lalu Terra donat keju sedangkan Lulu memilih meses coklat. Ketika Drake kembali hendak mengambil donat dengan rasa tiramisu, Alan lagi-lagi mencegat tangan Drake dan mendahuluinya.


CUP!


"Ini milikku juga," kata Alan nyengir.


"Haiss, sialan. Bukankah barusan kau sudah ambil? Aku tahu kau sengaja melakukannya."


"Hmmmm... enaaakk.." Alan dengan sengaja mengejek Drake.


Karena rasa yang disukai Drake sejak kecil sudah diambil Alan, akhirnya ia mengambil rasa apa saja yang ada di sana.


Sebenarnya, ia juga pernah membawakan donat seperti ini untuk Luna. Tapi waktu itu tidak ramai-ramai seperti ini. Jadi ia dan Luna makan sepuasnya sampai sakit gigi.


SRET


Setelah makan satu, Drake bangkit dan menjauh. Ia duduk di tembok pagar rumah untuk merokok.


"Kau masih merokok?" tanya Luna.


"Hmm..."


"Kapan akan berhenti?"


Drake menghela nafas, "Entahlah. Mungkin nanti kalau aku sudah menikah."


"Hmppp... menikah?" Terra terkekeh.


"Kenapa memangnya?" Drake menoleh.


"Mana ada gadis yang mau menikah denganmu kalau mereka tahu kau tidak pernah mengganti celana dal*m,," Terra yang punya karakter ceplas ceplos itu keceplosan di depan banyak orang.


"Terra..." Luna mencubit adiknya yang bicara keterlaluan di depan orang lain.


"Aduuuhh.. maaf...." bisiknya pada Luna.


"Apa aku salah dengar? Buahahaha! Ternyata kau orang yang jorok. Tampangmu saja yang tampan tapi kebiasaanmu buruk sekali," kata Alan.


"Akgh! K kau melebih-lebihkan soal itu," Drake merasa Terra menjatuhkan harga dirinya di depan Lulu dan Alan. Sehingga ia pun menurunkan ke bawah, tangannya yang memegang rokok.


Drake tidak menyangka, Terra akan melebih-lebihkan cerita yang ia dengar dari Luna itu. Memang benar Drake malas mencuci pakaiannya, tapi bukan berarti dirinya tidak pernah mengganti celana dal*m yang sepenting itu.


Lulu memperhatikan Drake yang membuang muka ke arah lain. Ia sempat melihat warna merah yang muncul di wajah Drake tadi.


Ia merasa kasihan pada Drake. Ia menganggap Terra sedikit keterlaluan dalam bercanda.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2