HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
BOM RAKIT


__ADS_3

BAB 72


TING


Dua gelas yang saling bertemu itu menciptakan suara berdenting.


"Bagaimanapun aku senang kau di sini."


"Iya, tapi aku merasa tidak enak pada Luna."


"Kau tidak perlu merasa tidak enak padanya. Aku yang akan bertanggung jawab untuk ini," jawab Drake.


"Lalu, bagaimana caranya kau akan melewati waktu sembilan bulan bersamanya?"


"Hanya, seperti ini saja. Pagi hari aku akan berada di rumah Luna, lalu jam delapan aku akan pergi ke rumahmu dengan alasan bekerja dan setelah itu menghabiskan waktu bersamamu sampai jam sembilan malam. Lalu pulang ke rumah Luna lagi, begitu seterusnya," jelas Drake panjang lebar.


"Aah, seperti itu, ya. Jika dipikir-pikir, aku tidak melihatmu bekerja di manapun. Apa kau hanya menulis novel saja?"


"Apa??"


"Aku sudah tahu kalau kau itu Alfa one."


"Benarkah? Ehehe,, iya. Pekerjaanku hanya menulis. Kadang-kadang, hanya sedikit melakukan pekerjaan sampingan saja."


"Apa itu?"


"Hmm,, seperti bekerja di toko...."


"Kau bekerja seperti itu juga? Serius?"


"Emm,,, yah, aku melakukan pekerjaan sampingan di toko baju, kadang-kadang juga di tempat loundry," Drake tidak menjelaskan bahwa ia pemiliknya.


"Loundry?"


"Yah begitulah. Em, tapi ngomong-ngomong, misi kita bagaimana? Apa kau mendapat mimpi buruk akhir-akhir ini?"


"Eh? Itu, ya. Tidak.. belum.."


Drake melamun. Dibukanya telapak tangan kanan yang bergaris di tengahnya. F5 belum muncul lagi. Mungkin makhluk itu sedang tidur sebab beberapa waktu ini, tidak terjadi apapun pada dirinya.


"Dia tidak muncul?"


"Hmm. Terakhir dia muncul saat di rumahmu."


Lulu menggigit bibirnya. Sebenarnya ia berharap, Drake bisa hidup tanpa adanya bantuan makhluk seperti F5. Lalu dirinya juga bisa hidup tanpa melihat mimpi-mimpi buruk.


"Menurutmu, apa ada cara melepas ikatanmu dengan makhluk itu?"


"Melepas?"


"Hmm,, bebas seperti dulu,,,"


"Entahlah. Aku tidak tahu."


••••••


SIUUHH


Karena malam semakin larut, Drake menyuruh Lulu untuk istirahat.


"Istirahatlah. Kau pasti lelah seharian bekerja," ucapnya.


"Apa kau juga mau istirahat sekarang??"


"Hmm. Ayo tidur. Besok kau berangkat kerja, kan?" Drake berjalan ke ranjangnya.


"Iya. Tapi apa kita akan tidur bersama di situ? Bagaimana kalau kebetulan ada seseorang yang datang?"


"Siapa?"


"Luna misalnya."


TOK TOK TOK


Baru saja Lulu selesai berucap, pintu kamar Drake diketuk seseorang.


"Ada yang datang?"


"Tidurlah, biar aku yang buka," Drake bangun dan berjalan mendekati pintu.


KLEK


"Hai. Jadi benar kau menyewa kamar di sebelah?" sapa seseorang.


"Y yya. Kenapa kau belum tidur?"


"Nih...." Luna mengangkat tinggi-tinggi kedua tangannya.


"Bir?"


Drake menoleh ke dalam sebentar. Lalu menghadapi Luna yang tampak kesepian.


"Apa kau mau menemani aku minum?" Luna mengesampingkan harga dirinya dan menemui Drake lebih dulu.


"Kata siapa kau boleh minum? Apa kau lupa pada kandunganmu?"


"Em, tidak. Hanya saja, aku tidak tahan kalau harus sendirian di sini. Aku merasa kamar itu terlalu besar untuk satu orang."


Luna diam sebentar, lalu melanjutkan, "Bagaimana dengan kamarmu? Apa kamarmu juga terlihat sangat luas?" Luna mencoba mengintip ke dalam kamar Drake.


"Heii,,, jangan bilang begitu," Drake terkekeh sambil menggiring Luna pergi dan menutup pintu kamarnya.


"Kata siapa kau sendirian? Aku ada di sini, loh. Aku juga sudah bilang padamu kalau kau bisa memanggilku saat butuh sesuatu."

__ADS_1


"Bagaimana kalau aku sedang membutuhkan sesuatu seperti katamu?"


Drake diam sebentar, lalu menatap Luna serius.


"Memangnya, apa yang sedang kau butuhkan?"


Karena Drake bertanya, Luna pun mengambil kesempatan itu untuk mengakui perasaannya.


"Aku membutuhkanmu. Karena kita sudah menikah, bisakah kita mencoba untuk lebih dekat lagi?"


Drake merangkul Luna sambil mengantarnya kembali ke kamar, "Bukankah kita sudah dekat sejak dulu? Mengapa harus mencoba untuk lebih dekat lagi??"


"Drake,,"


"Sudah, sudah. Sekarang, pergilah tidur. Jangan terlalu memikirkan keberadaanku atau status pernikahan kita yang hanya sementara ini. Jalani saja hari-harimu dengan santai. Bukannya ibu hamil harus memikirkan sesuatu yang menggembirakan?"


"Tapi..."


Drake tersenyum lalu mengantar Luna masuk ke kamarnya.


"Nah,, masuklah. Selamat malam. Semoga tidur nyenyak," ucap Drake seraya menepuk pundak Luna.


Setelah mengantar Luna ke kamarnya, Drake berbalik dan melambaikan tangan. Ia kembali ke kamarnya sendiri untuk menemui Lulu.


KLIK


"Apa kau sudah tidur? Maaf ya, aku membuatmu menunggu," Drake berjalan menghampiri Lulu yang ternyata sudah mengantuk.


Begitu melihat kekasihnya sudah memejamkan mata, Drake hanya mendengus sambil tersenyum maklum. Perlahan ia merebahkan tubuhnya ke samping Lulu dan memposisikan dirinya miring ke kanan menopangkan kepalanya ke tangan kanan.


"Apa hari ini melelahkan? Lihat, kau tidur seperti bayi di ranjangku," Drake mengusap pipi Lulu dengan ibu jari kirinya.


"Hmmm...." dengung Lulu.


Dengan setengah kesadaran, Lulu memeluk Drake yang ada di sampingnya hingga Drake ikut berbaring terlentang. Seperti seorang anak yang menempel pada ayahnya, gadis itu merebahkan kepalanya ke lengan kanan Drake.



"Baiklah. Tidurlah sekarang. Besok aku akan mengantarmu berangkat kerja," kata Drake.


"Benar, ya..." Lulu menyahuti meski sudah tidur.


"He'em. Tidurlah. Aku akan menjagamu sepanjang malam."


"Aku mencintaimu.." Lulu memposisikan kepalanya di bawah ketiak Drake.


"Aku juga."


SRUK


Beberapa menit kemudian, Drake melirik ke arah Lulu. Gadis itu tampak tenang saat tidur menempel di sampingnya.


"Huff,, nyaman sekali. Berbaring seperti ini denganmu, terasa sangat menyenangkan buatku. Aku sampai lupa, kapan aku mulai menyukaimu. Sepertinya, aku juga mencintaimu begitu saja seiring berjalannya waktu," Drake memandangi langit-langit kamar sambil mengusap rambut Lulu.


Pukul 01.43


Di tengah malam, Lulu terbangun karena sebuah mimpi.


"Drake,, bangun. Ayo bangun," Lulu menggoyang-goyangkan tubuh Drake.


"Hoaahem,, ada apa?"


"Aku melihat mimpi."


SRET


Drake langsung duduk, "Mimpi buruk?"


Lulu mengangguk dengan wajah penuh kecemasan sambil menoleh ke arah jam dinding, "Yah. Empat puluh menit dari sekarang."


"Apa yang kau lihat dalam mimpimu?" Drake jadi cemas.


"Aku melihat seseorang sedang merakit sebuah bom. Lalu di dalam sebuah koper hitam bergembok merah. Dia menyembunyikan seseorang di sana. Itu saja."


"Sungguh? Lalu apa kau melihat orang itu sedang berada di mana?"


"Entahlah, hanya.. orang itu datang dan masuk ke salah satu kamar berderet dengan ruangan bernuansa merah tua persis seperti kamar ini. Di depan kamar itu ada nomor kamar seperti di hotel. Ah, aku rasa ini penglihatan yang akan terjadi di hotel ini. Tapi sayang sekali, aku tidak bisa melihat jelas nomor kamarnya."


"Jika itu yang terjadi, kita harus segera mengurusnya. Bisa gawat jika bom itu sampai meledak. Apalagi ada seseorang yang dibunuh atau sengaja disembunyikan di dalam koper!" Drake pecicilan turun dari ranjang.


"Apa aku harus melapor pada polisi?" Lulu sangat cemas.


"Aku tidak yakin. Sebab kita tidak mempunyai bukti nyata perihal itu."


"Baiklah. Kita cari dulu bom rakitan itu. Aku akan berusaha melihat kembali di mana lokasi detilenya," Lulu menggulung rambutnya ke belakang.


"Hmm. Lakukan yang terbaik. Aku akan berkeliling lebih dahulu mencari kamar yang kau maksud."


"Apa kau tidak ingin aku ikut bersamamu?"


"Tidak. Kau harus tetap di sini. Berkonsentrasilah untuk mendapatkan kembali penglihatanmu. Jika sudah dapat, beritahu aku."


"Baiklah. Berhati-hatilah, Drake. Aku akan berusaha sebaik mungkin," Lulu menggenggam tangan Drake sebelum pria itu pergi.


••••••


DRAP


DRAP


DRAP


Suara langkah Drake yang memeriksa ruangan demi ruangan. Sudah beberapa kali ia memanggil F5 untuk mendapatkan bantuan namun belum juga ada jawaban.

__ADS_1


"Jika ada seseorang disembunyikan dalam koper, itu artinya ada pelaku pembunuhan yang sedang berusaha menutupi perbuatannya dengan menciptakan ledakan."


"Siapa yang membunuh?" F5 akhirnya muncul.


"Ah! Kau akhirnya bangun. Lulu mendapat mimpi tentang seseorang yang merakit bom dan menyembunyikan manusia ke dalam koper. Apa kau bisa merasakan lokasi seseorang yang merakit bom itu?"


"Hei,, Bagaimana aku bisa melacak sebuah bom? Itu benda ciptaan manusia," F5 menggerutu.


"Lalu apa yang bisa kau lakukan?"


"Hanya jika manusia itu memiliki energi jahat, mungkin aku bisa merasakannya."


"Nah! Baguslah! Ayo cepat rasakan, di mana manusia yang memiliki energi jahat itu!" Drake berlari melanjutkan pencarian.


"Tunggu. Apa kau menyuruhku mencari energi jahat di tempat ini? Tidak semudah itu, kawan."


"Apa maksudmu?"


"Aku merasakan banyak energi di tempat ini. Selain aura merah, putih, hijau, kuning, ungu dan jingga yang tersebar di beberapa tempat, aura hitam dengan energi negatif lebih banyak dari yang kau bayangkan."


"Energi negatif di sini lebih banyak?" tanya Drake tidak percaya.


"Ya. Sifat manusia cenderung memiliki energi negatif sebagai campuran. Jadi jika kau mencari aura negatif dan jahat, sebetulnya mereka ada di mana-mana. Apa kau mau mencarinya satu per satu?"


"Jika itu mungkin, kau butuh berapa menit untuk memeriksa semuanya?"


"Hmm,, satu jam mungkin?"


"Haiss!! Itu tidak bisa. Kalau begitu cari saja aura yang gelap. Tidak, tidak. Cari aura yang paling gelap. Buruan! Waktu kita tidak banyak!" Drake melihat jam di ponselnya.


Tinggal dua puluh tiga menit lagi!


Drake selesai di lantai delapan dan sembilan. Sekarang ia menuju lantai sepuluh. Sialnya, lift di sana sedang dipakai seseorang hingga ia harus menggunakan tangga untuk naik ke atas. Ketika ia memeriksa kamar-kamar di lantai tersebut, sekelebat bayangan ungu terlintas di hadapannya.


"Hey, kau. Berhenti sebentar."


Bayangan itu berhenti sebab tidak percaya bahwa manusia di depannya bisa melihatnya.


"K Kau bisa melihatku?"


"Ya. Aku melihatmu. Hosh,, hosh,," nafas Drake ngos-ngosan.


"Sungguh? Wah, kau pasti bukan orang biasa karena bisa melihat hantu," roh beraura ungu itu merasa takjub karena bertemu Drake.


"Kalau begitu, ada apa? Kenapa kau memanggilku?" lanjut roh beraura ungu itu.


"Apa kau melihat seseorang yang baru terbunuh di hotel ini?"


"Seseorang yang dibunuh baru-baru ini? Hmm,, Sepertinya tidak ada. Aku baru saja kembali berjalan-jalan dan tidak melihat satu pun pendatang baru."


"Benarkah? Kalau begitu terima kasih untuk infonya," Drake bergegas pergi untuk memeriksa kamar lain dengan aura negatif yang pekat.


Ketika selesai dengan lantai sepuluh, Drake turun ke lantai enam memeriksa semua ruangan di lantai tersebut. Kini, ia bersiap menuju lantai lima. Sayangnya, hanya tersisa sembilan menit sebelum bom itu meledak.


"Tinggal sembilan menit tersisa. Apa kau belum mencium sesuatu yang sangat buruk?


"Bersabarlah. Aku sedang berusaha..."


"Baiklah."


SRET


Ketika Drake masuk ke dalam lift, seseorang menahan pintunya.


"Aku mendapatkan posisinya. Orang itu ada di lantai dua," kata Lulu dengan nafas terengah.


"Kau sudah mendapatkannya?? Bagus! Ayo kita ke sana," respon Drake.


"Tunggu. Masih ada yang belum aku katakan. Dia menyemprot dan meletakkan banyak sekali kaleng pengharum ruangan di kamarnya."


"Pengharum ruangan?"


Lulu mengangguk cepat.


"Aku rasa dia berniat membuat ledakan yang besar. Pengharum ruangan itu mengandung aerosol. Jika api menyentuh kalengnya sedikit saja, gas di dalamnya akan bereaksi dengan cepat. Satu kaleng saja bisa meledakkan sebuah rumah. Bayangkan jika kaleng itu berjumlah banyak. Bangunan ini akan hancur lebur tak tersisa.


"Apa??"


"Kita tidak bisa menundanya lagi. Ayo cepat temukan kamar itu!" perintah Drake.


Lulu mengangguk dan langsung masuk ke dalam lift untuk pergi bersama Drake menuju lantai dua.


Begitu sampai di lantai dua, mereka keluar dari lift dengan tergesa. Tinggal lima menit lagi bom itu meledak.


Karena situasi yang amat mendesak, Drake menghentikan waktu yang sedang berjalan. Ia tidak bisa menyeret semua orang untuk mengalami marabahaya.


"Kawan,, Kau bisa mencium bau dari kejauhan, bukan? Cepat, bantu aku temukan ruangan yang harumnya menyengat!"


"Siap!" F5 merasa bisa melakukannya.


Mudah saja. Diendusnya bau menyengat dari pengharum ruangan. Begitu F5 merasakannya, ia pun menemukan kamar nomor 269.


"Kamar 269!!"


Drake dan Lulu bergerak cepat. Mereka berdua mendobrak pintu dan menemukan puluhan kaleng pengharum ruangan di lantai. Kemudian di tengah ruangan, tepatnya di atas ranjang, sebuah koper hitam bergembok merah tampak dililit oleh rantai dengan bom yang siap meledak.


.


.


.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2