
BAB 61
HOSH
HOSH
Drake marah sekali. Namun ia mencoba menahan kemarahannya agar sisi hitam tidak muncul di muka umum. Lagi pula, Alan sudah terkapar lemas akibat menerima beberapa bogem mentah darinya.
"Dia hamil. Dan kau, justru membuat kesalahan fatal hari ini dengan menyakiti hatinya. Aku peringatkan kau sekali lagi. Minta maaf padanya dan tebus kesalahanmu, atau tidak ada kesempatan lain sama sekali."
Alan mendengarkan ucapan Drake. Bahkan ia sedikit terkejut dengan kata-kata Drake tersebut.
"Haaarrrrhhh! Drake berdiri dan berteriak untuk melepaskan kekesalannya yang berlapis-lapis.
Ia bisa saja memukul Alan sampai mati. Tapi jika mengingat ekspresi Luna yang menghentikannya saat ia hendak memberi Alan pelajaran tadi, Drake tahu bahwa Luna masih mengharap sesuatu dari Alan.
"Apa yang kalian lakukan?!!" suara itu membuat Drake menoleh terkejut.
Di belakangnya, ayah dan ibunya sudah berdiri menatapnya. Rupanya, mereka sudah melihat semua yang Drake dan Alan lakukan. Dan apa pula yang mereka ributkan.
Melihat ketua di hadapannya, Alan yang terkejut itu buru-buru bangun meski tubuhnya masih merasakan sakit. Sedangkan Drake yang tidak mau bicara lagi dengan orang tuanya itu pun bergegas pergi dari sana.
"Drake!" panggil ayahnya dengan marah.
Semua orang merasa amat jantungan. Mereka begitu takut sebab dipaksa berada dalam situasi mencekam seperti saat itu.
"Seperti yang ku katakan tadi. Aku sudah selesai bicara. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan dengan siapa aku akan menikah."
Usai bicara seperti itu, lantas Drake pergi dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun pada kedua orang tuanya. Alan yang melihat dan mendengar percakapan singkat itu pun kebingungan. Kenapa ketua mengenal Drake?? Begitu pikirnya.
Melihat putranya yang keras kepala itu pergi, tuan Halbert yang merasa tidak dihargai itu juga memutuskan untuk kembali ke perusahaan.
"Dasar keras kepala," gumam tuan Halbert kesal.
Ditengoknya sang istri lalu pindah ke Alan sambil berkata, "Kau, urus masalah yang ada di sini dan lakukan sesuatu padanya. Dia membuatku jengkel."
"Baiklah, sayang," jawab nyonya Wendy cepat.
Tepat saat tuan Halbert pergi, terdengar suara seseorang yang mengomentari Drake.
"Anak yang tidak sopan. Berani-beraninya dia mengabaikan ayah di depan semua orang," kata Pitt yang datang bersama Elouise.
"Pitt," nyonya Wendy menyambut putranya dengan senang hati. "Kau juga di sini, Louise?"
"Ya. Bu. Kebetulan aku datang untuk mencoba beberapa model pakaian yang baru datang untuk undangan makan malam nanti," jawab Elouise tersenyum dan menundukkan kepala.
Diam-diam, Elouise menatap Drake yang baru keluar dari lift di lantai bawah dan berjalan dengan pasti meninggalkan tempat menyebalkan itu. Sejujurnya, ia masih saja mencemaskan adik iparnya itu.
"Benarkah? Kalau begitu, ayo ibu temani. Kebetulan, ibu juga ingin melihat model pakaian baru itu."
"Tentu saja, dengan senang hati. Mari, ibu," Elouise mempersilahkan ibu mertuanya berjalan lebih dulu.
Dan karena putra andalannya sudah datang, nyonya Wendy menyerahkan masalah itu padanya.
"Pitt, kau bisa mengurusnya untuk ibu, bukan? Bagaimanapun, dia menghina keluarga kita. Jadi kau harus memberinya hukuman."
Pitt menoleh pada Alan, "Baiklah Bu. Aku pasti memberi hukuman yang pantas untuknya."
••••••
TRUK
Alan duduk di kantor manager untuk mendapatkan teguran atas kelancangannya memaki putra ketua. Sebelumnya, Pitt memanggil manager atau ketua tim langsung Alan dan memberinya perintah agar Alan si pembuat onar itu menulis surat permintaan maaf resmi untuk ketua.
Selanjutnya, jika ketua memberinya maaf, maka Alan hanya akan mendapatkan hukuman seperti skors. Namun jika ketua masih marah dan tidak mau memberi maaf, maka Alan akan dipecat.
"Kau tahu apa kesalahanmu?"
"Apa karena aku berkelahi dan membuat keributan di tempat kerja?"
"Bukan itu."
"Eh? B bukan itu? Lalu apa kesalahanku?"
"Apa dari semua kerusuhan di sini, kau belum tahu siapa orang yang kau caci maki seenak jidatmu, tadi???" manager yang bernama Brush itu amat dongkol.
"Eh? Apa maksud bapak?"
"Drake."
"Oh, maksud bapak, orang pengangguran itu?"
BRAKK
"Sembrono! Siapa yang kau sebut pengangguran?!!" sebagai atasan Alan langsung, sang manager marah-marah sampai menggebrak meja.
"Ejiaaahhh! Kenapa bapak marah-marah?" Alan hampir jatuh dari kursinya karena kaget.
__ADS_1
"Ya. Drake. Menurutmu siapa nama belakangnya?"
"Nama belakang? Mana aku tahu...."
"Nah! Itu maksudku. Jika kau tak tahu nama lengkap yang ada di belakangnya, harusnya kau bisa sedikit menjaga sikap!"
"Memangnya, apa nama belakangnya? Kenapa bapak serius sekali??"
PLAKK
Tuan Brush menampar Alan.
"Dasar bodoh! Dia Drake Halbert. Putra kedua ketua. Alias putra kandung tuan Halbert dan pewaris sah grup KS!" tuan Brush melotot dan berteriak marah.
DHUAAR!!
"Apa?? J jadi dia putra kedua yang sering dibicarakan itu??" Alan kaget setengah mati bagai tersambar petir.
"Ya! Apa sekarang kau sudah mengerti? Gara-gara kesembronoanmu ini, aku juga ikut terseret-seret, bodoh!!"
GLEK
"Pak manager. Lalu aku harus bagaimana? Apa aku akan dipecat dari tempat ini?"
"Entahlah. Yang pertama-tama, kau harus membuat pernyataan tertulis sebagai ungkapan permintaan maaf."
"Baiklah. Aku akan melakukannya."
"Tapi jangan bersenang hati dahulu. Meski sudah menulis surat permintaan maaf, jika ketua tidak menerima permintaan maafmu itu, maka sama saja. Jadi usahakan lakukan apapun untuk menebus kesalahanmu itu."
"B baik, pak."
•••••
DEG
Sepulang dari kerja, Alan memiliki janji untuk makan malam di rumah mertuanya guna mendapat ucapan selamat atas pernikahannya dengan Drew yang akan diselenggarakan besok.
Sesampainya di sana, Alan melamun di dalam mobil karena memikirkan kelakuan sembrononya pada Drake. Sudah hampir satu jam ia sampai di depan rumah keluarga Drew. Tapi tidak sedikitpun ia beranjak dari tempat duduknya.
"Huaahhh!! Siapa sangka, dia adalah putra ketua yang sering dibicarakan karena menakutkan? Celakalah aku.." Alan memukul-mukulkan kepalanya pada setir mobil.
TOK TOK TOK
"Sayang, kenapa masih di sini?" Drew melihat mobil Alan dan menghampirinya.
"Ayo masuk. Ayah dan ibu sudah menunggumu sejak tadi."
"I iya baiklah," jawabnya Lesu.
•••••••
TREK
Drake menyalakan rokoknya dan duduk di depan rumah. Ia masih kepikiran soal Alan yang mungkin saja memutuskan hubungan dengan Luna.
Jika itu terjadi, maka bayi yang ada di dalam perut Luna akan lahir tanpa seorang ayah.
"Apa Terra sudah tahu soal ini?" gumamnya sambil memicingkan mata menatap rumah Luna.
"Hai Drake!"
"Arthur?"
TOSS
Kedua pria itu selalu melakukan salam tinju jika bertemu.
"Apa kau sedang berpatroli?"
"Ya. Kebetulan aku lewat dekat rumahmu. Jadi tidak ada salahnya jika mampir sebentar," sahut Arthur.
"Hmm,,,"
"Oh, ya. Apa kau sudah menerima kabar dari Joy?"
"Joy? Belum. Dia belum menghubungiku sejak dia pergi dari sini. Aih, dasar anak itu. Bisa-bisanya dia melupakanku begitu saja," Drake mengomel.
Arthur terkekeh mendengar ucapan Drake yang merasa dilupakan oleh Joy.
"Hehehe. Tidak.. tidak mungkin dia melupakanmu. Kemarin Joy memfollow Instagramku. Lalu kami mengobrol banyak tentang kesehariannya di Amerika. Selama mengobrol, dia terus saja membicarakanmu. Jadi mana mungkin dia melupakan paman yang baik sepertimu."
"Benarkah? Kalau begitu seharusnya dia mengirimiku pesan setibanya di sana, mengapa dia membuatku menunggu kabarnya," Drake sedikit kecewa.
"Aku dengar, dia kehilangan kopernya di saat di bandara. Jadi semua yang ia bawa termasuk nomor ponselmu ikut hilang. Tapi tenang saja. Aku sudah memberikan lagi nomormu padanya."
"Serius? Tapi bukannya Flora dan Bluo juga punya nomorku? Aku sudah memberikannya pada mereka waktu itu."
__ADS_1
"Hmm, kalau itu sih, aku tidak tahu. Berpikir positif saja. Mungkin saja anak itu sedang sibuk di sekolah barunya."
"Ya. Aku akan berpikir seperti itu. Setidaknya aku sudah tahu kalau dia baik-baik saja," Drake melanjutkan merokok.
"Aah,, hampir lupa. Dia juga bertanya apa nama akunmu. Jika dipikir-pikir, aku juga tidak pernah menemukan akunmu. Apa kau memilikinya?"
"Instagram, ya. Tidak. Aku tidak memiliki itu," Drake menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa tidak punya?"
"Ehehe. Aku tidak terlalu aktif di sosial media. Hanya aplikasi seperlunya saja yang aku punya."
"Iissh. Yang benar saja. Apa kau sudah kakek-kakek? Kenapa tidak mengikuti perkembangan jaman dan gaya anak muda??" ledek Arthur.
"Yaaah... Aku malas saja,," ujar Drake santai sambil menghisap rokoknya.
"CK, CK, CK. Kau aneh sekali," Arthur terheran-heran seraya memegangi dagunya.
KLIP
"Kenapa? Kenapa menatapku begitu?" Drake melirik ke arah Arthur karena pria itu terus saja menatapnya heran.
"Kalau dilihat-lihat, cara berpakaianmu lumayan modis dan selalu mengikuti tren terbaru. Seingatku, aku juga pernah melihatmu mengenakan kemeja dari merek terkenal itu."
"Kau cermat juga."
"Tentu saja, pekerjaanku membutuhkan kecermatan di setiap kasusnya. Untuk kasus sekecil ini, tentu saja aku akan langsung menyadarinya."
"Baiklah, pak polisi. Jangan terlalu menyermati kehidupanku. Aku bukan tersangka utama dalam kasusmu,," jawab Drake nyengir.
"Ngomong-ngomong, aku tidak percaya kau akhirnya menjadi polisi seperti keinginanmu. Kau pasti bekerja keras mengikuti ujiannya. Walaupun terlambat, aku serius memberimu ucapan selamat," sambung Drake seraya menepuk-nepuk pundak Arthur.
Arthur mengangguk sambil terkekeh. Karena mereka kembali akrab dan mengobrol santai seperti dulu, Drake pun ikut tertawa bersama kawannya tersebut.
"Aku juga tidak menyangka, aku bisa lulus ujian kepolisian. Kau tahu kan, dulu di sekolah aku bagaimana?"
"Hmm. Kau berandal tengik yang hanya memikirkan kencan."
"Hahaha,,, Tepat! Dulu kita masih muda. Apalagi yang bisa dilakukan jika bukan berkencan? Aku jadi ingat Bella. Seperti apa dia sekarang, ya?"
"Ah, gadis lugu itu. Bisa-bisanya dulu dia jatuh cinta pada pria amit-amit sepertimu, hikhikhik," Drake terkekeh lagi.
"Heyy.. Justru gadis lugu sepertinya lah yang jauh lebih agresif pada pria," Arthur mengenang Bella, pacarnya dulu.
"Dasar kau," Drake mengenal sifat Arthur.
Untuk dijadikan teman, mungkin Arthur yang terbaik, tapi untuk dijadikan pacar, perlu dipikirkan matang-matang.
"Tapi gadis populer itu, teman SMP dan SMA kita. Elouise. Yah, Elouise. Apa kau ingat? Dia itu galak sekali pada teman-teman pria yang lain. Tidak ada satu pun pernyataan cinta dari kami yang ia terima."
"Tapi yang membuat kami semua terheran, kau yang tidak peduli padanya, suka berkelahi dan membuat keributan di sana sini justru bisa berpacaran dengannya. Whooaah!! Hebat sekali," Arthur bertepuk tangan mengingat masa lalu Drake.
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa saat itu kalian putus? Apa karena kelulusan?"
Drake diam dan dipaksa mengingat masa kelamnya. Karena itu pula ia teringat alasan putus Elouise yang ia ketahui beberapa bulan yang lalu.
Memang benar, ia, Arthur, Bella dan Elouise adalah teman satu sekolah sejak SMP. Ia berpacaran dengan Elouise juga sejak saat itu dan bertahan hingga SMA. Namun karena peristiwa sialan di masa lalu, Elouise memutuskan hubungan dengannya secara sepihak.
CK CK CK ,, aku rasa cinta itu memang rahasia Tuhan," Arthur menghela nafas.
SIIIIINGGG
Mereka duduk menerawang langit, seperti saat mereka masih SMP dan SMA. Dulu, sebagai teman akrab dari remaja, mereka sering menghabiskan jam kosong untuk berjemur di balkon sekolah.
Sering juga, mereka pergi menonton tim cheerleader yang sedang berlatih di aula. Di tim tersebut, ada Elouise dan Bella. Gadis-gadis cantik yang mereka kencani saat itu.
Saat sedang mengenang masa sekolah dulu, tiba-tiba saja Arthur bertanya.
"Oh ya. Ngomong-ngomong, apa kau akrab dengan Lulu?"
Drake menoleh penasaran, kenapa Arthur menanyakan soal Lulu. Lalu sambil senyum dikulum, ia menundukkan kepala dan bersiap menceritakan hubungannya.
"Lulu? Tentu saja. Dia,-"
Akan tetapi....
Belum juga Drake selesai bicara, Arthur sudah menyela.
"Dia manis, ya! Sepertinya aku sudah jatuh cinta padanya. Beberapa kali bertemu dengannya membuat jantungku berdegup kencang. Aku rasa Tuhan sengaja mengirimnya untukku."
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....