HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
ZOO


__ADS_3

BAB 62


DEG


Drake kaget bukan main saat mendengar pernyataan tersebut dari mulut Arthur. Ia menoleh cepat sambil membelalakkan mata.


Ia yang semula berniat menceritakan hubungannya dengan Lulu itu pun hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata-kata.


Seraya meneguk ludah, ia menatap lurus ke depan dan mengingat kembali apa yang ia lakukan semalam bersama Lulu. Mereka berciuman dan sepakat untuk berkencan.


"Apa kau punya nomornya?"


Drake masih melamun saat Arthur bertanya. Untuk itu, Arthur mengulang kembali pertanyaannya.


"Hey kawan. Apa yang sedang kau pikirkan? Bagaimana,, apa kau punya nomor Lulu??"


Karena Arthur menepuk kakinya, Drake tersadar dan menjawab dengan tergagap.


"Ah? A apa? Nomornya? A aku tidak punya," jawabnya akhirnya.


"Hmm. Begitu, ya."


SRRRKKK


SRRRKKK


"Petugas Arthur! Apa kau sedang patroli?"


Suara dari protofon yang ada di saku baju Arthur berhasil mengejutkannya. Dengan cepat Arthur berdiri dan menerima panggilan dari atasannya.


Karena mendapat tugas, Arthur pun berpamitan untuk pergi. Tepat saat ia berbalik pergi itu, ia dikejutkan dengan sosok wanita cantik berambut pirang yang berdiri menatap Drake.


"Bukankah kau E Eloise?" serunya tidak percaya.


Arthur menoleh ke arah Drake yang masih duduk dan terkesan tidak peduli pada tamunya.


"Hai. Apa kabar? Apa kau masih ingat padaku?" melihat wanita cantik dan seksi, Arthur jadi gugup.


Eloise menundukkan kepala sedikit sebagai salam sapaan. Sebab ia belum pernah melihat pria di depannya.


"Siapa?" tanyanya.


"Arthur. Aku Arthur, teman sekolahmu dulu," jawab Arthur semangat.


"Oohh..." Eloise sedikit kaget.


"Eh? Hanya "Ooh" ??"


"Maaf, aku harus bicara dengan Drake. Apa kau bisa menemuinya lain waktu?" Eloise meminta Arthur pergi.


"Oh,, tentu saja. Hehe," Arthur menyadari bahwa keberadaannya di sana hanya menjadi pengganggu saja.


Belum juga Arthur meninggalkan rumah Drake, Drake bergegas pergi dan melewati Eloise begitu saja.


"Drake. Beri aku waktu untuk bicara," Eloise menarik tangan Drake


Namun, Drake tidak peduli dan seolah tidak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Eloise. Ia menepis tangan iparnya itu dengan cepat.


"Ada apa dengan mereka? Apa hubungan di masa lalu masih berjalan di sini?"


Arthur yang penasaran dan melihat adegan canggung di antara Drake dan Eloise itu langsung membatin.


"Aku hanya ingin tahu, apa kau baik-baik saja?" tanya wanita itu akhirnya.


"Ya."


"Syukurlah. Kau membuatku cemas saat berkelahi seperti tadi," Eloise menunjukkan wajah yang benar-benar cemas.


"Pergilah. Aku tidak mau menemuimu lagi," ucap Drake benar-benar pergi dan langsung menutup pintu rumahnya.


Arthur terperanjat. Drake berkelahi? Dengan siapa kali ini? Karena ia tidak mendapat jawaban dari siapapun, maka diperhatikannya sosok Eloise yang tampak sedih.


"Em, maaf Loise. Apa kau balikan lagi dengan Drake? Bagaimana kau tahu dia sempat berkelahi?" tanyanya.


Eloise menoleh ke belakang dan menatap Arthur seperti dulu. Tatapan yang sama ketika Arthur terus saja merecokinya pada saat ia dan Drake sedang berduaan.


"Eh?? Ehehe,," Arthur gugup sebab Eloise melangkah ke arahnya secara perlahan. Maka ia pun mundur sedikit demi sedikit.


"Aku melihatnya sendiri, di perusahaan mertuaku," jawab Eloise.


"A apa? M mertua? Jadi kau sudah menikah? Lalu kenapa kau dan Drake,,," Arthur kaget.


"Dia iparku."


"I ipar??"


"Aku menikah dengan Pitt."


HAH??


Arthur lebih terkaget-kaget mendengar kabar ini. Bagaimana bisa, Drake yang memacari Elouise selama bertahun-tahun tapi justru Pitt lah yang menikahinya.


Wah, wah wah!


Arthur benar-benar ketinggalan berita. Sejak lulus sekolah, ia pindah ke luar kota karena ayahnya yang seorang guru mendapat surat perpindahan tugas ke daerah lain (mutasi).


Sejak itu ia tidak lagi mendengar atau berhubungan dengan kawan-kawan sekolahnya dulu.


•••••••


Siang itu,


Lulu sedang mengemasi barang-barangnya di perpustakaan umum. Hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di sana. Sebagai karyawan kontrak selama dua tahun, ia melakukan tugasnya dengan sangat baik.


"Hufff,, setelah ini, aku akan bekerja di mana? Sepertinya tidak mudah mencari pekerjaan di jaman sekarang," kata Lulu di sela-sela kesibukannya.

__ADS_1


TRUK


TRUK


Ia menumpuk beberapa buku dan novel karya Alfa One miliknya.


"Tidak pernah ku bayangkan, aku akan berpacaran dengan novelis favoritku, hihihi," Lulu tertawa senang.


Setelah semua barangnya rapi, ia teringat malam terakhir di rumah Drake. Karena teringat moment romantis di antara mereka, lantas ia menutup wajahnya.


"Astaga,,, Aku tidak bisa melupakan betapa manisnya itu," Lulu heboh sendiri. Ia memegangi kedua pipinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena amat senang.


Tiba-tiba ia berhenti dan ingin melakukan sesuatu, "Oh iya, aku akan melihat sedang apa dia sekarang."


Digerakkannya tangan kanannya seperti mengusap ke arah luar. Maka saat itu juga muncullah gelembung cermin di hadapannya. Ia tidak takut seseorang memergokinya, sebab hanya dirinya seorang yang bisa melihatnya.


Begitu cermin mata-mata itu terbuka, Lulu melihat Drake sedang berdiri dengan setengah bersandar pada dinding di samping sepedanya.


"Drake di parkiran? Benarkah?" Lulu merasa mendapat kejutan.


Maka, dengan cepat ia menutup kembali cermin mata-matanya lalu meraih tas selempangnya dan bergegas keluar.


TAP


TAP


TAP


Ia melangkah keluar dengan amat bersemangat. Benar saja, begitu ia keluar dari perpustakaan, dilihatnya Drake sedang berdiri memainkan kakinya dengan kedua tangan berada di saku celana.


"Drake!!" panggilnya sambil melambaikan tangan.


Yang dipanggil pun menoleh dan tersenyum senang.


"Apa kau sudah mau pulang?" tanya Drake.


"Iya. Sedang apa kau di sini?"


"Em, aku hanya ingin bertemu denganmu. Apa kau sudah makan?"


"Belum, sih. Ini aku baru mau cari makanan. Kau mau menemaniku makan?"


"Hemm, ayo," angguk Drake.


Lulu mendekati sepedanya dan langsung menuntunnya.


"Kau mau naik itu? Lalu bagaimana mobilku?" Drake bengong.


"Eh?"


Tanpa berpikir dua kali, Drake mengangkut sepeda Lulu dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


"Begini lebih baik, bukan?" senyumnya.


"Aku rasa juga begitu, hihi," sahut Lulu.


"Kau ingin ke mana?"


"Hmm.. apa harus aku yang memilih?"


"Ya. Hari ini aku ingin menemanimu ke manapun kau mau," jawab Drake.


"Sungguh?"


"Kalau begitu, bagaimana kalau ke Zoo?"


"Zoo? K Kenapa kita pergi ke sana?" tanya Drake heran.


"Katamu kau ingin menemaniq ke manapun aku mau?"


"Iya juga sih. Tapi..."


"Kenapa? Apa kau tidak mau?"


"Tidak, tidak. Bukan begitu. Baiklah, ayo pergi ke Zoo!" seru Drake dengan semangat.


"Ayoo! Hihihi!" sahut Lulu tak kalah semangatnya.


•••••••


Setelah di kebun binatang, Drake dan Lulu tampak sedang berjalan beriringan. Mereka melewati kandang harimau putih yang sedang berjemur bersama anak-anaknya.



"Eh, itu harimau putih!" pekik Lulu.


Drake tersenyum maklum melihat tingkah Lulu. Sebagai gadis yang hidup tanpa orang tua dan tinggal bersama paman dan bibinya sejak masih muda, ia mungkin saja tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti saat ini.


"Pergilah ke sana, aku akan mengambil gambarmu."


"Oke!"


Usai mengambil gambar Lulu, Drake duduk dan memperlihatkan hasil jepretannya.


"Bagus bagus... tapi sepertinya ada yang kurang.." kata Lulu.


"Benarkah?"


"Hmm."


Saat melihat beberapa orang lewat, Lulu langsung ingat akan sesuatu. Ia meminta tolong pada pengunjung lain untuk mengambilkan gambarnya bersama Drake.


"Maaf nona, maukah kau membantuku mengambilkan gambar?"


"Oh? Iya boleh boleh,,,"

__ADS_1


Tanpa ba bi bu lagi, Lulu menghampiri Drake dan berpose ceria. Ia terlihat amat manis saat itu.


JEPRET


Wanita yang dimintai tolong itu mengambil beberapa gambar manis Drake dan Lulu. Begitu selesai, lantas ia mengembalikan ponsel Lulu dan meminta ijin pergi.


"Terima kasih, nona," ucap Lulu sopan.


"Iya, sama-sama."


SRET


"Hihihi... ini baru benar. Sudah jauh-jauh kemari, kalau kita berdua tidak ambil foto bersama pasti akan terasa ada yang kurang," Lulu memeriksa foto-foto yang baru diambil.


Diam-diam ia memperhatikan Lulu yang sedang memeriksa hasil foto mereka. Tanpa sadar, ia menggerakkan tangannya dan bermaksud membelai pipi Lulu dengan punggung jari telunjuknya.


Namun ketika Lulu menoleh kembali padanya, Drake teramat kaget sehingga ia mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya.


"Ayo kita melihat hewan lain," katanya.


"Eh? Apa? I iya.. baiklah," Drake yang menarik tangannya kembali pun jadi gugup.


Perasaan gugupnya semakin menjadi ketika Lulu menggandeng tangannya dengan manja dan mengajaknya pergi.


"Ayo pergi!!" seru Lulu.


•••••


Siang itu mereka cukup aktif melihat-lihat binatang di kebun binatang yang mereka kunjungi. Dari binatang buas, segala reptil, burung-burung serta ikan, kelinci adalah kunjungan terakhir mereka.


Bahkan ketika Lulu melihat kelinci berbulu putih dengan mata merah, ia amat tertarik. Berkali-kali ia mencium dan mengusap-usap kelinci tersebut sambil mengajaknya bicara seperti menyapa seorang teman.


Melihat itu, Drake mendapat ide untuk membelikan Lulu seekor kelinci. Tentu saja, kelinci yang sedang diajak Lulu bermain itulah yang ia pilih.


Untung saja, di kebun binatang tersebut, selain menyuguhkan keindahan mamalia kecil itu, pengurus juga menyediakan beberapa anakannya yang bisa dibeli dan dibawa pulang.


"Kelinci cantik, apa kau mau ikut denganku...." Lulu mengusap-usap kepala sang kelinci.



•••••••


GYUUTT


Sepanjang perjalanan, detak jantung Drake amat tidak karuan. Beberapa kali ia menatap cara Lulu menggandengnya. Gadis itu tampak amat menempel padanya.


Seperti pasangan kekasih pada umumnya, Lulu menunjukkan sikap manja pada Drake. Karakternya saat ini, terlihat begitu berbeda dengan sikap tegas dan berani seperti saat ia sedang menjalani misi.


"Terima kasih, ya, Drake. Kau membelikanku kelinci cantik itu," ucap Lulu sambil menunjuk keranjang berisi kelinci di tangan kanan Drake.


"Apa kau suka?"


"Tentu saja. Aku sangat menyukainya," Lulu yang sedang bersandar pada lengan kiri Drake itu mendongakkan kepala sebentar untuk melihat Drake.


DEG


Tanpa sengaja, pandangan mata mereka bertemu. Saat itu juga, Lulu menjadi gugup dan amat deg-degan. Ia membuang muka sambil tersipu malu. Kebetulan, ia melihat penjual aromanis dan toko es krim di depan! Maka......


"Hei, itu aromanis! Ah, disana juga ada es krim! Ayo kita ke sana!" mata Lulu bersinar ketika melihat deretan penjual makanan dan minuman.


"Heh?? Iya iya."


Drake menuruti apa keinginan Lulu. Gadis itu begitu ceria dan sangat menikmati waktu kencannya. Meski sedikit kekanakan, entah mengapa Drake tidak mempermasalahkannya.


Ia bahkan terus tersenyum ketika Lulu kebingungan memilih rasa es krim yang menurutnya lezat.


"Hei Drake, lihat pacarmu. Apa sifat aslinya memang semanis ini?"


"Drake, kau mau yang rasa apa?"


"Matcha."


"Matcha? Apa itu enak?"


"Hmm. Lumayan."


"Baiklah, kalau begitu beri aku rasa matcha, coklat dan vanila," Lulu bicara pada penjual.


"Baik."


"Eh? Tiga porsi?"


"Iya, hihihi, rasa vanila dan coklat untukku," jawab Lulu cengengesan.


"Hmm. Baiklah. Apa kau masih ingin rasa yang lain?"


Lulu menoleh sebentar pada kotak pendingin tempat es krim berjajar rapi. Tapi ia menggelengkan kepala dan menggoda Drake.


"Tidak perlu. Aku tidak bisa terlalu banyak makan yang manis."


"Kenapa? Apa gigimu sensitif?"


Lulu menggeleng cepat, "Bukan."


"Bukan? Lalu mengapa?"


"Karena aku sendiri sudah manis,, kalau terlalu manis, aku takut semut-semut mengira aku ini gula, hihihi," gelaknya.


Astaga. Drake tidak bisa menahan rasa gemasnya. Gerakan tubuh dan cara Lulu bicara barusan membuatnya berdebar-debar. Sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada gadis itu.


Entah sudah berapa kali pula Drake menghitung pergerakan jantungnya. Namun sampai saat ini masih aman-aman saja dan tidak menimbulkan masalah.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG....


__ADS_2