
BAB 13
Keesokan harinya, Drake tampak sedang lari pagi mengelilingi komplek. Beberapa orang yang menjadi tetangganya menyapanya dengan ramah. Salah satunya kenalan lamanya, tuan Rayen.
"Wah, kau bersemangat sekali, Drake. Mampirlah sebentar minum kopi, kebetulan istriku membuat kue beras kacang merah pagi ini," sapa tuan Rayen.
Drake berlari kecil di tempat dan mengucapkan terima kasih atas tawarannya, "Terima kasih, paman. Mungkin lain kali aku mampir mencicipi masakan istrimu."
"Kalau lain kali aku tidak bisa berjanji, soalnya kita berdua jarang bertemu seperti ini karena kesibukan masing-masing. Ayo kemarilah, sebentar saja," tuan Rayen itu tertawa ramah.
Drake berhenti berlari di tempat sambil mengusap wajahnya dengan handuk yang ia kalungkan di pundak.
"Baiklah, aku akan mampir sebentar. Jangan menyesal jika nanti ku habiskan semua kue kue beras buatan istrimu," ucap Drake berkelakar.
"Ahaha, tidak apa-apa kalau kau mau. Aku juga bisa meminta istriku untuk membuatkannya lagi untukmu," sahut tuan Rayen.
Dan akhirnya, mereka berdua duduk di teras rumah. Tuan Rayen memberi Drake secangkir kopi dan sepiring kue beras berisi kacang merah. Istri tuan Rayen yang bernama Lisa pun ikut duduk mengobrol.
"Jadi, kau tidak ingin ikut pertandingan lagi? Memangnya kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya tuan Rayen.
"Hmm, sebenarnya seseorang memintaku untuk tidak melakukannya lagi."
"Wah siapa dia? Pacarmu?"
"Bukan, bukan. Hanya teman."
"Hmm, hanya seorang teman rupanya. Tapi kau terdengar menurut sekali padanya. Padahal, sayang sekali. Saat ku dengar kau tidak mengikuti pertandingan itu lagi. Aku juga berhenti menontonnya."
"Apakah sekarang paman jadi seorang yang menghemat uang? hehe," ucap Drake asal namun benar.
"Kau benar, Drake. Dia jadi suka menyimpan uang di bank. Dia bilang, uang yang ia hasilkan dari bekerja akan ia simpan untuk masa depan putra kami."
"Baguslah kalau begitu, paman. Jangan buang-buang uangmu hanya untuk bertaruh MMA."
"Hmm. Tidak lagi. Jagoanku sudah pensiun, jadi untuk apa aku bertaruh. Tapi,, jika kau mau kembali bertarung, hubungi aku ya. Aku siap jadi managermu lagi."
SLURRPP
"Aaaach,, ini nikmat sekali. Terima kasih sudah mengijinkanku minum kopi di sini, bibi. Kue beras kacang merah buatanmu juga sangat lezat. Aku sampai makan tiga buah, hihihi," Drake meringis sambil menunjuk kue yang tersisa di piring.
Tertawalah bibi Lisa dan suaminya, "Kau memang belum berubah sedikitpun. Senang bisa mengobrol lagi bersamamu seperti ini. Semenjak kau resign dari pertandingan, kau jarang mampir kemari. Apa sekarang kau bekerja di tempat lain?"
"Aah,, Iya. Sebenarnya, aku mencari pekerjaan lain yang lebih santai dari sebelumnya."
"Benarkah? Apa itu?"
"Hehe,, hanya penulis lepas.." kata Drake merendah.
"Hmm.. begitu ya.."
••••••
CKREK
"Pagi semua..." Drake masuk ke rumah Luna.
"Pagi juga. Kau baru lari pagi?" Luna yang sedang menyiapkan sarapan menoleh pada Drake yang baru datang
"Hmm.."
"Kenapa tidak ajak-ajak, aku juga mau ikut lah. Apa kau melakukannya setiap hari?" Tera ingin ikut lari pagi.
"Tidak juga, hanya dua hari sekali. Boleh saja kalau kau mau ikut, tapi kau harus bangun pagi dan tidak boleh merengek nantinya."
"Beneran boleh ikut?"
"Hmm."
"Yes!"
"Kau olahraga pun juga percuma, Tera. Sepulang olahraga kau juga bakalan ngemil lagi dan tidur-tiduran saja."
"Ehehe, ya kan namanya mencoba dulu. Barangkali dengan olahraga pagi aku akan menjadi cantik seperti Selena Gomes," jawab Tera.
__ADS_1
"Baahahaha, Selena Gomes? Jangan mimpi lah," Drake menarik kursinya dan duduk tenang menunggu sarapannya...
"Tuh kan,,, bermimpi itu tidak dosa tau!" Tera menggeram sambil mengepalkan tangan seperti biasanya.
"Ya, ya. Terserah kau saja. Ngomong-ngomong, sarapan apa hari ini? Baunya sedap.." lanjutnya.
"Tarara! Nasi goreng kornet beef siap disantap," Luna membawa dua piring untuk Drake dan Tera di tangannya.
PROK
PROK
PROK
"Asik.."
"Aku sudah lapar.."
Tera dan Drake bertepuk tangan secara bersamaan. Mereka benar-benar seperti anak-anak yang meminta makan pada ibunya.
NYAM NYAM
Jika Luna dan Tera baru melahap dua suapan, Drake sudah memasuki suapan ke lima. Mulutnya penuh dengan nasi dan telur dadar. Belum lagi timun, tomat dan selada yang juga ikut ia lahap.
"Sekarang aku tahu, kenapa badan kerempengmu dulu lenyap."
"Kenapa?" jawab Drake dengan mulut yang penuh.
"Lihat. Nafsu makanmu itu diatas rata-rata. Pantas saja sekarang badanmu melar," kata Luna sambil menunjuk dengan dagunya.
"Bukan melar. Tapi kekar," kata Drake sambil mengunyah.
"Apalah itu. Sama saja."
Drake meletakkan sendoknya seraya menelan makanan di mulutnya, "Hei, melar itu hanya berisi lemak. Beda dengan kekar, yang identik dengan tubuh kuat berotot dan penuh energi."
Drake melihat tempat duduk Tera kosong. Ke mana anak itu?
"Eh buset kaget aku! Sedang apa kau di sini! Mengagetkanku saja," Drake terkejut sebab Tera sedang ada di sampingnya sambil mengamati otot lengannya dari jarak yang amat dekat.
NYUT.. NYUTT...
"Eh buset nih anak."
SRET
Drake menarik kembali tangannya dengan cepat, "Apa yang sedang kau lakukan? Sudah sana lanjutkan makanmu," ucapnya.
KLIP
Drake melihat sebuah toples kecil berisi kacang. Tanpa bertanya soal kacang tersebut, diraihnya toples dan dituangkannya isi kacang yang tinggal sedikit itu ke nasi gorengnya.
PRUK
PRUK
Luna dan Tera menatap Drake dengan mata mendelik dan mulut yang melongo. Mereka hendak mengatakan sesuatu sebelum teman pria mereka itu melahap kacang yang ada di toples.
Tapi terlambat, Drake cepat sekali. Belum apa-apa saja, ia sudah melahap nasi goreng dengan kacangnya. Luna tidak sanggup melihatnya, jadi ia meneguk minumannya karena gugup.
"Ada apa dengan kalian? Apa aku tidak boleh makan kacang yang sudah mau habis ini?" tanya Drake belum tahu.
Tera tertawa cekikikan sedangkan Luna merasa tidak enak.
"Sebenarnya, itu kacang,,,, lepehanku semalam. Emh, aku mau memberitahumu tapi kau sudah melahapnya,,," Luna berkata sambil menunduk.
"UHUK! UHUK!" Drake keselek-selek sampai nasi goreng yang sedang ia kunyah muncrat menyembur keluar.
"Le lepehan? Bagaimana bisa?" Drake memuntahkan isi makanan di dalam mulutnya sambil terbatuk-batuk.
"Semalam aku dan Tera menonton film sampai larut sambil menikmati coklat pemberian Alan. Tapi karena aku sedang menghindari kacang, makanya aku melepeh kacang itu ke dalam situ."
Drake meneguk minumannya, ia melanjutkan bicara sambil menggerakkan kepala ke kanan, "Lalu kenapa kau letakkan di dalam toples kecil ini jika itu lepehan!"
__ADS_1
"Hehe,, iya maaf. Soalnya hanya itu yang ada di dalam jangkauan tanganku semalam. Tapi pagi ini aku lupa membuangnya, hehe,," Luna terkekeh malu.
"Kau saja yang rakus. Tidak bisa melihat makanan nganggur sedikit, hahaha! Rasakan akibatnya!" Tera tidak bisa berhenti menertawakan Drake.
Luna dan Tera amat kompak menertawakan tingkah konyol Drake. Tawa mereka terdengar tidak berhenti-henti.
TREK
"Wuah, terus saja menertawakanku. Kalian berdua membuat nafsu makanku hilang," karena hilang nafsu makan, Drake meletakkan sendok garpunya begitu saja.
WIIRRR
WIIIRRR
"Hihihi! Kau selalu bersikap konyol, bisa-bisanya kacang lepehan kau makan juga," seseorang yang menonton kesialan Drake di rumah Luna dari kabut ciptaanya juga ikut tertawa.
Rupanya dia adalah gadis yang waktu itu juga menonton kegiatan Drake di rumah. Sebenarnya siapa dia? Mengapa ia sering memata-matai keseharian Drake.
Apakah dia semacam penggemar rahasia?
••••
Kembali ke rumah Luna...
"Kau mau ke mana?"
"Pulang."
"Hey, habiskan dulu nasi gorengmu, hihihi," seru Tera.
"Tidak akan," Drake menoleh.
"Kau bisa ambil yang baru loh," Luna menawarkan nasi yang baru.
"Tidak, aku sudah kenyang."
Drake berjalan menuju pintu keluar rumah Luna dan menutup kembali pintu tersebut dengan cepat.
Tera buru-buru mendekati jendela untuk mengawasi Drake yang keluar dari rumahnya. Ia tertawa kembali sambil memegangi perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa.
Tiba-tiba tawanya itu terhenti ketika ia melihat ada sebuah mobil sedan merah berhenti di depan rumah Drake. Dan membuatnya lebih terkejut ketika seorang wanita cantik turun dari dalamnya.
GLEK
"Eh? S siapa dia?" gumam Tera.
"Siapa?"
"Itu...." Tera menunjuk ke arah luar jendela.
Luna bergegas mendekati jendela dan melihat hal yang dilihat Tera.
"Siapa wanita itu? Apa pacar Drake? Kenapa dia memeluk Drake segampang itu?" Luna merasa heran.
"Iya kan?"
"Hmm. Aku tidak mengenalnya."
"Apa dia selama ini punya pacar?"
"Sudah ku bilang aku tidak tahu," jawab Luna kesal.
"Kenapa? Kau terdengar kesal melihat mereka?"
"Tidak. Hanya saja... Ah sudahlah! Aku mau cuci piring dulu," Luna pergi untuk mencuci piring.
Tera melirik kakaknya yang aneh. Tera mencium aroma kecemburuan dari nada bicara Luna. Apa diam-diam Luna menyukai Drake?
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.....