
BAB 24
Di kantor Thomas,,
"Wah,, Chota mengalami depresi gara-gara perebutan warisan antara saudaranya?" tanya Thomas usai membaca episode lanjutan dalam komik yang ditulis Alfa One.
"Hmm, bagaimana menurutmu?"
"Tidak ku bayangkan sebelumnya. Warisan orang tua bisa menciptakan konflik yang sangat penting seperti ini."
"Nah! Kau juga berpikir seperti itu, kan? Aku yakin, jika Chota menghadapi kegilaan saudara-saudaranya dalam perebutan warisan itu, pembaca akan merespon dengan cepat."
"Kau benar. Ini keren sekali. Bagaimana bisa kau punya ide seperti ini?"
"Entahlah. Mengalir begitu saja."
TREK
"Baiklah, aku akan membacanya lagi nanti. Kau lapar tidak, bagaimana kalau sekarang makan dulu?"
"Kalau ditraktir sih boleh saja," jawab Drake.
"Em, begini,, uang penjualan bukumu kemarin kan masih banyak. Kau saja ya, yang traktir," Thomas merangkul pundak kanan Drake dan membujuknya sambil tersenyum-senyum.
Drake menoleh dan memberi Thomas senyuman yang dibuat-buat, "Kau juga dapat bagian dari hasil penjualan bukuku. Ke mana semua uangmu? Kalau lapar, pakai saja uang itu untuk membeli makanan."
"Ehehehe,, iya,, tapi masalahnya,, uang itu,,"
"Kenapa? Jangan bilang kau gunakan untuk membeli senjata mortal combatmu lagi?"
"Nah..." Thomas menggerak-gerakkan tangannya bersamaan jari telunjuk. "Itu dia,, kau cepat sekali tanggap, hehehe."
"Haiss,, baiklah, akan ku traktir," Drake menyingkirkan tubuh Thomas dari pundaknya.
"Dasar boros. Kalau setiap dapat uang kau gunakan untuk hal-hal seperti itu, kapan kau akan menabung untuk menikahi Hana?" Drake memarahi Thomas karena tidak serius pada hubungannya dengan editornya yang lain.
EHEMM..
"Siapa yang akan menikah? Kau Drake??" suara Hana mengejutkan kedua pria itu.
"Heh? Kenapa jadi aku?" respon Drake cepat.
"Kalau bukan kau, siapa?" Hana yang datang memegang sebuah cangkir itu menyeruput minumannya sedikit demi sedikit.
Mata Hana berhenti pada sosok Thomas. Ia pun jadi berpikir bahwa Thomas akan menikahi gadis lain.
"Jangan katakan, kau yang,-"
"Bukan, bukan seperti itu sayang. Kau hanya salah dengar saja, tadi," Thomas mendekati pacarnya segera.
"Lalu? Tadi aku mendengar menikah menikah, itu siapa?"
"Tidak ada yang menikah. Sungguh."
Karena Thomas sedang sibuk dengan Hana, Drake pun berpikir untuk pergi saja. Sambil membuang muka dan tangan kanannya pura-pura mengupil, ia berjalan melewati pasangan tersebut dengan santai.
"Tunggu, kau mau ke mana?" tanya Thomas.
"Eh,,hehehe,, aku mau pulang.."
"Kau bilang mau menraktirku, tadi."
"Sepertinya lain kali saja, bye bye.." jawab Drake dengan wajah meledek.
"E e eehh,,, tunggu Drake..."
Karena Thomas mau melarikan diri darinya, Hana segera memegangi pundaknya sambil memberi isyarat pada Drake agar cepat pergi.
KLIP
Drake tersenyum kecil dan melambaikan tangannya, "Sampai jumpa besok.."
•••••••••
GRETEK
Drake masuk rumah dan duduk di lantai untuk melepas sepatunya. Dari dalam, berlarilah Joy menyambut kepulangannya.
"Paman sudah pulang!"
Drake menoleh. Kemudian menyodorkan sebuah plastik berisi box ayam goreng pada Joy.
"Waah,,, ayam goreng!" pekik Joy senang.
__ADS_1
Dari ruang dalam, keluarlah Terra, "Kau sudah pulang?"
Drake mengangguk, "Terima kasih sudah menjaganya."
"Hmm, santai saja. Dia tidak merepotkan kok."
"Apa Luna masih di sini?"
"Dia sudah berangkat."
"Ooh.."
Pada saat Drake melangkah mengikuti Joy, Terra menahan dan mendesaknya ke dinding, "Ceritakan padaku sekarang."
SRET SRET
"S soal apa?" Drake tidak bisa bergerak karena Terra menempel begitu dekat padanya.
"Anak itu."
Seketika suasana menjadi sunyi.
"Eh? Kenapa paman dan bibi berhenti di sana? Ayo makan ayam goreng bersama," Joy melihat Drake dan Terra berhenti mengikutinya.
"Kau boleh pergi makan dulu. Paman Drake sedang ada perlu denganku," kata Terra.
"Oh, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggu kalian di dalam," Joy pergi ke ruang makan terlebih dahulu.
Setelah Joy pergi, Drake melangkah maju sambil melepas jaketnya. Namun lagi-lagi Terra menariknya.
NGIK
"Mau ke mana sih? Kau belum ceritakan padaku siapa anak itu sebenarnya."
"Ehemm.. Baiklah. Aku akan cerita. Tapi tidak perlu sampai seperti ini juga," Drake melirik ke lengan kanannya.
Dua semangka milik Terra tampak menempel manja ke lengannya sebab saat itu, Terra tengah memeluk tangannya.
NGIK
Tersadar bahwa dirinya yang memalukan, Terra pun segera menyingkirkan tangan Drake, "Eh, i iya. Hehe,,"
"Ikut aku."
Drake berjalan ke ruang tamu dan duduk di kursinya.
"Maksudmu, kecelakaan yang menimpamu juga?"
"Ya."
"Bagaimana bisa?"
"Awalnya. Dia ada di dalam sebuah mobil tanpa pengemudi. Begitu mobil yang membawanya menabrak pembatas jalan dan berhenti, aku menyelamatkannya."
Terra mengangguk.
"Setelah itu, tiba-tiba saja dia bicara tentang seseorang yang mencelakai ayah ibunya dengan cara mengucapkan ulang setiap perkataan yang ia dengar di lokasi. Kau paham maksudku, bukan?"
"Emm, dia menirukan ucapan yang ia dengar dari seseorang? Begitu maksudmu?"
"Tepat. Aku rasa, saat ini Joy sedang dalam bahaya. Pamannya yang jahat telah mencelakai ayah dan ibunya untuk mendapatkan hak waris atasnya."
"Kalau begitu, seperti cerita dalam drama dong?"
"Hampir seperti itu. Aku berpikir, bisa saja saat ini pamannya itu sedang mencari Joy untuk dicelakai juga."
"Jika ini masalahnya, kenapa tidak lapor polisi saja?"
"Hmm,, aku belum mencobanya. Soal itu, mungkin aku akan menyelidikinya sendiri dulu."
"Aku mengerti."
Karena penjelasan yang ia berikan sudah cukup jelas, Drake berdiri dan melangkah ke dalam ruang tengah untuk menemui Joy.
"Apa kami lama?"
"Hmm. Lama sekali.." jawab Joy yang ternyata belum menyentuh makanannya.
"Eh, kau belum makan satu pun ayamnya?" Drake melihat ayam goreng dalam kotak itu masih utuh.
Joy mengangguk, "Aku menunggu paman."
"Eeehh, ngapain nunggu paman? Bukankah paman bilang tadi makan saja?" ucap Drake sambil duduk.
__ADS_1
"Ini, sekarang makanlah," Drake membuka box ayam goreng dan mengambilnya dua buah kemudian ia letakkan di tas piring Joy.
Selesai dengan bagian Joy, Drake meraih piring dari rak dan meletakkannya di depan Terra.
"Kau juga, makan dulu baru pulang," sambungnya seraya meletakkan sebuah ayam goreng di piring Terra.
"Yah, baiklah."
NYAM NYAM NYAM
"Aaaaarrgg,,," Drake bersendawa.
Joy menoleh dan berkata sambil melompong, "Paman? Apa itu suara sendawa dari mulutmu?"
"Eh, i iya nih," jawab Drake terkekeh.
Joy menggelengkan kepala.
"Ck, Ck, Ck. Paman sudah dewasa, tapi sikap paman memalukan sekali. Apa paman tidak tahu, tidak sopan jika bersendawa dengan suara kencang seperti tadi. Apalagi di hadapan seorang perempuan cantik seperti bibi Terra," Joy menasehati Drake panjang lebar.
"Haiss, kau ini. Anak kecil tau apa soal kecantikan perempuan?" gerutu Drake sambil memutar bola matanya menghadap arah lain dengan kelingking kanannya mengorek kuping.
Melihat sikap Drake yang tidak mau mendengarkan nasehat baik, Terra pun memukul paha pria yang duduk di sebelahnya itu.
PLAK
"Ih, kau ini. Dengar itu. Anak kecil saja tahu. Seharusnya, beri contoh yang baik buat anak-anak. Kau malah kebalikannya," kata Terra melotot.
"Sshhh. Kenapa memangnya?" Drake mengusap-usap paha kirinya yang baru saja dipukul Terra.
"Memalukan."
"Biarin," Drake tak peduli dan justru memejamkan matanya karena keenakan mengorek telinga.
"Ihh,, dasar."
••••••
Tiga hari Joy tinggal di rumahnya, Drake tidak bisa leluasa berkomunikasi dengan F5. Sebab, anak itu selalu ingin menempel padanya.
Terlebih karena Luna dan Tera datang setiap hari dan membawakan beberapa pakaian anak untuk Joy. Maka, ramailah rumah Drake. Tidak seperti biasanya, sepi.
Pembawaannya yang tenang dan rapi, membuat Joy yang berusia enam tahun itu tampak lebih dewasa dari usianya. Persis seperti Drake dulu.
Selama menjadi putra seorang yang kaya raya, Joy sudah terbiasa dengan kehidupan yang disiplin dan bersih. Sangat bertentangan dengan Drake yang sekarang. Dikenal sebagai pemuda yang kacau dan pengangguran.
PLUK
Malam itu, Drake yang hendak mandi berjalan lesu memasuki kamarnya. Ia yang baru saja pulang dari luar untuk suatu kepentingan, melempar pakaian yang baru ia lepas itu ke lantai.
Kebetulan, Joy yang sedang bersiap tidur melihatnya, "Paman,itu...."
"Ada apa?" Drake berbalik dengan malas sambil satu tangannya berada di pinggang.
Joy mendongak untuk memberi nasehat, tapi begitu melihat tubuh Drake penuh tato, nasehat yang hendak ia ucapkan pun ia telan kembali.
"T tidak apa-apa, paman."
"Benarkah?"
"Iya, hehe."
"Ya sudah. Tidurlah sekarang."
"Iya, baik."
Begitu Drake masuk kamar mandi, Joy turun dari tempat tidur dan meraih baju yang dilempar Drake tadi di lantai. Dengan terburu-buru, ia meletakkannya ke dalam keranjang cucian yang ada di dekat lemari pakaian.
Setelah itu, ia kembali ke tempat tidur dan menarik selimutnya. Selama beberapa hari tidur seranjang dengan paman Drake, ia tidak menyangka bahwa pria itu memiliki tato di lengan dan dada kirinya.
"Paman Drake juga memiliki gambar di tubuhnya. Apa dia juga akan berbuat jahat padaku, seperti paman Sam?" Joy meraih selimutnya sambil gemetaran.
KLIP!!
"Tapi, paman Drake menyelamatkanku dari kecelakaan mobil waktu itu. Dia tidak mungkin jahat padaku, kan?"
Tepat saat Joy sedang berpikir, muncul gelembung transparan. Gelembung itu berputar-putar beberapa saat kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
"Eh? Apa itu?" rupanya Joy bisa melihat gelembung yang tiba-tiba muncul itu.
Bagaimana bisa? Gelembung itu seharusnya tidak bisa dilihat siapapun. Sebab, itulah mata batin seorang gadis yang selalu mengintai Drake.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG.....