HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
DASAR DRAKE ISENG


__ADS_3

BAB 29


BRUM


Drake memasuki halaman kantor polisi untuk mencari informasi. Dirinya berniat menanyakan soal anak hilang pada salah satu kawan lamanya yang menjadi polisi di sana.


"Apa itu kau Drake! Ke mana saja kau selama ini?" sapa seseorang penuh kerinduan.


"Hei, Arthur," Drake mendekati Arthur sambil tertawa dan mereka pun berpelukan.


Setelah melepas kangen, Drake pun mulai mengutarakan maksud kedatangannya, "Aah,, aku ke sini untuk meminta bantuanmu."


"Bantuan? Apa itu?"


"Kemari. Em,, apa beberapa waktu ini ada seseorang yang membuat laporan tentang anak hilang?"


"Anak hilang? Tunggu sebentar, ayo ikut aku. Aku akan memeriksanya lebih dahulu," Arthur mengajak Drake menuju meja kerjanya.


SRET SRET


Setelah Arthur memeriksa laporan yang masuk selama beberapa minggu, ia mendapatkan sepuluh kasus kehilangan anak.


"Kira-kira ada sepuluh kasus yang kami tangani. Coba lihat sendiri," kata Arthur.


"Apa boleh?"


"Tentu."


Drake pun memeriksa laporan kehilangan yang dibuat beberapa keluarga. Dari sekian banyaknya, ia menemukan nama Samuel dengan foto anak hilang yang persis seperti Joy.


"Pria ini. Apa dia sedang mencari anak ini?" tanya Drake sambil mengambil gambar Samuel yang ada pada komputer dengan ponselnya.


"Benar. Dia mengatakan, ponakannya kabur dari rumah setelah mencuri arlojinya."


"Mencuri?"


"Hmm. Seperti itu dia bilang."


Drake menggeser kursinya hingga dekat dengan Arthur.


"Arthur, jika aku menceritakan sesuatu diluar nalarmu, apa kau mau mempercayaiku?"


"Eh? Ada sesuatu yang terjadi?"


"Hmm. Ada sesuatu yang penting untuk kau ketahui. Tapi aku minta, kau tidak gegabah dan percaya padaku."


Arthur menatap kawannya itu dengan seksama. Sejak SMA dulu, ia dan Drake adalah sahabat dekat. Hanya setelah kelulusan, ia kehilangan kontak dengannya karena Drake kabur dari rumah.


"Hmm. Aku percaya padamu. Jadi katakanlah," Arthur mengangguk yakin.


"Kau lihat anak ini?"


"Yah. Tertulis di sini namanya Joy."


Drake mengangguk, "Dia ada di rumahku."


"Apa??"


"Sebenarnya, beberapa waktu lalu aku berhasil menyelamatkannya dari sebuah kecelakaan," Drake berusaha bicara lirih.


"Kecelakaan?"


"Hmm. Dia meluncur di dalam sebuah mobil yang melaju kencang menuju jalanan. Namun anehnya, tidak ada seseorang pun yang mengemudi mobil tersebut."


"Maksudmu, dia sendirian di dalam mobil dengan kecepatan tinggi, begitu?"


"Tepat sekali," Drake menjentikkan jarinya.


"Kalau begitu, ada seseorang yang sengaja melakukannya. Lalu, bagaimana keadaannya?"


"Dia selamat dan sehat. Namun yang membuatku prihatin, dia memperdengarkan padaku sebuah pembicaraan yang sempat ia dengar sebelumnya. Tentang seseorang yang memukuli orang tuanya dan memerintahkan untuk membunuhnya."


"Apa? Kau yakin itu?"


"Ya. Kau bisa datang ke rumahku untuk melihatnya. Tapi ingat, jangan sampai orang lain tahu soal keberadaannya yang saat ini tinggal bersamaku."


"Baiklah. Aku akan mampir nanti sepulang bekerja. Aku perlu mendengarkan semuanya sendiri."


"Baiklah. Aku pergi dulu kalau begitu," Drake menepuk lengan kiri Arthur.


"Hmm. Sampai jumpa nanti."


Pada saat Drake hendak pergi, datanglah seorang pria berdasi diiringi beberapa anak buahnya yang berpakaian hitam-hitam.


"Bagaimana perkembangan kalian dalam pencarian keponakanku?" tanya Sam sambil duduk di kursi depan meja kerja Arthur.

__ADS_1


Drake berbalik dan mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia mengenali wajah itu setelah sempat mengambil gambarnya dari komputer Arthur beberapa menit lalu.


"Em, untuk saat ini kami masih terus berusaha untuk mencarinya," jawab Park, teman kantor Arthur.


"Aissh, kenapa lelet sekali? Minggu lalu kalian bilang masih dalam pencarian, sekarang pun masih sama. Jadi apa yang kalian semua kerjakan??!" Sam menggebrak meja berteriak pada semua petugas polisi yang ada di sana.


"Mohon tenanglah. Anda ada di kantor polisi. Sebaiknya jaga sikap anda," kata Arthur.


"Ck,," Sam mendecakkan lidah karena kesal.


Sebenarnya ia mencari Joy hanya untuk mendapatkan cap sidik jarinya saja. Sebab, untuk memindah nama kepemilikan perusahaan, ia masih harus membutuhkan cap dan persetujuan dari Joy.


Karena belum mendapatkan hasil memuaskan, Samuel pun pergi setelah membuat kegaduhan.


Setelah keadaan kembali tenang, Drake melambai pada Arthur sambil berjalan keluar, "Jangan lupa nanti malam!"


Arthur pun mengangguk dan balas melambaikan tangan.


•••••


SLURRRPPP


"Aaachhh..." suara saat Drake menyeruput kopi panasnya sambil duduk di kursi makan.


"Paman, kenapa kau memintaku duduk di sini?"


"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," jawab Drake santai.


"Siapa, paman?"


"Tunggu saja. Sebentar lagi dia datang."


Joy yang duduk di kursi sebelah Drake itu menganggukkan kepala dan menggoyangkan kakinya yang menggantung. Sesekali ia menyedot pelan susu coklat dalam gelasnya.


PIP


PIP


Mendengar bel rumahnya berbunyi, Drake beranjak dari tempat duduknya.


"Kau tunggu di sini. Aku akan membukakan pintu sebentar."


Drake membukakan pintu untuk tamu yang ditunggunya. Malam ini, tidak ada jam lembur. Jadi Arthur bisa mampir ke rumah Drake seperti yang ia janjikan.


"Ayo masuk."


"Joy, kenalkan. Dia temanku, namanya paman Arthur."


"Aahh,, namaku Joy. Senang bertemu denganmu, paman."


Arthur tersenyum seraya duduk di sebelah Joy, "Jadi, kau yang namanya Joy ya?"


"Iya," Joy sedikit menjaga jarak.


"Kau tinggal di sini? Di mana rumahmu?" tanya Arthur lagi.


"Hmm. Aku tinggal bersama pamanku yang baru. Di sini juga lebih menyenangkan."


"Begitu, ya? Lalu rumahmu? Em, bagaimana ayah dan ibumu? Apa kau sudah memberitahu mereka, kau lebih senang menginap di rumah paman Drake?"


Joy menoleh sedih, "Paman Sam memukuli kepala ayah dan ibuku."


"Hahaha,, terimalah kematianmu Brandon. Tenang saja, aku akan menggantikan posisimu dan memimpin perusahaan dengan baik. Aset warisanmu, akan menjadi milikku."


"Tidak! Jangan sakiti putraku!"


"Buat seolah dia mengalami kecelakaan murni. Dengan kematian ahli waris kecil ini, semua orang tidak bisa menggangguku."


Joy mengulang kembali rekaman percakapan yang ia dengar. Namun, usai mengucapkan semua itu, tubuh Joy menjadi lemas. Drake buru-buru menangkap tubuh kecil itu.


"Kau tidak apa-apa, Joy?"


Joy yang lemas hanya mengangguk sambil bersandar pada lengan Drake.


"Aku mengerti. Aku rasa, anak ini mengatakan sesuatu yang benar-benar ia dengar sebelumnya," kata Arthur.


"Hmm. Apa yang harus kulakukan setelah ini? Apa tidak apa-apa mengajak dia tinggal bersamaku untuk sementara ini?"


"Keputusanmu sudah benar, Drake. Sepertinya, kau harus melindungi bocah ini sampai masalahnya selesai. Jika aku melihat, kasus ini cukup serius. Orang yang bernama Samuel itu sepertinya tengah memburu anak ini untuk mendapatkan sesuatu."


"Aku juga berpikir sama. Yang jelas, mereka mengincar warisan yang ditinggalkan orang tua Joy."


Arthur diam dan berpikir.


"Oh ya, kau bisa mencari tahu pengacaranya. Jika dia ahli waris keluarga kaya, sudah tentu ada seorang pengacara yang mempunyai wewenang untuk mengurus semua haknya."

__ADS_1


"Kau benar. Aku akan memulai dari sana."


"Baguslah."


•••••••


CRAK CRAK..


Drake tampak sedang memangkas rumput-rumput liar yang tumbuh di halaman rumahnya menggunakan sebuah gunting taman.


Saat sedang berkonsentrasi, seseorang datang dan bersandar pada tembok pagarnya. Orang itu tersenyum memperhatikan kesibukan yang sedang Drake lakukan.


"Wah, kau rajin sekali," sapa Luna.


"Kau? Sedang apa di sana? Sini dong, mending bantu aku mencabut rumput," kata Drake.


"Ogah. Sudah cantik rapi begini mana bisa mengotori diri sendiri dengan semua itu. Huff,, sudah jam delapan. Aku pergi dulu, ya. Oh ya, apa kau sekarang mencuci pakaianmu sendiri? Beberapa hari ini aku memeriksa cucian motormu, tapi tidak ada satupun yang kutemukan," Luna penasaran.


"Hmm... " gumam Drake.


"Oohh,, begitu,,,"


"Kenapa, apa kau merindukan momen saat mencuci pakaianku?" Drake berdiri sambil menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya.


"Cih,, pede sekali."


Drake berjalan mendekati Luna. Kemudian dengan sengaja dan secara tiba-tiba, ia menyodorkan sesuatu persis di depan muka Luna.



"KYAAAAA!! U ulat! Ulat menjijikkan!" Luna berteriak takut melihat ulat hijau yang menggeliat. Wajahnya menjadi merah karena benar-benar takut dan geli.


Lebih parahnya, Drake malah melempar ular tersebut hingga menempel dan mendarat di seragam yang dikenakan Luna. Tepatnya di bagian dada.


"KYAAA! KYYAAA! KYYAAAAAA!" Luna melompat dan berteriak ketakutan sambil berusaha menjatuhkan ulat tersebut dari tubuhnya.


"DRAAAAAAKKKKEEEE!!!"


Melihat ekspresi ketakutan Luna yang berlebihan, Drake pun merasa menyesal. Yang awalnya ia tertawa dan tersenyum lebar, hanya dalam beberapa menit saja senyuman bahagia itu berganti menjadi senyuman kecut.


Dengan cepat ia mengambil kembali ulat tersebut dan melemparnya ke semak-semak.


Usai Drake membuang ulat dari seragamnya, Luna langsung menendang tulang kering kaki kiri Drake.


DUKK!


"Aduuuhh..." pekik Drake sambil membungkuk memegangi kakinya.


"Rasakan pembalasanku! Beraninya menakut-nakutiku dengan ulat menjijikkan itu," ucap Luna ngos-ngosan. Ia masih saja merinding membayangkan kenyalnya si ulat hijau.


"Ehehehe,, iya,, maaf,,"


"Huh!!" Luna berkacak pinggang.


DRAP DRAP


"Ada apa nih ribut-ribut? Sepertinya kalian baru saja bertengkar?" Terra datang sambil menghisap permen lolipop.


"Dia menakut-nakutiku menggunakan ulat hijau. Dasar! Membuatku kesal saja," Luna menggerutu sambil pergi meninggalkan rumah Drake.


"Heh? Serius Drake?"


"Ehehehe,,," Drake manggaruk kepalanya.


"Ish ish ish! Dasar kau ini. Sudah tahu Luna itu takut pada hal-hal seperti itu, kau masih saja mengisenginya," Terra menyikut perut Drake.


"Aku tidak tahu kalau dia akan setakut itu," Drake terus memperhatikan Luna yang sudah berada jauh darinya.


"Kau tidak peka! Dia takut pada cicak, sudah tentu dia takut pada hal yang kenyal-kenyal semacam itu."


"K kenyal-kenyal?"


Terra menatap tajam Drake. Tatapan matanya bergantian menatap dan menunjuk ke arah celana pendek di atas lutut yang dikenakan Drake dengan dagunya.


"A apa yang kau lihat?" Drake dengan spontan menutup bagian anunya dengan tangannya.


Terra hanya tersenyum. Lalu melangkah pergi sambil cekikikan.


"Huffh.." Drake menghela nafas sembari menatap Terra pergi.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2