
BAB 18
HOAAAHEEMM!
Suara menguap Drake menggema di seluruh ruangan rumahnya. Hal yang pertama ia ambil adalah ponselnya. Untuk melihat jam.
Sambil menggeliat dan tidur tengkurap, ia menatap layar ponselnya yang berwarna gelap. Rupanya ada sebelas pesan dari Terra. Anak itu meminta maaf soal ucapannya kemarin sore.
"Kau mau memaafkan dia? Bagaimana kalau kita ledakkan saja mulutnya dengan petasan??" tanya F5 bersemangat.
Drake meletakkan ponselnya ke kasur dan diam mematung sebentar. Kemudian ia mengusap wajahnya dengan perlahan.
"Ngawur. Mana bisa menyalakan petasan di mulut seseorang?"
"Tentu bisa. Bahkan kau sendiri bisa melakukannya dari sini."
"Eh buset. Sadis amat. Memangnya aku ini penjahat? Kau suruh meledakkan mulut seseorang?"
"Hehehe,, lantas apa yang akan kau lakukan?"
"Tidak ada."
"Eh, memaafkan begitu saja?"
Drake berbalik dan menatap langit-langit kamarnya, "Aku tidak bilang begitu."
"Ehh?"
"Aku akan mengerjainya sedikit, hikhikhik,," tawa Drake terdengar seperti hantu bengek.
Usai mengucapkan itu, Drake bangkit dan mendekati jendela kamarnya. Kebetulan, jendela lantai atas rumah Luna terbuka lebar. Maka dengan leluasa ia melihat Terra sedang memblender buah tomat.
Selesai dengan jusnya, Terra menuangkan sedikit ke sebuah gelas dan membawa gelasnya tersebut ke meja makan. Ia meletakkan gelasnya begitu saja di atas meja dan berdekatan dengan botol saus pedas. Sedang ia sendiri pergi lagi untuk membuat telur ceplok.
Drake mengawasi situasi yang sepi dan aman terkendali. Jarum jam juga masih menunjuk pukul tujuh pagi. Mungkin saja Luna sedang mandi dan bersiap pergi bekerja.
AHA!
Muncul sebuah ide cemerlang di kepalanya! Selain untuk menjahili atau balas dendam kecil-kecilan, Drake juga ingin mengetes kekuatannya.
Maka dari kamarnya ia menggerakkan botol saus yang ada di atas meja makan tersebut. Membuka tutupnya, lalu menuangkannya ke dalam jus tomat milik Terra. Tidak banyak kok. Hanya setengah botol. Hahaha!
PLOP PLOP
Setelah saus pedas tertuang ke dalam gelas, Drake mengaduknya perlahan tanpa suara dengan sedotan yang ada di dalam gelasnya agar saus cabe dan jus tomat bercampur dengan baik.
Sempurna!
Tepat saat ia selesai dengan aksinya, Luna datang dengan energi segar. Gadis itu benar-benar baru selesai mandi. Terbukti dengan handuk yang tergulung tinggi di kepalanya. Sambil menunggu adiknya membuat telur ceplok, Luna menuang air putih ke dalam gelasnya.
"Hihihi,, aku ingin melihat ekspresi anak itu. Pasti lucu sekali," kata Drake.
Tidak lama kemudian, Terra selesai menggoreng telur untuk dirinya dan Luna. Sambil duduk ke kursinya, ia meraih gelas jusnya.
SLURRPPP
Terra menyeruput jus tomatnya dengan enaknya seperti orang kehausan. Tapi begitu ia merasakan rasa pedas saus di dalam jus tomatnya, Terra langsung kepedesan. Ia mengibaskan kedua tangannya. Mengipasi kepalanya sambil lidahnya menjulur keluar.
"Pedas! Pedas! Huah!" Terra kelabakan mencari air putih.
Drake terkekeh melihat ekspresi Terra yang kepedesan seperti itu. Saking senangnya dengan hasil kejahilannya, Drake cekikikan sambil memukuli dinding.
"Hikhikhik! Astaga, dia lucu sekali. Lihat wajahnya sampai merah persis seperti tomat," di sela tawanya, Drake mengarahkan telapak tangannya agar F5 bisa melihat ekspresi Terra.
"Akakakak! Kau benar. Tidak ku sangka, kau tega juga melakukannya," kata F5 yang tertawa bersama Drake.
"Itulah balasannya jika bercanda keterlaluan," jawab Drake santai.
"Kau pendendam juga, ya?"
__ADS_1
NGIK!
"Hiss,, bukannya dendam. Hanya saja, anak itu perlu diberi sedikit hukuman."
"Baiklah, baiklah. Terserah kau saja. Tapi jujur aku suka ini sih,, Wakakaka," F5 tertawa lagi.
Luna yang penasaran kenapa Terra bisa merasa kepedasan padahal yang ia minum itu jus tomat pun bertanya dengan heran.
"Pedas? Memangnya itu minuman apa?" Luna meraih gelas jus adiknya.
"Aku membuat jus tomat. Benar-benar dari tomat! Suerr!! Tapi entah bagaimana caranya, ini menjadi jus cabai! Serius!" Terra menjelaskan pada kakaknya.
"Masa sih?" karena Luna tidak percaya, diicipinya jus tersebut dan ia pun merasakan hal yang sama.
"Benar, kan?"
"Iya. Ini pedas sekali. Kok bisa?" Luna heran dan bertanya-tanya. "Yakin kau membelender tomat bukannya cabai?" lanjutnya.
"Aku serius. Aku memblender tomat yang kau beli kemarin."
TRING
Terra ingat bahwa ia hanya menuang sedikit ke dalam gelasnya dan menyisakan di teko blender.
"Nah, coba rasakan yang ini," ia menuangkan jus tomat lagi di gelas yang lain.
SLURRPP
Luna meneguk jus baru yang baru dituang. Itu jelas-jelas rasa tomat segar. Lalu bagaimana pula jus yang di gelas Terra berubah rasa??
"Jangan-jangan. Rumah ini ada hantunya!" pekik Terra takut.
"Ngaco kamu! Mana ada hantu di pagi hari?? Buat apa juga hantu menukar jus tomatmu menjadi saus cabai??" kata Luna.
Terra berpikir sejenak, kemudian ia coba mengingat-ingat kesalahan apa yang ia buat kemarin.
"Ah!"
"Apa mungkin, hantu ini balas dendam padaku karena kemarin aku berbuat salah pada Drake???"
"Sontoloyo! Hantu apa lagi maksudmu," Luna celingak-celinguk memperhatikan seisi rumah mereka.
"Mungkin, dia salah satu penggemar gelap Drake yang marah padaku karena bicara keterlaluan tentangnya kemarin!" Terra mendekati Luna sambil menempelkan tubuhnya rapat-rapat sebab takut.
Luna sedikit termakan pikiran adiknya. Bisa jadi memang ada hantu di rumahnya. Hantu penggemar Drake?
"K kalau begitu, cepat minta maaf pada Drake sekarang juga. Jangan biarkan kesalahanmu itu berlarut-larut. Kau bisa diteror hantu penggemar Drake itu selamanya," pekik Luna seraya mendorong-dorong Terra agar keluar rumah menemui Drake.
"Aku sudah mengiriminya pesan, kok."
"Lalu? Sudah dibalas?"
"Belum."
"Nah, itu dia. Itu yang membuat hantu di rumah kita marah. Kau meminta maaf hanya lewat pesan. Itu tidak sopan. Temui dia cepat," kata Luna.
"Harus, ya?"
"Iya harus. Ayo cepat!"
"B baiklah," Terra berjalan keluar menuju rumah Drake disusul Luna.
Melihat Terra dan Luna kini sedang menuju rumahnya, Drake pecicilan naik kembali ke atas kasurnya. Disembunyikannya tubuhnya itu di dalam selimut dan berpura-pura tidur kembali.
Sambil menunggu kedua gadis itu sampai ke kamarnya, ia tak berhenti tersenyum karena berhasil melakukan hal gila untuk mengerjai Terra.
KLING KLING
Suara pintu rumah Drake dibuka. Masuklah Luna dan Terra ke dalam dan langsung mencari pria yang tinggal sendirian itu.
__ADS_1
"Drake??" panggil Luna.
Karena rumah itu sepi dan masih dengan lampu yang padam, Luna dan Terra pun masuk ke dalam kamar utama. Mereka tahu bahwa Drake masih belum bangun.
"Drake?? Apa kau belum bangun?" Luna bertanya sambil menatap beberapa gulungan kertas yang diremas berserakan di lantai.
"Dia begadang semalaman lagi, ya?" Terra menyentuh meja kerja Drake yang penuh dengan tumpukan kertas berisi sketsa gambar.
Belum lagi tablet digital yang masih menyala itu juga menampakkan hasil coretan anime buatan Drake yang belum selesai.
"Sepertinya begitu."
Hening. Masih saja hening. Terra pun berjalan mendekat ke sisi Drake. Ia menjulurkan lehernya untuk melihat ke dalam selimut. Tampak di sana bahwa Drake masih pulas tidur.
Karena ia pikir pria itu tidak mendengar suaranya, akhirnya Terra berinisiatif untuk mengguncang-guncang tubuh Drake.
"Drake, bangun..." Terra menarik selimut yang dipakai Drake.
"Hmmm..." Drake berlagak membuka mata sebentar lanjut merem lagi.
"Bangun sebentar. Aku mau bicara denganmu,,," kata Terra dengan suara manja.
"HOAAAHEEMM... Mau bicara apa??" Drake menggeliat sambil menguap.
"Buka matamu," ucap Terra seraya menarik tangan Drake agar bangun.
Dengan sandiwara yang sempurna, Drake berlagak baru bangun tidur, "Pagi-pagi begini mengapa ribut sekali? Sebenarnya, apa yang mau kau bicarakan?"
Drake mambuka mata dan dilihatnya dengan jelas bahwa Luna berdiri tepat di hadapannya.
"Apa kau mau tidur terus seharian? Hmm?" Luna menjewer telinga Drake.
"Eh buset! L Luna?? Apa yang kau lakukan??"
"Hmm. Ayo bangun, Terra mau bicara denganmu," katanya.
"Ya sudah bicara saja. Mengapa harus memaksaku bangun? Aku mengantuk sekali.." Drake merebahkan tubuhnya kembali ke kasur.
Tapi Luna segera menjewer telinga Drake lagi. Kali ini lebih kencang dan lebih lama.
"Adu duhh... lepasin dong,,"
"Melek dulu!"
"Iya iya."
Drake duduk dan mendengarkan permintaan maaf dari Terra. Anak itu berjanji tidak akan berkata keterlaluan lagi tentang dirinya. Baguslah! Hehe...
"Hmm.. Sudahlah. Aku juga sudah melupakan hal itu," jawab Drake bohong :D
"Yang benar?"
"Iya. Memangnya ada apa?"
Luna dan Terra saling berpandangan. Mereka tidak menceritakan soal hantu penggemar Drake yang menjahili Terra pagi ini.
"Tidak ada apa-apa sih. Aku hanya merasa, aku harus meminta maaf padamu."
"Hmm.."
SIPP!
Akhirnya, Terra meminta maaf pada Drake tanpa mengetahui bahwa sebenarnya, Drake sendiri lah yang dikira hantu oleh dirinya dan Luna.
Hihihi,,, dasar Drake jahil. 😄
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG....