HUG ME : Love And Friendship

HUG ME : Love And Friendship
PERKARA LISTRIK PADAM


__ADS_3

BAB 4


TRAK


TRAK


Suara itu berasal dari kamar di rumah orang tua Drake. Rupanya, setelah menyerahkan naskahnya, Drake pulang ke rumahnya untuk mandi.


Jarak yang lebih memungkinkan baginya untuk cepat sampai hanyalah itu pilihannya. Kantor Thomas, editornya, cukup dekat dengan rumah orang tuanya. Selain itu, nyonya Wendy kebetulan juga meminta putranya itu untuk pulang karena ia membuat makanan kesukaannya.


Mau tidak mau, Drake menuruti keinginan ibunya.



Meski sebenarnya, Drake malas pulang karena di rumahnya ada kakak iparnya. Kakak Iparnya ini adalah seorang perempuan bernama Eloise.


Seorang wanita cantik yang pernah menjadi kekasih Drake dan menjalin hubungan selama tujuh tahun. Namun entah mengapa, Eloise memutuskan hubungan dengannya dan beberapa hari kemudian menikah dengan saudara laki-lakinya yang bernama Pitt Halbert.


Drake muda yang manis dan bersemangat akhirnya berubah menjadi Drake yang kacau dan acuh tak acuh pada dirinya sendiri. Ia kabur dari rumah karena tidak ingin melihat Eloise berada di rumahnya.


Ia juga mengikuti beberapa pertandingan MMA ilegal di salah satu gedung bawah tanah di salah satu kasino paling terkenal. Ia pun mendapat uang dari sana. Itulah mengapa, sejak itu ia menjadi atlet MMA dan tidak pernah pulang ke rumah.


Karena ia tidak punya tempat tujuan, ia pun mendatangi rumah Luna, teman sekolah yang sudah akrab sejak kecil. Setelah mendapat persetujuan paman Carlos, ia pun menginap di rumah Luna untuk beberapa waktu sebelum ia membeli rumah sendiri.


SREK


SREK


SREK


Drake berjalan keluar dari ruang makan sambil kedua tangannya masuk ke dalam saku celana. Ia melangkah menuju ke kamarnya kembali, setelah menikmati masakan ibunya.


"Drake. Kau pulang ke rumah?" tanya Eloise yang tampak senang melihat mantan pacar yang sudah lama tidak ia temui itu pulang.


Drake menoleh terkejut karena ada orang di rumah, "Eh? Ya."


"Kau tampak berbeda sekarang, " Eloise. menghampirinya.


"Ah, begitu?"



"Ya,, kau tampak lebih dewasa sekarang. Dan macho... " jawab Eloise.


"Jadi, apa kau ingin mengatakan bahwa sebelumnya aku terlihat kekanakan? Huh,, itu lucu sekali," Drake tersenyum kecut kemudian membuang muka dan melangkah pergi.


SRET


Eloise meraih tangan Drake dan menahannya. Drake kembali menoleh. Ia tidak tahu apa maksud Eloise menahannya pergi.


"Sampai kapan kau akan terus menghindar dan dingin padaku? Tidak bisakah kita berdua kembali seperti dulu?" tanya Eloise.


GLEK


Mata Drake membelalak, "Apa maksudmu?"


"Hubungan kita. Tidak bisakah kita saling mencintai seperti dulu?" Eloise tiba-tiba saja memeluk Drake.


"Jangan gila! Kau istri Pitt sekarang," Drake menyingkirkan tubuh Eloise dan pergi meninggalkannya begitu saja.


"Jadi, seandainya aku bukan lagi istri Pitt, apa kau mau kembali padaku??" seru Eloise.


"Jangan harap," jawab Drake tanpa menoleh.


Hemm.... Mata kuning Eloise menatap punggung Drake sangat lama. Ia merindukannya. Pria yang menjadi kekasihnya dulu.


"Suatu hari nanti, aku akan kembali membuatmu luluh dan bertekuk lutut padaku, Drake."


Eloise membatin. Ia benar-benar tidak bisa membuang perasaaannya pada Drake meski sudah delapan tahun ia menikahi Pitt.


••••••


TLUK


TLUK


TLUK


Luna sedang berjalan menuju rumahnya ketika Drake datang. Gadis itu menjunjung dua buah kantung plastik yang tampak berat.


"Kau baru pulang?" Drake mengambil alih dua kantung plastik itu.


"Eh???" Luna menoleh terkejut.


Ia tersenyum melihat Drake datang dan membantunya membawakan barang tanpa diminta.


"Ya. Karena ada tamu eksklusif dari pusat, kami semua lembur. Kau sendiri? Sedang apa di sini? Mau menginap lagi?"

__ADS_1


"Hehe."


"Jangan bercanda! Terakhir kali kau kemari, kau menghabiskan semua cemilanku!" wajah Luna berubah bak macan garang.


"Eehh??"


Drake mengangkat tinggi dua kantung plastik yang sedang ia bawa. Kemudian ia melirik penasaran pada isinya.


SRET


Luna merebut kembali keduanya dari tangan Drake.


"Jangan harap! Aku baru saja membeli semuanya. Kali ini aku tidak akan mengijinkanmu menghabiskannya!" Luna bicara dengan asap mengepul keluar dari kepalanya.


Drake tidak mau menyerah. Ia memegangi kedua bahu Luna dari belakang dan menempel padanya lekat-lekat guna membujuknya agar ia diijinkan menginap.


"Tidak, menyerah saja... "


"Uuuumm, tidak mau..." jawab Drake sok manja.


"Sudah ku bilang tidak..." Luna tersenyum. Ia merasa sedang bicara pada anak kecil.


"Boleh yaa,,, aku sedang tidak ingin pulang ke rumah,,, " Drake menggelendoti dan menyandarkan dagunya ke bahu Luna.


"Hihihi, geli. Minggir sana."


"Tidak mau sebelum kau memberiku ijin... "


"Pokoknya tidak. Dasar anak nakal."


KLIP


Luna berhenti melangkah, begitu pun Drake. Ia buru-buru menyingkirkan kepalanya dari bahu luna sebab Alan berdiri di depan mereka.


"Alan?" Luna terkejut.


"Kau dari mana saja dengannya?" tanya Alan cemberut.


"Eh? Kami hanya bertemu di jalan. Dia membantuku membawakan belanjaan," jawab Luna.


Alan menatap Drake tajam. Ia benar-benar terganggu dengan keberadaannya di sana.


"Apa kau belum mau pergi?" tanyanya pada Drake.


"Apa? Ah, iya. Aku, sebaiknya pulang sekarang," jawab Drake sambil mengusap kepala bagian belakangnya.


"Loh! Kau tidak jadi menginap?" Luna keceplosan.


O Ooh...


Drake meringis dan menggaruk-garuk kepalanya karena tidak ingin membahas masalah itu di depan Alan.


"Kau, sejak kapan mulai menginap di rumah Luna?!" Alan menarik kerah Drake.


"Eh, itu.. "


"Luna, jangan mau menerima orang seperti dia menginap di rumahmu. Kalau perlu kunci pintu jika dia datang," Alan mengajari Luna untuk tidak menerima Drake kapanpun juga.


"Tapi..."


"Apa dia memaksamu??"


"Tidak. Bukan seperti itu..."


"Lalu apa lagi?"


Ketika Luna hendak bicara lagi, Drake menepuk pundaknya, "Aku pulang saja, Luna. Jaga dirimu."


Drake bicara sambil menatap Alan.


"Heh! Apa maksudmu bicara begitu pada Lunaku?" Alan merasa bahwa Drake adalah seorang pria yang menyebalkan.


Sambil melambai menuju rumahnya yang ada di seberang rumah Luna, Drake tersenyum menyeringai pada Alan.


"Ohho! Apa-apaan dia? Menginap di rumah tunangan orang? Yang benar saja," Alan merasa sangat kesal.


"Sudah, Alan. Jangan terlalu marah padanya. Dia sahabat karibku. Jadi tidak akan ada yang terjadi di antara kami berdua. Emm, Kau mau masuk?"


"Hmm.. Ayo masuk..." Alan mencoba menahan emosinya.


SRAK


Ketika Luna dan Alan masuk ke dalam rumah, Drake muncul kembali. Ia memperhatikan rumah Luna dengan tatapan mata yang tajam.


"Haiss,, sialan itu. Kenapa baru muncul hari ini setelah tidak peduli pada Luna beberapa waktu lalu. Dasar tidak tahu malu," Drake merasa kesal. Ia masuk ke dalam rumahnya sambil menggerutu.


Ketika sedang tiduran di kasur, ia terus saja memikirkan Luna. Karena terus saja resah, ia pun bangun dan mencari teropong lama miliknya di dalam laci nakas.

__ADS_1


"Ini dia."


Tak mau berlama-lama, diintipnya rumah Luna dari jendela kamarnya.


"Di mana mereka?" Drake mengamati ruang tamu yang sepi dan temaram.


Kemudian, saat ia melihat kamar Luna yang lampunya menyala terang, ia pun memindahkan sudut pandangnya.


DEG


Di sana! Di sana!


Oh My God.....


Ia melihat Alan sedang mencium bibir Luna sambil mendorongnya perlahan ke atas ranjang. Entah mengapa, hatinya terusik dan merasa kesal dengan penampakan romantis sepasang kekasih itu. Lebih kesalnya, ia melihat Luna menurut saja seperti anak anjing, tanpa melawan.


"Eh buset! Apa yang akan mereka lakukan?!" Drake panik.


Tanpa ba bi bu lagi, ia pun berlari turun menuju rumah Luna. Sampai di depan pintu rumah, ia tidak segera menekan sandi pintunya.


"Tidak, tidak. Apa yang aku lakukan? Mereka sudah tunangan dan akan menikah. Aku tidak punya hak untuk mengganggu mereka."


Drake berbalik lesu dan melangkah pergi. Akan tetapi ia membayangkan sesuatu yang mengerikan di kepalanya. Maka, ia pun kembali mendekati pintu rumah Luna.


Jari telunjuknya sudah bergerak dan menempel pada pintu kunci digital. Namun sekali lagi, ia mengurungkan niatnya.


"Hentikan. Kenapa aku merasa gerah sendiri? Bukankah Luna tidak menolak?" Drake berdiri mematung.


"Haarggg!! Panas sekali rasanya," ia mengibas-ngibaskan kerah bajunya untuk menghasilkan angin sebab saat ini tubuhnya terasa mendidih.


•••••••


PET!


Listrik di rumah Luna tiba-tiba mati tepat ketika Alan sudah melucuti pakaiannya dan mulai melepaskan kancing baju Luna.


"Ada apa ini? Apa ini serius, listrik mati saat penting seperti ini? "


Umpat Alan dalam hati. Sebab karena masalah ini, ia gagal bermesraan dengan Luna.


"Eh? Listrik mati?" Luna kembali duduk dan mengancingkan kembali seragamnya.


"Apa kau terlambat membayar listrik?" tanya Alan.


"Tidak. Aku membayarnya secara rutin. Apa mungkin konslet?"


Luna bangkit dan berjalan keluar dari kamar. Alan mengenakan kembali pakaiannya lalu menyusul Luna sambil cemberut.


CEKLIK


Mereka keluar rumah dan memeriksa sekering listrik.


"Sepertinya tidak ada apa-apa," kata Luna.


"Benarkah? Tapi kenapa tadi tiba-tiba mati?"


"Entahlah, mari kita nyalakan lagi."


TRING


MENYALA!


Luna merasa itu aneh. Mengapa tombol di sana turun sendiri? Apa ada seseorang yang iseng? Tapi siapa?


Ditolehnya ke kanan dan kiri. Ia tidak melihat siapapun di sekitar rumahnya. Kemudian ia melihat ke arah kamar Drake yang ada di seberang rumah. Kamar itu masih menyala.


"Apa semua itu kerjaan Drake?" pikirnya sambil memijit-mijit tengkuknya.


"Sudah nyala. Ayo masuk lagi," kata Alan.


"Hmmm.."


Keduanya kembali masuk. Alan menggandeng Luna dan membawanya ke dalam. Berharap ia bisa melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda.


Baru saja mereka menaiki anak tangga menuju kamar, listrik kembali padam.


"Mati lagi?" tanya Alan kecewa.


"Sialan! Apa malam ini aku gagal lagi?"


Alan benar-benar kesal dengan situasi saat ini. Alasan ia datang ke rumah Luna, karena ia sedang tidak diinginkan Drew, kekasihnya yang lain.


Dua tahun menjalin hubungan dengan Luna hanya karena pekerjaan, ia belum pernah sekali pun menyentuhnya. Baru malam ini ia terpikir untuk itu. Dan barusan, ia benar-benar akan melakukannya!


Tapi perkara mati listrik ini membuatnya gila. Siapa yang kurang kerjaan memainkan listrik rumah orang????


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG....


Jangan lupa Like ya,, 😘


__ADS_2