
BAB 47
GLEK
"Kau pria yang di atas sana, bukan? Benar sekali. Aku yakin itu kau," kata wanita yang telah diselamatkan Drake.
"Eh, maksudmu bagaimana?" Drake berlagak tidak paham.
"Kau mengulurkan tanganmu untuk menangkapku saat terjatuh tadi. Meskipun itu terdengar tidak meyakinkan bagi orang lain, tapi aku yakin. Nyawaku bisa selamat, itu berkat kau tuan. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan cara apa. Tapi kau bisa datang mencariku jika kau membutuhkan bantuanku," katanya sambil menyerahkan kartu namanya pada Drake.
Karena tidak ingin mengecewakan wanita yang merasa bersyukur sebab keselamatannya itu, Drake pun menerima kartu nama yang diulurkan padanya.
"Dr. Leny?"
"Ya. Itu aku. Kau sendiri, siapa namamu?"
"Drake."
Dr. Leny menganggukkan kepala.
"Kau menjalankan sebuah laboratorium?" Drake sedikit tertarik.
"Benar."
"Apa karena itu, kau tidak merasa apa yang ku lakukan itu aneh?"
Dr. Leny tersenyum, "Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, siapapun yang menyelamatkan hidupku, aku tidak memandangnya sebagai keanehan. Aku yakin, kau memiliki suatu kemampuan yang istimewa untuk menolong manusia."
"Begitu, ya? Jadi secara tidak langsung, kau mengatakan bahwa kau tidak takut kepadaku?"
"Ya. Mengapa harus takut? Itu sebuah anugerah dari Tuhan."
Drake menoleh pada Lulu sebentar, lalu kembali bicara lada Dr. Leny, "Kalau begitu. Berjanjilah padaku. Kau tidak akan mengatakan pada siapapun soal kemampuanku di roller coaster hari ini."
Dr. Leny mengangguk, "Tentu saja. Berkat kau, aku masih bisa melihat wajah putri semata wayangku."
"Sepakat. Rahasiakan ini dari siapapun."
"Baik."
YEAAH!
Joy kembali sambil berlarian. Luna dan Terra tampak berjalan santai di belakangnya.
"Hai paman!"
"Hmm."
"Eh, paman sedang mengobrol dengan teman, ya?" Joy memperhatikan Dr. Leny.
Begitu pula Terra dan Luna yang baru saja datang. Mereka merasa tidak enak bila mengganggu urusan orang lain dan melangkah mundur.
"Eh-eh? Tidak perlu pergi, nona-nona. Silahkan melanjutkan piknik kalian. Kalau begitu, sampai jumpa Drake," Dr. Leny meninggalkan tikar milik rombongan Drake.
Setelah Dr. Leny pergi, Terra dan Luna melirik ke arah Drake bersamaan. Mereka pikir mereka sudah ketinggalan berita saat mengambil foto.
•••••
Ketika hari sudah senja, Drake menurunkan Joy, Luna dan Terra di depan rumah. Begitu pula Lulu yang masih ingin berkumpul dengan para gadis.
Ia memutar kembali mobilnya untuk bertemu Thomas. Mereka ada perlu untuk membahas soal hasil penjualan buku komik yang baru ia luncurkan.
Ketika Drake pergi, mereka berjalan beriringan menuju rumah Luna. Begitu sampai di dalam, Lulu meminta ijin untuk pergi ke kamar mandi. Sebab, ia menahan pipis sejak dari tadi.
"Ladies, aku numpang ke toilet, ya."
"Silahkan."
__ADS_1
Lulu pun berlari ke kamar mandi yang ada di lantai bawah. Sementara Luna, Terra dan Joy berbaring di sofa ruang tengah untuk meluruskan badan.
Selang sepuluh menit, tiba-tiba saja datang beberapa orang berpakaian hitam. Mereka mencari Joy dan memaksa membawanya pergi.
"Rupanya selama ini kau ada di sini," kata Samuel.
Luna dan Terra terkejut, "Siapa kalian?!!"
"Paman?!" Joy yang baru kembali dari dapur untuk mengambil minuman dingin itu amat terkejut hingga minuman yang ia bawa jatuh dan tumpah ke lantai.
"Apa? Pa paman?" seru Luna dan Terra bersamaan.
Terra maju melindungi Joy agar bersembunyi di belakangnya. Kemudian Luna juga tidak mau kalah. Ia berdiri di samping Terra sambil ikut melindungi Joy.
"Jadi kau, orang yang membunuh orang tua Joy!" ucap Terra dengan berani.
"Selama kami ada di sini, siapapun tidak boleh membawa pergi Joy dari sini!!" Luna tak kalah beraninya.
Samuel memberi isyarat pada anak buahnya agar mengurus gadis-gadis itu. Meski melawan belasan pria dewasa, Luna dan Terra tidak gentar sedikitpun.
"Cepat telepon Drake! Ponselku ada di dalam tas!!" perintah Luna pada Joy.
"I iya baik, bibi," Joy berlari mengambil ponsel Luna.
Baru saja Joy menyentuh ponsel tersebut, Samuel menendangnya hingga ponsel tersebut terlempar dan menubruk dinding.
KRAKK!
"Ayo ikut denganku," Samuel meraih dan menyeret tangan Joy.
"Tidak mau! Aku harus berada di sini karena bibi Flora akan menjemputku," Joy melawan.
"Flora? Cih, wanita itu."
Pada saat yang kebetulan, Lulu sudah selesai. Ia terkejut melihat gerombolan pria berbaju hitam celana hitam menggeruduk rumah Luna.
"Siapa mereka?" pikirnya sambil melangkah mendekati mereka.
SET
Lulu berhenti melangkah dan menyelinap ke belakang tembok. Ia bersembunyi dan coba merekam kejadian itu dengan baik.
"Apa aku harus menolong mereka? Ah, tidak, tidak. Aku harus memberitahu Drake terlebih dahulu. Hanya Drake yang bisa menyelamatkan mereka," Lulu memperhatikan saat mereka membawa paksa Joy dan kedua gadis yang bersamanya.
Sambil mengendap-endap, Lulu mengikuti mereka hingga keluar halaman.
"Apa yang harus aku lakukan? Mengejar mereka? Ah, bukan, bukan! Cepat pikirkan sebelum mereka pergi!" Lulu berdebat dengan dirinya sendiri.
"Apa yang bisa ku lakukan untuk menolong mereka semua? Ahh!! Nomor plat mobil!"
Melihat mobil-mobil itu hampir pergi, Lulu memperbesar kameranya dan memotret nomor kendaraan mereka.
SPLASSH!
Mobil itu berlalu dengan cepat. Untung saja ia sudah mengambil nomor kendaraan mereka. Setelah itu ia segera menghubungi Drake. Sayangnya, Drake sedang membahas sesuatu yang penting dengan Thomas dan tim editor lainnya. Sehingga ia mengabaikan panggilan yang masuk.
"Cepat kembali. Joy diculik!"
Begitulah bunyi pesan yang dikirim Lulu untuk Drake.
••••••
CKIITT!
Mobil Drake terdengar menderu-deru dan berhenti tepat di depan rumahnya. Ia turun dengan terburu-buru dan langsung menghampiri Lulu yang duduk di teras rumah Luna. Tangannya tampak gemetaran akibat terkejut menerima berita yang Lulu kirim.
"Apa maksudmu, Joy diculik!" tanyanya buru-buru.
"Dia dibawa pergi dengan paksa. Lihat," Lulu berdiri dan menyodorkan ponselnya untuk menunjukkan video yang sempat ia rekam tadi pada Drake.
__ADS_1
"Bukankah ini Samuel? Sial! Ke mana dia membawa mereka!" Drake tampak marah.
"Aku tidak tahu. Tapi..."
"Tapi apa??"
Lulu kemudian menunjukkan foto nomor kendaraan yang sempat ia ambil, "Aku sempat mengambil gambar nomor kendaraan mereka. Ini plat mobilnya."
"Sungguh?"
Diamatinya plat mobil milik rombongan Samuel itu dengan baik. Kemudian ia menelepon Arthur untuk meminta bantuan menyelidiki lokasi nomor kendaraan Samuel.
Karena Arthur juga membantu Drake mengenai urusan Joy, maka ia pun menyanggupi permintaan dari kawannya tersebut.
Tiba-tiba saja, Lulu merasa pusing dan hampir terjatuh. Untung saja Drake menangkapnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Eh, itu.. aku..." rupanya Lulu melihat gambaran teman-temannya yang berada di sebuah rumah yang tampaknya sudah tua dan terbengkalai.
Di depan rumah terdapat beberapa pohon yang sudah gugur daunnya. Dedaunan kering yang berserakan di halaman rumah itu nampak jelas sekali tidak pernah dibersihkan.
Lulu sedikit berkonsentrasi. Sehingga ia bisa melihat mobil dengan nomor kendaraan yang sama dengan yang ia foto tadi. Bahkan ia juga bisa melihat bahwa di seberang rumah tersebut ada sungai.
Drake yang memperhatikan Lulu tengah memejamkan mata dan seperti sedang merasakan sesuatu pun menjadi penasaran.
Begitu Lulu membuka mata, Drake bertanya, "Apa yang baru saja kau lakukan? Apa kau melihat sesuatu dengan cara itu?"
GLEK
Lulu merasa bingung, apakah ia harus mengakui kemampuannya itu pada Drake atau tidak.
"Mari kita bahas itu nanti. Sekarang, ayo pergi selamatkan teman-teman. Oh ya. Apa kau tahu di mana rumah tua yang berdiri di dekat sebuah sungai?"
"Rumah tua?"
Drake berpikir keras. Ia mencoba mengingat seluruh peta di wilayah tersebut. Saat ia minggat dari rumah, ia pernah berjalan menyusuri sungai Wiaz. Dan sepertinya di daerah itu ada sebuah rumah yang berdiri tanpa penghuni.
"Sepertinya aku tahu tempat itu. Ayo pergi!" ucapnya seraya berlari ke mobil.
BRUMM
Tak perlu waktu lama, mereka berdua melaju di jalanan dengan mata dan telinga berdiri tegak. Sembari menunggu balasan dari Arthur, Drake mengemudi dengan pasti menuju sungai Wiaz.
"Tapi, apa kita akan menghadapi preman-preman itu sendirian? Bukankah kita membutuhkan bala bantuan saat tiba di rumah tua dekat sungai Wiaz itu?" tanya Lulu.
"Menurutmu, apa aku perlu meminta bantuan pada orang lain?"
Lulu mengangguk, "Sehebat apapun dirimu, kau tidak akan bertahan jika harus melawan puluhan preman yang bersenjatakan parang atau tongkat besi. Jadi, bisakah Arthur mengirimkmkan rekan-rekannya?"
"Mungkin saja jika kau mengiriminya video itu."
"Baiklah, akan aku coba kirimkan padanya," Lulu yang sudah bertukar nomor telepon dengan Arthur kala itu lun langsung mengirimkan video penculikan Joy pada pria itu.
Tepat saat dibutuhkan, Arthur mengirim lokasi tempat terakhir mobil Samuel. Karena tempat yang ditunjukkan Arthur sama dengan yang dikatakan Lulu, yaitu di rumah tua dekat sungai Wiaz, Drake menginjak gasnya lebih kencang.
"Mari selamatkan teman-teman!"
"Yah!!"
WUUUZZZ
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....