
BAB 2
TUK
TUK
TUK
Suara ketukan sepatu Luna mengiringi langkah mereka yang santai. Tak terasa, mereka sudah sampai di depan rumah Luna.
"Baiklah, aku pulang sekarang," pamit Drake berbalik pergi.
"Tunggu, Drake! Tidak bisakah kau menginap di sini malam ini?"
"Ada apa? Kau sedang butuh teman minum?" tanya Drake menoleh heran.
"Ya. Di ulang tahunku ini, aku ingin mengobrol sampai malam dengan seseorang."
Drake mendengus, "Telepon saja Alan. Dia kan tunanganmu. Sedang apa dia sekarang sampai membatalkan acara makan malam dengan pacarnya?"
"Sudahlah. Mau tidak?"
Drake berpikir sejenak. Ia masih harus menyelesaikan naskahnya. Tapi jika melihat situasi Luna saat ini, sepertinya ia benar-benar harus menemaninya.
Luna sudah cukup lama hidup sendiri di rantauan. Ayahnya ada di kampung halaman sembari membuka toko rotinya bersama adik perempuannya.
Sebagai anak sulung, ia ingin mandiri dengan mencari pekerjaan di tempat lain. Setiap hari ulang tahunnya, ayah dan adiknya selalu datang berkunjung. Namun tidak hari itu. Mereka sedang sibuk dengan pesanan kue untuk acara pernikahan seseorang.
Karena Luna sudah masuk ke rumah, Drake segera menyusulnya. Ia tidak tega jika harus meninggalkan Luna sendirian di hari spesialnya.
SRAT
Drake melepas jaket luarnya dan melemparkannya begitu saja di atas sofa. Kemudian ia langsung meraih remote tv dan menyetel acara kesukaannya. Pertandingan MMA yang disiarkan langsung.
"Kau merindukan masa lalu?" tanya Luna membawa dua buah cangkir minuman kopi hangat.
"Tidak. Bukankah kau sudah melarangku untuk ikut pertandingan lagi?"
"Eh? Benar, ya? Aku menyuruhmu?" Luna menggaruk keningnya karena lupa.
"Waktu itu kau yang masih kelas dua SMA menangis karena aku terluka."
"Eh, bener deh aku ingat. Begitu lulus sekolah, kau ikut pertandingan itu karena waktu itu pertama kalinya kau kabur dari rumah, kan?"
"Hmm. Saat itu, keluargamulah satu-satunya orang yang mau menampungku. Hehe," Drake mengenang masa itu sambil mengupil.
TUINGG
Ia menyentil upil kering yang baru saja ia korek hingga melenting ke udara. Sialnya, upil itu jatuh ke atas punggung tangan Luna sebelah kiri.
"Eh, apa ini?" reflek, Luna pun mengamatinya dari dekat sesuatu yang baru saja jatuh ke atas tangannya.
Melihat upilnya jatuh ke tangan Luna, Drake berlagak mau pergi ke toilet. Namun Luna yang sudah terlanjur tahu bahwa itu hasil karya Drake segera menarik kerah baju bagian belakang pria itu.
"Mau ke mana kau buru-buru pergi?" mata Luna mengeluarkan api membara.
"Anu... itu..."
PLAK
PLAK
PLAK
Luna memberi hadiah pada kepala Drake. Seketika itu juga muncul benjolan yang bertumpuk-tumpuk.
"Apaan sih kau, memukulku seenaknya...." Drake melakukan aksi protes.
"Jorok sekali! Buang limbah hidungmu itu ke pojok dinding. Jangan kau sentil ke mana-mana. Bisa terinjak kakiku nanti!"
"Hehe. Iya iya. Aku minta maaf."
SRUPUT
Luna menyeruput minumannya. Diikuti Drake. Mereka diam beberapa saat sambil menonton pertandingan MMA di tv.
LIRIK
LIRIK
👀
__ADS_1
Drake melirik Luna. Lalu menyeruput kopinya. Satu detik kemudian, ia melirik Luna kembali. Lalu menyeruput kopinya. Begitu terus selama lima menit berlalu.
Karena ia tidak betah dengan situasi canggung itu, Drake mulai mengajak Luna mengobrol.
"Hubunganmu dengan Alan bagaimana? Apa dia akan menikahimu dalam waktu dekat ini?"
"Dia bilang begitu."
"Pekerjaannya?"
"Urusan di kantornya baik. Jadi seharusnya, tahun ini kami bisa melangsungkan pernikahan."
"Hhmm. Baguslah," Drake melirik lagi.
Sayangnya, yang dilirik tidak menyadarinya. Luna tampak melamun seperti memikirkan sesuatu.
KLIK
Drake mengganti saluran televisi ke Chanel lain. Tapi tidak ada yang bagus hingga akhirnya ia matikan.
"Tidak ada yang bagus, ya?"
"Hmm. Benar."
"Drake, maaf ya. Sepertinya aku akan pergi tidur lebih dulu. Kau bisa menonton MMA sampai larut malam," kata Luna.
"Eh? Sudah mau tidur?" Drake menoleh cepat. "Ya sudah. Tidurlah kalau sudah mengantuk," lanjutnya.
"Yah."
Karena Luna sudah berada di kamar, Drake kembali menyalakan televisi. Ia pergi ke dapur dan membuka laci-laci lemari tempat menyimpan makanan ringan.
"Wuah? Kacang almond coklat?" bagai menemukan harta karun, Drake langsung mengambilnya.
Lalu beberapa bungkus makanan ringan seperti keripik kentang dan biskuit gurih dengan tanggal expired yang masih lama.
"Taraaa.. kalau begini sih, aku tahan begadang sampai pagi," ucap Drake riang.
Nyatanya........
Drake tertidur dengan televisi yang menonton dirinya.
••••
Ketika itu, Luna sedang mengepel lantai rumahnya dengan Vacuum cleaner. Ia melihat bahwa Drake belum juga bangun. Maka ia pun mendekati pria itu dan mematikan Vacuum cleaner yang sedang ia gunakan.
"Apa dia tidur sambil makan?" Luna melongok dan memperhatikan mulut Drake yang menganga dengan kacang almond di dalamnya.
Bungkusan kacang almond coklat dan makanan ringan lainnya tampak berserakan di sebelahnya.
NGGROOOKK
Suara ngorok Drake membuat Luna kaget dan terjengkang ke belakang.
"Ish, dasar tukang tidur. Jorok sekali! Lihat mulutmu hampir saja dikerubuti semut," ucapannya terlontar begitu saja secara tidak sadar. Kemudian ia menyalakan kembali Vacuum cleaner dan melanjutkan pekerjaannya.
Begitu sadar, ia pun panik.
"Tunggu. Apa? S semut?" Luna mendelik begitu melihat semut sudah berkerumun di dekat Drake.
Binatang kecil itu mendapatkan makanan dari remahan makanan ringan yang tercecer di lantai.
Karena gugup, Luna tanpa sengaja mengarahkan mesin vacum cleanernya ke arah Drake. Alhasil, mesin itu menyedot kepalanya dengan kuat....
NGGUUUNGG
NGGUUNGG
Drake kaget bukan main. Ia berusaha melepaskan kepalanya yang tersedot dengan cepat.
"Eh buset! Apa yang kau lakukan, Luna? Apa kau mau menyapu bersih tubuhku?"
"M maaf, maaf. Aku tidak sengaja."
Mesin itu pun akhirnya berhenti setelah Luna menekan tombol off.
"Haiss! Rohku rasanya hampir saja keluar dari tubuhku. Apa yang sedang kau pikirkan, sih?" ucap Drake sambil memijit pelipisnya.
__ADS_1
"Cepat bereskan semua kekacauan yang kau buat! Kau ini manusia atau monyet sih? Mengapa sampah-sampah ini kau biarkan berserakan?!"
"Wooah?? Mo-Monyet? Apa barusan kau mengataiku monyet?" Drake bangkit berdiri dan menirukan gerakan monyet.
Seketika, Luna menggembungkan pipinya karena menahan tawa. Ia benar-benar tidak bisa memarahi Drake jika sudah begini.
Pria itu, selalu bisa menjadi apa saja yang dia mau. Dan sejak dulu, pria itu juga menghiburnya saat ada masalah. Benar-benar sahabat ideal.
"Apa kau baru saja tertawa?"
"Tidak," Luna langsung menyingkir saat Drake memergokinya sedang tertawa imut.
"Eeeh... jangan bohong. Tadi kau tertawa, kan?"
"Sudah ku bilang tidak," Luna pura-pura fokus mengepel.
"Hmm. Ya sudah," Drake duduk kembali dan meraih keripik kentang yang sudah terbuka semalaman.
"Eh? Sudah melempem? Apa aku membiarkannya terbuka semalaman? Sayang sekali..." gumam Drake tetap melahap keripik kentang sisa semalam.
"Buang saja. Lagipula, itu sudah dikerubuti semut."
"Se-semut?"
Diperiksanya bungkus keripik kentang itu dengan cepat. Benar saja. Ada semutnya! Dan semut-semut itu sekarang sudah merambat ke bajunya.
PUIH!
PUIH!
Drake meniup-niup semut yang masuk ke mulutnya sambil melepas bajunya dengan cepat. Kemudian ia kibas-kibaskan baju warna putihnya itu supaya semut-semut itu berjatuhan.
"Hey semut nakal. Kau membajak makananku, ya? Kalau begitu, nih.. bawa saja semuanya. Lain kali, tukar keripikku dengan pizza dari Sicillian Pizza. Oke?"
"Hmmpp! Hahaha.. Edan kau. Semut mana bisa mengerti ucapanmu, Drake? Lagian, Sicillian Pizza sulit didapatkan karena antrean terlalu panjang."
"Yaah.. tidak ada salahnya kan mencoba. Hehe."
Luna tertawa geli melihat tingkah kawan karibnya itu.
TING TUNGG
Suara bel terdengar. Ada seseorang yang datang. Siapa? Kalau itu Alan, dia pasti akan langsung masuk ke dalam. Tapi itu tidak.
Luna buru-buru menyelesaikan pekerjaannya yang hampir selesai. Sedangkan Drake membereskan bungkus cemilan yang berserakan di lantai.
SAT
SET
SAT
SET
Semua sudah bersih ketika Luna membukakan pintu.
"Lunaaaa!!!" dua orang merangsek masuk sambil menjinjing barang.
"Ayah? Terra?"
Orang yang disebut itu terkejut melihat Drake ada di dalam dan tengah bertelanjang dada. Sedangkan Drake dan Luna sendiri terkejut karena mereka datang tanpa pemberitahuan.
"Kau? Ada apa dengan pakaianmu???" tanya ayah Luna canggung.
"Eh, paman? I-ini.." Drake mengusap dadanya karena gugup.
KLIP
KLIP
"Kalian tidak sedang melakukan sesuatu, kan?" ayah Luna meraih sendalnya dan memukul-mukulkannya ke telapak tangan kiri.
Luna dan Drake berpandangan. Lalu secepat kilat menghindari serangan sendal maut yang dilemparkan ayah Luna.
"Katakan! Apa yang baru saja kalian lakukan!! Mengapa kau melepas baju di hadapan putriku????" suara sopran ayah Luna seakan mengguncangkan seluruh isi rumah.
Apa yang akan terjadi berikutnya??
Lanjutkan baca dong...
Like dulu jangan lupa..😀👍🏻
__ADS_1
BERSAMBUNG....