
BAB 50
SRAK
PRAANGG
Beberapa benda yang terkena sabetan tentakel dan rumbai panjang yang keluar dari punggung Drake, berjatuhan dan berserakan di lantai.
Karena Lulu terdesak ke sudut ruangan, ia tidak bisa berbuat apapun ketika benda yang meliuk-liuk itu melilit tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, sebuah lidah ungu dengan lubang di dalamnya dan persis seperti sedotan, keluar dari ujung tentakel.
Lidah panjang itu tiba-tiba saja menusuk dada kanan atas Lulu dengan cepat. Sebab, Lulu memberontak dengan keras saat makhluk yang menguasai Drake itu berusaha melahap kepalanya.
"Drake,,," suara lirih yang terkejut itu memanggil Drake.
GLUK
GLUK
GLUK
Rupanya, lidah ungu yang menyerupai sedotan itu menyedot kuat darah Lulu. Akan tetapi, Lulu yang tidak mau Drake dikuasai makhluk jahat itu pun berusaha terus memanggilnya meski lambat laun ia merasa lemas.
"Drake, sadarlah...." ucapnya sambil memegangi kepala Drake dengan kedua tangannya.
Secara kebetulan, tiba-tiba saja tubuh Drake gemetaran. Lidah penyedot yang menusuk dada kanan Lulu pun menarik diri seperti takut akan sesuatu.
Kemudian, sulur dan rumbai yang keluar dari punggung Drake juga kembali masuk ke dalam daging dan segera menutup jaringan luka.
Apa yang terjadi?
Rupanya, darah Lulu yang dihisap itu mempunyai kandungan darah emas yang siapa sangka dapat menekan perilaku agresif dari sisi lain F5. Dengan kata lain, darah Lulu itu adalah obat penawar untuk Drake agar sisi gelap F5 tetap tidur dan tidak muncul keluar.
Dan..
Begitu wujudnya kembali normal sepenuhnya, Drake lemas dan tidak sadarkan diri. Ia jatuh ke dalam pelukan Lulu dan membuat gadis itu ikut jatuh karena tidak kuat menahan berat tubuhnya.
GLABRUK
Meski ia jatuh ke lantai karena berusaha menopang tubuh Drake, Lulu menangis lega dan penuh syukur sambil memeluk pria yang disukainya itu.
"Oh Tuhan, syukurlah dia sudah kembali," Isak tangis Lulu di tengah malam itu.
••••
KLIP
Pada jam tiga pagian, Drake mulai sadar. Ia membuka matanya pelan dan merasakan sesuatu yang empuk di bawah kepalanya.
"Nyaman sekali..." gumamnya setengah sadar sambil membetulkan posisi bantalnya yang kenyal dan empuk.
Bantal??
"Hiiyykk??!!" Drake mendelik dan meringkik kaget.
Cepat-cepat ia menghentikan gerakan tangannya yang ternyata sedang memijit dan memegangi dada Lulu.
Begitu ia benar-benar sadar dan melihat bahwa dirinya berada di dalam pelukan Lulu, Drake segera menyingkir dan duduk dengan kebingungan.
"Apa yang ku lakukan semalam? Mungkinkah sisi gelap F5 bangun dan membuat ulah?" tanyanya pada diri sendiri sambil menggaruk-garuk kepala.
Drake yang tidak tahu bahwa Lulu adalah salah satu keturunan darah emas, tidak menyadari kalau Lulu sedang terluka dan berdarah. Sebab, warna darah dan warna pakaian yang dikenakan Lulu hampir sama. Jadinya, darah emas itu pun tersamarkan.
"Eh, kau sudah siuman?" tanya Lulu begitu ia membuka mata.
"Hmm. Apa kau baik-baik saja?" Drake membantu Lulu duduk.
"Iya. Aku hanya merasa lemas sedikit," Lulu menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada di belakangnya.
Mendengar itu, Drake merasa cemas.
__ADS_1
"Apa mau ku ambilkan minum?" Drake sudah mau berdiri namun dicegah oleh Lulu.
Dengan tangan yang sedikit lemah, Lulu meraih tangan Drake.
"Tidak. Duduk saja di sini, temani aku," jawabnya.
Akhirnya, Drake kembali duduk dan memperhatikan Lulu. Mereka tidak saling bicara untuk beberapa detik. Namun karena Drake amat penasaran, ia pun bertanya pada Lulu soal semalam.
"Apa yang terjadi? Mengapa kita berdua tidur di lantai?"
"Itu karena...."
"Apa semalam aku berulah?" Drake buru-buru menghadap ke arah Lulu.
Lulu menatap Drake. Kemudian ia mengangguk perlahan, "Benar. Saat aku memanggilmu semalam, matamu berubah jadi hitam kelam. Disusul sesuatu yang mirip tentakel dan cacing panjang keluar dari punggungmu. Lalu setelah itu, wajahmu juga berubah menjadi wajah makhluk yang mengerikan. Apakah itu wujud asli dari makhluk yang ada di dalam tubuhmu?"
GLEK
Drake diam dengan wajah syok, "Semalam, aku pasti melukaimu. Apa saat itu aku juga berusaha melahapmu?"
Lulu melotot terkejut, "Iya. Apa kau ingat yang kau lakukan semalam?"
"Hmm. Sepertinya aku ingat sedikit," Drake memegangi kepalanya untuk mengingat kejadian semalam.
Suasana menjadi hening sesaat. Kemudian, Lulu memberanikan diri bertanya.
"Kau yakin tidak masalah bergantung hidup pada makhluk mengerikan seperti itu, Drake?"
Drake menelan ludah. Ia ikut menyandarkan punggungnya ke dinding.
"Aku tidak punya pilihan lain."
Lulu menoleh dan memperhatikan Drake dengan tatapan penuh perhatian.
"Kau dengar sendiri, bukan? Sekarang ini, aku hanya sesosok mayat yang bisa hidup kembali karena keberadaan dia di dalam tubuhku."
Lulu merasa sedih mendengarnya. Ia melihat peringatan kecelakaan waktu itu dalam mimpinya. Namun ia tidak tahu bahwa Drake lah yang ada di sana sebab ia tidak bisa melihat wajah mereka.
Seandainya ia datang lebih awal, mungkin ia bisa menyelamatkan hidup Drake. Karena itulah, ia meminta maaf pada Drake soal itu.
"Maaf Drake, aku pikir, semua ini salahku. Kau bisa menyalahkanku atas semuanya."
"Salahmu? Apa maksudnya?" Drake tidak mengerti, mengapa ia harus menyalahkan gadis yang duduk di sampingnya itu.
"Seandainya aku datang lebih awal menyelamatkanmu, kau pasti tidak akan mengalami kecelakaan dan kehilangan nyawa."
Drake ingat, bahwa Lulu datang saat ia mengalami kecelakaan waktu itu. Bahkan berkat Lulu lah, ia bisa membawa Joy pulang ke rumah dengan sepedanya.
"Apa waktu itu, kau tahu akan ada kecelakaan di sana?"
Lulu mengangguk, "Seperti biasanya, saat itu aku mendapat penglihatan lewat sebuah mimpi. Dan itu terjadi satu atau dua jam sebelum kejadian buruk dalam mimpiku itu terjadi."
"Aah, seperti kemarin saat kita pergi menyelamatkan teman-teman, ya?"
"Iya."
"Tidak apa. Itu bukan salahmu. Sudah takdirku menjalani kehidupan seperti ini."
"Tidak Drake, takdir bisa diubah selama kita mau berusaha," jawab Lulu.
"Soal kecelakaan itu, aku melihat seorang pria dan seorang anak kecil yang akan mengalami kecelakaan mobil. Sayangnya, aku tidak bisa melihat wajah mereka."
"Setelah itu, aku berusaha meneruskan mimpiku. Tapi sayang, aku kesulitan mengintip kejadian di masa depan. Alhasil, aku terlalu lama membuang waktu untuk mencari lokasi kecelakaan itu. Seandainya aku bisa lebih cepat mendapat penglihatan lanjutan, aku pasti bisa menyelamatkanmu dari nasib buruk itu."
Drake meraih tangan kiri Lulu sambil tersenyum, kemudian ia menepuk-nepuknya perlahan.
"Jangan merasa bersalah, Lulu. Itu sudah lama berlalu. Yang terpenting, aku masih hidup meski dengan bantuan makhluk lain di dalam tubuhku."
Melihat Drake begitu tenang, Lulu pun akhirnya tersenyum. Memang benar, yang terpenting saat ini, Drake masih hidup dan selalu ada di sisinya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau bisa bantu melihat sesuatu untukku?" Drake ingat akan sesuatu.
"Melihat sesuatu?"
__ADS_1
"Hmm. Sudah lama aku penasaran soal ini."
"Soal apa itu?"
"Selama ini, aku merasa tengah diamati sesuatu yang tak kasat mata. Entah itu siang atau malam, aku merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasiku dari suatu tempat. Apa kau bisa melihat siapa pelakunya?"
Drake bertanya soal sesuatu yang mengawasinya selama ini. Ia tidak tahu, bahwa sama ini pula, Lulu lah yang melakukannya.
DEG
Lulu melirik sedikit ke arah Drake. Ia tidak bisa mengaku begitu saja soal kelakuannya yang memalukan.
"Ehehe, emm. Penguntitkah itu?" tanyanya gugup.
"Aku rasa bukan. Menurutku, itu lebih seperti hal gaib. Sesuatu yang tak kasat mata dan mengawasiku dari sudut kamar mandi, kamar tidur atau di manapun aku berada."
"I itu mungkin sulit..."
"Sulit, ya?" ucap Drake lesu.
"Hmm. Kau,, tidak berpikir kalau itu hanya perasaanmu saja?"
"Bagaimana mungkin. Jika itu perasaanku saja, aku tidak akan merasakan sesuatu saat mencoba menembus ruang dan waktu untuk mencengkeram tangannya."
GLEK
Lulu ingat kala Drake menggenggam erat pergelangan tangannya dari jarak jauh.
"Kau menyentuh sesuatu?"
"Ya. Aku jelas bisa merasakan pergelangan tangan seseorang meski dari jauh. Aku pikir, cengkeraman kuatku itu akan meninggalkan bekas luka di pergelangan tangan orang tersebut."
Lulu menggeser tangan kirinya. Walau ia yakin bekas cengkeraman itu sudah memudar, namun ia masih merasa gugup.
"A apa kau merasa sangat terganggu karena hal itu?"
"Tentu saja. Aku merasa setiap gerak gerikku diawasi. Tapi aku tidak tahu siapa yang sedang mengawasiku. Bagaimana jika benar-benar ada seseorang yang mengawasiku, saat aku sedang di kamar mandi?"
"Iya juga...." Lulu merasa bersalah. Ia berpikir kalau Drake benar-benar tidak nyaman dengan apa yang ia lakukan.
"Iya kan? Coba bayangkan, kalau saja aku sedang buang air besar dan pelaku itu seorang wanita?" Drake menoleh dan bertanya dengan tatapan serius.
"Eh.." kini Lulu benar-benar merasa bersalah.
"Haarrg! Itu benar-benar tidak lucu. Aku yang tampan ini akan terlihat sangat jelek di matanya, bukan? Jika dia seorang wanita dan dia melihatku sedang mengejan, bukankah aku tidak ada harga dirinya lagi??" lanjut Drake sambil mengacak-acak rambutnya dan berekspresi lucu.
"Hmpp!" Lulu hampir saja tertawa.
Ia benar-benar merasa geli dengan pikiran Drake barusan. Bisa-bisanya dia bicara seperti itu setelah baru saja membicarakan hal serius.
Namun, Drake tidak tahu, kalau Lulu tidak menjadikan itu sebagai masalah besar. Sebenarnya, sedang apapun Drake saat itu, Lulu selalu senang bisa melihatnya meski hanya dari jarak yang jauh.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri seperti itu?"
"Eh??" Lulu terkejut saat Drake memergokinya sedang tersenyum-senyum.
"Kau memikirkan soal ucapanku barusan?"
"Ehehehe, tidak. Aku tidak memikirkan soal itu, kok," jawabnya.
"Sungguh?"
"Iya, sungguh."
Lulu tersenyum dan menatap Drake. Sedangkan Drake tertawa sambil mengusap rambut bagian belakangnya. Ia tidak percaya, akan berbagi rahasia penting dengan gadis manis itu.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1