HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
BERPRASANGKA BURUK


__ADS_3

BAB 38



Situasi yang saat itu dihadapi Drake benar-benar tidak baik. Ia dikepung oleh Luna, ibunya, Claudia dan beberapa staf mall lainnya


"Drake? Apa itu kau?" begitulah pertanyaan yang secara spontan dilontarkan oleh nyonya Wendy.


Saat Drake bingung hendak berbuat apa, datanglah Dwine beserta orang-orang yang tadi mengejarnya.


"Di sana! Cepat tangkap dia!" perintah Dwine pada teman-temannya.


"Eh, ada apa ini?" Luna bingung saat melihat Dwine mencekal tangan Drake bersama kawan security-nya.


Nyonya Wendy pun sama bingungnya. Apa yang terjadi? Mengapa mereka menangkap putranya dengan cara seperti itu?


Dwine membungkuk memberi salam hormat pada direktur mereka.


"Tunggu. Jelaskan apa yang sedang terjadi di sini, tuan Dwine," tanya nyonya Wendy.


Dengan percaya diri, Dwine menjelaskan tentang bagaimana Drake mengendap-endap dan mengambil sebuah baju di salah satu toko.


"Jadi begini, direktur. Pria ini tertangkap basah olehku sedang mengutil sebuah pakaian pria di toko kita. Sewaktu ketahuan olehku tadi, dia langsung melarikan diri."


"Nah. Sebagai karyawan yang sangat memperhatikan keamanan dan kenyamanan pengunjung mall, maka sebagai supervisor di King Store saya memerintahkan security untuk menertibkan pengutil ini sebelum membuat masalah yang lebih besar."


Usai menjelaskan panjang lebar, Dwine memerintahkan security untuk menangkap Drake. Dengan kasar mereka mencekal kedua tangan Drake dan menyeretnya pergi.


"Kau bilang dia mengutil? Apa kalian bercanda??" Claudia berteriak marah sebelum nyonya Wendy membuka suara.


Dwine menoleh terheran-heran, mengapa wanita yang datang bersama direktur mereka berteriak tidak sopan seperti itu padanya.


Lebih-lebih, setelah nyonya Wendy memejamkan mata dan memberi isyarat pada Carlos, asisten pribadinya itu langsung bergerak maju.


"Lepaskan dia sekarang. Apa kalian tidak tahu siapa dia?? Haa??!!" bentak asisten pribadi nyonya Wendy itu.


"Tapi,, dia mengutil..."


"Cepat lepaskan, atau kalian semua akan mendapat masalah besar!"


"B b b b baiklah."


Asisten pribadi yang bernama tuan Carlos itu mendekati Drake dan menundukkan kepala memberi hormat. Merasa bahwa jati dirinya akan segera terbongkar di depan Luna, Drake memberi isyarat dan menggelengkan kepala pada Carlos agar tidak melanjutkan ucapannya.


Akan tetapi, Carlos juga memiliki tuannya sendiri. Dan tuan tersebut sudah memberinya perintah untuk mengurus hal tersebut.


"Apa kau baik-baik saja, tuan muda??" ucapnya.


GLEK


Semua karyawan dan pengunjung yang berkumpul menonton pertunjukkan itu melongo dibuatnya.


"T t tuan muda??" Dwine dan Luna membelalakkan matanya.


"Hiss,,, kenapa harus begini jalan ceritanya,," dengus Drake.


Karena Dwine langsung menyadari apa itu arti dari kata tuan muda, ia pun langsung meminta maaf dengan segala hormat.


"Tuan muda?" tanyanya pada tuan Carlos.


"Hmm. Dia tuan muda kedua. Drake Halbert," jawab Carlos.


"Tuan muda kedua???"


Semuanya benar-benar syok dan dibuat mati berdiri. Mereka yang tadi sempat menyeret-nyeret Drake untuk dibawa pergi pun segera berlutut di hadapan Drake dan direktur. Terutama Dwine.


"Maafkan kami tuan muda, nyonya. Kami benar-benar bodoh karena tidak mengenali keluarga inti."


"Kalian harus mendapat hukuman karena menyebut putraku sebagai pengutil."


"Ampuni kami nyonyaaaa,," semuanya bersujud meminta ampun.


Meski mereka berteriak meminta ampun, nyonya Wendy tetap tidak mau tahu. Ia memerintahkan staff yang berkepentingan dalam hal ini untuk berkumpul dan menemuinya di kantor.


"Bubarkan kerumunan. Suruh mereka menemuiku di kantor," pesannya pada Carlos.


"Baik, nyonya."


WUUZZZZ


Dan setelah semuanya berkumpul serta mendapat pengumuman hukuman, mereka kembali berlutut di hadapan Drake dan meminta maaf.

__ADS_1


"Tuan muda kedua, kami minta maaf secara tulus kepadamu. Tolong ampuni kami,," Dwine memimpin permintaan maaf.


Drake yang sedang duduk di kursi sofa itu pun segera bangkit berdiri, "Sudah, sudah berdirilah. Aku tidak menyalahkan kalian atas kejadian ini. Kalian pasti tidak mengenalku karena aku tidak pernah datang ke mari, bukan?"


"Ya, ya, ya," jawab mereka bersama-sama.


"Kalau begitu lupakan. Anggap saja kita baru berkenalan,,,hehe,," Drake menanggapi hal itu dengan senyuman dan kepala dingin.


"S s sungguh??" semuanya merasa bahwa tuan muda kedua ini adalah seorang yang baik dan mudah memaafkan.


Tapi baru juga kesenangan mereka dapatkan, teman sekolah dasar Drake berkata,


"Jangan maafkan mereka! Mereka orang-orang tidak tahu diri. Bisa-bisanya mereka menyeretmu seperti maling. Oh, astaga. Ini tidak benar!" Claudia masih marah.


"Bibi, pecat saja mereka," lanjutnya.


"Ohhoo!! Tidak, tidak. Jangan lakukan itu, ibu. Ini semua salahku karena berpenampilan seperti ini. Itu murni bukan kesalahan mereka semata."


Dalam kesempatan itu, Nyonya Wendy memiliki rencana.


"Baiklah. Ibu tidak akan memecat mereka semua, asalkan kau mau mengikuti beberapa jadwal kencan buta yang sudah ibu atur untukmu."


"Apa??" Drake jadi terkejut.


"Tidak mau ya sudah. Mereka semua akan ibu pecat hari ini juga. Termasuk wanita itu," nyonya Wendy menunjuk pada Luna.


"Ah??" Luna cemas.


"Ibu??? Apa ini harus diselesaikan dengan cara itu?"


"Ya."


Drake nampak sangat keberatan dengan rencana kencan buta itu. Namun ia tidak bisa membiarkan ibunya memecat orang-orang yang membuat masalah hari ini. Khususnya Luna.


Dengan lesu, Drake menjatuhkan dirinya duduk kembali ke sofa. Ia mengusap muka dan rambutnya sambil menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar.


"Baiklah. Aku akan melakukannya," jawab Drake dengan wajah yang jelas-jelas terpaksa.


"Bagus. Kalian semua boleh keluar."


••••••


TAP TAP TAP


"Tuan muda..."


"Tuan muda..."


Karena semua sudah tahu bahwa dirinya adalah putra direktur, maka semua menyapa hormat begitu Drake lewat. Namun begitu, ia sama sekali belum bertemu Alan semenjak tadi.


CKIT


Dihentikannya langkahnya ketika dilihatnya Luna sedang duduk melamun menatap ponselnya di tengah-tengah anak tangga khusus karyawan.


Dengan langkah pelan, didekatinya gadis yang duduk sendiri itu. Kemudian ia ikut duduk di sampingnya tanpa membuat suara.


"Apa kau bersembunyi dariku?"


"Ahh? K kau.." Luna sangat terkejut. Sebab itulah ia menjadi sedikit gugup dan canggung.


"Bukankah kau menyuruhku datang karena ada yang mau kau tanyakan? Mengapa sekarang kau diam saja setelah bertemu denganku?"


"I itu..."


Luna berusaha tidak melihat ke arah Drake.


"Luna. Aku harap,-"


"Ah, maaf tuan muda, sepertinya aku harus kembali bekerja," karena gugup Luna berdiri dan menyela dengan cepat.


SRET


Tapi Drake menahan tangannya, "Ada apa denganmu?"


Mereka diam beberapa saat.


Hening.


"Sekarang aku tahu. Bagaimana bisa kau memiliki pakaian eksklusif semahal itu. Rupanya kau putra dari grup K S. Bisa-bisanya selama ini aku tidak mengetahui hal sepenting ini."


"Oh ya. Karena gajiku tidak cukup untuk mengganti pakaian yang sudah ku rusak secara tunai, aku akan menggantinya dengan cara menyicil setiap bulannya," setelah berkata seperti itu, Luna menepis tangan Drake dan beranjak pergi.

__ADS_1


Drake buru-buru bangun dan mengejarnya, "Aku tidak memintamu untuk menggantinya."


"Aku tetap akan ganti."


"Tunggu, Luna. Kenapa sikapmu jadi berubah? Apa karena kejadian hari ini?"


"Tentu saja. Ahahaha, mana bisa aku bersikap santai seperti dulu pada putra seorang direktur utama. Aku takut, aku akan berbuat tidak sopan dan menyalahi aturan."


"Ah, kau ini. Ngomong apa sih? Kita masih tetap sama. Best friend lah... best friend..." Drake berusaha bersikap seperti biasanya dan merangkul pundak Luna dengan santai.


Akan tetapi Luna menolak sikap Drake tersebut dan menyingkirkan tangan Drake dari bahunya. Ia tidak bisa lagi bercanda dengan santai pada putra atasannya itu.


"Best friend katamu?"


"Tentu saja... jika bukan, lalu kita ini apa??" Drake nyengir seperti biasanya.


"Jika kau menganggapku sahabat, kenapa menyembunyikan berita sepenting ini dariku?? Apa kau memanfaatkan kebersamaan kita selama ini untuk sebuah tujuan??"


"Apa? T tujuan apa maksudmu?"


"Aku dengar gosip bahwa pemilik toko roti kami akan menjual tanah mereka ke pihak pengelola pembangunan gedung baru untuk sebuah pusat perbelanjaan. Yang hari ini, baru saja aku tahu, pihak pengelola itu adalah grup K S."


"Apa maksudmu?" Drake tidak mengerti.


"Kau mendekati keluarga kami dan berpura-pura minggat dari rumah karena tujuan itu, bukan? Karena kau,, bertugas untuk membujuk warga sekitar di komplek kami agar pindah rumah demi keuntungan kalian. Bukankah begitu?!"


Oh tidak. Ucapan Luna terdengar sangat kasar. Padahal, sedikitpun Drake tidak mengetahui soal itu.


"Khuhh..." Drake menghela nafas seraya menahan kekecewaan yang tertahan di lehernya.


Ia memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya kembali dengan wajah yang benar-benar kecewa.


"Bisa-bisanya kau berpikir sepicik itu tentangku. Aku saja baru tahu soal itu darimu. Sungguh!" lanjutnya dengan mulut sedikit tertawa namun tidak ada bedanya dengan menangis.


Hatinya benar-benar hancur saat Luna mengucapkan semua hal tidak benar tentang dirinya.


Luna menatap Drake yang sepertinya berkata jujur. Jika Drake tidak begitu, itu berarti, dirinya benar-benar sudah menyakiti perasaannya. Tapi semua sudah terjadi. Ia tidak bisa mundur lagi sebab ia terlanjur mengucapkan semuanya.


"Jika bukan untuk tujuan lain, untuk apa selama ini kau hadir dan mendukung kami?"


"Apa aku harus mempunyai alasan saat melakukan kebaikan untuk kalian??"


"Tentu saja. Biar semua jelas," jawab Luna ketus.


"Lalu, apa kau akan percaya jika aku mengatakan yang sejujurnya padamu?" Drake meraih tangan Luna dan berkata dengan sangat hati-hati.


Luna diam. Ia menyingkirkan tangan Drake kemudian berbalik melangkah pergi, "Sepertinya tidak perlu lagi."


Nafas Drake naik turun. Ditatapnya gadis yang baru saja mengaduk-aduk perasaannya itu.


SRATS


Drake mengejar Luna dan menariknya ke dalam pelukan. Sambil memejamkan mata, Drake mencoba mengutarakan isi hatinya.



HUG


HUG


"Itu karena aku mencintaimu, Luna. Selama ini aku melakukan itu untukmu. Karenamu, aku merasa nyaman bersama kalian. Paman Gibson, Terra. Kalian semua adalah keluargaku. Orang-orang yang memperlakukanku dengan begitu hangat."


Meski Drake mengutarakan isi hatinya yang tulus, bahkan suaranya pun terdengar bergetar karena itulah yang benar-benar ia rasakan, Luna tetap keras hati.


GYUTT


Didorongnya tubuh Drake agar menyingkir darinya, "Sayangnya, aku tidak percaya padamu lagi."


Sebelum Luna pergi, Drake menghadangnya untuk bertanya, "Tunggu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu."


Drake menarik nafasnya sebentar, kemudian melanjutkan pertanyaannya.


"Selama ini, apa kau pernah menyimpan perasaan untukku?"


Luna diam tidak bergeming. Ia mengalihkan pandangan matanya.


"Sedikitpun tidak pernah."


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2